
Tidak-tidak, ini salah.
Entah berapa kali dia mengatakan berbagai macam hal yang terkesan masuk akal dan benar, sisi lain dalam relung dada tak bisa menerimanya.
"Keberadaanmu di tengah manusia hanya membawa mala petaka, pada dirimu dan mereka. Kau tak seharusnya bersama mereka."
Benar yang dia katakan, aku hanyalah entitas yang akan menyebar teror di antara manusia; kehadiranku berarti kehancuran, maka dari itu aku selalu berdoa dan memohon ampun. Diri ini hina. Tanda akan diampuni hanya seperti impian sebesar biji jagung. Namun, aku tidak punya hak menghakimi atas akhirku; tak pantas memiliki keputusan seperti itu.
Aku bukan Tuhan!
Aku memiliki kesempatan ke dua dan ini kesempatanku! Aku mensyukuri kesempatan ini, teror di dunia sebelumnya sebatas kebodohanku belaka. Sebab ketidaktahuan adalah dosa dan itu kupelajari dengan baik. Kenapa disia-siakan? Kenapa harus berlari dari hidupku sendiri?
Aku masih ingat dengan apa yang Lord Metatron katakan. Mengingat kata-kata beliau, siapa makhluk ini ... siapa dia bisa melampaui perkataan sang juru tulis Tuhan? Siapa dia melontarkan kata-kata pahit, menghakimi, dan mengatur takdirku?
"Jika tak mencampuri urusan mereka, kau akan menjalani kehidupan lebih baik. Bukannya kau sangat membenci dirimu sendiri?"
Itu namanya lari!
Lari dan hanya lari. Jika seperti itu, bagaimana caraku menebus dosa? Lalu melukai diri, membuat orang yang peduli padaku tersakiti. Apa dia, yang kini ada di depanku, peduli padaku?
Sedari dulu aku memang terlalu tenggelam dalam melankolia; terlalu takut dengan segala hal, tapi bukan hanya aku yang seperti itu.
Aku tak lagi sendirian!
Tidak mau ... terus terbelenggu, tenggelam dalam perih tanpa akhir. Memang masa depan tidak pasti, tapi bisa memulai masa depan itu dengan tanganku sendiri. Hanya membutuhkan pengalaman dan pengetahuan, aku bisa membuat suatu resolusi.
Buktinya, bisa menghadapi dan kembali menggenggam pedang yang selama ini aku takutkan; yang selama ini membuatku hilang akal; yang selama ini menjadi teror mengisi hati. Tidak selamanya hal ditakuti itu menyeramkan. Takut, karena merasa susah menerima kebenaran dan kenyataan yang ternyata tidak seburuk dugaan.
Sungguh apa yang dikatakan Arthur dan Daniel terbekas dalam benak.
"Mungkin jika kau tak ada dari awal, semua akan lebih baik."
Tidak!
Banyak ... banyak yang bersyukur atas kehadiranku. Ada yang merasa tertolong dengan eksistensiku! Meskipun segala tindakanku bodoh karena tak memiliki dasar logika bagaimana menjadi manusia pada umumnya, tidak ada yang benci pada raga menyedihkan ini! Justru mereka mengucapkan syukur pada keanehanku; keabadianku. Mereka mengucapkan syukur, pada aku yang apa adanya.
Ini mengingatkanku terhadap ucapan Cecil. Menjadi diriku sendiri, walaupun sebegini hina, itu cukup!
Pada awalnya, kupikir ini hanyalah mimpi yang terlampau indah; kupikir ini hanyalah rasa iba berlebihan; kupikir tak mungkin kejadian ini nyata, tetapi ... aku hanya takut membuka mata dan melihat kebaikan. Hanya takut kehangatan kembali sirna dan tenggelam dalam pilu. Hanya takut, berakhir menyakiti mereka.
Dan berpikir seperti itu dungu!
Aku, selama ini mencari kasih sayang, kenapa harus membuangnya? Aku senang bersama dengan Crist dan Profesor Kaidan, kenapa harus mengabaikan mereka?!
"Karena hitam tak akan bisa bersatu dengan putih. Tinggal menunggu waktu, putih dan hitam saling menelan satu sama lainnya."
Siapa hitam; siapa putih?!
Mungkin memang aku berbeda, tak ada yang memiliki jiwa sekelam ini. Bahkan Lord Metatron sendiri membenarkan hal tersebut. Tidak ada pula sosok abadi selain diriku di dunia ini. Tapi, aku, tidak sepenuhnya hitam. Aku masih memiliki cahaya! Meski setitik; meski tak seberapa, itu cukup dan sungguh menerangi.
Dari situ aku menyadari, tak ada yang menolak keberadaanku. Bahkan mereka ingin aku terbebas dari belenggu dan kutukan ini; ingin aku bisa bahagia sebagaimana yang mereka rasakan. Andaipun berakhir kembali sendiri ... aku, tak akan benar-benar sendiri untuk selamanya.
Aku mempunyai hati dan ingatan!
Bisa merasakan sedih; bisa merasakan derita; bisa meraskan bahagia; bisa merasakan ... marah.
Aku marah!
"Kau tak butuh manusia. Bualan mereka hanya omong kosong. Jika mereka enyah, sungguh indah dunia ini!"
"Ya, aku tak butuh tipu daya," ucapku untuk pertama kali, mengundang seringai pada mulut-mulut bertaringnya tetapi wajah garang yang kini kutampakkan.
Seketika Tiamat meraung pilu; gaung tak suka memekakkan telinga, tapi aku terus saja berseru, "Aku lupa? Kau yang membuatku lupa! Bermain-main dengan ingatanku, tapi apa kau ingat ... aku yang memutus satu kepalamu!"
