
Kali ini, seluruh anggota club--kecuali Crist, Fate, dan salah seorang anggota lain yang masih dalam misi--berlutut mengelilingi meja ruang tengah. Dada saling menempel pada sisi meja dan dua tangan di atasnya.
Raut muka begitu serius tetapi aku masih dalam ekspresi bingung. Sebenarnya ada apa ini? Setelah Daniel berteriak kencang-kencang mengenai ulang tahun Fate hingga seluruh penghuni club geger, seolah-olah telah terpanggil secara alami, mereka langsung dalam posisi sekarang.
Aku yang terheran-heran turut ditarik dan berakhir mengikuti mereka.
Padahal selama dalam Club Dion, kami tidak pernah melaksanakan rapat yang ... tampak serius seperti ini? Bahkan pembahasan setelah sparing tidak begini---tunggu, apa ini termasuk rapat? Mungkinkah mereka juga menganggap perkara Fate adalah hal serius? Hehe, aku tertawa kecil. Kukira hanya aku yang berpikir demikian.
Daniel mulai buka suara, "Bagus-bagus, kalian peka kita harus berbuat apa! Langsung saja bagi tugas! Sekarang kita cuma ada enam orang, Crist sudah mengamankan Fate. Red sama Cecil biar atur buat kuenya. Kita butuh satu orang untuk beli aksesori ulang tahun, yang biasa kayak konfeti sama hiasan pita gliter buat hias dikit-dikit biar enggak datar banget ruangan ini."
"Bisa-bisa, bahan buat bikin kue tuh masih ada! Sisaan dari bahan pancake, paling butuh krim sama hiasan cokelat tuh biar cantik!" sambung Cecil.
"Aku-aku! Aku mau beli bahan tambahan buat kue! Tahu banget kalau masalah cokelat yang bentuknya cantik-cantik di mana. Pacarku yang masih misi di luar juga bentar lagi pulang, sekalian nanti kusuruh ia beli aksesori ulang tahun!"
Mendengar itu, Daniel menyengir lebar. "Mantap! Nanti uangnya pakai kas club saja, aku transfer!"
"Senior, kadonya jangan lupa! Gimana kalau kita semua patungan untuk beli kado? Nanti aku yang beli! Tidak ada waktu nih kalau pada beli satu-satu!"
"Waduh, iya juga!" Si pirang menepuk keningnya.
"Langsung saja deh semua transfer uang sukarela ke kamu, dapat berapa langsung habiskan ya! Awas korupsi!" Lalu Cecil menuding pemuda yang dituju.
Namun, dia hanya menyengir lebar dan menjawab, "Enggak akan! Kan, ini buat keluarga kita juga!"
Keluarga, ya ... entah kenapa ini mengingatkanku mengenai ucapan Cecil kepada Daniel, tentang memiliki club dan keluarga baru.
Langsung aku menatap mereka, ekspresi bahagia dan senang jelas memenuhi bersamaan senyum yang terukir di setiap wajah. Tak lama mereka mulai mengeluarkan ponsel---oh, iya! Memberikan uang sukarela untuk kado Fate.
Aku turut mengeluarkan ponsel dan menutup mulut menggunakan tangan kanan. Halnya, berapa banyak yang harus aku kirim? Sebentar, Red, coba pikirkan. Ini ulang tahun Fate dan hanya terjadi setahun sekali, tentu harus memberikan sesuatu yang berkesan. Aku pun mengangguk mantap.
"Nah, sudah bereskan? Kamu, enggak kebagian tugas! Bersih-bersih sama aku yuk biar nanti enak ngehiasnya," ucap Daniel.
"Tunggu, ini ...." Pemuda yang mendapat tugas membeli kado menatap tak percaya pada layar ponselnya dan melihat kami semua secara bergantian. Namun, mata berakhir tertuju padaku. "Ini Senior Red serius kirim segini? Ini sih, berapa juta ...."
"JUTA?!" Seluruh orang di meja berteriak secara serempak sampai aku terkejut---eh, ada yang salahkah?
