When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| Rasa Bersalah



Saat membuka mata, langit-langit berwarna putih yang pertama menyambutku, mengingatkan di masa pertama datang ke akademi.


Profesor Kaidan biasanya akan menemaniku dalam kondisi seperti ini tetapi ketika melihat sekitar ... hanya ada Fate duduk bersandar pada bangku di samping kasur. Tatapan dari mata perak samar biru tak dapat kubaca.


"Eeem, Fate?"


"Sudah merasa jauh lebih baik?"


Aku bangun dari tidur dan duduk pada pinggir kasur untuk menghadapnya. Tidak tahu kenapa pernapasan terasa sesak tapi selain itu, merasa baik-baik saja.


"Ya, baik ... mungkin."


Aku mengelus dada dan menarik napas panjang. Fate masih duduk di sana dengan menyilangkan kedua tangan juga kaki kiri di atas paha kanan. Dengan gaya seperti itu beserta wajah datarnya aku merasa seperti ... diawasi.


Ah, mungkin hanya perasaanku saja. Terlebih ia memang lebih sering bersamaku daripada yang lain jika tidak dalam misi.


"Apa yang terjadi?" tanyaku mencoba mencairkan suasana dan entah kenapa, ingatan terasa berbayang.


Namun, Fate tak langsung menjawab. Dia mengamatiku lamat-lamat bahkan kaki kiri turun karena mencondongkan badan ke arahku. Jujur, itu ... membuatku merasa tersipu.


"Portal dimensi itu milik General Faerie Dragon. Dia salah satu General yang lemah tapi sangat licik, tipe yang suka mempermainkan musuh. Napas dan sisiknya bisa mengeluarkan racun. Karena tubuhnya yang kecil, ia lebih senang menggunakan sihir."


Ah, aku tidak tahu namanya Faerie Dragon, mungkin mereka sudah menyelidikinya.


"Dan ketika kami menemukan kalian, kalian sudah tidak sadarkan diri," lanjut Fate yang membuatku terkejut hingga mata jelaga terbuka lebar.


Sekarang aku ingat, terakhir disiksa oleh gadis naga itu dan berakhir tak sadarkan diri.


"Bagaimana Crist dan Daniel? Apa mereka baik-baik saja?"


Fate menatap lurus tanpa ekspresi. Terdiam beberapa lama hingga menjawab, "Mereka baik-baik saja, kami sudah membereskan semuanya. Mereka juga siuman lebih dulu daripada kamu."


"Begitu ...."


Aku menunduk. Kini rasa bersalah menggerogoti batin karena ketidakmampuanku melakukan apa-apa dan berakhir membuat mereka terluka. Aku mencengkeram kedua tangan yang menyanggah badan pada pinggir kasur dalam pandangan sayu.


Terlebih, bisikan itu ....


Terasa seperti hantu mencemooh dan mengusik hatiku yang hancur karena berbagai hal membingungkan atas gambaran palsu dan ilusi. Aku mendongak, penglihatan terasa penuh kabut pekat seakan langit yang berwarna transparan dan kebiruan telah hampa seperti kebohongan.


Kepalaku sakit.


"Kau mau ke mana?" tanya Fate ketika aku turun dari kasur.


"Keluar."


"Red, kau baru sadar."


"Hmmm. Tak masalah, saya immortal." Dan dia langsung tersenyum.


Itu sedikit ... mengerikan karena entah kenapa merasakan hawa mencekam di sekitar Fate, terlebih separuh wajahnya samar lantaran tertutup temaram di balik gurat sabit yang sedikit pun tak berubah.


"Kau beristirahat sekarang atau aku akan berikan alasan untukmu beristirahat."


"Tapi, saya---"


"Istirahat," ucap Fate dingin dengan menuding ke arahku yang refleks membuat tubuh bergerak mengikuti perintah; kebali tidur dan menutup diri dengan selimut hingga separuh wajah.


Fate bisa sangat ... menyeramkan.


Lama waktu berlalu, kami sama sekali tidak buka suara.


Aku sedikit melirik dan Fate masih duduk bersandar dengan menyilangkan kedua tangan seraya menutup mata seakan bermeditasi.


