When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| Review Pertandingan II



Daniel mendadak mengempaskan lengan kirinya ke depan dengan kuat dan menggenggam tangan kanan hingga buku jari memucat. Ha-ah, dia memang sedikit temperamental.


"Ini karena Grade S-mu!" Jari kukuh itu kembali menunjuk si gadis. "Makannya kau mudah mengalahkan siapa saja!"


Mendadak Fate mendengkus dan menoleh ke arah televisi lagi. "Kau lihat hasil Club Accel di sana? Peringkat satu mereka adalah anggota Departemen Disiplin. Grade kontrol S dan Grade kekuatan ... B, sama sepertimu. Tapi dia berhasil menang dari ketua club-nya yang merupakan Grade S. Usaha dan taktik, hal itu tidak akan sia-sia jika digunakan dengan baik."


Daniel berdecak, memasukkan kedua tangannya ke saku celana dan membanting raga pada sofa. Sepertinya ia ... pasrah? Mungkin karena sudah tak bisa lagi membalas kata-kata yang sedikit menusuk tersebut. Fate melihat ke arah laki-laki itu sekilas, sebelum ia melanjutkan analisisnya atas hasil sparing seluruh anggota Club Dion.


Jujur, aku merasa terpukau. Semua yang Fate jelaskan sangat tepat seakan sudah terbiasa melakukan analisis seperti ini. Sekarang aku benar-benar mengerti kenapa Crist meminta saran dari gadis di depan.


Iris perak samar biru kembali melihat sekitar hingga pandangannya terhenti padaku. Spontan aku duduk tegap, hampir tak bernapas karena mata itu melihat dengan dinginnya. Fate terdiam sejenak, tak lama ia menghela napas dan memijat kening seakan benar-benar ... pusing? Apa dia baik-baik saja?


"Urgh, benar-benar. Dari semua anggota Club Dion, kau paling lemah Red."


Eh? A-aku kenapa? Sedikit terkejut mendengar hal tersebut ... bukan hanya aku tetapi yang lain juga, mereka memasang wajah tak percaya sampai-sampai tidak berkedip kecuali Crist, ia memalingkan wajah ke belakang dengan menutup mulutnya. Apa ia tertawa?


"Jika kita ambil kekuatan dan staminamu itu, kau tidak bisa apa-apa. Meski kau bisa menggunakan pedang, dengan gaya bertarungmu dan tanpa kekuatan pemulihanmu itu ... kau bukan apa-apa." Kemudian ia mengangkat kedua bahunya. "Bahkan anggota terlemah Departemen Disiplin dapat mengalahkanmu dengan mudah sekarang juga."


Kata-katanya sungguh nyata tapi menyakitkan pula. Memang aku tidak memiliki kemampuan apa pun selain keabadian, bahkan aku tak akan menghitungnya sebagai kelebihan. Tidak mempunyai kemampuan bertempur dan pengalaman hidupku hanyalah ....


Aku menunduk dan melihat kedua telapak tangan. Seketika kembali terbesit ingatan terdahulu, ketika aku benar-benar kehilangan akal; dingin; tidak berhati nurani lantaran kegelapan merangkul erat. Diriku sudah tidak tertolong lagi, berada di sini saja sudah keajaiban tersendiri. Anugerah ... dari mengorbankan jiwanya--orang terkasihku.


Aku kembali mengembuskan napas.


"Aku baik-baik saja sejauh ini, entah nanti tubuhku tak berbentuk ... asalkan menjalankan tugas dengan baik itu sudah cukup." Refleks kembali menatap Fate dengan menyipitkan mata ketika menekan kalimat terakhir. "Lebih baik aku yang terluka daripada orang lain yang mati, dan kau ... tak ada hak untuk mengaturku."


Kini suasana menjadi sunyi, hingga Fate mendengkus kecil dan tersenyum dingin ke arahku. "Arogan sekali."


Arogan? Aku tak henti melepas pandangan dari matanya. Dari sekian lama, bahkan di kehidupan yang dulu sampai sekarang, baru kali ini ada orang menyebutku begitu. Rasa tak percaya dan kaget memenuhi relung dada tetapi tatapan dingin itu memaksaku untuk tak berkata.


"Ketika Crist dan Daniel terluka, bukankah kau merasakan sakit juga, Red?"


Seketika kelopak mataku tersibak. Sakit? Tentu saja, itu kenapa aku tak ingin hal tersebut terjadi pada mereka atau siapa pun orang di dekatku. Maka dari it---


Sebelum mampu berkata, Fate telah melontarkan runtutan kata yang sama sekali tidak bisa kubalas. Aku teringat dulu pernah mendengar hal serupa; kita akan khawatir ketika orang terkasih terluka, bahkan meski hanya satu goresan kecil. Namun, aku tak mengerti ... kenapa mereka mengkhawatirkanku?


Bukankah aku hanya makhluk asing, satu individu dari sekian ratus manusia di bumi? Lagi pula aku tidak bisa mati, kenapa harus mencemaskanku? Banyak sekali hal dalam kehidupan yang tidak aku ketahui dan mengerti apa maksudnya.


"Dari hasil analisis, untuk melawan naga kelas Elite ke atas dibutuhkan lebih dari satu orang. Di tengah pertarungan, kau terluka. Saat terluka itu kau tidak hanya membahayakan dirimu sendiri, tapi kau juga membahayakan orang lain."


Jeda sebentar, mata perak samar biru kembali terpejam.


"Ada saatnya kita perlu mengorbankan diri demi orang lain, tapi bukan berarti hal itu dapat selalu dilakukan. Di dunia ini kita bertarung untuk keselamatan, untuk berjuang. Orang yang hanya bisa mengorbankan diri sendiri dan pada saat bersamaan menyakiti orang lain, tidak akan bisa melindungi apa-apa."


Menunduk dengan menautkan jemari, aku berpikir seluruh yang Fate katakan adalah benar. Ah, sepertinya aku terlalu kacau? Payah. Aku kembali menutup wajah dengan kedua tangan dan menyandarkan siku pada paha.


Keadaan menjadi sunyi.


Namun, seketika terdengar suara kekehan di sisiku. Aku sedikit melirik ... ternyata Daniel dan Crist, anggota lain masih setia dengan wajah terkejut mereka kecuali Cecil yang terkagum-kagum.


Fate memiringkan kepala, kebingungan terhadap reaksi mereka. "Kalian kenapa?"


Crist berusaha menahan tawa dan memalingkan muka sehingga Daniel yang menjawab, "Enggak cuma ... ahahaha, parahlah! Baru sekarang ada yang berani tegur Red!"


Kini si gadis mengalihkan pandangannya padaku lagi. "Begitu, aku akan bicara dengan Pak Kaidan kalau begitu."


Mereka berdua---haaah, aku menurunkan kedua tangan. Memang rumor bahwa orang terdekat yang biasanya paling tega padamu itu benar.


"Hmm, Lucian selalu mengajariku berpikir kritis. Dia memberikan batasan kepadaku setiap latihan, agar aku bisa berpikir cepat di tengah pertarungan. Seperti kelas apa yang kupakai, misi apa yang sedang kujalankan." Fate kemudian melihat ke arahku dengan tatapan polos. "Red, mau mencoba latihan seperti itu?"


Astaga ....


Tuhan, demi apa pun, aku tak ingin berlatih di bawah Head Master Lucian. Meskipun selama ini belum pernah merasakannya, aku tidak mau mengambil risiko. Lebih baik tetap diajarkan Profesor Kaidan, tidak peduli Fate memberikan masukan atau lainnya. Aku mengusap wajahku lelah.