Bahkan, anggota lain yang duduk di samping turut mengintip ponsel miliknya. "Lah, ini mah bisa dipakai buat daftar lahan kosong untuk rumah pribadi dalam Heart Core!" Dan seluruh mata pun tertuju padaku.
Dipandangi seperti ini, seketika aku menegang dengan mengelus tengkuk. Mereka seperti ... tidak percaya? Bahkan mata-mata itu jelas tersirat ingin sebuah penjelasan. Padahal tabunganku banyak dan jarang sekali dipakai, biaya penanganan tubuhku juga sangat minim--sebab immortal--terlebih tugas yang aku kerjakan rata-rata misi solo dan grade tinggi. Apa lagi ini acara sekali dalam setahun bukan? Jadi harus istimewa ....
Aku mulai gugup dan berkata," Eengg, demi ... Fate?"
Dan mereka langsung menyembur tawa, berbeda jauh dengan wajah keheranan sebelum ini---ah, apa lagi sekarang? Bahkan Daniel sampai terpingkal-pingkal dan berguling di karpet! Entah mengapa, aku merasa malu hingga ubun-ubun berdenyut dan refleks menutup wajah menggunakan satu tangan.
I-ini pasti karena aku tak begitu paham masalah ulang tahun! Tuhan, bagaimana tidak? Aku sendiri tidak tahu kapan aku lahir.
"Sudahlah, langsung pergi saja beli bahan sesuai tugas masing-masing! Kado dari Red kasih yang eksklusif! Waktu kita tuh enggak banyak!" sergah Cecil mengingatkan.
Akhirnya ada yang menenangkan suasana! Aku mengintip ... tapi wajah si gadis kecil merah dengan pipi menggembung, seperti mati-matian menahan tawa.
Selang beberapa menit, akhirnya sunyi membumbung lantaran yang terpilih untuk berbelanja sudah meninggalkan gedung club, sedangkan lainnya mulai bersih-bersih.
Aku bersama Cecil sibuk di ruang dapur. Setelah menyiapkan bahan sedapatnya, kami mulai mengaduk adonan. Dan aku merasa sedikit kagum dengan Cecil, dia mengerti takaran untuk bahan-bahan tersebut tanpa membuka resep. Mungkin sudah terbiasa? Seperti aku yang memasak untuk makanan keseharian. Namun, untuk masalah kue aku benar-benar hampa.
"Aduuuuh, tangan tuh lambat kali aduknya! Putih telurnya kocok yang cepat sampai berbusa!"
Aku tertegun dan langsung menoleh ke asal suara. Ah, lagi-lagi aku dimarahi. "Kalau kencang-kencang nanti wadahnya pecah seperti tadi ...."
"Ya jangan ditekan! Sini!" Seketika Cecil menarik wadah yang aku pegang, lalu dengan hati-hati menunjukkan teknik yang benar padaku. "Lakuin melingkar kayak gini."
Lantas aku beralih ke belakang Cecil untuk melihat bagaimana gadis ini melakukannya---oh, ternyata begitu, aku mengangguk mengerti. Omong-omong, meskipun dia sudah naik di atas bangku, aku masih jauh lebih tinggi.
Aku pun menuruti perintah dan melakukan sesuai instruksi. Kali ini, Cecil tak banyak berkomentar---eh, apakah sudah melakukannya dengan benar? Sontak aku menoleh ke arahnya yang tersenyum cukup lebar.
"Kamu pintar juga ternyata, langsung paham. Ya sudah lanjutkan, aku urus yang lain. Kalau sudah selesai bawa bahannya ke aku!"
Dan aku bergumam sebagai jawaban.
Memasak bersama dan belajar hal baru, sungguh mengingatkan dengan orang terkasihku. Tatapanku mulai sayu mengingatnya lantaran masa-masa itu begitu indah dan hangat, tak disangka kini bisa mengulanginya lagi. Meski dengan orang yang berbeda, aku cukup senang.
"Terima kasih, Cecil."
