
"Red."
Aku langsung menghentikan langkah dan menengok ke belakang, sedikit, dan mungkin dia hanya bisa melihat pipiku.
"Doimu memang luar biasa, tapi jangan terlalu keras kepadanya," tutur si pemuda dengan mata biru menatapku dalam-dalam.
Mengembuskan napas panjang, aku pun kembali berbalik dan berkata, "Bukan, dia bukan ... milikku."
Entah dia bisa mendengarnya atau tidak. Meskipun begitu, tetap saja tanpa kau katakan Crist, aku memiliki tanggung jawab untuk melindunginya.
Aku melangkah semakin menjauh dan mulai menuruni tangga. Ayunan ritmis tungkai jenjangku begitu menggema di lorong menuju stadium simulasi. Pada ujung jalan sana, sorot lampu begitu membutakan. Aku sedikit menghalau pendar dengan menyipitkan mata dan merentangkan jemari kiri depan wajah. Mulai menyegerakan langkah sampai jas jubah hitam sedikit terhempas, sampai tiba pada ruang metalik nan luas bak lapangan sepak bola.
Berbeda dengan pertarungan sebelumnya, hawa kini terasa sangat berbeda. Apa karena babak final?
Aku berdiri dengan kukuh dan tegap, entah kenapa terasa kode etik Departemen Eksekusi sedikit merasuk. Seketika akar-akar neon dalam ruang ini berpendar dan dalam kedipan mata, arena berubah menjadi simulasi nyata padang gersang, terlebih teriknya matahari terasa begitu menusuk.
Seorang gadis berdiri beberapa meter di ujung sana, tampak mulai memejamkan mata dan sedikit mengatur napas.
Mungkin sebagai permulaan, aku akan bertahan. Mulai menyiapkan Heart Core, kristal hitam itu berpendar sekilas dan mulai menjadi serpihan serbuk cahaya melayang ke belakang punggungku. Dua pedang bertengger apik di sana tanpa penyanggah. Perlahan, aku mengambil pedang besar--Zweihande. Dalam kuda-kuda siaga, aku mengangkat pedang dan sedikit memiringkannya di depan wajah, erat menggenggam hingga buku jari memucat.
Fate terlihat ... menaikkan salah satu alisnya? Mungkin menyadari bahwa selama pertarungan, aku selalu dalam posisi menyerang. Namun, untuk babak ini pengecualian. Aku sungguh tak ada niatan melukai dia. Bahkan jika tergores, aku akan mencaci diriku lagi. Tapi---heee, mata perak kebiruannya kini menyipit. Apa Fate marah? Kenapa? Aku berbuat salah? Bagaimanapun juga aku tidak ada niatan merubah posisi pertahanan.
Heart Core Fate seketika bercahaya pendar keperakan menyala-nyala. Benda itu melayang, serpihan holografi muncul dan menampakkan wujud masa kuat berupa dua cincin hitam tak henti berputar melindungi bola kristal di dalamnya. Dua pita perak turut menghiasi di bagian atas, tapi ... sungguh?
Aku yakin dia tahu Soul Dancer sangat buruk melawan Swordmaster, tetapi bibir tipis itu berakhir mengulas kilatan senyum tawar. Profesor Kaidan melihat Fate dengan tatapan terkejut namun sang gadis justru mengangguk kepada beliau, menandakan ia telah siap. Ah, Fate sungguh-sungguh akan menggunakan Floating Hourglass. Untung aku memulai dengan posisi bertahan, jika tidak ....
Akhirnya aku turut mengangguk. Profesor Kaidan melihat ke arah Fate dan diriku berkali-kali, berakhir mendengkus. Tak lama beliau mengangkat tangan kanan. "Pertarungan Final, Club Dion sparing. Red Sirius melawan Fate A. V. Lancelot."
Dan beliau menurunkan tangannya dengan cepat. "Dimulai!"
Segera aku berlari mendekati Fate membuat kebul memenuhi udara di belakang. Mungkin akan memberikan tekanan, dan ... melumpuhkannya. Aku tahu Fate cepat bak kilat tetapi masalah kekuatan, aku jauh lebih unggul. Seketika ia melempar senjata.
Ah, Phase Bomb.
