
Dari seluruh kejadian yang aku dan Fate lalui, akhirnya dapat mengambil satu benang spekulasi. Segala hal memang tidak ada kebetulan.
Setidaknya ini yang aku pahami sekarang.
Saat gadis itu mendengar bisikan mengajak pulang dan memanggil namanya, pertama kusaksikan pada balkoni perpustakaan lantai atas. Lalu ketika aku tanya mengenai masalah bayaran, ia justru bertanya balik apa maksudmu? yang artinya Fate tidak mengingatnya dan aku yakini ada sosok lain menggunakan tubuh si gadis untuk berbicara padaku.
Ditambah Lord Metatron hilang dari tubuhnya dan ini terjadi kemungkinan dua hari setelah ulang tahun Vaughan, bersamaan bisikan mengajak pulang mulai menghantui.
Di saat itu aku memilih untuk tetap abadi; melihat kondisinya sekarang bisa saja benar Fate yang menjadi bayaran keabadianku.
Sebab keadaan Fate semakin lama makin memburuk apa lagi suhu tubuh lebih rendah dari pertama kami berjumpa, seakan-akan sosoknya akan hilang jika genggaman nan salah mencengkeram bagai rintikkan putih terus berjatuhan di balik jendela yang tak luput dari pandanganku. Ia memang putih bersih tetapi dingin seperti laju kehidupan dan takdir. Ketika mendapat dekapan terlalu kuat ... ia hilang; meluap; meleleh; menyisakan jejak tak terlupakan.
Bagaikan salju.
Tapi dari sekian banyak manusia di bumi, kenapa bayarannya harus Fate? Karena kami sama-sama datang dari dunia berbeda? Kenapa sosoknya yang akan melebur, bukan aku? Lantas hadir satu pertanyaan sinting mendominasi kepala: haruskah di setiap lembar kehidupan mengorbankan orang tercinta?
Jadi ini semua salah hatiku yang luluh pada perasaan hangat dan mulai mengasihi seseorang sepenuh hati, laksana menyerahkan seluruh napas pun kehidupan padanya? Pasti ada jawaban lebih masuk akal 'kan?
Setidaknya ini yang aku yakini sekarang.
Aku pun mengembuskan napas panjang dan merebahkan badan pada sofa, juga menjulurkan kaki ke depan demi melepas ketegangan. Sebab itu pula kulihat Profesor Kaidan menatap horor ibarat melihat hantu atau tak percaya akan keberadaanku.
Eh, sejak kapan beliau berdiri di sana?
"Bapak?"
"Red, Itu kamu? Kenapa kamu di sini?"
"Tentu saja menemui Head Master Lucian, EVE bilang sebentar lagi beliau akan kembali ke ruangnya." Apa lagi? Karena lantai teratas Gedung Utama hanya terdiri dari ruang EVE dan ruang kerja sang pemimpin organisasi, ditambah ruang tunggu yang aku singgahi.
Tetapi beliau berekspresi tak percaya. "Loh, kamu lupa kemarin Lucian ingin menghabisimu?"
Langsung aku duduk tegap sempurna dan menunjuk beliau seolah-olah menemukan sebuah konklusi nan tepat. "Itu dia! Aku ingin beliau menghabisiku."
Kacaulah gelagat guru waliku. "Red, kamu mau mati?!"
"Hah! kenapa mati?!" Aku ikut terkejut sampai melonjak dari sofa. "Tidaklah! Lagi pula aku immortal ... hanya ingin tes sesuatu, tidak lebih."
Kalau tidak mengurus masalah ini juga tak sudi berada di sini, apa lagi menemui Head Master Lucian.
"Jadi, ada perlu apa menemuiku?"
Eh, Head Master Lucian?! Sejak kapan beliau berdiri dekat Profesor Kaidan? Aku bahkan tidak mendengar langkah beliau! Ah, ada yang lebih penting. Lekas aku berdiri dari duduk dan menghampiri mereka--Lucian dan Kaidan.
"Ini mengenai keabadianku. Aku ingin mengukur kemampuan regenerasi tubuh, seberapa cepat kemampuan pemulihannya sekarang."
"Hmm, kalau begitu luka beset cukup untuk tes bukan?" Beliau pun memasukkan tangan kiri pada saku celana. "Dulu kau ditembak di jantung hanya butuh beberapa jam sudah pulih. Luka kecil harusnya langsung sembuh."
Pelan-pelan, mulutku terbuka lebar. "Haaa, iya juga ya? Kenapa aku susah-susah berpikir harus dihabisi?"
"Karena orang idiot akan tetap idiot," ucap beliau sambil menaikkan salah satu alis.
HA?!
Namun, Lucian justru menaikkan kedua pundaknya acuh tak acuh. "Tetap idiot."
Ini!
Ini kenapa aku tak suka padanya, beliau tak henti melontarkan kata-kata sarkasme dan blak-blakan! Lebih baik aku mendengar ucapan menusuk dari Fate daripada---tunggu, bukannya sama saja? Ah, yang jelas aku tak mau mendengarnya dari beliau; membuat kepala mendidih dan aku mulai tersenyum masam.