Ha-ah, kalau begini aku benar-benar diawasi ....


Hingga ketukan di pintu terdengar dan muncul sosok pemuda berambut ungu panjang yang sangat rapi--Crist. Namun langkahnya terhenti seperti terkejut sebab mata terbuka lebar. Ia pun melihat ke arah Fate dan ... menunjuk-nunjukku?


"Red bisa tirah baring?"


Fate mengangguk menjawab pertanyaan Crist tapi pemuda itu masih tak percaya dan melihatku hingga tidak berkedip.


Aku pun berkata, "Apa? Jangan komentar."


Dan kekehan menggema. Suara decit terdengar sedikit mengusik ketika Crist menarik bangku ke sisi kasur yang aku tiduri. Di saat bersamaan, Fate berjalan keluar sembari menggenggam ponsel dan meletakkannya ke telinga. Mungkin akan menelepon.


Kini pemuda berkacamata duduk di sampingku beriringan mengukir senyum yang teduh. "Syukurlah kamu sudah sadar. Kamu pingsan cukup lama, aku sedikit khawatir."


"Berapa lama?"


"Hem, sekitar empat hari."


Tunggu. Saat ditembak Profesor Kaidan ketika pertama bertemu aku hanya pingsan satu hari bahkan waktu itu ditembak tepat di jantung.


Ketika bertarung dengan General, meskipun disiksa, tak sampai mengenai titik vital seperti jantung. Terlebih ada pin club. Jika mereka mengincar jantung, benda itu akan mengeluarkan perisai kecil sehingga melindungi dada kiri.


Sebenarnya apa yang terjadi? Mendadak terasa pusing, membuatku menyangga kepala dengan tangan kanan.


"Masih sakit?" tanya Crist dalam aksen tersirat kekhawatiran.


Aku sedikit meringis dan menjawab, "Tak apa."


Seketika aku mengingat kejadian waktu itu, sangat tak berdaya; tidak bisa melindungi dan berakhir membuat mereka terluka. Seandainya bisa berbuat lebih ....


Sebenarnya aku tak punya muka berhadapan dengan Crist dan Daniel, berakhir menundukkan kepala sembari menautkan jemari. "Maaf saat itu ... saya tidak bisa melakukan tugas dengan baik."


"Aku tidak tahu apa yang kamu maksud, Red. Kamu selalu mengerjakan misi dengan baik bahkan waktu dalam portal dimensi kamu sampai mengorbankan diri. Orang normal mendapat serangan itu mungkin akan mati. Kamu sangat bersikeras melindungi kami."


"Tapi, kalian terluka---"


"Red," ucap Crist dalam intonasi lembut lebih-lebih tenggelam, "itu semua kecelakaan, jangan menyalahkan diri sendiri. Kalau kamu pikir itu adalah kegagalan dalam menjalankan misi, maka aku yang seharusnya disalahkan. Aku bertanggung jawab untuk bagian komunikasi tapi tidak dapat menghubungi siapa pun dan berakhir kacau."


Aku terdiam lantara tak bisa berdalih dan sebenarnya, tidak masalah mengorbankan diri. Aku ini immortal. Jadi merasa sedikit tak terima tapi tidak bisa mencekalnya juga, berakhir diam dengan menunduk dalam-dalam.


Kami berdua membisu sampai kasak-kusuk suara hadir dan pintu putih tergeser pelan. Ternyata Fate---


"Syukurlah! Syukurlah kamu sudah sadar, Nak!"


"Bapak---ack!"


Tak disangka guru waliku juga hadir bersama dengan Fate, beliau bergegas memelukku habis-habisan sampai---ah, susah bernapas! Bahkan tak henti mengelus-elus punggungku dengan berbisik syukur tanpa henti. Apakah sekhawatir itu Profesor Kaidan terhadapku?


Mendadak beliau menghentikan pelukannya dan mencengkeram kedua pundakku, menatap diriku dari atas hingga bawah lalu menoleh ke arah Fate. "Red bisa tirah baring?"


