When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| Aneh



Napasku terputus-putus.


Kini hanya ada aku dan sosok hibrida di depan.


Tubuhnya setinggi dua meter, berdiri dengan kaki dan memiliki tangan layaknya manusia. Namun, badan seperti naga; wajah bagai reptil; sisik dan duri di sekujur tubuh.


Sosok Elite, bukan lawan sembarangan.


Dia kembali menggeram dengan berlari menghampiriku, mengempaskan badannya ke tanah---


Bam!


Cepat aku melonjak mundur dan berhasil menghindar, menyilangkan kedua tangan di depan wajah demi menghalau hempasan batu karena bantingan badannya. Bahkan ceruk di tanah terlihat cukup dalam.


Tanpa memakan waktu ketika jarak antara diriku dan dia cukup, aku merentangkan tangan kanan ke depan. Floating Hourglass setia mengitari dan berpendar, menghasilkan banyak lingkaran sihir hitam kecil.


"Ice Lance!"


Potongan es runcing keluar dari lingkaran sihir, tak ampun menghunjam si hibrida, tetapi dia kembali mengelak membuat es-es tersebut berakhir menancap tanah.


Aku berdecak, gesit melempar senjata ke atas dengan cepat hingga dua pita bak logam berkibar kencang.


"Azure Circle!"


Sontak lingkaran sihir muncul tepat di atas si hibrida, menghasilkan rintik hujan es yang banyak seperti duri.


Namun, gagal mengenainya.


Dia kembali berlari menggunakan tangan sebagai alat bantu kaki.


Ketika hampir dekat, aku memasang kuda-kuda dan melempar senjata.


"Phase Bomb!"


Salah.


Hibrida itu justru mengelak lagi dan buntut yang panjang dia kibaskan, membuat debu memenuhi udara.


Aku kehilangan jejak.


Sebelum Floating Hourglass kembali, dia sudah siap menerkam bagai harimau menemukan kijang terpisah dari kawanan.


Aku tertegun, kenapa juga menggunakan Phase Bomb untuk musuh jarak dekat?


Cakar-cakarnya tepat mengarah ke kepala, tetapi seketika itu juga, terkaman tersebut menembus tubuhku bagai holografi semu.


Seperti televisi statis, seluruh benda di sekitar terdiam dan membias perlahan bagai serpihan cahaya kotak-kotak. Di saat bersamaan suara EVE terdengar.


...[LATIHAN SIMULASI BERAKHIR]...


Seluruh tiruan nyata menghilang, menyisakan aku sendirian dalam ruang perak nan luas terhias akar-akar neon di tembok.


Aku berjalan dengan napas terengah-engah. Pintu terbuka secara otomatis ketika aku keluar dari ruangan.


Aku mengampiri handuk kecil yang tergantung di bangku di sisi pintu lalu mengalungkannya ke leher.


Profesor Kaidan berjalan mendekatiku dan melempar botol air mineral. Gesit aku menangkapnya, tetapi terlihat ekspresi khawatir di wajah beliau.


"Sudah hampir seminggu performamu turun, apa yang terjadi?"


Aku memilih meneguk minuman ini sampai habis daripada menjawab pertanyaan beliau, lalu mengembuskan napas panjang agar pernapasan kembali stabil.


Profesor Kaidan masih terpaku kepadaku, ibarat berharap mendapatkan jawaban.


Namun, aku masih tidak menjawab dan melakukan aktivitas lain seperti membuang botol plastik air mineral ke tempat sampah; sesekali mengelap keringat dengan handuk kecil.


"Bapak khawatir kejadian dalam simulasi terjadi kepadamu di lapangan, terutama ketika menjalankan misi," rintih sang guru wali, tetapi aku masih tidak berkata apa-apa.


Sudah kukatakan, aku tidak akan mati 'kan?


Beliau justru semakin mendekatiku. "Red---"


Plak!


Kencang aku menepis tangannya ketika mencoba menyentuhku, hingga menarik perhatian seluruh murid dan guru pembimbing di lorong utama Gedung Pusat Pelatihan.


Itu ... refleks, sungguh.


Namun, wajah Profesor Kaidan berubah sedih. Aku tak berani menatapnya.


Menggigit bibir bawah, aku pun menunduk. "Maaf jika saya membuat Bapak kecewa."


"Ah, Red! Bukan itu yang Bapak mak---"


Sebelum beliau menyelesaikan ucapannya, aku sudah pergi dengan terburu-buru. Mengambil jas jubah hitamku dan syal merah yang tak sempat aku pakai.


