
Kemarin aku sungguh tidak tahu mereka sedang melakukan proyek pembuatan class baru. Katanya, setelah sekian lama akhirnya dapat mendeteksi elemen yang selama ini terkunci.
Dunia ini pada dasarnya memiliki lima elemen, air; api; tanah; udara, tetapi satu lagi tak teridentifikasi. Namun, di saat bersamaan para naga sudah memiliki dan menguasai elemen tersebut. Itu mengapa ketika menghadapi musuh yang memiliki elemen tak dikenal, Vaughan selalu mengalami kesulitan.
Tetapi semenjak pertarungan dengan Tiamat, suatu pemantik elemen terjadi ... berasal dari Fate.
Saat mengeluarkan kekuatan elemen murni, Fate berhasil memancing keluar elemen tak dikenal--petir. Akhirnya, data mengenai elemen ini berhasil digenggam oleh pihak Vaughan. Maka dalam waktu singkat tetapi ketat, organisasi kami meneliti dengan saksama mulai dari dampak negatif dan positif penggunaan; tingkat efektivitas dan kemampuan; penggunaan tepat dan class yang sesuai; lainnya.
Dan Vaughan sukses dengan satu hasil, class yang tercipta berpatokan pada kecepatan; refleks; daya serang tinggi untuk jarak dekat daripada pertahanan langsung seperti Swordmaster. Ya, persis bela diri. Class baru ini diberi nama, Goliath.
Senjata mereka seperti knuckleduster--terbuat dari logam yang dapat dipasang melingkari keempat buku jari terdepan dari tangan--tapi jika digunakan, maka akan menghasilkan logam holografi pada bagian punggung tangan dan itu juga membantu daya destruksi pukulan. Senjata tersebut bernama Titan.
Ultimate skill mereka bernama Fordine yang berfungsi untuk menaikkan daya serang; kekuatan; kecepatan; lainnya dalam patokan fisik tetapi jika memiliki grade class rendah tentu ada efek samping seperti rasa lelah luar biasa, bahkan tubuh menjadi kaku sampai tak dapat bergerak lantaran memerlukan stamina dan stabilitas tinggi.
Kebetulan Fate pernah mengatakan terbiasa dengan bela diri, apa lagi ia adalah pembuka kunci elemen petir. Maka dari itu diminta untuk melakukan uji coba class tersebut. Jujur pukulan darinya ketika menggunakan Class Goliath sungguh tak biasa, bahkan baru pertama kurasakan dan tubuh sampai mengalami kejut hingga tak sadarkan diri.
Ketika bangun, aku melihat ... Profesor Kaidan.
Ah, bagaimana, ya? Ekspresinya, menyeramkan lagi mengerikan. Baru pertama kulihat beliau seperti itu. Bahkan aku hanya dibawa ke UKS daripada rumah sakit. Mungkin tubuhku abadi jadi tak begitu mengalami kerusakan? Ah, tapi tulang rusuk ada beberapa yang patah. Atau mungkin sang nomor dua Vaughan sudah kepalang marah.
Benar, sungguh, Profesor Kaidan marah padaku! Untuk yang pertama kali, tak henti beliau mengomel; berkomentar; berkritik, apa pun itu kata-katanya sangat menyakitkan dan benar pula. Ahahaha, yah ... akhirnya beliau menasihatiku.
Sampai mendadak Fate tiba ke ruang yang kami singgahi dengan terburu-buru, sempat terlukis ada kekhawatiran di sana tetapi ketika aku melambai padanya dengan senyum masam--aku ingin menyapanya tapi tahu posisi sedang dimarahi--wajah pualam si gadis kembali datar seperti biasa.
Justru ... langkah kakinya sungguh lugas mendekat ke arahku sampai suara ketuk menggema pun Profesor Kaidan berhenti dengan kalimatnya. Ketika kami berhadapan, jujur hatiku penuh antusiasme. Apa dia akan memelukku lalu berkata maaf? Atau mengelus kepalaku? Aaaa, sebentar! Aku benci pikiranku kalau membayangkan hal-hal seperti itu!
Sebab, yang terjadi justru kebalikannya!
Dengan jemari lentiknya Fate menyentil keningku. Ha-ah, untung selamat sebab poni rambut. Langsung aku menutup dahi menggunakan dua tangan, lalu dia berkata dengan tegas pula, "Lain kali jangan abaikan sekitarmu dan main ambil kesimpulan saja."
Kemudian dia meminta izin pada Profesor Kaidan untuk melanjutkan uji coba. Hanya itu ucapnya. A-aku ... jujur, entah mengapa, tiba-tiba merasa sedih. Mata hampir berkaca---ah, tidak tahu kenapa tapi rasanya tak mau melihat Fate pergi begitu saja. Bagaimana tidak? Sebelumnya aku begitu mengkhawatirkan dia bukan?
