When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| Review Pertandingan



Aku harap hari ini tak lebih buruk lagi.


Ha-ah, aku kekenyangan dan kembali ke gedung club dengan keadaan pasrah. Fate tak henti menggenggam dan menarik tanganku. Tidak tahu harus merasa senang karena diperhatikan atau tidak, tatapan mata perak kebiruan itu ... sangat mengancam.


Ketika aku dan Fate kembali, para anggota club berbisik-bisik melihat kami kecuali Daniel yang tak henti menyengir kuda. Sejujurnya dalam hati ada sedikit rasa kesal, tapi aku tak pedulikan dan berakhir mengembuskan napas tertahan. Akhirnya Fate melepas genggamannya.


"Eeem, karena semua sudah berkumpul, bisa kita mulai untuk membahas hasil sparing kemarin?" tutur Crist menarik perhatian seluruh penghuni, ia masih tak henti membaca dokumen atas genggaman dengan tangan kiri diangkat tinggi-tinggi.


Kalimat tersebut seolah-olah menjadi perintah tersendiri, Cecil sigap menyiapkan alat pemutar rekaman digital. Setelah itu orang-orang mulai memenuhi sofa yang membentuk letter U depan televisi, satu bangku terdiri dari tiga orang.


Sebenarnya cukup untuk menampung empat orang karena akademi menyediakan satu gedung club untuk disinggahi dua belas anggota, tetapi Dion hanya terdiri dari sembilan anggota.


Ketua kami melambai-lambaikan tangannya penuh semangat ke arahku, sepertinya meminta untuk duduk bersama. Aku mengangkat kedua bahu dan duduk pada jajaran Daniel serta Cecil.


Mendadak Daniel menyikut diriku dan berkata, "Bagaimana kencan paginya?" Ia menaikkan salah satu alis. "Cie, ditraktir."


Lagi-lagi aku mengembuskan napas panjang. "Itu tak seperti yang kau kira."


Daniel tak henti-henti menggodaku, bahkan Cecil di pojok sisinya ikut tertarik dengan apa yang ia katakan. Tapi aku tak peduli dan memperhatikan Crist yang memastikan apakah handycam sudah terhubung dengan baik pada televisi atau tidak.


Sedikit melirik ... Fate duduk di sofa sisi kiri dengan memegang beberapa dokumen, sofa tersebut hanya ditempati dua orang. Mungkin satu lagi untuk Crist tetapi dia berdiri di depan kami semua sekarang, membuka sesi ulasan hasil pertarungan sparing internal.


Ah, ternyata dokumen tersebut merupakan selembaran hasil sparing perorangan Club Dion karena setiap slide rekaman singkat yang disuguhkan, Crist dapat membahasnya dengan teliti sembari melihat kumpulan kertas di genggaman; begitu pula dengan Fate yang menatap baik-baik kertas miliknya.


Crist menjelaskan rata-rata teknik bertarung dan evaluasi data setiap anggota. Pemuda ini memang memiliki pengamatan yang bagus, setiap dia melakukan tugas seperti itu aku selalu kagum melihatnya, karena dibandingkan denganku ... bagaikan langit dan dasar sumur.


Terlebih Crist rendah diri, selalu menolak tawaran posisi dari Daniel padahal memiliki jabatan dalam club--meski anggota tak penuh dua belas orang sekali pun seperti kita--dapat keuntungan tersendiri, seperti mendapat rekomendasi atau upah lelah mengurus anggota--semakin tinggi jabatan, semakin banyak keuntungan.


Sesi diskusi pun dibuka. Para anggota mulai banyak yang menyatakan sanggahan dan pertanyaan, bahkan ada yang sampai menyiapkan binder untuk mencatat. Ruang yang biasanya ramai, kini terasa serius. Sebenarnya sudah sering melakukan evaluasi seperti ini tetapi aku tak henti dibuat terkesima dengan kesungguhan mereka. Hingga Crist mulai meminta masukan pada Fate.