Sontak kedua sayap besarnya mengepak dahsyat hingga mungkin bisa meluluhlantakkan sekitar dalam desir angin yang buas. Tubuhnya meronta; memberontak, kepala turut menggeliat keras seperti merasakan sakit teramat sangat. Dia melolong tiada henti tetapi kakiku masih kuat menjejak dengan kukuh.
"Kau akan menderita dan berakhir sendiri!"
"Bahkan jika aku menjadi satu-satunya yang bertahan di muka bumi," teriakku menjadi sebab tak mau kalah dengan gemuruh sekitar, "akan ada orang yang selalu menemaniku sebagai dirinya sendiri! Dan akan kugenggam ingatan ini, sampai aku bertemu pada ujung waktu!!"
Seluruh ingatan dalam kepalaku saling tumpang tindih.
Namun, meski berantakan, akan ada satu yang selalu bersinar. Semua perlakuan orang-orang Vaughan, tak akan bisa kulupakan begitu saja. Meski ingatanku diacak seperti ini sekali pun, tetap terus membekas dalam benak! Dan itu mendidih, keluar menjadi suatu asa membakar hati.
Ini kehangatan sedari dulu kucari; kebahagiaan sedari dulu kuinginkan, mereka menerima dan selalu ada untukku.
Selama ini aku sudah mendapatkannya. Di depan mata semua telah tampak tapi gulita di balik iris hitam terlalu pekat, kubuta dibuatnya.
Dan berkat dirimu, akhirnya aku bisa membuka mata. Berkat dirimu, akhirnya aku bisa sadar akan semua. Berkat dirimu, akhirnya aku bisa menerima dengan baik. Terlebih setelah beribu tahun dapat melihat senyuman di wajahku sendiri.
Fate ... aku benar-benar, tak bisa melupakanmu.
"Bodoh kau menggunakan masa lalu untuk menyerangku, karena aku sudah berada di dunia yang berbeda!" Ini sungguh membuatku marah. "Akan kuseret kau ke neraka bersama malaikat jahanam itu!"
Lantas suara terdengar seperti lolong kemurkaan berbaur pilu semakin menusuk telinga. Angin berduru liar sampai-sampai seluruh tanah dan sekitar ikut terhempas dari permukaan, memaksaku menyilangkan tangan depan wajah untuk menghadangnya.
Aku tak henti meringis lantaran menahan tekanan aura yang begitu kuat. Sampai satu titik, cahaya membutakan memenuhi sekitar. Kemudian semburan api menyengat panas, terasa sanggup melumerkan otak.
Kali ini, aku memejamkan mata untuk melawannya.
"Reeeddd!!! Waduh Crist, gimana ini enggak bangun-bangun?!"
"Tiamat berhasil dipukul mundur, tapi Red terkena serangan mental. Mungkin itu terlalu berlebihan untuknya."
"HAH?! Gila! Jangan malah pasang muka kecut gitu!" Terasa ada yang mengguncang tubuhku secara kasar. "Red, dengar! Aku enggak tahu kenapa naga sialan itu malah incar kamu, tapi kamu bagian dari kami!! Kamu anggota keluarga kami, Dion! Jangan kalah dengan kegelapan itu. Aku mohon, jangan kembali seperti dulu ...."
"Apa kali ini aku gagal menuntunnya, Daniel?"
"Hah, kamu kenapa ikutan---"
"Kenapa berkata seperti itu? Bukan itu yang aku pikirkan." Langsung aku mencengkeram kedua tangan yang masih setia di kerah bajuku hingga Daniel menatapku tak percaya, jelas dari kelopak mata terbuka lebar dan pupil hijau mengecil. "Tapi aku ... sangat, marah!"
Benar-benar marah!
Jantung terpompa kuat atas rahang mengeras, aku mulai menggertakkan gigi secara kasar dengan alis hampir menyatu. Seketika Daniel beringsut, tautan tangan juga dia lepas paksa. Mungkin, karena badanku mulai bergetar seperti denyut di ujung ubun-ubun.
Rasanya sungguh ingin meledak; setiap orang menatapku dalam ekspresi takut tak biasa, bahkan sampai melangkah mundur.
Mendadak lolongan yang tadi kudengar kini kembali hadir; keempat kepala Tiamat mulai meliar. Seketika gemuruh petir menggila seperti sambutan kematian lantaran aura tubuhnya terlepas begitu saja. Sedikit demi sedikit, tanah mulai terbakar api. Rerumputan menjadi abu. Tanah kering kerontang pertanda suhu tengah dipacu naik.
Dalam simfoni huru-hara, pekikan naga-naga lain turut mengudara; tak kalah teriakan para anggota Vaughan susah payah menahan kegaduhan yang terjadi. Namun, bahana dari satu-satunya naga paling besar mengalahkan itu semua.
"Kenapa kau menolak kami!" auman Tiamat menggelegar.
Sekarang aku berdiri, lalu berjalan lugas mendekati inti kegilaan. Terasa langkahku seperti pembawa peristirahatan jenjam atas mata jelaga yang masih menujukkan suatu keganasan. "Kamu bilang manusia ini, manusia itu, tapi kamu lupa ...."
Perlahan aku menarik Zweihande. Siaga bersama kuda-kuda dalam pedang besar berkilat menantang, aku pun berlisan lantang, "Bahwa, aku MANUSIA!!"
Gesit aku berlari; melakukan lonjak putar depan dan di saat bersamaan melempar Zweihande sekuat tenaga, mengandalkan tumpuan kekuatan serta titik beban memicu daya destruksi besar sampai-sampai menancap sempurna pada salah satu kepala Tiamat.
Sontak laungan pilu bergema dahsyat hingga bumi terasa bergetar tapi di sini aku justru mencebik, "Dan namaku Red Sirius."