When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| Insiden



Seminggu lebih setelah aku dan Fate terakhir bertemu, hati belum kunjung tenang. Apa lagi sekarang aku melihat suatu keanehan.


"Di mana Daniel?" tanyaku, menarik perhatian seluruh anggota club sampai menghentikan tangan dari sarapan mereka.


Melalui tatapan itu, aku yakin mereka tahu akan sesuatu--meski ada ekspresi bingung juga. Dengan nada sama, aku pun mengulang pertanyaan, "Di mana Daniel? Sudah beberapa hari belum melihatnya di mana pun."


"Ia sedang misi tim dengan Fate," jawab Crist yang duduk tepat di samping.


Kini mata biru tua menatap iris jelagaku, suaranya berubah menjadi sedikit samar. "Apa kamu dengan Fate baik-baik saja?"


Ya, pasti Crist menanyakan hal ini karena dari semua orang ... mungkin aku yang paling dekat dengan Fate. Tak biasa kalau sampai tidak tahu kabarnya. Itu juga mengapa seluruh anggota kini melihatku dengan tatapan bingung dan tak ada yang memberiku kabar.


Aku juga tidak tahu kenapa ini bisa terjadi, apa tanpa sadar kembali melakukan kesalahan dengannya? Aku langsung menunduk dan menggeleng kecil.


"Eh ... EH?! Ka-kalian! Cepat lihat kabar di forum pagi ini!" Salah satu anggota club memecah sunyi yang mendadak merengkuh erat.


Dia menatap tak percaya pada kumpulan kami dan menyodorkan ponselnya ke depan bak ingin bisa dilihat oleh siapa pun. "Kondisi tim ketua kita kritis! Mereka baru pulang tadi pagi!"


"Heh?! Kau serius?! Bukannya Senior Fate bersama mereka? Ia peringkat dua di antara para muridkan? Departemen Disiplin pula, kok bisa?!"


"Aku juga enggak paham ... katanya, kondisinya kacau!"


"He-hei!! Tadi aku juga dapat kabar dari temanku di Club Mercy, Dominguez dikabarkan gugur dalam misi ini!"


Seketika napasku berhenti mendengar kalimat tersebut.


Apa barusan .... meninggal? Aku mulai menatap kesibukan dan obrolan gaduh mereka dengan ekspresi tak percaya. Bahkan seluruh tenagaku menguap begitu saja, pun tangan mulai bergetar. Mata jelaga turut membulat lantaran apa yang didengar terlampau nyata untuk dinamai ilusi.


Fate baik-baik saja? Apa yang terjadi pada Daniel? Kenapa bisa begini? Benarkah aku membawa kehancuran pada mereka? Sebelumnya tak pernah separah ini bukan? Kesalahan apa yang aku perbuat? Apa ini ganjaran atas kehangatan yang terus aku terima?


"Neor dari Club Ace juga gugur!"


"Heh? Dua orang sekaligus?! Merekakan anggota Departemen Eksekusi, apa semudah itu?! Misi gila apa itu, SSS?!"


"Argh, aku juga tidak tahu! Tapi aku dipanggil guru waliku bergegas membantu sebagai anggota Departemen Gear. Kabarnya, ketua kita kehilangan lengan kanannya ...."


"Hah?! Kok bisa parah gitu?! Terus gimana kabar Senior Fate?"


Tidak mau dengar. Tak mau dengar! Sontak aku menutup telinga kuat-kuat menggunakan dua tangan. Apa? Kenapa?! Seketika nyeri luar biasa menghadang kepala seperti terjatuh dalam lubang tanpa dasar dan seketika, aku tak dapat berpikir karena teramat cemas. lama kelamaan aku meringkuk karena emosi meluap menghasilkan panas yang tanpa sadar melelehkan rintik air mata membasahi pipi---ah, takut, takut sekali.


Kenapa ... bisa terjadi, pada orang terdekatku?


Bagaimana kalau benar akan kehilangan orang tersayangku, lagi? Apa benar, takdirku tak boleh mendapatkan kebahagiaan sedikit pun? Kukira sudah berada di dunia berbeda dengan kehidupan berbeda pula, tapi ini semua---


"Sudah, tidak apa-apa." Mendadak terasa seseorang merangkul lembut dan langsung aku mendampilkan muka pada pundak pemuda yang berbuat demikian.


Entah kenapa, hanya perbuatan sederhana seperti ini membuatku tenang.


Lengan kukuh Crist mulai mengelus punggungku secara perlahan, membuatku makin membenamkan wajah dan menggenggam jaket tipisnya kuat-kuat. "Dari mereka semua, tentu aku dapat kabar terlebih dulu. Fate baik-baik saja, ia terluka tapi tidak terlalu parah dan kelelahan. Untuk Daniel, ia langsung ditangani. Tidak perlu khawatir. Kalau ada pikiran buruk dalam kepalamu, aku harap itu mulai kamu singkirkan."


