When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| Sayap



"Oi, Red! Sendirian saja nih?"


Aku langsung menoleh ke asal suara dan merapikan buku-buku yang sedikit berserakan di atas meja makan club. Tampaknya Daniel baru pulang dari misi, memancingku untuk melihat jam yang tak jauh dari tempat duduk ... ternyata sudah siang.


Dengan kembali membaca buku yang masih terbuka, aku menjawab, "Iya, yang lain mungkin belum pulang dari misi atau urusan masing-masing."


Terdengar suara decit bangku yang ditarik, sepertinya Daniel duduk pada bangku di hadapanku. "Loh, kamu bagaimana? Enggak ada misi?"


Mata jelagaku meliriknya sekilas, lalu menggeleng kecil seraya mengembuskan napas. "Profesor Kaidan memberiku libur satu hari. Katanya sudah tiga minggu jadwal keseharianku lumayan padat, jadi beliau memintaku belajar untuk besok."


"Belajar? Ahhhh!! Waduh lupa, besok ujian bulanan! Eh, ke perpus saja yuk? Sekalian ajarin aku," pintanya dalam gelagat memohon dan aku balas suatu anggukan.


Seperti biasa, dia langsung menyengir kuda. "Mantap! Aku ambil binder dul---"


Brak!


Suara pintu yang didobrak terdengar memekakkan beriringan derap riuh menghampiri dapur, membuat Daniel membeku di tempat, begitu juga aku yang sedikit terkejut.


Dalam napas terengah muncul sosok yang berbuat demikian. Rambut ungu kusutnya terlihat memilukan, selaras dengan ekspresi tak enak si pemuda.


Tanpa basa basi Crist menggenggam salah satu tanganku dan berkata dengan aksen lega, "Syukurlah kamu masih di sini Red! Temani aku, ya?"


Eh?


"Oi, oi, main serobot saja! Aku sudah booking Red duluan, kita akan belajar ke perpus!" seru Daniel kasar dengan menarik lengan Crist---ah, aku tidak mau melihat mereka berkelahi, apa lagi memperebutkan ... aku? Itu terdengar aneh.


Perlahan, si pemuda memperbaiki kacamata tanpa lensanya yang miring. Kemudian memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam. Seperti berusaha menenangkan diri.


"Maaf Daniel. Aku diminta Pak Lucian menyerahkan data siang ini, tapi apa yang ia lakukan? Sparing dengan Fate! Ya ampun, apa ia ingat dengan dokumen-dokumen ini?" ucap Crist dengan aksen khas sembari menaikkan map hitam berlambang pohon ukir emas--logo Vaughan.


"Alah, orang gila setelah walimu itu?! Ayo deh, aku ikut antar."


"Daniel, tidak boleh menyebut Head Master orang gila," sergahku dengan beranjak dari bangku. Sebab bagaimanapun, beliau pemimpin utama organisasi Vaughan. Sosoknya bukan orang sembarangan.


"Hih, berisik! Kau pikir orang ugal-ugalan semacam ia itu waras? Huh, masih mending aku," balas Daniel dengan bersungut-sungut, lantas membuat membuat Crist melepas tawa.


Seketika ini mengingatkanku kejadian jauh-jauh hari yang mana kami menemani Crist mengantar dokumen. Mudah-mudahan nanti tak terjadi hal absurd lagi.


...****************...


Aku mendengkus lantaran merasa sedikit aneh.


Kami tidak menuju ke mansion Lucian ataupun Gedung Utama tempat beliau bekerja, tetapi ke halaman depan akademi? Bahkan di sekitar sini sedikit sepi, biasanya masih ada beberapa orang beraktivitas---ah!


Seketika angin menderu liar meluluhlantakkan debu bersamaan dengan suara sumbang mengiris udara, dan refleks aku memalingkan wajah demi menghalau sekitar menggunakan lengan.


Apa-apaan itu ....


Namun, Crist lebih mengkhawatirkan lagi. Dia mulai berteriak panik dan mengejar lembar-lembar dokumen yang sukses berhamburan berkat embusan angin tadi. Aku hendak membantu tetapi Daniel menepuk pundakku. "Lihat Red! Fate serius pakai Mount Albion!"


Spontan aku melihat ke mana jari kukuhnya menunjuk. Pelan namun pasti, kelopak pucatku turut terbuka lebar menyaksikan keelokan di atas sana.


Dan aku terlena ... dalam rasa sakit menghunjam.


Ilusi, sebab mendadak seperti melihat sosoknya lagi--orang terkasihku--ketika menunjukkan betapa berwarnanya dunia. Namun, setelah itu hanya ada kelam dan aku hilang di dalamnya. Kejapan ke seper sekian detik membawa serpihan memori, seperti potongan klise yang memaksa untuk dilihat bersamaan rasa takut menggerogoti batin.


