When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| Pilihanku



"Kamu tahukan konsekuensinya?!"


Seketika Crist berseru dan mencengkeram kedua pundakku sampai punggung membentur sandaran bangku, juga suara botol kaca terjatuh beserta isinya yang gemeresik. Sungguh aku sangat terkejut dengan tindakan tiba-tibanya tetapi dari sini, akhirnya mengetahui apa yang dia takutkan pun mataku yang membelalak kembali datar seperti sebelum ini.


"Aku tahu ... lagi pula semua ingatanku sudah kembali dan tertata dengan rapi."


"Kalau begitu kenapa? Bukannya dari dulu berusaha untuk ingat, hei, Red? Bagaimana kalau kamu berakhir melupakannya?!"


"Karena aku sudah kembali ingat, aku menginginkan ini." Aku terus melihat ke arah dia yang setia menatap penuh tanda tak percaya dan sedikit melemaskan pandanganku. "Jika tidak segera ditangani ... bisa saja aku membahayakan orang lain, lebih dari yang terjadi padamu."


Selang beberapa menit dia melepas kedua tangan dan melangkah mundur. Lalu mulai tertawa sungguh canggung dalam gelagat seperti ingin memperbaiki kacamata tetapi karena sudah lama tak mengenakannya, berakhir menutup mata dengan tangan kanan. 


Crist salah tingkah.


Sontak dia berdeham satu kali dan berkata, "Ah, ya, sebenarnya kami--Departemen Konsultasi--sudah memikirkan dan mempersiapkan permasalahanmu sejak kamu tiba di Vaughan. Dari hari ke hari, kami mengumpulkan data mengenaimu sehingga siap untuk saat seperti ini dengan menyediakan ruang khusus. Jika kamu ingin melakukan terapi, kami siap kapan saja. Apa ingin kuantar sekarang?"


Crist bertingkah seperti keadaan tadi tidak pernah terjadi, maka aku mengikuti. 


"Iya, terima kasih, Crist." Dan aku berdiri dari duduk. 


Sebelum itu, aku menarik tangannya sampai dia menoleh ke arahku. Kemudian kembali menyodorkan surat stempel emas ini. Matanya berubah sedih dalam hitungan detik, lalu mengukir senyuman. 


Senyum palsu.


"Oh, lupa, biar aku yang urus suratnya."


Setelahnya kami mulai meninggalkan ruang dan aku mengikuti Crist yang berjalan lebih dulu.


Namun, tak lama terdengar kaki berbalut pantofel hitam berderap cepat di ujung lorong sana. Berjalan begitu lugas sampai siapa pun yang mendengar langsung menyingkir dari hadapan sebab aura tak biasa yang dirasa, teramat kental wibawanya terlebih mata merah bak darah terus menatap lurus. Head Master Lucian. Keberadaannya diikuti Profesor Kaidan yang menyusul dengan panik.


"Aku sudah dengar apa yang terjadi." Dan beliau berhenti tepat di depan kami. "Kau sudah tahu apa yang terjadi denganmu bukan? Jadi apa keputusanmu? Kalau ingin sembuh maka akan kubiarkan, jika tidak ... aku akan menghabisimu, saat ini juga."


Mendengar itu, langkah Profesor Kaidan tersentak dalam ekspresi yang lumayan geram. "Lucian, apa yang kau katakan?! Apa tidak---"


"Aku tidak berbicara sebagai kakakmu sekarang. Aku berbicara sebagai seorang pemimpin," tegas beliau dalam aksen dingin tak biasa dan seketika, sepenuh lorong ini menjadi senyap.


"Dia sebuah ancaman, dan aku menolak untuk kehilangan lebih banyak anggota dari yang sudah kita derita. Kalau dia tidak ada kemauan untuk lebih baik, maka aku tidak akan tinggal diam." Lalu mata merah yang berkilat menatap tepat ke arahku, seperti langsung menusuk pada jantung. "Dia sudah menyakiti banyak orang. Dan sebagai pemimpin, adalah tugasku untuk membuat pilihan apakah dia berharga atau tidak."


Sontak suara siulan nan samar mengudara, memancingku untuk melirik---eh, Daniel? Dia duduk pada bangku di pinggir lorong, tak henti menyengir lebar menatap ke arah sini. Sedangkan Cecil di sampingnya tampak khawatir. Apa kerusakan tangan protestic sudah ditangani?


"Maaf untuk menyela," ucap Crist yang terlihat gugup seperti biasa tetapi kali ini berbeda, sangat memberanikan diri. 


"Red sudah tahu kesalahannya dan dia mau berubah, ini bukti nyata." Lalu tangannya mengangkat surat khas tersebut.


