When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| Club



"EVE, tampilkan misi Guidence."


Seketika layar holografi muncul di depanku menampilkan wajah sesosok perempuan serba biru.


"Mengumpulkan data, mohon tunggu. Data diterima. Dokumen yang telah dipindai sebanyak 14 lembar. Proses misi ... 27% selesai."


Aku melambaikan tangan ke depan dan seketika layar holografi menghilang. Menutup mulut dengan tangan kanan, aku menimbang-nimbang dan mencoba mengingat koordinat mana yang belum aku kumpulkan datanya.


Misi sampinganku--Guidence--sedikit terbengkalai karena mengerjakan tugas utama misi Grade C, kecelakaan, dan ... gadis itu di sana. Apa yang dia lakukan?


Dia duduk pada bangku pinggir air mancur halaman depan akademi. Oh, sudah mengenakan seragam resmi--kemeja putih dengan almamater abu serta rok hitam pendek.


Kepalanya tak henti melihat ke sana kemari. Kadang terdiam, menunduk, lalu melihat lagi orang-orang di sekitar.


Jika tidak ada tugas, seharusnya dia belajar karena harus pandai mengatur waktu, tergolong misi yang kita terima akan sangat banyak nanti.


Aku mencoba mendekatinya. "Apa yang kamu lakukan?"


Dia terkejut melihatku, kemudian mengambil napas dalam-dalam. "Karena aku tidak tahu harus berbuat apa jadi memilih duduk di sini."


"Kenapa tidak kembali ke club? Kalau senggang seharusnya belajar dengan yang lain."


"Club? Oh, soal itu. Aku tidak tahu kelas ada di mana. Tempat ini sangat luas, tapi aku tidak menemukan ruang yang mirip ruang kelas."


Ah, dia benar tidak mengerti apa-apa. Entah mengapa aku merasa tak enak meninggalkannya sendirian.


"Tidak, tak ada kelas di sini. Akademi kita berbeda dari yang biasa. Eeem, bisa dibilang kelas kita adalah club. Di situ kita bisa belajar dengan orang lain, ada beberapa misi dan ujian yang harus dikerjakan bersama anggota club. Ya, seperti rumah ke dua. Kamu sudah mempunyai club?"


Matanya menatapku, kemudian dia menggeleng. "Maaf, aku tidak mengerti apa-apa."


Sungguh, tiba-tiba ada suatu perasaan muncul dalam hati karena benar-benar melihatnya seperti aku waktu dulu. Hilang arah; tak mengerti apa-apa, ketika mencari jawaban justru ....


"Ikuti saya."


"Eh?"


"Masuk club yang sama dengan saya dan saya akan jelaskan semuanya, jangan sungkan," ajakku lembut.


Dia menatapku dan---ah, tersenyum? Sepertinya tidak, tapi seketika itu juga tangan kananku dia genggam. Sontak aku tertegun. Ini terlalu tiba-tiba! Mendadak jantungku berdebar kencang.


"Tanganmu hangat."


Eh, apa katanya? Seketika aku merasa tersipu.


Pelan-pelan mencoba melepaskan genggaman tangannya, tapi dia justru memegangnya makin erat. Oh, astaga! I-ini ... sebelum orang melihatku dan berpikir tidak-tidak, aku segera melangkah. Lebih aman masuk club sendiri.


"Red, kau baik-baik saja?"


Aku mencepatkan langkah, mungkin terlalu cepat sampai-sampai ia tersandung. "Red, kenap---ah!"


Bruk!


Dipeluk! A-aku dipeluk?! Astaga, apa-apaan ini! Ketika aku berhenti ingin menolongnya, dia justru mendekapku.


"Maaf tidak sengaja. Aduh, ceroboh." Jantungku seperti genderang sekarang hingga tubuh terasa membeku. "Red, wajahmu memerah. Kamu tidak apa-apakan?"


Saat melihat tangannya mendekat ke wajahku, seketika itu aku terkejut. Tuhan! Red, sadar diri! Aku langsung mundur beberapa langkah.


"Tidak. Tidak. Iya, tak apa. Ki-kita sebentar lagi sampai."


Dia memandangku dengan heran, aku---ah, cukup! Aku menggeleng dan langsung menyegerakan langkah. Memasukkan kedua tangan ke saku celana, berjaga-jaga supaya dia tidak menggenggam tanganku lagi.


Hingga akhirnya derap kami terhenti pada salah satu pintu yang memiliki logo seperti air.


"Club Dion, di sinikah?" tanya Fate ketika membaca tulisan di bawah logo pintu.


Aku jawab dengan suara gumam.


Menghirup napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri dan membuang jauh-jauh pikiranku soal tadi.


Langsung saja aku masuk, sedangkan Fate mengucapkan kata permisi yang mengundang perhatian orang-orang di dalamnya.


"Salam kenal, namaku Fate," jawabnya dengan membungkukkan badan sebagai penghormatan. Sopan sekali.


Melihat gerak geriknya, Daniel mengusap-usap dagu.


