When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| Selamat Ulang Tahun!



Aku sedikit membungkuk atas mata jelaga tak berkedip melihat adonan dalam panggangan. Kue itu mengembang, di bawah cahaya oranye yang mana udara panasnya terasa sampai wajahku dan hal ini semakin membuatku ingat ... akan masa-masa terdahulu.


Seandainya ia--orang terkasihku--berada di sisiku sekarang, apa yang akan dikatakannya? Apakah sama, ketika kita duduk depan perapian pada malam yang dingin?


Rasanya ingin kembali merangkul kehangatan itu, sebuah titik afeksi yang terkubur di ujung relung dada.


"Heh, ngapain dilihat begitu? Nanti bunyi sendiri kalau sudah matang." Aku berdiri tegak dan berpaling ke asal suara. Cecil masih sibuk merapikan beberapa peralatan di atas meja, lalu mata merah muda melirik ke arahku. "Mending kamu bantuin aku."


Tanpa berkata, aku pun menghampirinya dan mulai mengelap beberapa sudut meja. Kadang membawa dan memindahkan peralatan yang kotor tetapi kini tatapanku sayu. Sebab, jika dipikir kembali ia ingin tunjukkan hal apa dari aku yang mendapatkan kehidupan normal? Kebahagiaan? Apa artinya jika pada akhirnya akan hilang kembali? Atau ini sebatas upaya membayar dosa, kah?


"Kamu mikirin apa sih? Perasaan tadi bawel cerita soal orang terkasihmu itu."


Lantas aku tertegun dan melihatnya lagi. "Ya ... karena itu, beberapa hal ada yang aku pikirkan."


"Kalau terlalu banyak mikirin hal buruk tuh enggak bagus!"


"Ah, ini bukan hal buruk ... mungkin. Omong-omong, kamu dengan Daniel benar baik-baik saja?"


Sekarang banyak sekali peralatan dan piring kotor di wastafel, mungkin aku akan mencucinya sebentar.


Namun, sunyi seketika membumbung, bahkan terasa hawa menjadi sedikit pekat. Hanya dentingan tumpukan piring yang terdengar jelas selaras dengan detak jam di dinding---eh, ada apa ini? Lantas aku melirik dan kudapati Cecil melihatku dalam tatapan ... terkejut? Ekspresinya sulit kubaca.


Mungkinkah perkataanku tadi terdengar rancu? Aku pun menjelaskan, "Baru sekarang melihat ekspresi Daniel seperti itu. Biasanya, ia selalu bisa menghadapi masalah-masalahnya dengan santai---oh! Jika sudah terlalu buntu ia akan marah-marah sendiri, tapi tadi Daniel benar-benar suram. Aku yakin perkataan menyerahnya itu sungguh-sungguh. Cecil, mungkin di mata Daniel kamu memang berharga---"


"KAMU!"


Aku terkejut karena si gadis tiba-tiba berteriak. Bahkan ketika aku menoleh, wajahnya sudah merah padam dengan tangan mengepal kuat; menuding ke arahku.


"Kenapa bahas itu lagi, ha?!"


"Aku khawat---ah!"


Satu genggam tepung menghantam wajahku tanpa ampun. Refleks aku terhuyung mundur; aktif menggeleng berharap tepung ini enyah dari pandangan karena beberapa masuk ke mata! Astaga, perih sekali! Air mata mulai mengalir secara tiba-tiba dan aku buru-buru membasuh muka di wastafel.


Ah, aku berakhir terbatuk kecil sebab beberapa justru masuk ke hidung. Sungguh tak menduga Cecil akan melempariku tepung.


"Cecil, kenapa kamu---hah!"


"Cepat pergi!"


Tuhan, dia melempariku tepung lagi! Untung yang satu ini berhasil kuhindari tetapi setelah diteriaki seperti itu, aku langsung berlari.


Sesampainya di ruang tengah, anggota club yang sibuk menata ruang seketika mematung; menatapku tak percaya dan aku ikut bingung dengan ekspresi mereka.


Daniel juga celangap dan menunjukku. "Oi, ada apa di dapur?"


Dengan mengerang kecil dan menyeka sisa tepung di sekitar mata, aku menjawab, "Aaaa, Cecil mengusirku lagi."


"Bahahaha, bodoh banget kau Red!"


Sekarang Daniel tertawa terbahak-bahak diikuti yang lain---aagh, pasti ini memalukan! Sangat memalukan, astaga!


Buru-buru aku naik ke lantai dua, lebih baik segera membersihkan diri---aduh! Hah, aku justru menabrak tembok atau tersandung sesuatu, entahlah! Aku tidak tahu lagi karena mataku sudah perih sekali! Maka dengan hati-hati aku menyisir langkah di pinggiran tembok. Tuhan, apa lagi kamarku paling ujung!


Cecil, kenapa kamu menyiksaku begini? Aku tak henti mengerang kecil.


Selang beberapa menit, aku yang sudah membersihkan diri dan mengganti baju pun kembali turun ke lantai bawah. Tapi tadi itu benar-benar ... haah, aku mengembuskan napas panjang.


