When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| Kode Merah



Sedikit merebahkan diri, aku duduk pada bangku depan jendela kamar. Mejanya datar dengan jendela terbuka lebar membuatku dapat melihat keindahan langit malam yang kini menemani. Seakan sang purnama melambaikan kirananya, membuatku makin tenggelam dalam pikiran lantaran langsung mengerjakan apa yang Fate sarankan.


Namun, rasanya sebanyak apa aku mencatat, serpihan ingatan dalam kepala tetap berantakan. Maksudku, tak tahu mana lebih dulu terjadi daripada yang lainnya. Aku pun mendengkus ... setidaknya ini sedikit membantu melihat hal apa saja yang diingat.


Kemudian mulai bersandar pada bangku, mengangkat binder tinggi-tinggi yang sedang terpampang banyak tulisanku di sana. Dibandingkan tulisan para perempuan, ternyata tulisanku berantakan sekali---ah! Mendadak alat tulis terjatuh dan menabrak wajah karena suara sirene memekakkan telinga membuatku terkejut.


Lantas aku berdiri dari tempat duduk ketika EVE berseru dengan tegas dan berulang-ulang, "Darurat! Kode Merah! Kode Merah! Kode Merah! Kepada seluruh murid dan staf Vaughan wilayah Centru yang terpanggil, segera berkumpul ke halaman militer belakang akademi!"


Tuhan, ada apa ini? Sangat jarang kami menerima kode merah. Ini mungkin yang pertama kalinya bagiku. Bahkan sekarang suara kasak-kusuk orang berlarian di lorong club terdengar. Spontan aku menoleh pada jam---seriuskah? Tengah malam! Tanpa memakan waktu aku keluar dari kamar dan mendapati Crist berada di lorong hendak membangunkan anggota lain yang masih tertidur.


Kini, mata biru tua nan dalam tertuju padaku. Atas aksen serius dan tegas, Crist berkata, "Pakai seragam lengkap! Kamu masuk regu lapangan dan langsung berangkat setelah ini!"


Tanpa basa-basi aku menuruti titah, mengenakan seragam formal dan pergi menuju halaman militer belakang yang kutahu banyak sekali senjata berat; termasuk alat perang khusus dan pesawat-pesawat milik akademi. Omong-omong, Crist tampak mengerti dengan situasi yang terjadi.


Kakiku mulai berderap langkah cepat pada jalan setapak terhias lampu-lampu merah darurat nan mencolok, selaras dalam menggempita sirene bersuara panjang menjadi sinfoni tersendiri yang terkesan mengerikan. Ditambah udara dingin malam tak henti menjamah kulit.


Di waktu seperti ini seharusnya eksistensi ratus kerlip jenaka para gemintang menemani sang rembulan---tidak, semua itu tenggelam dalam riuh orang-orang yang tampak tergesa-gesa seperti halnya diriku. Tak ada dekut burung hantu atau makhluk nokturnal seperti biasa, membuat suasana makin mencekam.


Keadaan ingar bingar ini lebih parah daripada hari-hari kemarin ketika akademi mendapatkan kabar mengenai kondisi tim Daniel dan---Fate?! Gadis itu seperti ingin pergi ke club tetapi setelah mata ambar yang mungkin menangkap sosokku di kejauhan, dia mengurungkan niat.


Aku pun berlari kecil demi menyetarakan langkah dengannya.


Sekarang Fate mengenakan pakaian formal yang sama seperti acara ulang tahun akademi; seragam identik dengan warna merah hitam. Jubah hitam berbulunya berkebit kasar ketika si gadis terus memicu kaki jenjang berbalut hak bot tinggi untuk berjalan cepat.


Ketika ingin bertanya apa yang terjadi, aku membatalkan niat karena dia telah menelepon entah siapa pun itu dan EVE memberikan instruksi tersendiri padaku.


Akhirnya dijelaskan bahwa misi kami ... Raid Class dan Grade SSS, seluruh staf dan siswa dengan grade kekuatan dan kontrol di bawah B dilarang ikut karena musuh yang kita hadapi adalah Tiamat--ratu dari para naga. Mendengar ini, kelopak mataku melebar perlahan dengan telinga semakin serius mendengar gelombang sinyal melalui Heart Core.


Kemungkinan akan ada banyak Elite tingkat atas di sana karena musuh itu sendiri merupakan General tingkah akhir, mendekati Genesis--sang raja dari para naga. Lokasi adalah kota yang telah mati, Nifle. Misi ini sangat mendadak maka pembicaraan taktik dan strategi akan berlangsung sepanjang perjalanan. Setiba di halaman militer belakang, seluruh yang bertugas diminta berbaris sesuai dengan departemen masing-masing. Begitu isi pengumuman dari EVE.


