When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| Telah Berubah



"... Miss, tolong jangan!"


"Ooh, Crist, ini kesempatan langka!"


"Ta-tapi Miss Caterine, tolong tahan dirimu!"


Lelah belum terobati tetapi keheningan terasa terusik saat suara samar-samar menembus telinga dan perlahan aku sedikit mendesau. Tatapan kabur melihat ke arah kiri, pagi ini cahaya begitu menyilaukan lantaran jendela terbuka hingga silir angin menusuk raga dalam tirai biru melambai-lambai. Aku sedikit menghalau pandangan dengan merentangkan tangan kanan pada kening, mengedipkan mata beberapa kali dan melihat ke arah asal suara.


"Hoya, oya, lihat siapa yang sudah bangun?"


Wanita dengan rambut cokelat gelung samping ... oh, Profesor Caterine? Beliau mulai melipat kedua tangan sampai dada terangkat---ah, aku langsung memalingkan wajah. Itu membuatku teringat dengan orang terkasihku, tapi dalam konotasi negatif. Ha-ah, kalau diingat kembali membuat wajahku terasa panas.


"Mari kita lihat ... heeem, oke, kamu sudah tertidur delapan hari penuh dan hari ini merupakan hari ke sembilanmu." Ucapan Profesor Caterine membuatku terkejut dan langsung menoleh ke arahnya lagi.


Sebab ... sungguh? Delapan hari?! Lama sekali! Aku langsung menatap beliau dalam-dalam tetapi ekspresi wajahnya menunjukkan kepastian. Wanita ini merupakan dokter terbaik di Vaughan, tak mungkin salah. Ah, tidak lama beliau tersenyum usil ke arahku.


"Kamu menyadari hal ini bukan?" tanya beliau dengan menaikkan kaki kanan ke atas paha dan memperbaiki posisi kacamata, "tubuhmu melemah, mungkin kamu bukan immortal sungguhan."


"Tapi bagaimana bisa? Aku abadi---ack!"


Ketika berusaha untuk bangun, rasa sakit merengkuh; kepala mendadak pusing bukan main ibarat dihantam palu. Langsung aku menopang kepala dengan lengan kanan dan untungnya Crist membantuku untuk duduk. Wajah temanku ini benar-benar menunjukkan suatu kerisauan. Namun, aku tak suka ini. Tubuhku melemah? Yang benar saja! Aku mulai sedikit mengeratkan gigi.


"Hoya, oya, Crist! Kamu benar-benar perhatian. Apa kau tertarik dengan wanita lebih tua, eem?" goda Profesor Caterine yang hanya di balas dengan embusan napas panjang dari Crist.


"Tunggu! Tapi, kenapa? Kenapa makin lama tubuhku semakin lemah?" tanyaku dengan tangan makin kuat mencengkeram kepala.


Aku memang menyadarinya. Rasa sakit semakin nyata; tubuhku sulit regenerasi, itu semua sungguh aku rasakan.


Dan aku tak suka itu.


"Itu badanmu, kamu sendiri yang tahu, bukan?"


"Tapi Anda dokter terbaik!" sanggahku sampai membuat Crist yang duduk di pinggir kasur terkejut, "tak mungkin Anda tidak tahu---"


"Tapi kamu kasus yang berbeda dan bukan berasal dari dunia ini." Cepat ucapanku beliau putus, bahkan kini mata ungunya mulai menyipit. "Lihat sekitarmu, siapa orang yang tidak bisa mati selain kamu sendiri? Tidak ada. Lucian? Ia hanya berumur panjang dan awet muda karena kekuatan miliknya. Jika ia terkena luka parah; atau kecelakaan; atau apa pun itu, ia bisa mati. Sedangkan kamu ... haaah, sudah berapa kali organ dalammu rusak dan hancur? Apa jantungmu itu dari karet?"


"Sudah begitu, kau susah dirawat. Memang kamu contoh pasien yang menyusahkan, Red." Beliau mulai memijat keningnya. "Kalau bukan Kaidan yang minta, aku serahkan kamu ke orang lain. Bagus organ dalammu kau donorkan saja jika sembrono begini, toh, akan pulih lagikan? Atau gara-gara kau susah dirawat jadi dampaknya begini---"


"Tidak!" Ah, aku mulai menyalak.


