
Setiap hari Departemen Disiplin akan melakukan patroli di seluruh kawasan akademi, melihat apakah ada yang melanggar atau tidak. Tak pandang bulu, murid; staf; guru; semua dalam pengawasan. Sampai hari ini tiba bagian Fate untuk bertugas.
Fate butuh pengawasan khusus karena jika dia sudah terlalu fokus menganalisa, tidak akan sadar dengan keadaan sekitar. Khawatir mendapatkan serangan tiba-tiba, maka membutuhkan bantuan dari anggota Departemen Eksekusi.
Fate merupakan salah satu analisis terbaik maka tetap harus bertugas begitu pula mendapatkan perlindungan.
Begitu kira-kira isi surat tersebut.
Tanda tangan kepala Departemen Eksekusi pun tertera, Gil Vertum, menandakan keaslian surat ini. Tak lupa cap bertuliskan Grade B di sampingnya.
Aku mengembuskan napas panjang dan mengusap wajah dengan lelah.
Aku memang membutuhkan misi, tetapi bersama Fate ... astaga.
"Maaf sudah merepotkanmu. Padahal aku sudah bilang kepada mereka kalau aku bisa walau sendirian."
Segera aku menggeleng.
Ah, aku merasa tak enak membuat Fate berpikir demikian padahal ini hanya diriku dengan pikiran yang terus berkecamuk.
"Memang saya membutuhkan misi, sekecil apa pun tak masalah. Sudah lama mereka tidak memberikan tugas."
Fate melihatku dalam-dalam. "Hmmm, mereka mengkhawatirkanmu."
"Mereka selalu khawatir berlebihan."
Fate justru berkata, "Mereka khawatir karena sayang. Coba kau bayangkan jika orang yang sangat kau cintai terluka, pasti kau akan khawatirkan?"
Aku terkejut sampai-sampai menyentakkan langkah, tetapi bergegas kembali mengikuti Fate berjalan menelusuri akademi.
Benar apa yang dia katakan.
Pasti akan merasa khawatir jika orang tercinta terluka, tetapi ... kepadaku?
Jadi Profesor Kaidan peduli terhadapku?
Aku menutup mulut menggunakan tangan kanan, kebiasaan ketika mencoba berpikir keras karena sungguh tak paham.
Seketika aku teringat wajah beliau tadi pagi, menginginkan aku bercerita tentang masalah yang diderita.
Namun, aku tak tahu bisa menceritakan masalah ini atau tidak. Takut mereka makin menghindar dan menatapku hina, terlebih jika mereka tahu aku ini anak iblis dan ... seorang pembunuh.
Bahkan sampai sekarang aku masih takut jika suatu saat melukai mereka tanpa sadar.
Rasanya ingin pergi jauh, tetapi juga suka di sini dan mereka ... orang-orang di akademi ini, baik sekali.
Walau mereka memang sering menghindariku, beberapa dari mereka masih ada yang tersenyum; menyapa. Aku tak pernah mendengar mereka marah atau meninggikan suara terhadapku.
Sangat berbeda jauh dari orang-orang yang ada di dunia asalku yang tak hanya menghindar, mereka selalu mencoba menyakitiku.
Aku sangat nyaman di sini.
Terlebih, Fate. Dia tak masalah terus berada di dekatku.
Aku berjalan di belakangnya, rambut perak yang panjangnya melambai indah di setiap langkah---oh, apa yang aku pikirkan tadi?
Bergegas aku menggeleng dan melangkah ke sampingnya.
Sekarang Fate mengenakan kacamata dan terus memeluk papan kerani di tangan kanan. Sejujurnya, mata perak kebiruannya itu sangat cocok dengan kacamata.
Kami hampir sampai ke keramaian. Dia mulai menyentuh kacamata dengan tangan kiri.
"Scan," ucap Fate tegas.
Sesaat kemudian holografi lensa fokus muncul tepat di depan kacamata yang dia kenakan.
Fate memejamkan mata sesaat dan berkata, "Aplikasi khusus dari Departemen Gear yang dimiliki setiap anggota Departemen Disiplin. Dengan ini kita bisa membaca nama setiap orang karena kita perlu tahu siapa kira-kira orang yang akan melanggar."
Aku mengangguk. Ternyata teknologi milik Departemen Gear memang sangat hebat dan membantu.
Sejujurnya baru pertama kali aku melihat aplikasi scan tersebut karena berasal dari Departemen Eksekusi, hal seperti ini sangat asing bagiku.