Aku pun tiba di lokasi seluas entah berapa hektare dan banyak helikopter kemiliteran berbagai jenis tipe sedang aktif--entah siap lepas landas atau baru tiba. Beberapa pesawat angkut militer juga disiapkan.


Di sini begitu riuh karena erangan mesin-mesin berat sampai menenggelamkan berbagai kegaduhan dan suara sirene yang masih belum menunjukkan tanda akan berhenti, memaksaku menyipitkan mata dan sedikit menghalau debu menyeruak menggunakan tangan kanan demi melihat di mana barisan para Departemen Eksekusi.


Namun, dari itu semua ada satu hal menarik perhatianku. Sesosok perempuan akhir dua puluhan berdiri di bawah jajaran lampu sorot lapangan lepas landas, pakaian anehnya begitu mencolok---tunggu, aku tahu! Dia mengenakan seragam setipe dengan Fate dan ... apakah itu haori; jubah khas daerah timur sana? Sepertinya benar itu haori. Haori tersematkan di pundaknya, berwarna merah mudah dengan gradasi pink tua; bermotif kelopak bunga merah jambu nan unik.


Lantas aku bertanya pada Fate, "Siapa perempuan yang berbicara dengan Head Master Lucian?"


"Dia orang penting di Vaughan. Sangat penting." Hanya itu jawaban Fate, sampai akhirnya kami berpisah karena dia menghampiri barisan para Disiplinaria.


Seketika aku tertegun atas mata jelaga berusaha melihat sekitar tetapi ketika hendak kembali berjalan demi memasuki barisan Departemen Eksekusi, terdengar pengumuman lainnya melalui Heart Core.


Aksen robotik khas EVE kembali menggema dalam kepala, mengatakan pembagian tim telah ditetapkan. Aku masuk kedalam tim yang dipimpin oleh Profesor Kaidan, nama-nama lain juga disebut tetapi ada beberapa ... terdengar asing. Aku telah lama berada di Vaughan tapi baru sekarang mendengar nama-nama khas penduduk benua timur dan selatan ini.


Perintah lanjutan juga diumumkan, kami harus segera lepas landas. Maka detik ini juga menaiki helikopter kemiliteran yang di pintu masuknya terdapat para pemimpin tim.


Seketika itu aku berlari ke bagian belakang, sama seperti anggota lain. Meskipun begitu banyak orang, kami tetap rapi dan disiplin hingga dengan mudah dapat menemukan posisi Profesor Kaidan.


Saat hendak menghampiri pintu masuk helikopter, mendadak pundakku ditahan. Refleks aku menoleh dan Profesor Kaidan telah berwajah serius--terkesan tanpa ekspresi. Lengan kukuhnya menyodorkan sesuatu padaku dan beliau berkata, "Biar Bapak pasangkan ini padamu."


Eh, mik mini portabel? Untuk apa? Tapi aku tidak kuasa untuk bertanya karena wajah kukuh beliau terlihat tak kompromi. Lebih-lebih, selesai memasangkan itu pada kerah bajuku, guru waliku ini kembali menghadap depan; menatap lurus dan kosong dalam posisi istirahat.


Aku pun memalingkan muka dan segera memasuki helikopter.


Sebab minimnya pencahayaan, keadaan di dalam sini remang-remang. Namun, aku tak henti-hentinya menatap barisan anggota di depan--model bangku saling berhadapan. Beberapa dari mereka ada yang terlihat berbeda. Maksudku mata sipit dan lainnya sangat lebar; kulit putih susu dan ada juga sawo matang; yang jelas, mereka bertubuh pendek daripada aku. Terlebih emblem yang dikenakan sedikit berbeda dari yang kupakai.


Tunggu, aku ingat! Mereka ... bukannya dari Vaughan wilayah Eother?


Desus bilah baja tiba-tiba mengudara, aku menoleh dan terlihat pintu utama helikopter tertutup perlahan bersamaan dengan dua orang terakhir yang masuk--Fate dan Profesor Kaidan.


Fate duduk pada bangku paling ujung tetapi sang pemimpin tim masih berdiri, menatap datar pada seluruh orang dalam helikopter. Matanya sempat terhenti padaku dan kami saling mengunci untuk beberapa saat. Kukira beliau akan mengatakan sesuatu, nyatanya tidak.


Akhirnya kami lepas landas.


Saat helikopter telah stabil di udara, Profesor Kaidan menjelaskan rencana pada kami yang intinya berfokus untuk bertahan sebab minimnya informasi tentang lokasi dan musuh itu sendiri.


Sebab Tiamat, adalah naga yang sedari dulu menjadi buruan tetapi wujudnya bahkan tak dapat terbaca oleh EVE.