
"Kamu serius enggak apa-apa nih?"
Aku menggeleng pelan terhadap pertanyaan Daniel---ah, sebenarnya masih sedikit pusing. "Untuk sekarang aku baik-baik saja. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku, maaf harus melihat yang seperti tadi ...."
"Oh, enggak-enggak, aku yang harusnya minta maaf! Maaf kalau agak menekanmu."
Rasa tak enak hati mulai menggerogoti. Padahal aku datang untuk menjenguknya tetapi membuat kericuhan tersendiri, berakhir mengelus tengkuk canggung dan menoleh pada Crist.
Namun, pemuda itu tak sedikit pun merubah ekspresinya dan berkata, "Masih ada yang mengganggu pikiranmu?"
"Banyak! Banyak sekali Crist!"
Eh?
Tanpa sadar aku menjadi menggebu-gebu, bahkan Daniel menatapku heran. Ah, lagi-lagi terbawa perasaan sendiri. Sontak aku kembali membenarkan posisi duduk dan menautkan jemari. Tuhan, pasti memalukan! Padahal sebelumnya aku---astaga, bahkan baju Crist menjadi kusut dan jaket lengan panjangnya melorot karena tak diritsleting! Kenapa dia tidak merapikannya? Justru malah memperhatikanku.
Mendadak sunyi membumbung lantaran dari kami bertiga tidak ada yang buka suara. Kenapa lagi ini?
Aku kembali melihat Daniel, dia hanya mengerjapkan mata beberapa kali. Sedangkan Crist masih seserius tadi, ekspresinya seakan menantikan suatu jawaban. Tapi tak tahu bisa menceritakan perihal ini atau tidak ... satu sisi, ingin mendapatkan arahan.
Crist selalu memberikan nasihat dan aku merasa sangat terbantu karenanya.
"Aku tahu masa depan itu tidak pasti, jadi kita harus bersiap-siap dengan apa pun yang terjadi. Namun, aku tidak suka ketidakpastian karena terlalu banyak kemungkinan. Apa lagi banyak hal negatif berlangsung di sekelilingku, termasuk kejadian hari ini. Aku ... menjadi bingung dan tak bisa berhenti memikirkannya," ucapku lesu.
"Tidak apa-apa. Sekarang, apa yang ingin kamu lakukan?"
Eh, Crist merespons? Padahal aku yakin kalimat tadi mengambang dan ambigu karena tak tahu harus memulai dari mana.
"Jika kamu terlalu banyak memikirkan sesuatu, kamu justru akan tenggelam di dalamnya dan itu membuatmu tertekan. Hidup perlu mengambil keputusan, lakukan itu dengan tenang dan masa depan baru terbentuk dari apa pun pilihan yang kita putuskan. Jadi, apa yang ingin kamu lakukan?" lanjutnya.
Yang aku inginkan? Yang aku inginkan ....
"Aku ingin maju; terus melangkah maju. Aku tidak mau terus seperti ini."
Sebab aku yang begini, terlalu menyedihkan.
"Pilihan bagus, aku bangga padamu! Terus bergerak maju .... Hidup seperti mengendarai sepeda, untuk tetap seimbang kamu harus terus bergerak maju. Lalu kita mendatangi satu titik tempat ke tempat lainnya, sama seperti kita menyelesaikan masalah satu persatu; melepaskan beban pikiran satu persatu. Kita tidak bisa memaksanya."
Akhirnya Crist merapikan bajunya yang berantakan.
"Dan selama di perjalanan, mungkin jalan yang kamu tempuh berliku-liku. Jika kamu terjatuh ketika mengendarai sepeda itu, aku bersedia dan siap membantumu berdiri lagi."
Seketika aku tertegun lantaran apa yang dikatakan terasa menyejukkan relung dada; terdengar tulus, setulus senyuman di wajahnya. Terlebih perasaan aneh seperti suatu gejolak memaksa keluar dari hati perlahan surut. A-aku merasa malu tiba-tiba dan langsung menutup wajah dengan dua tangan---tunggu, berhenti Red! Katakan sesuatu padanya dengan benar!
"Whoaa, Crist! Memang cocok jadi konsultan!"
"Ahahaha, terima kasih atas pujiannya."
"Uuum, terima kasih Crist. Kamu sangat baik ...."
Tidak bisa! Aku berakhir mengatakannya dengan suara lemah; tak mampu seperti Daniel yang penuh semangat. Bahkan, kini aku menunduk seraya menggenggam tangan dan menautkan jemari. Namun, tidak sopan kalau berbicara tidak melihat ke arahnya ... tapi tersipu juga! Hanya bisa melirik---eh? Dia terkekeh.
"Tidak, kamu lebih baik daripada aku."