Crist tetap dalam ekspresi risaunya, perlahan mengelus punggungku dan meminta untuk kembali beristirahat. Namun, aku menggeleng dengan kedua tangan mulai mencengkeram selimut. Sejak kapan kematian menjadi ... hal yang aku takuti? Ratusan tahun, aku terus menginginkan nyawa untuk dicabut hingga---ya, kehangatan ini; rasa kasih sayang dan perhatian membuatku takut akan kematian.


Takut untuk meninggalkan mereka dan kembali jatuh dalam kesunyian. Aku mulai menutup wajah dengan kedua tangan, tertawa kecil kemudian. Hah, menyedihkan. Mungkin aku memang tak pantas mendapatkan kebaikan seperti ini hingga pada akhirnya, takdir tidak mengizinkan.


Eh? Aku merasa ada yang menyandar pada lengan kiriku. Sedikit melirik ... Crist? Dia menyebut namaku, satu kali tetapi amat pelan dalam getar yang kentara.


Sontak aku tertegun.


Pemuda ini, kenapa dia begitu? Mungkin Crist memang baik dan aku masih belum bisa membalas perbuatannya. Sejak tinggal di dunia ini, perlahan ... kehidupanku berubah. Tapi, sepertinya aku tak pantas akan hal itu. Aku mulai menyentuh kedua pundaknya dan sedikit mendorong ke belakang, lalu memberikan satu senyuman tipis. Namun, dia hanya memejamkan mata biru tuanya.


"Lihat! Crist itu orangnya lembut, baik, perhatian, sempurna! Kau sampai membuatnya seperti ini memang keterlaluan, Red!"


Heee, ucapan beliau tampaknya memancing Crist berwajah ... datar? Dalam suatu ekspresi yang tak kumengerti.


"Jadi, cobalah jangan keras kepala," lanjut Profesor Caterine.


Dan aku terdiam, sesaat.


Ha-ah, ucapanku membuat Crist merinding tetapi Profesor Caterine hanya menatapku datar. Beliau pun membalas, "Oke, jadi sejak kapan itu terjadi? Saat kau lahir?"


Mendengar pertanyaan tersebut, aku mulai menutup mulut dengan tangan kanan. "Tidak ... kalau tak salah, aku berhenti merasakan sakit sejak seluruh tubuhku menjadi kelam---ah, ya, aku juga berhenti berumur ketika menjadi serba hitam."


Beliau terlihat ... menyeringai? Itu sedikit mengerikan, terlebih berucap, "Memang badanmu unik. Aku ingin menyelidikinya lebih jauh tapi Crist terus menahanku. Hoya, oya, Crist, apa kau justru menginginkanku?"


"... Miss, perlukah kita bahas ini lagi?" gerutu sang pemuda dengan mengusap keningnya lelah.


Dalam tertawa, akhirnya Profesor Caterine berkata, "Red, dengar. Mungkin dari awal tubuhmu memang tidak abadi---"


"Bagaimana bisa?!"


"Anak muda memang sangat penasaran dan bersemangat. Kubilang, dengar dulu." Beliau mulai mengeratkan lipatan tangannya di depan dada. Itu sedikit membuatku merasa terusik karena---Red, berhenti berpikir yang tidak-tidak!


"Mungkin tubuhmu dari awal tidak abadi, tapi ada suatu hal; atau benda; atau apa pun itu yang membuatmu abadi, yaitu kekelamanmu itu. Saat kau tiba ke sini memang auramu pekat sekali, siapa pun pasti dapat merasakannya bahkan dalam radius lima meter lebih. Tapi sekarang? Tidak ada. Bahkan lihat, rambutmu merah bukan? Mungkin perlahan kau kembali ke kondisi semula."


Aku mengerjap dan kembali mengusap wajah dengan dua tangan. "Tapi, aku anak iblis."


Ah, mendadak terasa kepalaku dicengkeram dari atas dan dipaksa menoleh. Profesor Caterine sudah mencondongkan badan atas mata ungu menyisir ke setiap celah tubuhku. Sontak aku tertegun dan merasa tersipu.


"Katakan, dari mana kau bisa sebut dirimu anak iblis?"


Eh?