"Anak baru. Boleh dia bergabung dengan kita?"


"Ecie, Red! Ya boleh banget dong! Akhirnya kamu ajak doimu juga, kalian pasangan yang cocok kok, ya enggak Cil?" goda Daniel dengan menyikut Cecil--gadis kecil yang duduk di sampingnya.


"Ahahaha, kami bukan pasangan," balas Fate dengan tawa renyah.


Telingaku terasa panas ketika para anggota club mulai bersahut-sahutan di waktu Fate berkata demikian. Ah, terlalu ramai. Tidak mau mendengar apa pun jadi kuputuskan beranjak ke lantai dua. Fate mengikuti dengan gelagat keheranan.


Sesampainya, aku langsung membanting badan atas sofa yang menghadap pada lorong panjang penuh pintu.


"Seperti penginapan."


"Ya, murid yang belum mempunyai rumah bisa menginap di sini."


"Rumah? Kita bisa mempunyai rumah?" tanya Fate dengan nada heran.


"Rumah virtual yang disediakan oleh akademi. Dengan menggunakan Heart Core, kita bisa teleportasi ke dalam rumah virtual itu. Rumahnya juga bisa kita desain sesuka hati asal kamu memiliki dana. Oh, kamu dapat mengunjungi rumah temanmu asal memiliki izin untuk mengaksesnya."


"Heart Core? Sesuatu seperti ... bola yang menyala dan seketika pecah menjadi keping holografi membentuk kendaraan?"


"Kamu sudah tahu banyak." Merebahkan badan pada sofa, aku merasa banyak sekali yang terjadi hari ini.


Aku berakhir bergumam, "Tidak butuh saya lagikan ...."


"Ketika aku duduk di sana, aku lihat banyak orang beraktivitas. Ada holografi dan banyak benda-benda melayang lainnya. Lalu bola kristal, ia seperti menggunakannya? Dan tiba-tiba orang itu berubah menjadi serpihan hologram dan mengilang. Aku ambil kesimpulan itu Heart Core yang kau maksud, bisa digunakan untuk teleportasi."


Ah, ternyata pengamatannya benar-benar bagus.


"Iya, itu Heart Core. Sangat multifungsi. Bisa berubah menjadi senjata dan kendaraan, bahkan menteleportasimu pada titik peta. Ini alat yang sangat penting. EVE bisa melacak kita dengan Heart Core sehingga masih bisa terhubung dengan akademi walau jarak sangat jauh sekali pun. Jangan sampai hilang," jelasku dengan mengeluarkan bola kristal hitam segenggam tangan yang berpendar lembut.


Ia memandang Heart Core milikku sesaat, kemudian mengeluarkan miliknya. "Punyaku berbeda, tidak menyala-nyala sepertimu."


"Itu kemungkinan karena punyamu belum diberikan batu elemen. Batu elemen membantu untuk menguatkan bagian inti. Semakin kuat, semakin berguna."


"Ternyata itu kegunaannya, berarti aku perlu mengerjakan tugas sampingan atau membelinya di Departemen Gear ...."


"Kamu sudah tahu? Oh, kebetulan saya ada tugas sampingan yang belum selesai. Mau mengerjakannya bersama?" tawarku.


Dia mengangguk. Bergegas aku beranjak dari sofa.


Seingatku, sebelum mengambil tugas ini, harus terlebih dulu melapor pada EVE. "Ikuti saya."


Aku menuruni tangga perlahan. Mereka masih berbincang-bincang di ruang tengah. "Pergi dulu, ingin melanjutkan misi."


"Yooo." Daniel menoleh ke arahku yang mulai mencepatkan langkah keluar club. "Cie diajak! Janganlah dimonopoli, kenalin ke kita-kita dong!" serunya yang aku abaikan.


Di luar, aku melemparkan pin serupa logo Club Dion kepada Fate dan gesit ditangkapnya. Refleks yang bagus.


Dia melihatku dengan heran dan bertanya, "Apa ini?"


"Pin club, pakai di dada kiri. Pertanda kamu bagian dari kami. Bisa berfungsi sebagai pelindung juga kalau ada yang mengincar jantungmu."


Dia mengangguk mengerti dan melakukan apa yang aku perintahkan. Fate cukup penurut. Ditambah tak tahu apa-apa dan banyak yang tidak dia ingat, jika jatuh di tangan yang salah, dia---ah, perasaan itu. Emosi yang sama seperti dulu.


Aku langsung membuang muka.


Sesaat pikiran terasa kacau, aku menyandarkan kening ke telapak tangan kanan demi mengenyahkannya dan lanjut melangkah kemudian.


Kami sudah berjalan cukup lama, memang Gedung Utama lumayan jauh dari gedung-gedung club. Sebenarnya berjalan-jalan seperti ini bagus untuk mengenalkan akademi. Namun, aku kembali memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana.


Tidak mau tanganku digenggamnya lagi, karena entah kenapa ... itu muncul kembali. Sebuah kehangatan, sungguh nostalgia.


Sebuah perasaan yang tak layak aku miliki.