Tapi sepertinya bukan itu yang sang kepala organisasi inginkan, sebab kedua tangan masih di belakang punggung dengan mata tak lepas dariku. "Aku tidak butuh lembaran kertas. Aku ingin mendengarnya langsung dari dia. Katakan, dengan suaramu sendiri Red Sirius. Katakan kau menginginkannya."


"Iya."


Dan wajah orang-orang yang memenuhi lorong berubah, seperti Crist tertunduk lesu; Profesor Kaidan yang memejamkan mata dan menghela napas; Daniel semakin menyeringai; Cecil menyembunyikan diri pada si pirang; Head Master Lucian mengangguk mengerti.


"Kalau begitu, pastikan semua hal yang kami lakukan setimpal. Jangan sia-siakan."


Akhirnya beliau kembali melangkah hingga melewati kami. Namun, sebelum itu sempat berhenti dan berkata, "Kaidan, Crist, jadikan ini sebagai peringatan terakhir untuk kalian berdua. Aku tak butuh kesetiaan yang bercabang."


Cinta dan tanggung jawab, bukan hal yang mudah bukan?


Lantas aku kembali berdiri tegap, memandang tubuh semampai sang pemimpin mulai menjauh dari tempat kami berdiri. Sepertinya ingin menjenguk Fate. Beberapa menit kemudian Profesor Kaidan turut mengikuti.


"Sekarang." Suara Crist menggema, membuatku menoleh ke arahnya. "Kita lanjutkan perjalanan?"


Aku pun mengangguk dan kembali mengekor.


Sekian menit berlalu aku mendengar Crist mengembuskan napas panjang. "Sifat Pak Lucian lumayan rumit, ya?"


Aku yang sibuk melihat-lihat sekitar, mulai mengarahkan atensi padanya.


"Tingkahnya kadang kekanak-kanakan. Tapi di balik itu, ia sangat adil dan mengerti di waktu apa harus bertindak seperti apa."


"Karena beliau mementingkan kebahagiaan dan keselamatan seluruh anggotanya," balasku, "jika ingin adil, terkadang perlu mengorbankan sesuatu ... termasuk perasaan sendiri."


Dan Crist tertawa kering. "Aku tidak tahu kamu paham masalah ini."


"Aku juga terkejut dengan ucapanku sendiri. Mungkin, akhirnya aku paham sesuatu setelah banyak hal dilalui. Lagi pula ingatanku sudah membaik."


Mendadak sunyi membumbung; Crist tak balas berkata sekadar menjawab iya, hanya terus melangkah dan terus kuikuti pula.


Sebenarnya tidak begitu mengerti ke mana tujuan kami karena tempat yang ditempuh lumayan berliku, seperti memasuki pintu besi khusus; menuruni beberapa tangga; melalui lorong neon yang asing.


"Baru sekarang melalui jalan inikan? Sebenarnya ruang rawat khususmu ada di bawah tanah karena tidak bisa sembarangan orang masuk nantinya, termasuk aku." Lagi-lagi aku mendengar suara kekehan yang samar. "Mungkin hari ini hari terakhir aku melihatmu."


Bisa jadi aku masih hidup di kemudian hari 'kan? Tapi, ada kemungkinan juga tidak selamat. Maka aku memilih diam. Sesekali menunduk, melihat lantai unik yang menyala-nyala ini. 


Aku harap Crist atau siapa pun tidak lupa bahwa aku adalah orang asing untuk mereka, termasuk untuk dunia ini.


"Masih ingat ucapan Daniel mengenai orang egois? Ia ada benarnya."


Spontan aku menaikkan wajah demi menatap tepat ke arahnya.


"Tahu surat dan data penyakit yang kamu derita? Aslinya aku malas mengurusnya." Lalu dia tertawa kecil. "Kalau tidak disuruh oleh Miss Caterine, mungkin sudah lama kubuang surat tidak berguna itu. Yah, pada akhirnya kamu mengucapkannya sendiri pada Pak Lucian 'kan?"


Sedari awal, aku tak mengetahui ekspresi wajahnya. Hanya punggung yang lebar serta rambut ungu panjang melambai-lambai lembut bisa kulihat.


"Tidak seperti luarku, bisa dibilang, aku ini orang yang kotor." 


Akhirnya Crist menoleh padaku meski dengan mendongak. Tatapan mata biru tua memperlihatkan suatu keganjilan atas seringai yang tak biasa.


"Melihat kamu menderita membuatku berpikir 'untung saja tidak hidup seperti orang ini' dan mulai menolongmu. Kau tahu, di mataku kamu terlihat rendahan."