
Seketika aku berlutut--seperti yang dilakukan teman-temanku--dengan dua tangan menyentuh atap kereta sebagai tempat pijakan kami, Heart Core sudah kusiapkan sebelumnya menjadi dua pedang tersemat di punggung.
Tetapi kereta ini melaju terlampau cepat bahkan terasa menggelitik pada ulu hati. Lampu-lampu dalam terowongan terlihat menjadi satu garis kecil di langit merupakan bukti nyata kecepatannya. Biasa aku menikmati sensasi percepatan dalam adrenalin terpacu tetapi tahu ini ulah dari sosok reptil keji, aku tidak senang. Terlebih tampak Cecil tak kuasa, termasuk Crist.
"Ti-tidak bisa. Cari, jalan masuk ... bahaya."
Kalimat terbata-bata dari Cecil kurang dapat dipahami tetapi cepat Daniel menyambar, "He-hei, setiap kereta ada pintu darurat di ataskan?!"
Bagai mencelikkan sesuatu dalam benak, Lux tertegun dan berseru, "Semua cepat berpencar dan cari pintu masuk demi evakuasi diri!"
Detik itu juga para Disiplinaria--Rose, Fate, Theo--sigap berjalan meski masih dalam posisi jongkok; menyesuaikan keseimbangan. Satu sisi, Lux mendekati Daniel yang sudah merangkul Cecil demi membantunya duduk sempurna.
Sungguh aku ingin membantu tapi Crist, badan bergetar heboh; mata tertutup rapat. Yang lebih parah, wajahnya membiru dengan keringat mulai membanjiri. Maka kurangkulnya dalam tangan kiri dan dia langsung lekat begitu saja--sembari memeluk dokumen.
Sebenarnya, ini ... terasa canggung, tapi tak enak juga lantaran tidak mungkin aku tinggalkan begitu saja, masih ingat betul rasa takut Crist terhadap Rollercoaster ketika misi di Dream Land, dan sekarang dipaksa langsung menghadapinya.
"Ketemu! Tapi sulit dibuk---"
Crash!
Sebelum Rose menyelesaikan ucapan, Fate sudah menancapkan dua pisau ganda di pintu masuk; mengoyak besi yang entah setebal apa. Mata merah muda menatap Fate---bukan! Bukan karena terkejut tapi lebih seperti ... kagum? Namun, Fate hanya membalas Rose dengan ekspresi datar sembari mengangkat bahu.
Tugas terakhir dilakukan oleh Theo, menarik dan melempar pintu hingga terpelanting entah ke mana; tertinggal jauh menabrak dan terkoyak pada sisi-sisi lorong hingga menciptakan percikan api.
Tanpa memakan waktu mereka bertiga memasuki gerbong, mungkin mengamankan tempat terlebih dulu. Di susul Lux setelah Daniel meyakinkan dia tidak apa-apa. Namun, ketika Cecil berdiri, saat itu juga dia tergelincir bagai kehilangan tempat pijak. Gilanya, Daniel menarik dia dan bergantilah si pirang yang jatuh ... kalau tidak segera kutarik kerah bajunya.
Mungkin efek ketakutan, mereka berdua berakhir saling rangkul. Sebenarnya ini lucu. Untung saja pintu darurat juga sangat besar, jadi aku tak ada masalah melompat masuk dengan membawa Daniel--yang tak lepas memeluk Cecil meski terlihat sedikit tercekik--dan Crist yang masih lekat seperti prangko.
Suara helaan napas tertahan yang samar terumbar begitu aku tiba, datang dari Rose seperti mati-matian menahan geli. Berbeda dengan Lux yang sudah tertawa lepas. Mungkin sekarang aku tampak konyol, tapi ... mau bagaimana lagi? Aku memutuskan hanya mengembuskan napas panjang dan meletakan Daniel secara perlahan.
Mungkin efek ilusi.
Aku pun membantu Crist untuk duduk di salah satu bangku dan membisikkan bahwa sekarang sudah aman. Dia langsung lemas saat itu juga, lebih-lebih tangan bergetar. Entah bagaimana rasanya, pasti mengerikan dan sayang aku tak punya rasa takut sejenis, memutuskan menemani dia duduk di samping---ah, pedangku terasa terangkat di belakang.
"Istirahatlah sebentar, kalian seperti terkejut dengan perubahan dimensi yang terlalu tiba-tiba," ucap Lux saat bersandar pada salah satu tiang dalam kereta, "yang merasa baik-baik saja bisa bantu aku evakuasi, ada beberapa rakyat sipil---"
"Jangan!" sergah Cecil, berusaha bangun meski lutut bergetar bak kaki tak mampu menyangga tubuh, "itu tuh, ide buruk!"
"Tapi mereka kurus dan tidak sadarkan diri," timpal Rose, wajah jelas melukiskan kecemasan, "kemungkinan mereka sudah lama terjebak di sini."
"Ya, setiap naga yang bisa membuat ruang dimensi bisa mengatur waktu di dalamnya dan ini ... tampaknya kekuatan naga satu ini tidak sebesar itu," tambah Theo, dia mulai beranjak dari duduk.
Si gadis kecil justru menggeleng cepat. "Enggak! Pokoknya jangan!"
"Cil, sehat? Kepala enggak eror---"
"Hih, apa sih! Aku tuh baik-baik saja! Tadi seram pokoknya, kukira aku akan terbang! Aku paling kecil daripada kalian semua!" celoteh Cecil menatap bengis pada Daniel yang kebingungan, "kereta ini paling aman buat mereka, enggak ada jejak naga dalam kereta mana pun."
Kukira mereka berdua akan bertengkar lagi, nyatanya tidak. Sebab Daniel terdiam melihat gelagat Cecil.
Namun, ucapan Cecil ... kereta mana pun? Berarti ada banyak kereta dalam ruang dimensi ini dan banyak pula orang yang terjebak. Kalau tidak salah, dokumen dalam genggaman Crist merupakan daftar orang hilang.
Sekarang tidak ada yang bisa kita lakukan selain mencari pemilik dimensi. Membangunkan mereka yang tidak sadar juga berisiko membuat kepanikan. Lebih cepat tugas selesai; lebih cepat mereka tertolong. Aku memutuskan melihat jauh kedepan dari balik jendela---oh! Ada setitik cahaya di sana! Dan selang beberapa detik sorot cahaya memenuhi gerbong, memaksa kami memejamkan mata.
Setelah sinarnya reda, seketika aku beranjak dari tempat duduk; berbalik demi melihat jendela dengan baik karena di luar begitu mengherankan. Kami melayang dalam kecepatan tinggi, tak ada rel; tak ada tanah. Dan tidak hanya kereta yang kami singgahi, di ujung situ; sana; atas juga, banyak kereta berlalu.
Pantas saja Cecil sebut bahaya. Kalau kami masih di atas gerbong, mungkin gadis itu benar-benar akan terbang ... atau bahkan kami semua. Tapi dengan keadaan ruang dimensi seperti ini, bagaimana cara mengetahui di mana pemilik portalnya?