When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| Hilang ....



Saat kembali ke club, aku dikejutkan dengan pemandangan tak biasa ... sepi. Di ruang utama hanya ada Crist sibuk merapikan lembar-lembar kertas dan dokumen yang berserakan di atas meja, bahkan tampaknya tidak menyadari ke datanganku.


Lantas aku bertanya, "Crist, di mana yang lain?"


Si pemuda terkejut dan menoleh ke arahku yang berdiri di depan pintu. "Oh, Red, sudah pulang? Minggu ini minggu terakhir rehabilitasimu 'kan? Hahaha selamat ya, tidak kusangka bisa selesai secepat ini."


Oh, sepertinya Crist tahu kabar tersebut dari Profesor Caterine. Jika hasil evaluasi minggu ini ternyata bagus, mulai minggu depan aku sudah kembali diaktifkan dan menjalankan misi seperti biasa, tapi pertanyaanku tak dia jawab. Maka aku mengulang bertanya, "Di mana Cecil dan Daniel? Apa mulai sibuk dengan misi?"


"Yah, begitulah ... seperti biasa."


Aku mulai berjalan menghampiri Crist di sofa. "Tapi bukannya misi dan tugas sudah diringankan untuk menjaga dan membantu masa rehabilitasi Fate? Apa lagi dua hari yang lalu---"


"Karena kejadian itu, kasus Fate sepenuhnya diserahkan pada para staf dan kembali dirawat di rumah sakit." Pendar mata biru tua Crist melemah, pun dia menghela napas. "Ini perintah langsung dari Pak Lucian. Dia menempatkan kasus Fate pada kode kuning dengan prioritas tingkat tinggi, mendekati kode merah. Sekarang hanya orang-orang tertentu yang bisa menemuinya."


Mungkin ... ada kaitannya dengan ucapan Head Master Lucian, bahwa kasus Fate bukan ulah manusia ataupun naga? Terlebih sosok yang merasuki tubuhnya sangat mencekam sehingga beliau melakukan tindakan lebih lanjut. Ternyata beliau mengerti seluk-beluk kasus ini melebihiku. Meskipun begitu, aku belum bisa tenang sampai Fate sepenuhnya pulih seperti semula.


"Setelah pertarungan besar dengan Tiamat, Vaughan mulai kekurangan banyak anggota. Makannya kita tidak bisa terus-terusan mendapat libur panjang." Kemudian suaranya semakin melemah hingga aku hanya bisa mendengar dia bergumam, "Ditambah kasus Wilayah Eother ...."


Eother? Ada apa dengan cabang kita di timur sana? Tetapi cepat Crist lanjut berkata, "Ah, yang pasti Vaughan sangat sibuk sekarang. Para naga tidak pernah berhenti bertindak, 'kan?" Dia pun tertawa kering. "Aku juga masih ada hal lain yang harus diurus."


Si pemuda mulai berdiri dari sofa dengan membawa dokumen-dokumen di genggaman tangan. "Oh iya Red, hampir lupa. Kamu salah satu orang yang diizinkan untuk menjenguk Fate ... sayangnya yang lain tidak, termasuk aku. Jadinya kami mulai diberikan banyak misi."


Sontak kelopak mataku tersibak. "Eh, kenapa?"


"Tidak tahu, ini perintah dari Pak Lucian. Bisa jadi karena kasus ini juga mengenaimu." Mata Crist berkilat seakan dia mengerti akan sesuatu. "Dua jiwa yang akan hilang menjadi satu, benarkan?"


Seketika aku tertegun atas tengkuk dirasa sama dingin dengan seluruh tubuh. Bagaimana dia tahu? Aku tidak---sebentar, apa karena ucapanku waktu itu? Tapi aku hanya berkata sebatas ... ah, memang Crist seperti ini, suka mengamati dalam diam. Terkadang aku merasa sedikit horor dengan kemampuannya.


Aku pun memejamkan mata sekali untuk mengembuskan napas perlahan demi meredakan dada yang mulai bergemuruh. "Kalau begitu, di mana ruang rawat Fate?"


"Kamar khusus lantai paling atas nomor sebelas." Dan Crist menepuk pundakku. "Kuyakin Tuhan memiliki cara tersendiri untuk membantumu, maka jangan berhenti untuk terus berdoa. Aku pergi dulu."


Itu yang dia ucapkan sebelum meninggalkanku sendirian dalam club yang berhasil memberi sedikit rasa tenang dalam hati, lantaran juga berharap demikian. Seandainya ini termasuk cobaan yang lain untukku, maka setidaknya Tuhan pasti memberi petunjuk dan pertolongan sebab aku merasa, diri ini tiada mampu mengalihkan pikiran dari si gadis serba perak.


Apa lagi sampai sekarang masih belum menemukan jawaban harus bertindak apa demi menyelamatkan Fate, selain memilih untuk tetap abadi adalah hal yang salah. Haruskah mengulangi kejadian yang dulu, berbincang dengan Fate di balkoni Mansion Lucian seperti saat perayaan ulang tahun Vaughan? Atau berteriak dengan lantang bahwa aku tak menginginkan kehidupan tanpa umur ini?