Aku langsung menutup mata dengan dua tangan, ternyata ... tanpa sadar, kembali menitikkan air mata. Mungkin karena Fate benar-benar mirip seperti ia, dan bagaimana jika gadis itu berakhir sama sepertinya?


Terlebih ingatan kemarin sedikit rancu.


Ia--orang terkasihku--berteriak bahwa aku ini manusia? Aku tidak ingat kapan itu pernah terjadi, dan sebenarnya apa itu? Tetapi misal kejadian terdahulu kembali terulang, semua usahaku hanya sebuah kekosongan dan aku berjalan dalam roda takdir yang sama.


"Bagaimana jika suatu saat nanti, salah satu dari kami menghilang?"


Kalimat tersebut keluar begitu saja dari bibir, memaksaku kembali menurunkan tangan. Sebenarnya aku sendiri sedikit terkejut berkata demikian ... mungkin, sekarang, ini yang aku takutkan?


"Hah, apaan?"


"Hitam bisa menghilang dengan putih. Putih bisa tenggelam dalam hitam." Aku pun menunduk karena tak berani melihat langit tempat Fate mengepakkan sayap. "Sampai kapan pun, hitam dan putih tak akan bersatu."


Hanya menunggu waktu aku luluh oleh binarnya. Mungkin, sudah saatnya menghampiri peristirahatan jenjam tapi relakah aku melepas kehidupan nan hangat ini? Atau akan kembali menumpahkan darah dengan tanganku sendiri ... terjebak dan terbelenggu dalam melankoli untuk ke sekian kali.


"Ini bahas masa lalu kalian lagi nih? Sudah kubilang aku enggak ikut campur masalah kalian, diri kalian sekarang itu yang paling penting!"


Aku pun bergumam seraya sedikit menendang daun di dekat kaki berbalut sepatu hitamku. Benar, kenapa juga aku terus memikirkan hal ini?


Perkataan Daniel mungkin pedas dan menusuk, tapi penuh kejujuran dan terus terang. Bisa saja sudah tak ada kaitannya diriku yang dulu dengan kehidupan sekarang seperti perkataan Fate, tetapi kenapa ... tak bisa tenang? Ternyata dalam sunyi, aku memang terlalu ketakutan.


Menyedihkan.


"Siapa yang putih, siapa yang hitam, ha?! Mentang-mentang kalian dari dunia lain terus jiwamu rusak atau ternoda atau apalah, kamu menilai dirimu hitam? Lalu Fate yang putih? Naif sekali jalan pikirmu, Red! Kenapa harus hitam putih kalau kalian berwarna?!"


Seketika Daniel menyalak sampai aku terkejut mendengarnya dan refleks menoleh pada mata hijau yang sudah tampak sangat serius. Apa lagi sampai menuding tepat di dada kiriku.


"Tidak ada yang sepenuhnya hitam, tidak ada yang sepenuhnya putih! Sama kayak kamu dan Fate, ingat itu!"


"Haah, sepertinya aku mengerti apa yang terjadi."


Crist? Dia kembali menghampiri kami bersama dokumen yang telah rapi, ada beberapa daun menyangkut di rambut ungu panjangnya tapi senyum ramah tak lepas dari wajah.


"Red, jika kamu masih belum bisa menerima ... apa kamu sadar, memang kamu terlahir dari hal buruk tapi eksistensimu untuk suatu anugerah. Dan Fate kebalikanmu. Ia mungkin ada karena sebuah anugerah tetapi eksistensinya untuk keburukan."


Langsung aku membisu lantaran teringat akan sesuatu.


Mungkin, dulu, penyebab Fate pernah berkata bahwa bukan hanya aku yang terlahir sebagai mesin penghancur, maksudnya adalah ia juga tercipta menjadi sumber energi senjata penghancur. Dan aku ... si pengabul permohonan yang tenggelam dalam kegelapan.


"Kan?" Crist berdiri di sampingku, lalu menyandarkan tangan di pundakku seperti tingkah Daniel. Namun, kini si pirang hanya mengerjap tak percaya mendengar ucapan Crist. "Yin dan Yang. Dalam keburukan ada kebaikan, dalam kebaikan ada keburukan. Mereka berputar menjadi satu, membentuk suatu kehidupan."


"Mungkin kekuatan mengabulkan permohonanmu itu sangat kuat sampai membuat perhitungan kecil. Ingat apa yang Fate katakan? Tidak ada yang namanya kebetulan." Mata birunya menoleh ke arahku, tangan kanan ikut bergerak seolah-olah membantu menjelaskan. "Mungkin saja kamu juga mengabulkan permohonan orang-orang di sekitarmu. Sejauh ini, berapa banyak yang bersyukur atas kehadiranmu?"