
Refleks aku mengarahkan atensi pada suara deham barusan. Bukan hanya aku, Profesor Kaidan juga.
Dan ternyata ... Crist? Ada apa lagi? Wajahnya tersenyum ramah seperti biasa tetapi auranya---ah, hampir sama seperti Fate ketika mengawasiku di rumah sakit, walau pemuda ini tidak seseram dia.
"Ada urusan? Sangat jarang anggota Departemen Konsultasi bisa hadir di tengah gedung Departemen Eksekusi." Kali ini guru waliku yang menjawab, menatap datar tanpa ekspresi pada pemuda berkacamata yang tak gentar berdiri dekat pintu.
"Mohon maaf dan mohon izin, Red belum sarapan dan aku dengan Fate setuju kalau Red wajib teratur makan."
Aku menghela napas. Kenapa masih membahas dan memikirkan hal itu, astaga ....
Tak lama tanganku Crist tarik kuat-kuat. Kenapa selalu berakhir seperti ini? Baru saja bisa bercerita pada Profesor Kaidan---tunggu, aku lebih kuat dari dia bukan?
Sontak aku langsung berdiri tegap dan menarik tangan demi terlepas dari tautan. Crist langsung menoleh untuk menatapku tetapi ... matanya, berubah sinis dan mencekam. Ke-kenapa? Berhentilah Crist, itu terlihat mengerikan! Aku langsung melirik ke belakang---Profesor Kaidan juga?!
Aku berakhir mendengkus pasrah karena ... mereka berdua menggeretku paksa. Profesor Kaidan menarik tangan kananku dan Crist tangan kiri. Kenapa aku terasa seperti seorang tahanan sekarang?
"Aku bisa berjalan sendiri."
"Tidak!" Heee, mereka berdua menjawabku dengan serentak.
"Aku tidak akan kabur."
"Sulit dibayangkan!" Tuhan, sejak kapan Profesor Kaidan dan Crist menjadi sangat kompak? Sudah ke dua kalinya mereka berkata secara bersamaan.
Sepertinya kali ini, benar-benar dalam masalah. Aku mengembuskan napas panjang. Padahal sama sekali tidak bermaksud melakukan itu semua, hanya karena salah tingkah aku menjadi tak bisa berpikir lurus.
Sebenarnya perasaan ini, kenapa aku merasakannya? Kalau tidak salah dulu ... memang emosi serupa pernah merasuki tubuh ketika tinggal bersama orang terkasih yang telah tiada. Tapi sekarang muncul kembali dan aku masih belum mengerti cara mengatasinya.
Apa aku benar-benar dalam masa puber?
Akhirnya derap kami terhenti dan terasa aku dipaksa untuk duduk. Ah, taman kafetaria akademi. Terlihat Profesor Kaidan dan Crist duduk bersebelahan, sedangkan aku sendirian di hadapan mereka. Ha-ah, kalau begini aku benar-benar sedang diawasi. Padahal tidak bermaksud---aku kembali menghembuskan napas panjang, sepertinya menjelaskan apa pun pada mereka tidak akan bekerja.
Tak lama suara dering ponsel terdengar berasal dari guru waliku, ternyata walau masih pagi beliau tetap sibuk.
"Maaf, angkat telepon dulu ... oh, sekalian memesan makanan. Bapak juga belum sarapan. Tunggu di sini, nanti Bapak kembali."
Kami berdua mengangguk mengerti. Aku mulai merentangkan tangan di atas meja sebagai alas kepalaku bersandar. Pagi ini tak banyak orang memenuhi bangku, mungkin masih terlalu dini ... sekitar jam tujuh kurang. Kembali menoleh pada Crist---eh? Dia tersenyum namun terlihat lebih lembut dan tenang.
"Tidak usah khawatir Red. Kami hanya mencemaskanmu, selebihnya tidak apa-apa." Mendengar ucapan Crist aku kembali duduk dan bersandar pada bangku besi. Dia lanjut berkata, "Lihatlah ... sarapan di luar, tidak buruk 'kan?"
Aku mulai mengalihkan pandangan melihat sekitar. Terasa embusan angin mendayu-dayu, membelai rambutku yang mungkin sudah berwarna merah. Ah, sepertinya harus membeli cermin baru di kamar.