Kata itu keluar begitu saja, bahkan aku sendiri terkejut mengetahuinya. Eeek, pasti memalukan! Aku pun sedikit melirik pada ujung kelopak mata---hah, bahkan Cecil tertegun! Lantas aku sedikit memiringkan badan dan terus mengaduk adonan.
"Maksudnya apaan, ha? Malah menghindar begitu, kalau mau ucapin 'terima kasih' yang benar dong!"
"Ma-maaf! Tadi hanya---ah, aku ...." Aaaaa, kenapa sulit sekali mengucapkannya?! Langsung aku menggeleng kecil. "Aku merasa ingat kembali masa dulu dengan orang terkasihku saat ia sabar mengajariku bagaimana cara memasak. Ahahaha, bahkan kalau aku tidak paham-paham apa yang ditunjukkan, ia menangis."
"Huh, kalau kamu enggak paham-paham paling kupukul!"
"Hee, jangan! Kali ini aku yakin, akan lebih hati-hati." Aku mulai lebih serius dalam menyiapkan bahan.
Namun, tampaknya gelagatku membuat Cecil tertawa kecil. "Sepertinya orang terkasihmu itu lembut banget ya. Bisa sabar, apa lagi menghadapi orang kayak kamu."
Aku tertegun mendengarnya dan menoleh pada si gadis sesaat. Mata merah muda masih sibuk menyisir setiap bahan di meja tetapi bibir tipis itu melukiskan suatu gurat sabit yang samar, selaras pada semburat merah di pipi. Kembali pada bahanku, aku menuangkan beberapa tepung sesuai perintah Cecil sebelum ini.
Lembut ... iya, ia sangat lembut. Sehalus rambut lurusnya.
Kadang saat kami berbaring bersama, aku meraih helai-helai merah muda dan membiarkan gravitasi menariknya perlahan dan berjatuhan dari sela-sela jari. Rambut begitu harum dan panjang, sebuah rona yang tak aku pahami. Ketika aku melakukan hal itu, ia menyadarinya dan menoleh padaku. Kemudian jemari lentik mengelus kepalaku secara perlahan, membiarkan rasa nyaman menjalar dan mendekap kami berdua.
"Ya, ia sangat lembut." Kalimat itu aku ucapkan begitu saja bersamaan dengan senyum tipis yang keluar tanpa permisi. Tak bisa dimungkiri, ternyata sampai saat ini, perasaan itu masih ada dan terus ....
Aku memang mencintainya.
"Terima kasih Cecil, sudah mengingatkanku akan hal itu dan sabar mengajariku."
"Bagus kalau ternyata kamu masih ingat perasaan itu. Anggap saja sekarang kita membuat kue untuknya, orang terkasihmu!"
Spontan aku menggeleng dan menjawab cepat, "Tidak bisa, ini untuk Fate. Mereka berdua berbeda."
"Eeeh, maksudku---"
"Lagi pula Fate pernah berkata, akan menemaniku sebagai dirinya sendiri."
Ah, akhirnya selesai. Sesudahnya aku memberikan wadah tersebut pada Cecil---eh, kenapa memandangku begitu? Ada yang salahkah?
Lantas aku melambai pelan depan wajahnya. "Cecil?"
"Heh, Fate serius omong gitu ke kamu?!"
"Iya?"
"Wah, itu tuh lampu hijau! Selamat Red!"
"Eh, lampu hijau?" Tanpa mengindahkan pertanyaanku, dia meraih wadah adonan yang tadi aku kerjakan dan beralih ke meja lain. Sontak aku mengikuti untuk bertanya---
"Cepat ambil susu vanila di kulkas!" sergahnya seraya menaiki bangku yang lain.
Ha-ah, sepertinya dia benar-benar mengabaikan pertanyaanku? Aku pun mendengkus dan menuruti titah. Entah mengapa perasaan buruk muncul melihat tingkah aneh seluruh anggota club tentang aku dan Fate ... haaah, aku mulai mengusap wajah sekali.