When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| Sparing II



Kami kembali pada ruang khusus untuk melihat kegiatan sparing kecuali Crist, karena setelah ini adalah babak untuknya bertarung. Ia akan melawan member club biasa.


Di ruang ini kulihat Fate sudah duduk pada salah satu sofa yang disediakan. Mungkin setelah kejadian Daniel yang emosi, kita--aku, Daniel, dan Crist--bercanda untuk sesaat sehingga dia naik terlebih dulu dan tiba lebih cepat.


Seperti biasa, aku mendekat pada dinding transparan dan melihat pertarungan secara langsung daripada melalui siaran kamera.


Ah, ternyata sudah dimulai.


Class Executioner memanglah unik. Selain pisau ganda, mereka juga bisa bertarung menggunakan rantai yang menghubungkan kedua pisau tersebut seperti Crist yang optimal menggunakan senjatanya; mengingatkanku pada Swordmaster yang juga harus pintar memainkan rotasi pergantian pedang antara Sabel dan Zweihande.


Mendadak aku ingat kalau Crist bertarung tidak ada yang merekam pertandingannya. Mungkin nanti aku akan menawarkan diri membantu dokumentasi.


Tak lama pertarungan Crist selesai dan dimenangkan olehnya. Entah kenapa rata-rata anggota club menggunakan teknik pertarungan yang hampir sama seperti sparing sebelumnya padahal kode etik Departemen Disiplin sudah dihapuskan.


Aku mengangkat kedua bahu, mungkin karena Disiplinaria hanya ada satu di club ini yaitu Fate. Memang kebanyakan orang akan memilih Ekseskusi daripada departemen lain, tidak seperti aku yang dipaksa masuk.


Selang beberapa menit terdengar suara orang berbincang-bincang pada tangga naik ke ruang ini. Suaranya sedikit samar hingga semakin dekat, itu Crist dengan lawan tandingnya. Aku pun mendekati mereka.


Menyadari ini, Crist menepuk pundak lawan bicaranya dan berakhir membanting raga pada sofa di sekitar. Ia mulai meneguk minuman isotonik yang sedari tadi digenggam, sepertinya cukup kelelahan. Aku memutuskan duduk di sampingnya.


"Crist, kamu bagian dokumentasi sparing untuk club kita 'kan? Eeem, kalau kamu bertarung tak ada yang merekamnya, saya bisa ... membantumu, kalau tidak keberatan."


Yang dituju tertawa hingga sedikit tersedak, ia mengelus-ngelus tenggorokannya dan sengaja membatukan diri demi mereda nyeri ... mungkin.


"Red, kamu mengkhawatirkanku?"


Aku tak menjawab. Jujur, justru terasa sedikit tersipu pun aku menunduk dan mengelus-elus tengkuk.


Ia kembali meneguk minumannya lalu berkata, "Kalau para wanita tahu kamu orang selembut ini pasti banyak yang naksir."


"Ha?!"


"Hahahaha, matamu sangat tajam dan kamu agak kaku, makannya banyak yang segan padamu. Selain itu kamu, hmm ...." Ia menaruh minumannya ke atas meja di depan dan memandangku dalam-dalam. "Lumayan, meski agak berantakan. Mungkin perlu sedikit cukur rambut karena sudah sangat tebal."


Lagi-lagi aku mengembuskan napas panjang. "Crist, saya hanya menawarkan diri untuk membantu dokumentasi ...."


Yang dituju terkekeh dan bersandar pada sofa. "Untuk apa mengkhawatirkanku? Setelah ini pertarunganmu dengan Cecil, lebih baik kamu menjemputnya."


Ah, iya juga. Terlalu sibuk sendiri sehingga lupa melihat perkembangan kompetisi.


Aku menelaah sekitar dan menyaksikan Cecil sedang melakukan peregangan di pojok ruang, napasnya terlihat putus-putus. Mungkin masih merasa lelah? Jika dia ingin pengunduran waktu untuk bertarung aku tak keberatan. Segera aku bangkit dari duduk dan menghampiri si gadis kecil.


"Red, soal rambut ... rambutmu berwarna, agak cokelat? Bukan hitam pekat lagi."


Lebih tepatnya tidak bisa. Sama seperti apa yang aku kenakan, semuanya akan menjadi kelam.