Sunyi mengisi tempat indah ini, tak ada salah satu dari kami buka suara. Mulai menikmati senyap. Sinar redup sang raja langit akibat baru menyongsong pagi terasa nyaman di wajahku. Aku memejamkan mata sampai Profesor Kaidan tiba, memberikan semangkuk oats terhias potongan buah dan yogurt. Bukankah ini cukup mahal?
Langsung aku mengalihkan pandangan kepada beliau tetapi Profesor Kaidan memberiku suatu ekspresi hangat. Aku pun membalasnya dengan tersenyum dan mengucapkan terima kasih, kembali melihat ke arah sisi demi menatap dalam-dalam suguhan alam.
Aku menikmati embusan lembut sang angin dan sesekali memakan suap demi suapan sarapan yang tersedia. Kadang sedikit menyisihkan poni dan merapikan rambut dari terpaan bayu. Rasanya tenang. Embun masih pekat, juga udara segar terhirup setara dinginnya dengan es.
Sampai terdengar suara klik yang khas dari telepon genggam, aku menoleh ... sesuai dugaan. Aku menghela napas dan berkata, "Bapak, sampai kapan terus mengambil fotoku?"
"Hm? Sampai kamu tumbuh besar."
"Tapi aku sudah besar ...."
"Oh, ya, Red ... tadi kamu ingin bicara dengan Bapak?"
Aku mengarahkan atensi pada beliau. Kini wajah itu terlihat serius bahkan makanan di depannya tak disentuh. Apa Profesor Kaidan benar-benar menantiku untuk berbicara? Aku mulai meletakkan sendok pada sisi mangkuk dan berkata, "Bapak tahu bukan apa yang aku kenakan selalu menjadi hitam? Itu juga berlaku untuk rambutku. Halnya, segala yang aku gunakan rata-rata menjadi kelam. Tapi ini ...."
Aku menyentuh rambutku lagi, sedikit menelusuri tiap helai dengan jemari. "Sebenarnya aku terlahir merah, mata dan rambut. Aku tahu karena saat kecil melihat refleksi diri dalam danau. Mungkin ini kenapa mereka memberikanku julukan itu."
Aku mulai menutup wajah dengan tangan yang sama. "Entah kapan aku berubah menjadi sangat kelam, bahkan menggenggam pedang---"
Tunggu, Crist juga di sini 'kan? Ah, pasti dia juga dengar dan berpikir aku orang aneh. Aku mulai menoleh padanya---eh? Pemuda itu turut berwajah serius seperti apa yang aku ucapkan adalah perkara penting. Aku merasa sedikit tersipu.
"Crist waktu itu, soal diriku ...." Aku mulai mengajaknya berbicara. Saat setelah sparing antar club, sebenarnya ingin mengatakan hal ini padanya tetapi dia terlanjur mendapat panggilan dan meninggalkanku di ruang rawat. Mungkin sekarang kesempatan yang bagus.
"Sebenarnya aku immortal---ah, maksudnya aku tidak bisa mati. Dan mungkin, sudah berumur ratusan bahkan ribuan tahun ... entahlah. Aku tidak tahu detailnya, juga tak tahu kapan aku lahir. Heeem, kalau tak salah aku mulai berhenti bertambah tua ketika berubah menjadi serba hitam."
Aku menutup mulut menggunakan tangan kanan. Ah, tak kusangka akan mengatakannya. Crist pasti tidak percaya, atau bahkan menilaiku gila dan melantur. Aku mulai menunduk---
"Syukurlah."
Eh? Aku langsung menatapnya, bahkan kembali meletakkan tangan di atas meja. Mata Crist ... sedikit berkaca? Bahkan kacamata frame hitam sudah ia lepas demi sedikit mengusap pelupuk.
"Aku sebenarnya ... hmm, aku mencemaskanmu. Aku tahu kamu selalu mengerjakan misimu sendirian dan rata-rata sedikit mematikan, bahkan pulang selalu dalam kondisi terluka. Dulu ketika Miss Caterine diangkat menjadi waliku, aku menggunakan kesempatan itu untuk mengajukan surat keberatan atas tugas yang kamu terima. Manusia normal tidak mungkin selamat jika di posisimu. Hahaha, memang memanfaatkan keadaan tapi ... ternyata tidak bisa, itu di luar kemampuan Departemen Konsultasi. Tapi jika kamu tidak akan mati, aku bersyukur."