Dengan mengusap tengkuk aku berkata, "Ingatanku?"


Beliau melepas tangannya dari kepalaku. "Baik, ingatan katamu. Dengar, umurmu sudah ribuan tahun, bagaimana kau bisa yakin sepenuhnya ingat seluruh kejadian dalam hidupmu? Terlebih, kudengar kau juga dikendalikan. Mari kita bermain logika. Jika ingatanmu samar terlebih kamu dikendalikan, bisa saja ingatanmu dimanipulasi atau bahkan sudah ditutup ... oleh dirimu sendiri."


Aku tertegun mendengarnya, tetapi beliau terus berucap, "Kenapa oleh dirimu sendiri? Dilihat dari sisi kejiwaan, kau sangat rentan. Rasanya manusia yang memiliki dragonic tidak ada yang serapuh dan serawan dirimu, kenapa bisa? Karena kekuatan dragonic timbul atas kuatnya jiwa seseorang. Tapi kamu memang unik, itu yang membuatku penasaran. Jiwamu gampang sekali goyah, tapi kekuatan dragonic-mu di atas rata-rata."


Sekilas aku mendengar Profesor Caterine bergumam ketika menutup mulutnya dan sedikit menunduk. Suaranya sangat-sangat pelan tetapi aku menangkap bahwa beliau berkata, "Huh, meskipun masa lalunya mengerikan seharusnya tidak sampai serapuh ini. Mungkin orang yang berumur panjang itu berbeda? Hah, tapi Lucian tidak. Kenapa, ya? Heran juga. Apa karena orang tua itu belum sampai ribuan?"


Ah, beliau begitu memikirkan tentang diriku.


Menautkan jemari, akhirnya aku memberanikan diri untuk berkata, "Aku berbeda 'kan?"


"Ya, kamu berbeda, keabadian membuatmu berbeda. Lucian sendiri yang mengatakan kau berumur ribuan dan itu tidak mungkin salah. Tapi lihat sekarang, kau bisa terluka selayaknya manusia biasa."


Seketika kelopak mataku tersibak, aku langsung menatap tak percaya pada wanita yang sudah kembali duduk santai itu. Tetapi Profesor Caterine hanya tersenyum lembut di bawah sorot sang mentari dan berkata dengan teduhnya, "Kamu manusia, Red."


Aku menunduk, masih setia dengan ekspresi tertegun karena ... kenapa harus sekarang, dari sekian lama? Kenapa harus di masa terbaikku aku mati? Pertanyaan-pertanyaan kosong kembali muncul, tapi tenggelam dalam warna air mata yang membanjiri hati; membuatku sesak. Tidak ada artinya suatu ideal yang datang terlambat.


Sangat telat, aku sudah tak butuh kematian.


"Bukannya itu bagus? Aku ingat saat kamu pertama kali bisa memakai seragam dengan normal, kamu tersenyum sangat lebar dan penuh semangat," tutur Crist lembut dalam sebuah lengkung sabit hangat yang biasa. Namun, aku hanya menatapnya dalam tatapan tak percaya. Entah kenapa mendengar itu justru merasa sakit dalam dada, bukan senang?


Profesor Caterine merupakan ketua Departemen Konsultasi, beliau pasti tahu lebih banyak dan mendetail mengenai diriku. Semua ucapannya valid. Setelah aku bisa benar-benar menerima diriku sendiri, ini terjadi? Kenapa tidak dari awal? Sungguh tak habis pikir.


Mendadak pintu ruang rawatku terbuka paksa---eh, Neor? Tampaknya dia datang untuk menjenguk terbilang kami dalam satu departemen, tetapi kenapa langkahnya berhenti? Terlebih sekarang Profesor Caterine sampai tersenyum lebar yang amat---ah! Gadis itu langsung pergi.


"Kenapa ia lari? Aku tak masalah dijenguk olehnya," ucapku sembarang.


Seketika hening mengudara, membuat canggung. Matahari masih memancarkan sinarnya tapi udara dingin menusuk di setiap detik. Entah mengapa hawa menjadi gusar seperti ini, kenapa mereka sebegitu tegang?


Akhirnya Crist buka suara, "Fate masih dirawat pada kamar yang tidak jauh darimu, apa kamu ingin menjenguknya?"