
"Crist! Crist! Crist!"
Setelah turun aku bergegas menelusuri jalan setapak dengan berkelit kecil demi tak menabrak orang-orang yang berhamburan. Ekspresi berseri lekat pada wajah, pun aku langsung membantingkan raga tepat pada bangku besi taman yang panjang, tempat Crist dan Cecil setia menunggu.
Pemuda itu terkejut sampai mengedipkan mata berkali-kali melihat gelagatku, tetapi senyum cemerlang masih aku berikan. Tangan kananku langsung merentang tinggi, menunjuk satu gundukan rel raksasa bak mencakar langit. Crist ikut melihat ke mana aku menunjuk, walau pergerakan lehernya sangat kaku seperti robot tanpa oli.
"Lihat itu yang tinggi di sana? Waktu sampai di situ, terus turun ... wuuush! Ahahaha, terjun sangat kencang! Rasanya nyawa mau melayang!"
Crist menatapku tak percaya bahkan wajah menunjukkan dia tercengang. Namun, diriku masih sangat bersemangat karena tadi ... sungguh menyenangkan!
"Lalu berjalan lagi, ngeeeng! Rasanya geli Crist, tak tahan! Sampai perut mungkin agak kram." Aku sedikit tertawa dan mengangguk-angguk kecil. "Terlalu cepat sampai susah untuk bernapas, apa lagi pada rel-rel tinggi itu! Mungkin karena hampir menembus awan---"
"Red." Pemuda ini menepuk pundakku sekali dalam tingkah seperti sia-sia menelan saliva dalam tenggorokan; seolah-olah tak mampu melanjutkan perkataannya lagi.
Apa mungkin Crist gugup? Kenapa? Mata biru tua melirik ke sana kemari dengan senyum sangat terpaksa, lebih terlihat masam. Akhirnya Crist berkata, "Dari ceritamu, itu ... horor."
"Heeee? Tapi itu menyenangkan, kamu harus coba!" seruku penuh antusiasme dalam hati kian membara, menepuk kedua pundak laki-laki berkacamata di sampingku demi memberi semangat.
"... Aku masih mau hidup," gumam Crist, badannya ikut lemas dengan mata melirik entah ke mana.
"Tidak, kamu tak akan mati. Itu seru! Relnya lumayan panjang sehingga bisa menikmati sensasi penuh ketegangan dalam adrenalin berpacu tiada henti!"
Ah, rasanya tak bisa berhenti tertawa dan tersenyum. Baru pertama kali merasakan keseruan begitu tinggi seperti ini, tetapi Crist hanya menatapku datar dalam ekspresi penuh kelabu.
"Red, coba lihat Daniel."
Benar juga, di mana Daniel? Dia yang mengajak kami menaiki wahana ini. Iris hitam kini menelusuri seluruh manusia yang berjalan dari pintu keluar Rollercoaster. Terlalu banyak orang, apa dia tersasar?
Oh, itu dia! Tapi, heee jalannya sangat lunglai lagi sempoyongan seperti lutut sudah tak bisa dijadikan tumpuan untuk berdiri, tungkainya turut bergetar. Terlebih ekspresinya---eh, dia menangis? Daniel melangkah gontai, wajah sepenuhnya biru dan basah sebab lonjakan emosi ... yang mungkin sudah lama ditahan.
Ah, dia mendekat dan aku bisa mendengar ketua kami merapal pelan, "Auuh, aah ... trauma, trauma. Kapok---ahh, haah, gila!"
Daniel mulai berjalan ke samping Cecil dan duduk perlahan. Menyaksikan ini aku sedikit khawatir, apa dia baik-baik saja? Karena raga itu tak henti gemetar heboh, rambut pirangnya juga kusut. Sedangkan gadis kecil di sampingnya tampak tak peduli; berwajah datar tanpa menoleh ke arah Daniel sedikit pun.
Bahkan, kini Cecil mendengkus dan mendorong raga tak berdaya Daniel dengan tangan kanannya. "Jauh-jauh."
Ha-ah, sepertinya si pirang sungguh lemas. Hanya dengan dorongan satu tangan dia langsung terguling ke bawah, sama sekali tidak melawan dan memberontak. Terlebih terlihat tak kuasa untuk bangun. Melihat Daniel tergeletak di atas tanah berbalut beton, entah mengapa terasa seperti ... korban kasus pembunuhan---baik, itu gambaran berlebihan. Aku harus membantu---
"Tadi lumayan seru."
"Benar! Sangat luar biasa!" Wajahku kembali berbinar dan menoleh pada Fate yang baru tiba pada kumpulan kami. Dia juga setuju tadi menyenangkan! Meskipun, wajah tetap datar dengan menyilang tangan depan dada. Apa gadis ini sungguh menikmatinya?
"Itu! Itu dia! Kalian sejenis!"
Aku terkejut mendengar seseorang berteriak---ah, Daniel? Dia sudah berdiri kukuh dengan tangan kanan menuding tepat ke arah aku dan Fate bergantian. Tak lama dia mulai mengelus-elus kedua lengannya dan tampak ... merinding? Sampai kembali mengoceh, "Bukan main. Ini taman bermain terbesar di dunia, wahana juga besar-besar! Berbeda sama yang biasa. Enggak tahan, benar deh. Hiiih, kapok."