Refleks mataku berkedut mendengarnya, kenapa semua bertanya mengenai tirah baring--istirahat dengan cara berbaring di tempat tidur dalam jangka waktu tertentu untuk penyembuhan?


Fate mengangguk menjawab pertanyaan beliau. Namun Profesor Kaidan kembali melihatku dengan ekspresi tercengang. Kenapa rasanya ... sedikit, kesal?


"Jangan komentar." Tawa pun pecah ketika aku berucap demikian.


Keadaan ruang rawat menjadi sangat ramai. Profesor Kaidan duduk di atas kasur dengan tak henti merangkul pundakku. Crist terus menceritakan keluh kesahnya sebagai anggota Departemen Konsultasi dan memberikan lelucon garing. Fate duduk di bangku biasa, sedikit tertawa kecil nan anggun.


Sedangkan diriku terdiam, bingung dengan apa yang terjadi tetapi melihat tawa mereka terasa ... hangat, membuatku mengulas senyum simpul.


Sepertinya karena tugas dan misi sudah mulai dikurangi kecuali yang penting dan mendesak karena sekitar bulan Juni, akan ada pendataan grade ulang dan sparing. Akademi memfokuskan persiapan untuk hal tersebut terbilang sudah kurang dari satu bulan. Kami mulai dibebas tugaskan dan mereka mengisi waktu luang bersama ... diriku.


Mereka menemaniku sampai sore dan satu persatu mulai pergi meninggalkan ruang, tersisa Fate yang sekarang duduk di pinggir tempat tidurku.


"Mereka mencemaskanmu."


"Ya," ucapku lemas atas kedua mata terbuka setengah, "itu membuat saya semakin merasa bersalah dan terpuruk jika tak mampu melindungi mereka."


Aku menoleh ke arah jendela, kembali melihat langit yang tak bisa bercermin di mata jelagaku. Sepertinya memang aku ... takut kehilangan.


"Kamu sudah melakukan yang terbaik, aku yakin kamu bisa melindungi mereka."


"Sebenarnya, saya lebih handal menggunakan kekuatan fisik daripada sihir, tapi tidak bisa ... memegang pedang lagi."


"Kalau kamu berlatih lagi mungkin bisa."


"Bukan begitu. Saya sudah kehilangan orang yang sangat berharga dengan pedang sendiri ... kekuatan sendiri," ucapku dalam aksen datar tak biasa.


"Mmn, sebenarnya---"


Dering di ponsel memutus ucapan Fate dan dia langsung mengecek pesan yang masuk. Tak lama wajahnya berubah serius sebelum mengembalikan ponsel pada saku rok lagi. "Mengambil pedang lagi atau tidak itu keputusanmu. Kau bisa pikirkan hal tersebut baik-baik."


Tak lama ia berdiri dari tempat duduknya.


"Kekuatan adalah kekuatan, tidak ada yang baik atau jahat dalam kekuatan. Menghancurkan atau melindungi, jawabannya ada di tangan pengguna kekuatan itu sendiri. Kau yang telah kehilangan sesuatu oleh kekuatanmu ... apakah memilih untuk tenggelam dan menyia-nyiakan kesempatan ataukah akan melangkah maju? Pikirkan itu baik-baik, Red."


Ia mulai berjalan namun langkahnya terhenti, tangan pun beku saat membuka pintu. Kemudian Fate melihat ke arahku, mata perak kebiruannya memancarkan binar yang tak bisa kubaca.


"Kudengar kau memilih Soul Dancer karena ingin melindungi, tapi apa kau tahu? Amat sangat mudah bagi seorang supporter untuk membunuh jika mereka menginginkannya."


Aku terkejut hingga mata jelaga membelalak mendengar itu. Sebelum bisa menanyakan apa maksudnya, ia sudah membuka pintu dan melangkah keluar.


"Oh ya, jangan berbuat aneh-aneh sampai keluar surat bebas rawat dari rumah sakit. Aku pergi dulu."


Itu ucapan terakhirnya, melirik dengan menunjuk ke arahku sebelum benar-benar keluar ruangan; meninggalkanku dengan pikiran yang semakin runyam dengan apa maksud kata-kata tersebut.