Gadis itu justru mendekat, mendadak tangan kirinya melesat ke arah leherku dan di saat bersamaan aku berkelit ke samping. Tidak, bukan aku sasarannya tetapi Heart Core miliknya! Seper sekian detik ia menggenggam inti Floating Hourglass dan dalam kedipan mata, kristal perak berubah menjadi dua bilah tajam. Tanpa membuang waktu Fate menghujankan serangan dengan senjata khas Class Executioner.
Refleks aku menguatkan pijakan dalam kuda-kuda, senjata kukuh menahan titik vital dari hantaman pisau ganda di depan. Gemercik api meletup-letup pada aduan bilah tajam, bahkan aura di sekitar ikut terasa berbeda.
Apa-apaan ... mengganti senjata dalam sekejap? Seberapa besar kontrol milik gadis ini? Ah, tidak benar. Serangan demi serangan ia lepaskan dalam kecepatan tinggi. Fate sungguh-sungguh menghadapiku.
Jika seperti ini terus, aku ... harus melawan!
Sekuat tenaga aku mendorong Fate menggunakan Zweihande demi mematahkan serangannya. Tak memberikan kesempatan untuknya meraih keseimbangan, aku melakukan lonjakan putar kedepan sebagai tumpuan untuk melempar sang pedang besar kuat-kuat. Zweihande menancap sempurna di sebelah Fate, menghasilkan ceruk dan ledakan memekakkan. Dalam detik yang sama aku melesat maju, menerjang dalam Sabel teracung mantap.
Fate yang masih sedikit terhuyung tak kuberi celah dengan melayangkan tebasan vertikal pada satu titik tetapi Fate langsung menahan seranganku dengan silangan kedua pisau. Refleksnya benar-benar bagus dan cepat. Sayang, itu tidak cukup jika benar-benar ingin menahanku. Aku terus memberikannya tekanan hingga ia berakhir jongkok bertongkat lutut.
Getaran dan gesekan besi yang saling bertumbukan menggelitik telinga, Fate mulai mengubah pegangan pisau di tangan kirinya.
Aku sedikit menyipitkan mata, kejutan apa lagi yang akan ia berikan?
Dalam sejekap pisau kiri terselubung cahaya dan berganti pistol---nekat sekali! Dia masih menahanku tetapi mulai berganti senjata?! Seketika peluru energi keluar dari selongsong pistol dan di saat bersamaan aku berkelok ke belakang. Kokang senjata api terus terdengar, tanpa henti memaksaku meliuk dan menghindar. Dengan terus menembakiku, perlahan ia berdiri dan mengganti pisau lainnya menjadi pistol juga.
Sejurus kemudian letupan moncong besi terdengar beruntun, makin meningkat frekuensinya.
Aku terpukul mundur. Ini buruk. Seandainya Zweihande masih di sisi, aku bisa menancapkannya ke depan dan mengeluarkan kubah perisai--Skill Aegis. Sayangnya pedang besar tersebut kini di dekat Fate karena untuk Class Gunner, memberikan jarak sama dengan memberi kemudahan untuk menyerang, itu kenapa mereka dikenal dengan class penyerang jarak jauh yang andal.
Saat jarak kami cukup jauh, Fate mulai mengganti senjata lagi. Tanpa memakan waktu ia kembali melempar Floating Hourglass. Ah, Phase Bomb. Kembali menggenggam Sabel kuat-kuat dalam kuda-kuda---bukan! Itu Azure Circle karena arahnya tepat menuju ke atasku!
Aku berdecak dan melakukan elakkan lainnya dalam Sabel berayun ritmis memotong seluruh hujan es yang menghunjam. Berakhir selamat tanpa luka meski jas jubah hitam sedikit terkoyak ketika aku terus berkelit.
Segera aku melesat dalam akselerasi mendekati Fate. Butuh waktu untuk Floating Hourglass kembali pada sang empunya. Setidaknya dalam waktu singkat, aku bisa---tidak, salah! Dengan cepat ia mengacungkan pistol ke arahku hingga rambut peraknya berkebit.
Tunggu, ternyata senjata Soul Dancer itu tak lengkap! Hanya satu cincin mengelilingi dengan satu lembar pita berkibar apik, karena sebelumnya ia ... menyembunyikan satu pistol di belakang punggung.
Sebenarnya, seberapa banyak kejutan yang Fate miliki?