Apa tadi semenyeramkan itu? Sepertinya tidak.
Lengkingan tak suka kembali mengudara ketika Daniel lagi-lagi menunjuk ke arah aku dan Fate. "Memang kalian berdua, bukan manusia!"
Suara embusan napas yang berat terdengar, Cecil mulai beranjak dari duduk dan menabrak Daniel. Ha-ah, untung saja Crist sigap menangkap ketua kami karena jelas sekali dia masih lemas. Sikap si gadis kecil yang dingin membuat Daniel kembali berceloteh tiada henti, kalau Crist tidak menenangkannya. Entah aku harus berbuat apa melihat situasi cukup kacau ini.
Sekarang Cecil berlari mendekati Fate dalam mata penuh binar. "Fate, Fate! Kamu tuh, kok bisa tetap tenang?"
"Aku sering menikung ke bawah dengan kecepatan tinggi menggunakan mount-ku," jawabnya.
Cecil menampilkan gelagat bak menimbang-nimbang dengan mendekatkan telunjuk kanan pada pipi. "Mount-mu memangnya apa?"
"Albion - Argen type."
Tunggu, aku tak salah dengar 'kan? Albion, sayap mekanik itu?! Sangat-sangat sedikit yang bisa mengendarainya, bahkan sejauh ini aku belum pernah melihat seseorang menggunakan pasang sayap tersebut karena sulit mengontrol pergerakan Albion.
Aku dengar jika menggunakan itu, rasanya seperti melekat pada tulang belikat. Jadi, manusia mana yang pernah mengepakkan sayap secara langsung? Sebentar, mungkin karena kontrol Fate memang luar biasa? Atau dia ... sesungguhnya sesosok malaikat? Ah, benar juga. Auranya sangat suci lagi murni, bahkan Lord Metatron bisa singgah pada raga Fate.
Aku mulai menatap lurus pada mata perak kebiruan itu. Bukan hanya aku, Cecil juga, bahkan si gadis mungil sampai memeluk pinggang Fate dalam iris merah muda yang gemerlap dan senyuman kagum.
"Hmm, sepertinya kalian menikmati saat ini. Terutama kamu, Red."
"Eh, aku?" Lantas menoleh ke asal suara, Crist sudah tersenyum ringan dan Daniel---ah, mulutnya menganga seperti penuh rasa heran. Apa dia juga mendengar percakapan kami tentang Fate dan berakhir ... ikut terpesona?
Tapi jawaban Crist membuatku mengelus tengkuk dengan canggung. Aku pun menjawab, "Sebenarnya, ini pertama kali aku datang ke taman bermain ...."
Kini mereka semua menatapku dengan suatu gurat wajah yang tidak aku mengerti ... kecuali Fate, hanya memejamkan mata dalam sunyi.
Daniel tampak sudah lebih tenang sekarang, terlebih dia tersenyum lebar ke arahku. "Red, kau sama Fate bersenang-senang sana, dah cocok kok."
Aku mengedipkan mata beberapa kali mendengarnya dan menjawab, "Tapi kita sedang dalam misi."
Benar, walau sejauh ini belum menunjukkan tanda bahaya tetapi kita tak tahu kapan para hibrida mulai menyerang. EVE tidak mungkin memberikan informasi yang salah, apa lagi ini merupakan tugas langsung dari Head Master Lucian dalam skala besar. Eh? Kenapa Daniel berakhir menatap tak suka padaku? Sampai dahinya ikut berkerut.
"Bukankah akan lebih cepat jika kita berpencar?"
"Naaah, ide bagus! Memang julukan konsultan cocok untukmu Crist!" Daniel mulai menyengir kuda.
Kini lengan kanannya menunjuk jauh ke sisi, memancing seluruh atensi regu kami untuk melihat ke mana Daniel mengarah. "Lihat kincir angin raksasa itu? Red, Fate, kalian berduakan mempunyai grade paling tinggi daripada kita semua nih, jadi tolong cek itu. Naik sekalian. Aku, Cecil, Crist akan memeriksa bagian belakang. Dari atas sana nanti kalian bisa melihat seluruh Dream Land dengan jelas, kalau menemukan hibrida bisa langsung bergerak. Mengerti?"
"Baik, dimengerti," tegas Fate mulai menjalankan perintah.
Eh?! Tu-tunggu! Menaiki wahana itu, hanya berdua? Apa-apaan---ah, Fate sudah melangkah jauh. Tak mau kehilangan jejaknya di tengah keramaian, lekas aku menyusul dengan tergesa-gesa. "Fate, kamu tak keberatan?"
"Kenapa aku harus keberatan? Kupikir itu ide yang bagus."
Iya, benar juga. Daniel merupakan ketua yang memberikan saran---heh, bukan itu yang aku maksud! Yakin hanya berdua denganku?
Aku kembali menoleh ke belakang, mereka sudah melambai-lambaikan tangan ke arahku atas senyuman usil. Aku mendengkus dan kembali mengekor ke belakang Fate. Mulai mengusap wajah lelah dan berpikir kalau teman-temanku ini memang ... ah, sudahlah.