Namun, dari awal memang aku tidak menginginkannya bukan? Hanya saja tak punya pilihan lain karena bagaimana cara melepas keabadian? Aku berakhir menerima diri sendiri yang tak bisa mati, dan tetap menerima kutukan nan kelam. Bahkan baru akhir-akhir ini mendengar kabar manusia immortal bisa mati dari cerita Fate. Aku benar-benar tidak menduga banyak kemungkinan bisa terjadi dalam kehidupan, termasuk pada hal yang mustahil.


Ah, ini membuatku ingin segera menemuinya.


Setiba di luar gedung club, wajahku mendongak melihat butiran salju turun perlahan-lahan dari langit yang telah gulita. Aku langsung memperbaiki posisi syal merah hingga menutupi mulut lantaran musim dingin di Februari ini memang tak bersahabat, meski sudah sampai pada pertengahan bulan.


Sesampainya di Rumah Sakit Vaughan, tanpa berbicara pada meja depan aku langsung melangkah cepat ke lantai teratas.


Kini aku berdiri di depan ruang khusus dengan nomor bertuliskan sebelas, dengan pintu tertutup rapat dari alumunium. Maka kuputuskan untuk berdiri beberapa menit dan pintu tersebut terbuka secara otomatis. Sesuai dugaan, pintu sensoris.


Namun, ketika masuk lebih dalam ruang rawat yang berteknologi ini ... tak ada siapa pun. Aku tidak salah masuk kamar 'kan? Tapi kenapa pintunya terbuka?


Dan kenapa perasaanku tak enak?


Tenang, Red, jangan dulu panik.


Lantas kubuka layar holografi dan menghubungi EVE di sana. Ketika sudah jelas muncul sosok gadis transparan serba biru, aku berkata, "EVE, Fate dirawat pada kamar khusus nomor sebelas 'kan? Dan aku termasuk yang diizinkan untuk menjenguk langsung?"


Dengan aksen datar khas robotik, EVE menjawab, "Benar. Berdasarkan perintah dari Kepala Lucian, kamu diharap terus memberikan informasi terbaru mengenai Fate dan keabadianmu."


"Kalau begitu sekarang Fate sedang diperiksa? Dia tidak ada di kamarnya."


EVE terdiam untuk waktu yang cukup lama. Gelagat tak biasa dari A.I. ini seolah-olah mengonfirmasikan pikiran burukku. Sontak aku memiringkan badan dan merentangkan tangan kiri. "Kamu bisa lihat sendirikan, EVE? Fate tidak ada di kasurnya."


"Tidak ada tanda-tanda perlawanan. Heart Core terdeteksi aktif dan ada di ruangan ini."


Kalimat tersebut seakan memintaku untuk mencari Heart Core yang segera aku lakukan, berlari kecil mendekati satu-satunya kasur di dalam ruangan.


Benar saja, seluruh barang dan peralatan Fate masih tertinggal di meja. Ketika kusentuh permukaan kasur ... hangat. Fate pergi belum lama. Apa lagi Heart Core tertinggal, dan EVE hanya bisa melacak posisinya dari benda tersebut.


Tapi ke mana? Dengan kondisi seperti itu? Tunggu dulu ....


Aku melangkah ke pinggir ruang di mana angin berdesir lembut lantaran jendela terbuka lebar. Kucondongkan badan ke luar dari jendela dan terlihat ada jejak kaki seseorang tertinggal di bawah sana. Dilihat dari kedalaman salju pada jejak kakinya, seperti orang tersebut cukup berat atau ... dia membawa sesuatu.


Maka aku segera menoleh ke belakang; menatap pada layar biru yang setia mengikuti. "EVE, apa Fate diculik? Tapi bagaimana bisa?"


Namun, masih saja sama, wajah si gadis transparan tetap datar. Sampai dia berkata, "Kabar telah diteruskan kepada Kepala Lucian. Untuk meminimalkan kericuhan, pelajar disarankan untuk tidak memberitahukan masalah ini sebelum ada perintah lebih lanjut. Perintah dari Lucian datang, 'segera cari jejak lebih lanjut di sekitar, kemungkinan siapa pun yang menculik Fate belum pergi jauh'. Saya akan memberikan bantuan dengan mengawasi seluruh kamera pengintai yang ada dan akan segera melapor jika ditemukan keganjilan."


Dan layar holografi tertutup paksa dari seberang sana.


Aku benar-benar ... tidak suka dan marah akan hal ini!


Seketika aku memukul bagian bawah mulut jendela dengan dua tangan yang mengepal kuat hingga memerah.


Sebab dengan jalan apa orang itu atau siapa pun menculik Fate sampai mengelabui keamanan milik akademi?! Tuhan, bahkan dikeadaannya yang sedang buruk?! Jangan bilang sosok waktu itu---akh, lantas aku mengacak-acak rambut dan langsung melompat turun melalui jendela yang terbuka. Begitu mendarat, secepat mungkin memulai investigasiku.