Kelopak pucat tersibak hingga memamerkan lensa utuh jelaga lantaran aku benar-benar terkejut dengan apa yang Crist katakan. Dia percaya dan ... apa, bersyukur? Baru kali ini ada yang mensyukuri keabadianku. Apa dia sungguh-sungguh?
"Sekarang aku tahu kamu selalu selamat dan berani mengorbankan diri karena kemampuanmu, tapi untuk kedepannya, tolong jangan lakukan hal ekstrem. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Tolong jaga dirimu, Red."
Bibirku tertutup rapat, tak merapal kalimat bak tunawicara. Mata jelaga menatapnya tapi wajah itu terus menampilkan gurat sabit nan cerah. Tidak percaya dia---ah, aku langsung memalingkan wajah dan menunduk dalam-dalam.
"Hahahaha, Crist, matamu lumayan tajam. Pantas Caterine tertarik."
"Suatu Kehormatan mendapat pujian dari ahli siasat terbaik di Vaughan, tapi mataku minus."
Suara tawa yang renyah terumbar kemudian. Suasana hangat apa ini---ah, tidak benar! Mereka tidak takut kepadaku? Aneh, yang benar saja?! Lekas aku mencondongkan badan dan berkata dengan menggebu, "Bagaimana jika kau tahu bahwa aku anak iblis?"
Crist tidak menjawab---eh, tersenyum lagi? Dan mulai memakai kacamatanya. "Kamu anak iblis yang paling berbakti pada Tuhan yang pernah aku temui, bahkan aku meragukan statusmu. Apa pun itu, kamu adalah kamu, dan itu tidak merubah jalan pikirku mengenai dirimu."
Seketika terasa seluruh kuatan hilang sampai aku ambruk dan bersandar pada bangku. Apa-apaan jawaban itu? A-aku tak percaya. Manis sekali kata-katanya tetapi menampilkan wajah meyakinkan dengan senyuman? Dia serius? Maksudnya apa? Kenapa kalian ... tidak takut padaku? Aku tak mengerti. Dulu, selama bertahun-tahun aku tersiksa karena orang-orang takut melihat keabadian dan kekuatanku yang tak biasa. Apa lagi aura mencekam dari tubuhku. Namun sekarang---
Sekarang, ada yang menerimaku? Aku tak paham---ah, kenapa ... penglihatanku berbayang? Aku langsung menutup wajah dengan dua tangan, memastikan luncuran air mata yang mengalir tanpa permisi tidak tumpah. Tetapi rongrongan hati terlalu kuat, semua perasaan itu campur aduk. Aku mulai tersedu dan sedikit meringkuk. Kukira akan terus terjebak dalam biru, tetapi ini benar-benar mimpi indah yang menjadi nyata.
"Nak, mengenai rambutmu ... bukannya itu bagus? Berarti kamu bisa menjadi dirimu sendiri. Dirimu yang sebenarnya, sebagai mestinya ketika kamu lahir." Suara Profesor Kaidan begitu lembut, seakan kalimat itu memekarkan masa dengan nyala di setiap kata.
"Mungkin ini hasil manis dari ujianmu, karena kamu sudah memaafkan dirimu sendiri. Tolonglah dirimu sendiri maka semua akan berjalan dengan baik. Benarkan?" Crist juga, ucapannya ibarat merengkuh waktu dengan benang-benang sutra.
Ucapan mereka begitu lembut seperti serpihan doa, memancing senyum ... aku, tersenyum? Setelah titik kelam, akhirnya aku merasakan bahagia; merasa begitu hidup, setelah lebih dari ratusan tahun. Entah kenapa aku menjadi begitu bersyukur memiliki umur panjang jika setiap detik berlalu seperti ini.
Aku berjanji pada diriku sendiri ... dengan keabadian, akan kugunakan untuk melindungi mereka. Aku mulai mengusap wajah demi mengenyahkan air mata dengan lengan baju. Pula mengukir suatu senyum yang mungkin telah lama tak terlihat dalam wajah.
"Aku ... bisa melangkah sejauh ini sebab kalian, terima kasih!"
Ah, mereka terdiam dengan wajah datar ... atau berusaha mati-matian menahan sesuatu? Profesor Kaidan mulai mengambil ponsel, seperti ingin memotret---Crist juga?! Apa sahabatku ini mulai tertular penyakit guru waliku?