
"'Apa kau lupa? Apa kau lupa?' katanya?! Padahal dia sendiri yang membuat ingatanku berantakan sampai aku kebingungan!" Ah, sungguh tak bisa berhenti mengumpat.
Sebab ... marah! Rasanya dulu aku tak pernah semarah ini. "Ingin kupatahkan leher-leher panjang itu!"
Tak lama terdengar suara tawa yang samar---eh? Suaranya tak asing, Head Master Lucian? Lalu berganti aksen robotik EVE, menyatakan perintah untuk berkumpul yang diumumkan melalui Heart Core.
Langsung aku berlari menuju titik koordinat.
Berkat ini, aku sadar keadaan sekitar sungguh ramai lantaran berada di tengah-tengah kesibukan para anggota Vaughan, sepertinya seluruh orang yang selamat telah tiba.
Di kejauhan, tampak banyak orang berseragam elite menyerang dan menahan si naga besar--tak ikut berkumpul--tetapi sisik tebalnya tak tergores sama sekali.
Ini mencelikkan sesuatu dalam benakku. "Kelemahan Tiamat berada di leher, masing-masing kepala melambangkan elemen dunia ini dan dia baru bisa dilukai menggunakan elemen yang sesuai warnanya."
Lalu terdengar aksen khas namun tak kukenali dari walkie talkie mini. "Jika harus menyerangnya menggunakan elemen, bagaimana bisa kamu menancapkan pedang ke kepalanya?"
Tunggu, aku pernah dengar. Ini ... Profesor Kaiser! Beliau merupakan ketua Departemen Dragonic.
Tumit masih kupacu untuk melangkah cepat tetapi mata jelaga kini tertuju jauh ke belakang; memandang salah satu kepala Tiamat yang terhias pedangku di sana. Beberapa darah tampak memancar ketika kepala berwarna kuning bergerak tiada henti, pertanda aku sungguh memberikan kerusakan di sana tapi bagaimana bisa? Pertanyaan itu, tak bisa kujawab.
Kepala sungguh terasa kosong.
"Aku juga tidak tahu," jawabku seadanya, "mungkin energi dalam tubuhku bisa bereaksi dengan elemen?"
"Hmm, masih belum cukup bukti."
"Biar aku coba kalau begitu." Suara ini ... Fate?!
Seketika ada yang melesat dari sampingku, begitu cepat tetapi mata jelagaku berhasil menangkap sosoknya. Ternyata benar dia! Kecepatan gadis itu memang di luar nalar.
Kemudian dia menukik. Tampak secercah cahaya merambat pada tiap-tiap sayap besi argentum yang terentang---oh, ternyata menggunakan Albion! Kepak sayap di punggungnya pun kian gesit membuat rambut perak bersicepat riuh.
Lantas Fate mendarat tak jauh dari posisi Tiamat berada, atas mata ambar menatap naga raksasa di depan. Dan dalam beberapa hitungan detik, sayap-sayap argentum pecah lalu berubah menjadi Floating Hourglass yang berpendar keperakan.
Salah satu kepala Tiamat yang berwarna biru--posisinya paling dekat dari Fate--membuka mulut lebar-lebar; bola es tampak berkumpul di depan taring tetapi urung mengeluarkan serangan karena dalam satu jentikkan jari, banyak bongkahan es tajam menghantam kepala pada satu titik. Semakin lama; semakin banyak hingga satu kepala Tiamat remuk dan onggokan kepalanya terburai.
Serangan Fate ... mengerikan---sebentar, aku melihat suatu keanehan.
Sontak kepala-kepala lain melaung heboh, dua sayap lebar kembali terentang beriringan angin kencang nan kuat menderu; meluluhlantakkan sekitar seperti topan. Sebelum terkena serangan lain, Fate telah berkelit dan kembali terbang menggunakan Albion. Namun, tombak-tombak batu bermunculan dari tubuh Tiamat dan menghunjam secara acak; memaksa para anggota menghindar dan memecah formasi.
Sayap besar Tiamat terus mengepak hingga pepohonan rubuh dan tubuhnya terangkat---
"Jangan biarkan Tiamat terbang atau dia semakin menggila!" teriakku, dan Aegis segera terentang lebar.
Bukan untuk melindungi sekitar tetapi sepenuhnya mengurung si naga raksasa. Maka jelas dari kejauhan, naga itu mengamuk. Manusia normal mana mungkin sanggup menahannya tapi beda urusan dengan Lucian yang berdiri kukuh, mengeluarkan Aegis dalam satu rentangan tangan.
Orang yang memancing murka si naga telah mendarat sempurna di sampingku. "Baik, caramu sudah dibuktikan dan aku sudah merasa lebih baik sekarang. Ayo kita rundingkan strategi."
"Fate, apa-apaan itu ...," ucapku tercengang.
Namun, si gadis hanya menaikkan kedua pundak. "Dia membuatku marah."
Sontak aku tertegun.
Ternyata, Fate bisa lebih menyeramkan dari selama ini kulihat. Apa aku cukup beruntung membuatnya emosi tanpa mengeluarkan aura membunuh?
Seketika banyak suara cekcok terdengar pecah dari walkie talkie setelah Fate mengatakan hal tersebut---eh? Ternyata banyak sekali orang yang terhubung. Sampai Lucian tertawa bangga dan suara riuh tadi mereda.
Kami pun berhasil berkumpul, meski beberapa masih ada yang sibuk melawan dan menahan para Elite--termasuk Head Master Lucian--jauh di depan sana.
HA?!
Refleks aku terkejut mendengarnya. Begitu pula banyak suara jauh di sana dan---ah, lagi-lagi mereka berdebat. Tapi siapa yang tidak heran? Selama ini aku tak pernah berpikir di tengah pertarungan, lebih tepatnya memang itu bukan keahlianku. Apa lagi sekarang kepala tidak bersahabat.