He? Aku lebih baik daripada dia? Tuhan, maksudku, seriuskah?! Aku ini mudah terguncang; mudah menangis---oh, cengeng karena sering terbawa perasaan sendiri. Kadang bingung harus berbuat apa ketika situasi genting, lalu mengkhawatirkan hal-hal kecil ... astaga, kalau mengingat tingkahku jatuhnya sangat memalukan!
Lantas aku tertawa dan berkata, "Bagaimana bisa kamu berpikir seperti itu?"
"Karena aku serius. Sungguh. Tidak bercanda."
Aku sangat dibuat bingung sekarang. Namun, ekspresi si pemuda membenarkan kalau yang dia ucapkan itu serius. Sedangkan Daniel mengangguk-angguk, entah hanya ikut-ikutan membenarkan atau apa ... karena perkataan Crist masih tidak masuk akal.
"Ahahaha, tidak-tidak. Aku banyak sekali kekurangan dan dosa, itu mengapa aku tak henti berdoa kepada Tuhan ...."
"Itu hal yang wajar untuk kita semua, kamu tidak sendirian," jawab Crist dalam kekehan samar yang sangat natural, berbeda denganku tadi, "apa kamu tahu sebuah kata-kata?"
"Kata-kata?"
"Ampuni dirimu sendiri."
Mendadak, terasa waktu berjalan lambat di balik iris jelagaku yang perlahan tersibak lebar. Seakan-akan langit telah menyampaikan keinginanku ketika masih memikirkan rasa sakit dan penderitaan dengan penuh keraguan; menantikan sesuatu agar bisa bertahan.
Sekarang, ada yang memberikan satu lampu penerang. Dan aku disadarkan akan itu semua pun merasa ... akhirnya, mataku mendapatkan binarnya lagi.
"Kalau kamu sudah memaafkan dirimu dan meminta pengampunan pada Tuhan, kamu akan mendapat pengampunan itu."
"Begitu ...." Aku pun menggenggam tangan sendiri dengan erat tetapi pandangan berakhir sayu. "Ini kenapa aku begitu sengsara, karena tak mau memaafkan diri sendiri. Tanpa sadar, mulai menyakiti diri sendiri. Berkali-kali, menghantui diri dengan pikiran buruk sendiri. Padahal yang terjadi sebenarnya tidak seperti apa yang aku bayangkan."
Aku pun menoleh ke arah Daniel. Dia menyengir lebar seperti biasa tapi tampak canggung, tangan kiri juga melambai rendah padaku. Beberapa kali kulihat, bisa dibilang memang terlihat sehat. Hanya ada luka kecil dan perban di beberapa bagian tubuh. Tapi kenapa Cecil sampai menangis?
"Uum, Daniel, apa kamu dengan Cecil juga baik-baik saja? Tadi pagi kulihat ia menangis, lalu mengusirku ...."
Heee, laki-laki pirang kini tertawa mendengar perkataanku. Aku menjadi salah tingkah dan menunduk dalam-dalam seraya mengelus tengkuk.
"Susah ya hadapin Cecil?"
"Daniel!"
"Aduh, maaf Crist! Ahahaha, masalah Cecil aku saja yang urus. Kamu enggak perlu khawatir! Palingan ia enggak suka lihat kondisiku begini, apa lagi aku kirim pesan mau mengundurkan diri jadi ketua club ... dan pesan-pesan lainnya. Yaaa, salahku juga sih."
Eh?! Mengundurkan diri? Lantas aku memandangnya dengan tatapan tak percaya. "Kenapa? Ketua---ketuanya, bagaimana?"
"Kondisiku kayak begini bagaimana bisa kerja dengan baik? Nanti aku oper ke Cecil. Ia yang atur club, aku yang bantu-bantu," jawabnya.
Begitu, aku mulai mengusap wajah sekali. Tak habis pikir jika Daniel akan meninggalkan club---ah, jangan sampai terjadi.
"Nanti kamu bantu aku beres-beres barang di ruang kerja club, oke? Tanganku masih letoi nih, enggak bisa angkat berat."
"Aku juga bisa ikut bantu."
"Enggak usahlah! Tenaga Red doang dah cukup, paling tiba-tiba kamu dapat panggilan."
"Oh, ya. Tanganmu ... bagaimana jadinya?" tanyaku lagi.
Perlahan, dia membeberkan tangan kanannya. Bisa dibilang, itu adalah tangan protestic karena kulitnya sangat mengkilap meski tampak seperti lengan biasa. "Lihat, keren enggak? Sesuai permintaanku, tangan ini dikasih tato! Kalian tahu enggak? Mereka memberiku tato Phoenix!"
"Ahahaha, bukannya kamu tidak suka ditato?"
"Habisnya Crist, aku ngeri jarum! Tapi inikan tangan buatan, amanlah itu."