Aku merasakan pergerakan dan mendengar, "Sssh! Pagi-pagi jangan berisik apa lagi di depan meja makan!"


"Aku harus langsung bertugas menangani kasus ini Senior!"


"Iya, aku juga." Crist terdengar berdeham kencang. "Tapi alangkah baiknya kita sarapan dulu baru bekerja. Setelah sarapan, yang ingin menjenguk bisa ikut aku dan setelah itu lanjutkan kegiatan masing-masing. Panik hanya akan mengacaukan kalian dan pekerjaan kalian. Dengan melihat kondisi Daniel, aku rasa kalian akan bekerja lebih tenang."


Eh? Tak lama terasa suasana menjadi sangat senyap daripada sebelumnya.


Lantas aku mengintip---ah, semua khidmat memakan sarapan dengan sedikit menunduk. Lagi-lagi aku merasa kagum dengan apa yang Crist perbuat, hanya dengan begitu saja seluruh anggota kembali duduk tenang. Aku mulai menegap dan sedikit mengusap mata menggunakan perut telapak tangan.


"Sudah merasa lebih baik?" tuturnya lembut, mungkin hanya bisa didengar olehku.


"Mereka semua ... tenang?"


"Ahahaha, berkatmu juga."


"Eh, aku?" tanyaku tak percaya seraya menunjuk diri sendiri, karena sangat yakin tadi tak berbuat apa pun.


Crist justru terkekeh kecil. "Habiskan sarapanmu. Hari ini senggangkan? Ikut menjenguk Daniel, yuk?"


"Uum, aku mau mandi dulu ...." Dan menenangkan diri. Oh, bagian itu tak dapat kukatakan dengan lantang.


Sebab masih belum bisa memproses gejolak emosi mendengar berita mengejutkan pagi ini. Bagaimana aku berpapasan dengan Daniel dan ... Fate, nanti? Gadis itu tak memberiku kabar, sama sekali. Saat bertemu di perpustakaan adalah terakhir kalinya kami berkomunikasi.


Sungguh, ini membuatku frustasi dan tak nyaman.


Sampai sekarang, aku tak tahu Fate mengerjakan misi tingkat tinggi sampai hanya tersisa ia dan Daniel yang selamat. Untukku, ini terdengar sangat mengerikan.


"Kalau begitu nanti aku tunggu kamu di kamar rawat Daniel. Langsung hubungi aku juga kalau merasa tidak nyaman seperti tadi, ya?" Aku mengangguk terhadap ucapan Crist. "Aku juga akan beri tahu di mana kamar Daniel dan kondisi terbarunya. Pastikan ponselmu terus aktif, Red."


Sekarang tangan kukuhnya meraih cangkir dan mulai menyeduh teh, apa yang Crist lakukan rata-rata penuh ketenangan dan itu turut merambat padaku. Akhirnya, aku lanjut memakan sarapan.


Tampak beberapa anggota mulai meninggalkan bangku, ada yang masih menunggu Crist juga. Sepertinya benar akan pergi menjenguk Daniel bersama-sama.


Lantas setelah meja makan club sepi, aku membantu membereskan piring-piring dan beranjak ke lantai atas demi mempersiapkan diri.


...****************...


Ketika air membasahi, aku mendongak; merasakan suatu kenyamanan tersendiri dalam basuhan wajah. Mata jelaga menyaksikan rintik air keluar perlahan dari shower di atas. Telinga mendengar desis air membentur ubin. Kulit dimandikan dengan hangat air yang menjamah.


Namun, pikiranku berlayar entah ke mana lantaran tidak bisa dibohongi ... aku khawatir. Metatron yang hilang dalam tubuh Fate saja sudah membuat kecemasan tersendiri.


Jika dijabarkan, pertama: aku memikirkan Fate dan bagaimana nasibku. Keanehan ia dan perkataan Arthur--apa ini semua berhubungan?--merambat menjadi kenapa aku dan Fate yang terlempar ke dunia ini? Lalu bersambung dengan ucapan Crist jauh-jauh hari, Tuhan mempertemukan kita. Dan menjadi kata-kata Fate bahwa tak ada yang kebetulan. Kemudian semua terus sambung menyambung membuat insting burukku menajam.


Salah satunya ini, kabar mengenai misi Daniel dan Fate.


Aku sungguh mengingat itu semua, sudah berjanji pada diri sendiri agar tak melupakan ajaran mereka tapi aku tidak menyangka akhirnya menjadi seperti ini. Sebenarnya, apa yang terjadi? Dan terasa, aku semakin kusut.


Apa karena kepalaku masih berantakan? Apa kejadian hari ini akan disambut sesuatu hal yang lebih buruk lagi? Apa kedepannya kami akan baik-baik saja?


Tuhan, beri aku petunjuk ... apa yang harus aku lakukan?