Ketika langkahku hampir sampai pada dasar tangga, Daniel berteriak, "Red, Cecil butuh bantuan di dapur buat hias kue!"


"Tapi, nanti dilempari tepung lagi ...."


Seketika kelopak mataku menggulung. Astaga, benarkah?! Ruang tengah memang sudah rapi dengan hiasan ulang tahun yang minimalis. Segera aku mencepatkan langkah menuju dapur.


Sesampainya, aku langsung melihat salah satu anggota club memberikan Cecil beberapa potong cokelat putih berbentuk ... kelinci? He? Entah kenapa aku merasa tak asing.


"Nah, Red ke sini juga! Cepat bantu kami hias kuenya!"


"Yang membeli kado belum pulang?" tanyaku tergesa, buru-buru menghampiri mereka.


"Belum. Urusan itu nanti saja, ini dulu! Tadi sepulang belanja, di depan aku lihat Fate melangkah cepat mau ke sini. Crist keteteran ngikutin dia!"


Segera aku mengangguk mengerti atas wajah jelas melukiskan keseriusan. Aku langsung berkutat dengan kue, dibantu dengan yang lainnya, juga Cecil. Namun, gadis kecil itu tak mau melihat ke arahku sama sekali. A-aku tidak membuatnya marah 'kan?


Pada akhirnya kami selesai! Maka segera kami ikut berkumpul ke ruang tengah untuk menyusul yang lain.


"Kita matiin lampu sama tutup jendela!" instruksi Daniel. Kemudian dia menarik tanganku kuat-kuat. "Kamu yang pegang kuenya."


"Eh, aku?"


"Iya, nih! Semua cepat sembunyi, mereka bentar lagi datang."


Astaga, kita sedang apa? Memberi kejutankah? A-aku sedikit gugup, apa lagi berada paling depan daripada yang lain seolah-olah mereka bersembunyi---tunggu, mereka semua memang bersembunyi di belakangku!


Tak lama suara kasak-kusuk obrolan Fate dengan Crist terdengar di balik pintu depan. Sontak seluruh tubuhku menegang, jantung turut berdetak kencang. Aku harap, aku tidak mengacaukan suasana.


"... Fate, masalah tadi belum selesai!"


"Kurasa masalah seperti itu bisa kau selesaikan lebih baik. Sekarang aku ingin melihat keadaan Daniel. Tadi belum sempat memeriksa keadaan Daniel dengan benar."


"Tapi---Fate!"


Seketika tapak tumitnya tersentak, Fate tertegun tepat di depan mulut pintu. Mungkin merasa kaget dengan ruang club yang gulita ditambah Crist segera menutup pintu depan setelah mereka masuk.


Keheningan yang tiba-tiba semakin memacu detak jantungku. Jujur, ini pertama kali merayakan ulang tahun seseorang. Biasanya selalu kuhindari tetapi---


Sorot lampu yang mendadak dinyalakan begitu silau, memaksaku menyipitkan mata dan sedikit memalingkan wajah.


"Selamat ulang tahun, Fate!" Seruan seluruh orang dalam tempat ini menggelegar, diikuti dengan lantunan lagu ulang tahun yang dinyanyikan secara serempak.


Sekarang terasa benar-benar ramai. Semua anggota club tertawa dan berteriak dalam keceriaan. Aku yang masih berusaha mengumpulkan fokus, hanya mengerjap beberapa kali dan mengetahui ... ternyata aku dan Fate telah berhadapan.


Gadis itu tampak terkejut hingga habis kata-kata, hanya kelopak mata yang melebar terlihat jelas memamerkan iris berwarna ambar berkilauan. Dan aku terlena menatapnya sampai-sampai deru jantung tak kuindahkan lagi, begitu pula keadaan sekitar yang meriah. Apa lagi terasa potongan kertas warna-warni berhamburan dari konfeti menambah paras ayunya.


Seolah-olah kami saling mengunci ... perlahan, aku menaikkan kue di genggaman dan berkata lembut dalam seutas senyum tipis, "Selamat ulang tahun yang ke delapan belas, Fate."


Untuk pertama kalinya, aku melihat dari dekat senyum si gadis yang begitu cemerlang sebab semburat merah di pipi. Pelan namun pasti, suara tersedu terdengar bersamaan dengan Fate menyeka air mata yang mengalir di wajah.


Saat itu juga suasana gembira luluh menjadi kecemasan. Semua orang terlihat bingung, termasuk aku.


"Waduh, Red, kamu apain dia sampai menangis begini?!"


Sontak aku terkejut mendengar pertanyaan Daniel. "Eh?! A-aku tidak melakukan apa pun ...."


Ha-ah, kini mereka mulai saling bertanya-tanya.


"Tidak, hanya saja ...." Suara lembut si gadis mengudara, menarik seluruh atensi meski vokalnya amat pelan.


Kemudian Fate menggeleng, jemari lentik pun mulai menggenggam baju di dada. "Inikah, rasanya bahagia hingga menangis?"