
Aku ... telah mengacaukannya.
Suatu misi yang seharusnya dikerjakan sebagai satu tim terpecah karena kebodohanku sendiri, aku merasa tak enak pada mereka. Kukira sudah melakukan hal yang baik, tapi kesalahan kecil ternyata berakibat fatal. Mungkin memang benar aku buruk untuk misi tim, andai dalam tim ... terbiasa pergi dalam skala kecil--dua atau tiga orang.
Pada dasarnya memang masih harus belajar banyak tetapi jika seperti ini akhirnya, aku tak tahu lagi harus apa.
Sebab aku, Daniel, Crist, dan Cecil diminta untuk mundur dan bersembunyi dibalik gedung yang tak jauh---ah, bahkan untuk menyaksikan bagaimana pertarungan para Disiplinaria pun tak kuasa. Aku mulai mendengkus dan bersandar pada tembok, membiarkan kepala mendongak melihat langit jingga sampai terasa seseorang berdiri di depanku.
Aku pun menunduk dan mata kami bertemu, Crist tampak gugup di hadapan terlebih senyum masam tak lepas dari wajah. Aku mengerti maksudnya ... ibarat ingin bantu menghibur, tapi tidak tahu harus berkata apa.
Melihat ini aku mengukir senyum tawar nan samar.
"Heh, kenapa kalian di sini?!" Seketika aku tertegun, terutama saat Daniel menepuk pundaknya pada pundakku. "Jika kau merasa kesal, perhatikan mereka baik-baik dan pelajari!"
Sontak yang lainnya terkejut dan menatap Daniel tak percaya, bahkan Cecil yang sudah duduk bersila di depan gedung sampai mencondongkan kepala; melihat ke arah kami yang ada di lorong kosong antara dua bangunan.
Di tatap-tatapi seperti itu dalam diam, Daniel justru menggaruk kepalanya frustrasi atas semburat merah merekah di pipi. "O-oi! Aku sadar aku temperamental, tapi aku tahu maksud Lux itu baik! Dia cuma enggak mau ada anggota timnya gugur, meskipun menggunakan cara kasar."
"Oh, kau sadar diri," sindir Cecil membuat Daniel berceloteh ria, sampai akhirnya si gadis kecil tak peduli dan kembali fokus melihat ke depan.
Sedangkan aku ... membisu, sedikit heran dan berakhir mengedip beberapa kali tapi emang di antara kami, Daniel yang paling berpengalaman menghadapi Lux.
Lantas dia menjelaskan maksud Lux yang sesungguhnya dan itu dibenarkan oleh Crist. Seperti bagaimana kami harus benar-benar perhitungan jika mengambil langkah, dan membuat keputusan dengan tenang daripada gegabah pun berakhir panik. Satu sisi, Cecil justru menunduk beberapa saat, mungkin mendengar percakapan kami.
Maka aku mengangguk mengerti, berjalan ke luar celah gedung dan mulai memusatkan perhatian pada para Disiplinaria.
Sepertinya pengalihan perhatian berlangsung baik lantaran Lux dan Rose bebas melesat, kecepatan mereka memang di atas rata-rata. Dan kepala sang naga bergerak-gerak seperti ingin mengekor, tapi tak berhasil. Tampak resah, naga itu mulai mengentak-entak kaki membuat gemuruh selaras dalam raungan memekakkan.
Reptil raksasa terlalu sibuk pada Lux dan Rose, hingga tak menyadari empat pilar sudah terlilit rantai yang muncul dari dalam tanah. Sebab Fate yang terlindung dalam kubah merah Aegis milik Theo menancapkan pisau gandanya ke tanah; sukses melakukan Vinnitus dan kubah raksasa hilang saat pilar-pilarnya hancur.
Seketika lengkingan menggaung; raung tak suka mengudara, berasal dari naga yang marah mengetahui kubahnya menghilang. Sontak dia menggila, merayap ke sana kemari dalam hujan batu tak henti menemani.
Refleks Theo mengangkat Zweihande, mungkin belajar dari kejadian sebelumnya; memilih menghindari hunjaman bebatuan berukuran raksasa daripada menahan langsung.
Fate pun gesit menganti senjatanya menjadi Floating Hourglass, terlihat ingin fokus menganalisis. Lantas dalam gemuruh mereka tak henti meliuk dengan gerakan ritmis senjata masing-masing, tak sedikit hujan bebatuan serupa labirin turut hancur sebab serangan para Disiplinaria.
Namun, semua tidak terus-menerus berjalan lancar. Masih tak ada yang berhasil melukasi sang naga berkulit keras, lebih-lebih Rose hampir terpecut oleh ekor palu raksasa jika tak menghidar seper sekian detik.
Menyaksikan ini, Daniel terlihat tak nyaman. "Aduh, serius nih kita menonton saja? Cecil, selain tiang itu pasti ada kelemahan lainkan? Berapa kali mereka serang kayak enggak mempan."
Dengan menunjuk pada salah satu iris merah mudanya, Cecil menjawab, "Mata."
Si pirang pun mengangguk mantap dan kembali mengeluarkan Heart Core. Bola kristal hijau berpendar, lalu berubah menjadi serpihan cahaya membentuk dua pistol ganda. Namun, satu pistol dia sematkan pada sisi ikat pinggang. Menggunakan satu senjata yang digenggam erat, Daniel tampak serius mencoba membidik naga jauh di depan.
Detik kemudian letupan pistol terdengar bising, pertanda peluru telah melesat dan mungkin bersarang di targetnya. Sayang, itu meleset. Daniel kembali mengokang senjata api. Namun, berapa kali dia menembak, sebanyak itu juga peluru tak mengenai sasaran.