Langkahku menggema di lorong sepi menuju jalan keluar. Profesor Kaidan pun tampak tak mencoba untuk menyusul.


Berjalan sebentar menelusuri jalan setapak akademi yang sepi, aku memutuskan kembali membeli kopi hangat dari mesin jual otomatis.


Rasanya ingin menghabiskan malam ini di luar saja, melihat rintik-rintik salju turun perlahan.


Aku pun duduk di bangku taman dan membuka minuman kaleng.


Tidak, tak langsung diminum. Tatapanku kosong melihat langit.


Sebenarnya aku tak mau menyakiti siapa pun, tetapi selalu berakhir melukai mereka. Entah mengapa.


Tidak tahu lagi harus berbuat apa. Keinginan untuk terus melangkah maju pun tak ada. Ah, ada, satu.


Yang aku inginkan hanya kehangatan di hari itu.


Suatu kebahagiaan yang hilang, di tanganku sendiri.


Embusan napas tak henti aku keluarkan.


Aku merasa tidak ada makna dalam kehidupan. Untuk apa juga terus hidup, jika hari-hariku berakhir sama? Bahkan dalam waktu ratusan tahun ... selalu seperti ini.


Rasanya aku ibarat contoh produk gagal dari suatu barang yang bernama makhluk hidup.


Mata hitamku terasa kehilangan pendarnya.


Aku sempat bermimpi yang sangat naif, kalau ia masih hidup dan kami tinggal bersama di dunia ini. Dan aku kembali memiliki tempat bernama rumah.


Namun, begini keadaanku sekarang ... menyedihkan.


Aku semakin mengeratkan genggaman di kaleng minumanku. Kedua lengan tepat di atas paha. Kepala masih mendongak melihat langit.


Terasa titikan salju menyentuh wajah, meninggalkan jejak air dan jejak rasa sakit.


Seandainya mimpi naifku itu menjadi nyata dan aku mendapatkan kehangatan kembali, maka persasaan hangat itu akan kugenggam erat.


Namun, setelah segala hal yang terjadi, apakah makhluk pendosa sepertiku memang pantas mendapatkannya?


"Seharusnya, engkau ... biarkan aku mati, di tanganmu."


Aku kembali meminum kopi hangatku, hanya satu teguk.


Setidaknya kini engkau menjadi sosok terindah dalam kabut tata surya, sedangkan aku ... hancur, tetapi hidup. Terus hidup. Ah, julukan bintang itu memang tidak pantas untukku.


Aku menunduk, menatap kopi kaleng yang isinya masih banyak.


Mataku terasa berat dan tak mampu terbuka lebar.


Tidak tahu sudah berapa lama aku duduk di sini, malam ini terasa begitu dingin.


'Aku akan mengawasi.'


Sontak aku melihat ... Fate.


Aku kembali mendengar bisikan, tetapi ketika menoleh ke depan, hanya ada gadis itu.


Aku terlalu lelah untuk mengomentarinya sekarang. Kubiarkan dia duduk di samping.


"Red, masih ingat? Di sini tempat ke dua kita bertemu."


Aku sedikit melirik sekitar. Tanpa sadar ternyata sudah duduk di bangku taman dekat air mancur halaman utama akademi.


Entah mengapa dia mengamati sebegitu detail.


Aku kembali meneguk kopi kalengku. Sedikit, hanya sedikit. Aku kehilangan selera terhadap salah satu minuman kesukaanku ini.


"Kamu aneh," ucapku pelan dan kembali menunduk, tidak mau menatapnya.


Kami terdiam cukup lama, hingga dia bertanya, "Aneh kenapa?"


"Tidak takut. Meski kamu di bawah tanggung jawab saya, tidak perlu harus selalu bersama. Orang-orang bahkan tidak berani melihat tepat ke mata. Mereka menghindar. Kamu, bahkan kamu tahu saya ini apa, tapi tetap saja ...."


"Tahu apa?"


Aku menggenggam erat minuman kaleng, tiba-tiba terasa sesak di dada. "Saya ... anak iblis."


Fate terdiam. Cukup lama.


Aku harap dia pergi, tetapi dia justru berkata, "Hem? Memangnya kenapa kalau kau anak iblis? Red adalah Red. Kau adalah dirimu sendiri. Asal usulmu tidak menentukan seberapa berharganya dirimu."


Seketika mataku terbuka lebar, sangat lebar.


Sontak aku menatapnya dan dia masih berwajah datar, melihatku dalam tatapan lurus menunjukkan tanda keseriusan.


Apa yang dia katakan sedikit tidak aku mengerti, tetapi sejak kapan ... Fate masuk dalam kehidupanku?