Akhirnya kami tiba di taman belakang akademi.
Aku biarkan Fate mencatat beberapa hal di dokumen dalam papan keraninya. Ternyata dia kidal.
Aku pun menelaah sekitar dan memejamkan mata. Tidak ada keberadaan yang mencurigakan di sekitar kami.
Fate selesai mencatat dan kami pun melanjutkan patroli.
Jika aku pikir kembali, memang Departemen Disiplin paling tidak disukai banyak orang karena mereka bertugas mengamankan individu yang bermasalah.
Namun, karena mereka juga keadaan di sekitar akademi terasa aman dan damai; tak banyak yang berbuat gaduh.
Sekilas aku mendengar kekehan samar. Sontak aku menoleh ke arah Fate dan bertanya, "Ada apa?"
"Melakukan tugas seperti ini mengingatkanku ketika sekolah dulu. Tugas Departemen Disiplin sangat mirip seperti OSIS di duniaku," jawabnya.
"OSIS?"
"Iya, aku adalah wakil ketua OSIS dan ketuanya adalah Sen. Dan itu sangat melelahkan terlebih jika kau satu-satunya orang yang waras."
Fate mengembuskan napas panjang sejenak dan lanjut berkata, "Sesama anggota OSIS suka saling berkelahi, tidak tahu karena apa dan aku yang harus membereskan kekacauan mereka. Kadang sampai halaman belakang hancur karena bertengkarnya bukan main-main. Mereka menggunakan kekuatan fisik dan sihir."
Mendengar itu aku tertawa kecil. "Sepertinya merepotkan, tapi bagaimana membereskan halaman yang hancur seperti itu?"
"Begitulah, memang sudah tugasku sebagai Supporter. Dan tentu menggunakan kekuatan sihir. Menganalisis kerusakan yang terjadi dan memperbaiki kerusakan menggunakan sihir tanah dan angin. Aku sudah terlatih untuk hal itu. Terlebih kekuatan elemental di duniaku melimpah, jadi itu bukan masalah besar."
Ini sedikit mengingatkanku dengan tugas lainnya dari Departemen Gear.
Kami anggota Departemen Eksekusi harus membuat laporan kerusakan arena ketika selesai bertugas melawan para hibrida di luar sana. Kemudian mereka akan tiba dan melakukan perbaikan dengan alat-alat canggih dan dragonic-nya sampai terlihat seperti tak ada pertarungan terjadi di tempat tersebut.
Tetapi ... Supporter? Apakah itu sama dengan Class Support di dunia ini?
Aku sedikit memiringkan kepala. "Apa itu Supporter?"
"Tidak semua murid di sekolahku dulu adalah manusia normal. Banyak dari mereka memiliki kekuatan spiritual tinggi dan memang sekolahku ada untuk menjaga mereka, dari manusia yang ingin memanfaatkan kekuatannya atau monster yang mencoba memakan jiwa mereka. Guardian bertugas melindungi. Sen terpilih menjadi Guardian. Dan aku adalah siswi yang terpilih sebagai Supporter, membantu Guardian baik dari segi informasi, healing, atau serangan jarak jauh. Aku sudah menjadi Supporter untuk Sen selama beberapa tahun."
"Ah .... Jadi kamu kenal Sen sewaktu menjadi OSIS?"
Fate menggeleng. "Tidak. Sebenarnya aku bertemu dengannya pertama kali ketika sekolah, saat masih kecil. Kemudian ayah angkatku, Arthur, memperkenalkan Sen kepadaku."
Kini tatapan mataku meredup. Mereka kenal satu sama lain jauh lebih lama daripada yang aku kira.
"Mempunyai masa-masa seperti itu terdengar menyenangkan."
"Begitulah." Walau wajahnya masih datar, semburat merah terlihat di pipinya.
Fate dengan teman dan orang tercinta, memiliki kenangan indah. Terasa orang-orang di sekitarku begitu bercahaya. Mereka bersinar bagaikan bintang yang tak akan pernah bisa kuraih.
Sedangkan aku merasa berjalan dengan langkah yang amat pelan di dalam ruang gelap tanpa arah dan tujuan.
Sebenarnya, untuk apa aku ada di sini?
"Kau juga bisa mempunyai masa yang menyenangkan. Dan aku penasaran dengan mesin itu. Istirahat sebentar, kita ke sana ya?"
Eh? Heee?! Seketika terasa tanganku dia tarik. Jemari tangan Fate terasa lembut---ah, tu-tunggu! Ini salah! Tuhan ....