Selang beberapa detik Head Master Lucian menaikkan tangan kanan dengan telapak terbuka. Saat menjetikkan jari, seketika muncul serpihan cahaya pembentuk pisau dengan mata tajam menghadap ke belakang yang beliau genggam; secepat itu pula suara beset mengudara pun dirasa perih di pipi kananku.
Rasa hangat pun mengalir perlahan dan aku meringis kecil, tangan juga refleks mencubit pipi---
"Red, jangan ditarik! Lukanya melebar!"
Spontan aku memandang bingung Profesor Kaidan yang sibuk merogoh tas pinggang. "Eh, iyakah? Pantas perih."
Sedangkan Lucian mendengkus dan menjentikkan jari lagi, membuat pendar kecil perlahan-lahan tampak pada sudut mataku, rasa sakit pun hilang dari wajah. Lalu guru waliku sibuk mengusap jejak darah yang mungkin tersisa di pipi secara perlahan menggunakan saputangan, memaksaku memejamkan sebelah mata.
Apa yang Lucian lakukan benar-benar membuat seluruh keahlian dragonic terlihat mudah dilakukan, beliau memang luar biasa tetapi gambarannya dalam kepalaku masih buruk.
"Kemampuan regenerasimu hilang." Dan Lucian menyilangkan dua tangan depan dada. "Hampir sama seperti kemampuan manusia biasa."
Aku mengangguk membenarkan dan mendorong tangan guru waliku menjauh dari wajah--seperti biasa, beliau berlebihan memperlakukanku.
"Iya, kemungkinan aku sudah benar-benar menjadi manusia ... sebagaimana awal terlahir dari rahim. Seperti yang aku jelaskan ketika rehabilitasi, aku hanya manusia biasa tetapi jiwaku tidak. Jiwa tidak stabil dan sangat sensitif terhadap tujuh dosa mematikan; ketika menyerapnya, itu akan membentuk suatu kekuatan kelam dan aku dibuat abadi karenanya."
"Apa karena rehabilitasi jiwamu ikut membaik?" tanya Profesor Kaidan atas wajah berseri.
Namun, aku menutup mulut menggunakan tangan kanan sebagai usaha untuk berpikir. "Tidak. Untuk membersihkan jiwa yang sudah ternoda tidak semudah itu. Dan lagi, jiwaku seperti dibersihkan perlahan sampai sepenuhnya menjadi manusia, hanya saja ... seakan ditahan agar tidak mati, berakhir tetap abadi."
Akhirnya kujelaskan pula apa yang terjadi saat ulang tahun Vaughan, mengenai aku dan Fate; bayaran dan pilihan; serta kasus bisikan dan apa yang kupikirkan sebelumnya.
Lantas Head Master Lucian terdiam sesaat sebelum bertanya dengan nada serius, "Apa kemampuan immortal-mu hilang begitu saja sehabis berbicara dengan Fate di pesta ulang tahun Vaughan?"
Seketika aku tertegun karena itu mencelikkan benak. "Tunggu ... tidak! Keabadianku perlahan berkurang dari sebelum perayaan ulang tahun, lebih tepatnya sejak bertemu---ah, sejak bertemu dengan Fate!"
Dan guru waliku ikut terkejut. "Dibandingkan tahun lalu, tahun ini kamu memang berbeda. Mulai dari auramu dan kemampuan regenerasi, kamu juga bisa merespons orang lain dengan baik seperti mulai sadar dengan sekitar."
"Karena sejak Fate tiba, semua perlahan berubah. Bahkan dunia ini sendiri menjadi lebih aktif dari sebelumnya," gumam sang ketua organisasi yang kubalas anggukan mantap tetapi kata-kata beliau mengenai dunia menjadi lebih aktif ... apa maksudnya?
Namun, kuputuskan untuk mengesampingkan hal tersebut.
"Maka dari itu, bisa jadi keadaan Fate semakin memburuk karena aku masih abadi. Tapi bagaimana cara melepas keabadian? Inikan, berkaitan dengan jiwa; dengan nyawa. Manusia tidak mungkin bisa merubah bentuk suatu jiwa, bahkan dulu aku bisa menjadi kelam pun akibat campur tangan para iblis."
Perlahan, aku mulai menunduk, dua lengan turut melemas dan kembali ke samping badan.
"Aku takut dan bingung harus apa; juga berharap Fate bisa membaik seperti semula, maka dari itu ingin melaporkan masalah ini. Aku tidak tahu kenapa semua berubah karena Fate, apa pemicunya? Semua masih sangat kabur. Atau ini berkaitan dengan kenapa ia amnesia? Aku benar-benar, tak paham ...."
... Tapi ingin masalah ini segera selesai, apa lagi berkaitan dengan Fate.
"Terima kasih atas laporanmu." Aksen nan tegas menarikku untuk kembali mendongak dan menatap wajah serius Lucian. "Kami akan rundingkan masalah ini lebih lanjut. Untuk sekarang, terus awasi Fate dan lindungi ia. Ada kemungkinan ini bukan ulah manusia ... ataupun naga."
Mata beliau berkilat seakan terpikirkan sesuatu. Dan beliau masuk pada ruang kerjanya, diikuti oleh Profesor Kaidan yang setia mengekor.