Sebentar, kenapa ... harus berpikir?
Mendadak aku merasakan ada tepukan di pundak. Saat menoleh, tangan Fate masih berada di sana tetapi dia tersenyum percaya padaku dan menganggukan kepala. "Percayalah pada dirimu sendiri, percayai instingmu. Ingat, kau pernah melawan Tiamat."
Ah, benar. Percayai instingku. Aku menarik napas perlahan sebelum mengangguk pada Fate. Setelahnya, aku fokus kembali ke sekitar.
"Kita harus menahan tubuh Tiamat dan lilit juga sayapnya. Dua sayap besarnya sungguh suatu masalah. Setiap kepalanya hancur, dia akan mengeluarkan aura yang besar. Kita harus menahan kerusakannya," jelasku, lalu beralih menatap dalam-dalam naga jauh di depan sana. Dia masih mengamuk dan mengentakkan kaki ke tanah.
Ternyata gelagatnya masih saja sama.
"Tiamat akan mengamuk pada orang yang berhasil melukainya. Mungkin, aku dan Fate bisa bekerja bersama untuk memancingnya. Kuyakin perhatian Tiamat akan penuh kepada kami. Omong-omong, tadi aku sempat melihat percikan petir dari bongkahan es yang Fate keluarkan ...," tambahku dengan bergumam pada akhir kalimat.
"Kamu yakin dengan ucapanmu?"
Sontak kaki berbalut bot hitam berderap, menyaruk langkah di antara suara letupan pertarungan. Orang tua berpakaian bak kesatria mendekat dengan pelipis di wajah kukuhnya terhias noda darah.
Profesor Kaidan.
Sampai beliau tiba di tengah-tengah kami, aku masih membisu. Sebab bagaimana caraku menjelaskannya? Aku berakhir menggenggam tangan hingga terasa dingin, lantaran wajah orang tua itu ... sungguh tak bersahabat.
"Apa sekarang sang guru wali meragukan anak didiknya sendiri?" timpal seorang pemuda tiba-tiba. Meski berkata demikian, ekspresi menunjukkan keseriusan. "Insting bertahan tajam bukan main; mata bisa membaca setiap gerak-gerik, itu mengapa menggunakan taktik yang sama padanya tidak akan bekerja. Dan dia pernah melawan Tiamat. Bertemu lagi untuk kesekian kali merupakan titik balik, itu sebabnya dia bisa memberikan arahan dengan baik."
Lalu, iris bak lavender terarah padaku dengan suatu senyuman ringan. "Aku tak akan melupakan hasil latihan kita, Red."
Theo ....
Mendengar pembelaannya, seketika kelopak mataku menggulung dalam wajah berbinar.
Lantas, wajah kukuh Profesor Kaidan meneduh dengan suatu gurat sabit. "Kalau begitu biar aku sempurnakan strateginya."
Lalu beliau menatap jauh ke depan, iris cokelat bergerak cepat membidik ke sana kemari seolah-olah membaca keadaan sekitar. "Tiamat terus mengamuk tapi karena terkurung, dia menghancurkan tanah pijakannya. Setiap orang yang ada di sekitar pancing dia lagi dan pasang jebakan hingga tanah di kakinya longsor. Kita akan ikat dia dengan tali baja eksklusif. Regu khusus bertugas merobek sayap agar dia tidak mengeluarkan serangan besar."
Dan mata berakhir menatap kumpulan kami. "Kepala hijau, biar aku yang urus. Aku membutuhkan support dari Daniel dan Lux. Elemen tanah kuserahkan pada Gil. Crist dan Rose, berikan support pada Gil. Untuk kepala yang kuning ...."
"Itu bagianku!" sergah Lucian membuat kami terkejut, "biarkan aku melepas stres sekali-kali wahai adik tercinta! Terus aku mau Red dan Fate menjadi support-ku!"
Entah mengapa untuk ukuran orang yang sedang menahan naga besar, Lucian terdengar senang ....
Anehnya, Lucian justru berbisik tapi tentu bisa kami dengar jelas. "Oh iya, tadi aku juga lihat percikan petir!"
Sontak Profesor Kaidan memijat keningnya. "Bilang dari tadi dasar kakak bodoh." Kemudian beliau mengembuskan napas panjang. "Setelah ini, regu yang memasang jebakan segera bergerak. Regu yang menangani Tiamat tetap dalam posisi siaga. Begitu dia jatuh dalam perangkap, kita langsung bergerak."
Dengan begitu pengumuman strategi kembali bergema dan dijelaskan ulang oleh EVE. Setiap orang langsung pergi memenuhi tugas, begitu pula dengan kami; siap pada posisi masing-masing.
Saat Aegis Lucian lepas ... dari sini, sungguh suasana terlihat riuh. Hiruk pikuk seakan enggan reda; seakan tak kenal lelah; seakan tak kenal apa itu istirahat. Terlihat pula jebakan-jebakan terpasang meski mengorbankan beberapa orang terlahap si naga banyak kepala.
Selang beberapa menit suara dentum memecah telinga, disusul gemeretuk bebatuan. Sebab sesuai yang direncanakan, tempat pijakan Tiamat akhirnya rubuh.
Naga raksasa melesak ke dalam tanah terikat oleh tali baja eksklusif. Beberapa orang berseragam khusus pun menyerang beberapa titik lemah sayap lebarnya, memancing kilat semakin intens menyambar bersamaan lengkingan menggaung; raung tak suka turut mengudara berasal dari Tiamat yang mulai mengamuk.
Namun, itu merupakan pertanda tersendiri untuk kami segera maju.