"Oh, tidak-tidak. Kamu boleh pergi." Ia melepas kacamata dan sedikit memijat kedua mata. Aku harap Crist tidak memaksakan diri.


Kembali meniti langkah, ketuk sepatu hitamku terdengar begitu menggema dalam ruang membuat si gadis kecil menyadari kedatanganku dan menghentikan aktivitas. Dia mendongak demi melihatku dengan tatapan datar.


"Cil, masih lelah? Tak apa kalau ingin diundur."


Mata merah muda itu mendelik dan ia berkacak pinggang. "Enggak usahlah, toh, hasilnya sama saja. Walaupun begitu, aku akan keluarkan seluruh kemampuanku. Lihat saja, aku akan bereksperimen!"


"Eh? Eksperimen?"


"Tuh, mereka sudah bubar. Ayo giliran kita turun."


Tanpa mengindahkan apa yang aku katakan, si gadis langsung menarik tanganku. Ah, bersemangat sekali ... tapi apa aku akan dijadikan bahan percobaan?


Sedikit khawatir rasanya, karena kaki kecil itu cepat sekali menyapu anak tangga sembari menyeretku; takut dia tersandung tetapi memperingati beberapa kali pun, Cecil tak mendengarkan.


Hingga tiba di arena simulasi, Profesor Kaidan menyambut kami dengan tersenyum dan melambaikan tangan.


"Kalau sudah siap silakan mengambil posisi masing-masing," perintah sang pengawas yang kami turuti.


Aku dan Cecil berhadapan. Si gadis jauh berdiri beberapa meter di depan sana. Ia tampak menarik napas dalam-dalam seperti mencoba menenangkan diri. Tak lama ia menyiapkan Heart Core, bola kristal biru muda berpendar dan melayang, dua logam bak cincin mengelilingi kemudian. Pita transparan melambai lembut ketika Floating Hourglass setia mengelilingi sang empunya.


Soul Dancer buruk jika melawan Swordmaster, aku sedikit merasa bersalah tidak memberitahu Cecil bahwa sekarang ... dan seterusnya, mungkin akan menggunakan pedang. Hanya Fate dan Profesor Kaidan yang tahu perihal ini. Meskipun begitu, aku tidak mengurangi atensi. Dia sendiri yang mengatakan akan mengeluarkan seluruh kemampuan bukan?


Aku turut menyiapkan senjata. Heart Core milikku bersinar sesaat dan beresonan, detik berikutnya kristal hitam itu terbias menjadi serpihan berterbangan dan membuat benda solid di belakang punggung menjadi dua pedang yang bertengger apik tanpa penyanggah.


Aku menarik dan erat menggenggam pedang ramping nan panjang yang dikhususkan untuk penyerangan--Sabel. Tampak buku jari memucat dengan mata pedang berkilat menantang, suara dengungan pedang menggelitik telinga ketika aku mulai siap dalam kuda-kuda.


Cecil telihat terkejut, terlebih dia pasti tahu bahwa Swordmaster-ku Grade SS. Belum ada murid yang bertarung denganku ketika memakai pedang. Sepertinya gadis ini justru yang akan menjadi bahan ekperimenku. Aku memutuskan sedikit mengendurkan otot-otot agar tak terlihat terlalu garang dan sebisa mungkin mencoba ... mengukir senyum.


Sepertinya yang aku lakukan justru membuat keadaan memburuk karena Cecil semakin menegang.


Aku beralih menoleh kepada Profesor Kaidan, beliau justru menepuk kening dan sedikit menggeleng. Mata cokelat itu menatap Cecil dalam-dalam. "Bagaimana, sudah siap?"


Yang dituju langsung menepuk keras-keras kedua pipi pualamnya dan mengangguk pertanda meyakinkan. Profesor Kaidan melihat ke arahku dan Cecil berkali-kali, mengangguk dan mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi.


Seketika arena pertarungan berubah menjadi lahan tandus bebatuan nan luas. Simulasi nyata dipilih berdasarkan kehendak sang pengawas dan sepertinya, Profesor Kaidan memilih tempat yang lebih condong untuk Cecil lantaran ia akan mudah bersembunyi di balik bebatuan, dan aku bisa memaklumi kenapa beliau memilih arena tersebut.


"Pertarungan babak satu, Club Dion sparing. Red Sirius melawan Cecilia Judit." Beliau menurunkan tangannya dengan cepat. "Dimulai!"