Tetap tak menyerah, Daniel menarik napas dalam-dalam; melemaskan tangan dan siap membidik lagi. Mata hijau disipitkan meski bulir peluh menjadi mayoritas di seluruh tubuh saat pistol kembali mengarah ke depan. Lantas letupan senjata api memekakkan lagi dan kini tepat mengenai mata kiri membuat sang naga tersentak. Belum puas, Daniel kembali menyarangkan peluru energi pada mata yang lain tanpa meleset.
Seketika dia terlihat senang melihat sosok kadal raksasa terhuyung-huyung ketika ceruk matanya deras mengalirkan darah. Di kejauhan, Lux terlihat memberi salut dua jari sebelum balik menyerang; memancing senyum Daniel semakin melebar hingga terlukis cengiran kuda dan memukul ruang hampa.
Tak khayal, naga di depan bukan semakin jatuh justru makin membabi buta. Gemuruh raungannya seperti sambutan kematian, menabrak gedung dan palang rambu lalu lintas di sekitar menggunakan badan pun ekor panjang berpalu di ujung.
Melihat ini Cecil terperangah hingga berdiri dari duduk, menatap Daniel yang juga terlihat panik. "Cil bagaimana ini? Kenapa semakin menjadi?!"
"Itu ... ah, jangan sampai ekornya memukul tanah! Ser---"
"Serang ekornya!" seru Fate ibarat melanjutkan perkataan Cecil.
Saat menoleh kembali pada mereka, mata jelagaku menangkap sosok pemuda melesat ke posisi belakang yaitu Theo yang menebas buntut sang naga dalam detik-detik mengentakkan buntut ke tanah hingga derak basah terdengar; selaras dalam percikan darah mengalir deras.
Kemudian dengan kecepatan yang tak biasa, Rose dan Lux menghancurkan satu pilar yang hampir berdiri dan menyerang balik pada reptil raksasa---ralat, seharusnya cicak karena buntut mudah sekali lepas dalam satu tebas. Namun, nahas, pisau dan peluru energi masih tak melukai tubuh kerasnya meski sekarang sang naga telah tumbang secara penuh tanpa mata dan kekuatan untuk melawan.
"Lihat? Regenerasi melambat karena matanya buta," jelas Cecil yang terlihat jauh lebih tenang.
"Loh, bukan karena buntutnya hilang?"
Si gadis kecil menggeleng terhadap pertanyaan Daniel. "Buntut tuh cuma bertumpu pada penyerangan, matanya titik fokus. Jika memukul tanah berkali-kali dengan buntutnya, empat pilar langsung muncul dan memberikan kubah pelindung untuk dia. Yah, berkat kamu itu enggak terjadi."
Mungkin dilingkupi rasa bangga dan senang, wajah Daniel semakin berseri. Tetapi empat orang depan sana masih bergelut dengan si naga.
Tak tinggal diam, Fate melempar Floating Hourglass tepat ke atas sampai lingkaran sihir perak yang besar tercipta. Seketika hujan es menghunjam keji ke setiap inci sang naga. Sungguh kontrol si gadis amat kuat sampai-sampai bisa menciptakan Azure Circle berdiameter nan luasnya.
Tak sampai di situ, dia menjentikkan jemari dan senjata kembali ke sisi. Kemudian Fate merentangkan tangan ke atas. Detik yang terjadi kemudian bongkahan es berukuran tak kecil muncul di atas leher naga, mencabik-cabik dan saling berjatuhan pada satu titik membuat leher bersisiknya putus; mengundang suara debam kala kepala sang naga bergelinding di atas tanah. Mungkin ... menyadari dari seluruh tubuh, hanya bagian sekitar kepala yang terkena hujan jarum Azure Circle; penanda titik kelemahan yang lain.
Dan semua selesai dalam hitungan beberapa menit karena dalam satu kedipan mata, kami sudah berdiri pada ruang tunggu kereta bawah tanah di dunia nyata; tepat pada ruang di samping kereta yang mati.
Lekas Crist mengambil langkah memasuki gerbong kereta dan membuka dokumen dalam genggaman. Dari balik kaca transparan, terlihat dia membalik setiap lembar kertas seperti memastikan daftar orang hilang sesuai dengan para korban yang telah ditemukan atau tidak.
Bagai efek euforia yang habis, para Disiplinaria terengah-engah atas keringat bercucuran. Tidak seperti kondisi sebelumnya bertarung dengan penuh tenaga. Ketika kami datangi, mereka sedikit nahas dengan luka di sekujur tubuh. Bahkan healing penuh--Recall Illumination--dari Cecil tak mempan. Bagai tubuh dipaksa bekerja sampai titik batas, mereka perlu perawatan medis.
Terlebih Fate ... saat aku hampiri dia langsung ambruk, duduk diam dan menunduk dalam. Ringisan menahan sakit sungguh asing di wajah yang biasa datar tanpa ekspresi. Melihat ini, Daniel berlari menaiki tangga untuk memanggil para staf yang ada di luar.
Langsung aku berlutut depan Fate demi memeriksa kondisinya, yang lama kelamaan semakin menunduk bak ingin jatuh ke lantai dan refleks kutahan dengan memegang pundak. Perlahan aku menyisipkan helaian rambut perak ke belakang telinganya, wajah pucat itu mengundang panas dalam dadaku.
Suara lembut yang agak merintih mengatakan dia tak apa, ini hanya efek mengeluarkan Ultimate Skill dan tidak separah seperti Lux sewaktu kejadian Dream Land--sakit kepala luar biasa hingga dengung melanda telinga--Fate hanya merasa pusing dan lemas bersamaan tetapi aku tetap khawatir dan mulai menggendongnya di depan dengan hati-hati, mencoba menghampiri pada staf Departemen Gear yang pada akhirnya mendekati tim kami dengan tergesa-gesa.