Namun, ketika sampai pada mulut pintu kaki jenjang berhenti melangkah; badan semampai ikut berbalik ke arahku dan melambaikan tangan. Kukira Fate juga marah padaku, meski wajah pualam itu terus saja datar ... semburat merah nan samar di pipi begitu manis. Ehe, dengan tersenyum kecil aku balas melambai---
"Kamu dengan itu, Red?! Jangan abaikan sekitar!"
Eh, astaga! Tuhan, aku lupa sedang diomeli!
Sebab, memang semua itu--uji coba berlangsung berantakan dan memakan waktu lebih banyak--salahku. Tidak, aku tak berdalih pada hal tersebut. Bahkan senang pula karena akhirnya, beliau sungguh-sungguh dalam mengurusku.
Seperti yang dulu kukatakan, aku tak keberatan jika beliau marah pun tidak bisa balik kesal kepadanya. Sebab kutahu, Profesor Kaidan lalukan itu semua atas kebaikannya; kekhawatirannya; kepeduliannya. Artinya, aku sungguh dianggap seperti manusia kebanyakan. Oleh karena itu aku tak bisa berhenti tersenyum pada beliau lantaran dalam hati penuh dilanda akan kepuasan.
Ya, memang aku aneh karena mana ada orang merasa bahagia ketika dimarahi? Aku pun terkekeh kecil. Mungkin aku berbeda, kutahu itu sedari awal. Sebab senang ketika mereka memanusiakan diri ini, membuatku teringat bagaimana Fate peduli dan sering memberiku nasihat. Begitu pula dengan Crist.
Sekian lama hilang dalam gelap, tiba waktunya lentera hidup padaku ... memberikan jalan dan penerang yang pasti. Aku menghargai mereka, yang menuntunku pada kebenaran. Aku tidak bisa berhenti mengucapkan terima kasih.
Satu sisi, sepertinya tidak dengan Profesor Kaidan.
Beliau justru tak henti mengesah dan memijat kening melihat gelagatku. Mungkinkah ... aku membuatnya semakin marah? Atau tambah kesal karena terus menampilkan senyuman? A-apa beliau salah paham seperti menganggapku senang mengerjai beliau, layaknya Head Master Lucian?
Sepertinya iya, karena malam ini aku langsung mendapatkan surat yang mengejutkan sampai terus berdiri kaku dalam kamar mengetahui posisiku dari barisan pertahanan Departemen Eksekusi, pindah menjadi kelompok pencari orang hilang dan penyurvei.
Haaah, habis sudah ... akan semakin sibuk sampai lupa di mana club sendiri berada---baik, itu gambaran berlebihan! Tapi bisa jadi tidak akan sempat mengubungi siapa pun dan jarang pulang ke akademi. Mengetahui ini, badanku ambruk pada kursi dengan kepala tergeletak di atas meja belajar.
Ah, begitulah bagaimana aku terjebak dalam situasi seperti sekarang.
Rasanya, kesal! Semenjak kepala tak beres, selalu berantakan dalam melakukan berbagai hal---tunggu, dari awal memang aku tak bisa berpikir masalah kompleks. Akh, kali ini, lebih parah! Lantas aku mengacak rambut penuh frustrasi.
Aku tak bermaksud membuat kalian semua salah paham; aku tak ingin mengucapkan kalimat rancu tapi seberapa keras mencoba memperbaiki, hasilnya semakin parah. Diam pun salah.
Tanganku beralih mengepal di depan wajah sebab benar merasa pada titik kekecewaan pada diri sendiri, lagi ... setelah sekian lama.
Aku tak ingin menyakiti kalian karena itu juga berdampak padaku---ah, mungkinkah ini yang kalian rasakan ketika aku berada pada keterpurukan? Aku langsung duduk tegap; bersandar pada bangku; menatap keindahan langit malam yang kini menemani dari balik jendela.
Jika aku seperti ini, tak akan menghasilkan apa pun bukan?
Kalian semua yang ada di sekitarku, amat berharga; sungguh bersinar seperti bintang dan tanganku kini merentang padanya, seakan ingin menangkap kerlip nan elok di langit sana. Lalu, jemariku mengepal kuat.
Tidak, aku tak boleh lari. Aku harus menghadapinya; mereka dan jalan hidup ini. Kendatipun selalu kacau, aku harus belajar dari itu semua. Ya, harus berani melangkah!
Langsung aku berdiri dan berlari keluar dari kamar.