Heee, apa mungkin karena gadis itu peringkat satu saat ini? Entah kenapa perasaanku mulai tak enak lagi.


"Mengecewakan."


Eh, kecewa? Kata-kata itu membuat semua orang di ruangan ini menegang penuh tanda tanya dan melihat ke arah orang yang berucap demikian dengan tatapan kaget. Namun, perlahan ... berubah kesal. Seakan tak gentar, Fate masih setia dengan pandangan datar nan dingin membuat seluruh anggota tidak berani bersua.


Kemudian si gadis mulai mengeluarkan ponsel, mengetik sesuatu hingga tampilan pada layar televisi berubah. Data dalam layar tersebut berganti peringkat dari hasil masing-masing club lain. Aku tak mengerti kenapa Fate memperlihatkan ini dan sepertinya yang lainnya juga, terbukti dari wajah heran mereka.


Tak lama sampai mata merah muda Cecil tersibak lebar. "Hah?! Itu tuh ... semua Disiplinaria masuk peringkat tiga besar masing-masing club!"


Fate melipat tangannya lagi, kemudian bersandar pada dinding di samping layar. "Inilah yang terjadi jika kalian hanya memandang musuh yang kalian tidak tahu apa-apa tentangnya dengan sebelah mata. Semua orang tahu tentang pencabutan kode etik Departemen Disiplin, tapi kami tetap diremehkan."


Jeda sebentar, mata perak kebiruan mulai terpejam. "Dengan tipe pemikiran seperti ini, akan terbawa saat kalian bertarung melawan hibrida."


Fate kemudian melihat ke arah layar lagi. "Terkadang semuanya lupa---oh bukan, semuanya tidak sadar dan tidak memeriksa, kalau kami Departemen Disiplin hanya dikirim keluar dalam tim ataupun membantu departemen lain untuk melawan naga kelas Elite ke atas; naga yang memiliki wujud manusia."


"Faerie Dragon," ucap Fate tertahan yang membuat tubuhku sedikit menegang, tak disangka akan mendengar nama itu lagi setelah sekian lama, "hasil penyelidikan mengatakan naga itu adalah naga yang paling lemah di antara para General. Tapi dua anggota Eksekusi dan satu anggota Konsultasi kelelahan menghadapinya, karena misi inilah Departemen Disiplin memutuskan untuk mencabut kode etiknya."


Fate perlahan bangun dari sandaran, tubuh semampainya berjalan dengan apik hingga rambut perak sedikit melambai anggun membuat seluruh mata tertuju padanya.


"Analisis, taktik, strategi ... ini adalah hal dasar bagi kami anggota Departemen Disiplin. Tapi sepertinya hal ini masih kurang pada departemen lain terutama Eksekusi. Ada pada saatnya serangan membabi buta diperlukan, tapi tidak selalu. Karena meski serangan itu tampak acak, perlahan akan terlihat pola dan kelemahan akan terbaca dengan mudah."


Fate mendadak melihat ke arah ketua kami dan berkata, "Daniel, kau kuat dan aku tahu kau strategis yang cukup baik dari hasil data-datamu. Kau bahkan bisa memimpin tim dengan baik dan mengambil keputusan yang tepat di tengah pertarungan. Hanya saja, arogansi juga temperamental membuat pemikiranmu kurang terbuka."


"Oi, oi!" Yang dituju langsung berdiri dari tempat duduknya, menaikkan sebelah alis sebari menuding-nuding ke wajah datar gadis di depan dengan penuh amarah. "Situ banyak omong, hah! Apa buktinya?!"


"Sparing kita," jawab dingin Fate dengan muka tak sedikit pun menunjukkan perubahan gurat emosi, "arogansimu yang merasa kau lebih berpengalaman dariku, dan hanya karena aku baru beberapa bulan di Vaughan. Bukankah karena itu kau meremehkanku?"


Keadaan berakhir mencekam sekarang. Seluruh anggota terdiam dengan wajah penuh kegelisahan. Ah, apa mereka akan bertengkar?