Lantas mereka berdua tertawa ringan. Sedangkan aku di sini, merasa terkesima.
Daniel bisa terus berpikir optimis dan maju meskipun aku yakin dia sangat membenci kondisinya sekarang. Karena kutahu, Daniel sangat mengejar idealisme dan ingin terus tampil sempurna, seperti berlatih setiap pagi; ingin mengejar orang-orang berbakat dengan usahanya; menjadi nomor satu dengan cara sehat tetapi marah kalau keinginannya tak tercapai.
Ah, ya, teringat ucapan Fate ketika melakukan review pertandingan setelah sparing internal club. Daniel memiliki sifat arogansi dan temperamen tinggi. Namun, sekarang ... meski dalam keadaan paling dibenci, dia bisa menjadikannya sebagai sesuatu yang disukai. Sebab bisa dibilang dengan kondisinya sekarang, Daniel akan jauh lebih sulit mengejar cita-cita.
Menurutku, hatinya juga sangat tegar.
"Kenapa Red? Terpukau nih sama aku?"
"Eh? Ti-tidak! Hanya ... ah, iya. Aku terpukau," jawabku seraya menunduk dan menautkan jemari, "bagaimana caraku agar bisa sepertimu?"
"Jangan sampai kamu kayak aku." Kini aku menatap Daniel yang berwajah serius. Bisa kubilang aksen berbicaranya sampai ikut berubah. "Aku punya kekurangan, dan kamu punya kelebihan yang sampai kapan pun enggak mungkin bisa aku gapai. Manusia itu punya kelebihannya masing-masing Red. Dan sama kayak kamu, aku juga dalam tahap belajar menjadi orang baik."
"Aku selalu tersulut emosi, kau pikir yang kayak begitu bagus? Enggaklah! Aku selalu membuat suasana jadi kacau dan perkataanku buat orang salah paham, mungkin sampai sakit hati padahal niatnya baik. Contohnya waktu kita misi bareng di Faerie Dragon itu, aku enggak suka Fate dikasih misi besar padahal anak baru ... anggota club-ku pula! Tapi ucapanku malah kasar. Itu yang Lux sadarkan ke aku waktu latihan dulu. Makannya sekarang, aku mencoba jauh lebih tenang sedikit. Tapi bawaan lahir kali ya? Susah, namun aku masih berusaha. Kita berjuang sama-sama, ya, Red?"
Sekarang mata hijau terpejam berkat suatu ukur senyum lebar nan cerah. Mungkin, berkat bantuan sorot mentari merambat masuk dan memancarkan binar lembut di sekitar hingga rambut pirang Daniel ikut mengkilap. Entah kenapa, aku merasa sedikit tersipu dan berakhir mengangguk---eh, tunggu! Bukan itu yang aku maksud!
"Bu-bukan! Maksudku tadi, bagaimana bisa tetap tegar sepertimu?"
"Ooh, itu ... kalau dipikirin terus soal tanganku yang buntung ya pusing aku! Mending berpikir positif. Soalnya kebahagiaan itu datang dari diri kita sendiri."
"Karena ini sudah terjadi, jadi kamu tidak memikirkan 'kenapa harus seperti ini', 'andai ini tak terjadi', tapi memilih merencanakan hal-hal untuk sekarang dan kedepannya?" tanyaku.
"Nah, itu ngerti! Daripada dipikirin terus atau kita menyesal-menyesal enggak jelas, lebih baik kita lihat masalah kedepannya, iyakan? Seperti obrolan kamu dengan Crist tadi. Jangan memaksakan diri juga, loh! Kalau banyak berpikir tidak-tidak, itu namanya menyiksa diri. Menyiksa diri itu enggak bagus!"
"Karena menyakiti diri sendiri membuat orang yang peduli pada kita ikut merasa sakit?" Dan Daniel mengangguk mantap pada pernyataanku, bahkan Crist juga mengikuti.
Heee, mereka kompak juga.
"Fate pernah katakan itu padaku, aku ... sedikit tak mengerti maksudnya apa."
"Sekarang kamu pahamkan?" Aku kembali menatap Daniel dan mengangguk kecil, membuatnya terkekeh seraya menyikut-nyikut Crist. "Eh, lihat itu. Red sudah besarkan? Belajarnya cepat!"
"Aku memang sudah besar ...."
Ah, lagi-lagi mereka berdua tertawa. Tapi aku benar 'kan? Bahkan lebih tua dari siapa pun yang ada di dunia ini ... mungkin. Aku mulai bertingkah kikuk dan mengusap tengkuk canggung.
"Tampaknya perkembanganmu jauh lebih bagus dari yang aku kira." Sontak kami bertiga menoleh ke arah pintu di mana aksen wanita nan khas mendadak muncul.
Ah, Profesor Caterine.