
Entah kenapa berakhir seperti ini ....
Aku mulai menghela napas. Dalam ruang kecil yang bulat, aku dan Fate duduk berhadapan. Gadis itu benar-benar terus menampilkan wajah datar tetapi aku---ah, rasanya ingin mengajak berbicara demi mencairkan suasana namun suara tersumbat dalam tenggorokan, napas turut terasa berat.
Sebab ini berlebihan untukku.
Kapan terakhir kali menyendiri bersama seorang perempuan dalam satu tempat untuk waktu yang lama? Apa lagi dalam ruang kecil. Ha-ah, aku benci isi kepala di saat seperti ini. Aku pun mengusap-usap wajah dengan kedua tangan, berpikir kenapa selalu bertindak seperti bukan diri sendiri jika bersama Fate?
Akhirnya aku memutuskan untuk memalingkan wajah keluar bianglala. Ternyata pemandangan dari atas sini sangat indah. Meski ruang bulat tergantung pada kincir raksasa bergerak amat lambat, perlahan ... semakin tinggi, makin jelas pula betapa berwarnanya tempat ini.
Banyak sekali hiasan tersebar mengisi setiap sudut kosong, bahkan jalan setapak pada alun-alun terhias dengan manis atas corak pastel; sebuah rona berseri yang menghiasi jagat alam. Melihat itu semua, pandanganku berubah sayu lantaran ingat padanya yang telah tiada. Andai ia di sini dan ikut merasakan kebahagiaan ini ....
Senyumannya yang cemerlang, begitu kurindukan.
Aku mulai bersandar pada bangku merah empuk dengan kaki menjulur lurus ke depan, mata masih setia menatap panorama di luar kaca transparan. Mendadak kedua kelopakku menggulung lebar memandang pada---
"Fate, itu apa?" tanyaku dengan menunjuk pada satu bangunan besar nan megah, bahkan bendera-bendera pipih berkibar elok di atas beberapa atap yang runcing.
"Istana boneka," jawabnya.
Istana ....
Ini mengingatkanku, dulu pernah berdiri di depan sebuah istana yang hancur. Kerajaan itu merupakan tempat yang sangat megah dan besar di masanya tetapi ketika aku datang, hanya pekat gelap malam merengkuh membawa serta aura keji entah dari mana pada reruntuhan terlahap jago merah.
Tak ada keindahan seperti yang pernah disorakkan, hanya ada seorang gadis kecil rambut pirang panjang atas mata begitu biru bak langit cerah. Ia merintih penuh isak dengan pemandangan belakang yang begitu menyedihkan.
Ah ... saat itu, samar-samar sedikit sadar atas pikiranku sendiri. Aku bingung harus melakukan apa karena badan mungi si gadis terus bergetar, apa waktu itu ia takut padaku? Atau hal lain? Oh, aku sudah menggenggam pedang dan mungkin ia takut melihatku terus memegang si bilah tajam. Aku tidak tahu--atau tak sadar?--kenapa mengeluarkan senjata, jadi ... aku hempas jauh.
Aku pun mendekat dan berlutut di depannya, tetapi ia tampak terkejut ketika mengetahui wajah kami sudah sangat dekat, bahkan saling memandang untuk waktu yang lama.
Ya, pandanganku nanar melihat dua pasang mata biru yang begitu bersinar; membawa suatu perasaan hangat menjalar dari mata sampai ke hati. Suatu sentimen yang begitu kurindukan; begitu kunanti. Kami senyap hingga kesunyian menyelimuti namun perasaan itu semakin kuat, tanganku naik dan merentang, berusaha menyentuh pipi meronanya.
Tapi di saat bersamaan, si gadis pirang langsung beringsut dengan sepucuk begonia tak lepas dari genggaman. Langsung aku mengurungkan niat dan menggenggam tangan kuat-kuat. Apa yang kupikirkan saat itu? Mungkin bertindak konyol karena selalu terbawa perasaan sendiri.
Namun, itu ... iris biru sangat berkilau bak komet mengitari dirgantara, keindahan nan mengherankan dan penuh rasa nostalgia; memancing emosi yang pernah kudapatkan dari menghabiskan waktu selama ratusan tahun, berdua ... dengannya yang telah tiada.
Mata jelagaku kembali sayu melihat si gadis kecil tak berdaya. Terlebih bunga begonia merah dalam telapak mungilnya semakin mengingatkan pada orang terkasihku. Rasa ingin merangkul dan menemani tumbuh saat itu juga, aku pun berdiri dan mengulurkan tangan padanya. Entah mengapa aku berkata untuk mengajaknya pulang bersama.
Pulang ke mana? Aku juga tidak tahu tetapi ... ingin, bersama; tak mau lagi kehilangan.
Ah, ya, dan gadis itu bernama Apple dari kerajaan Luchifenian.
"Apa kau melihat hibrida di sana?"
"Tidak. Hanya saja ...." Suaraku memelan mengucap akhir kalimat, bahkan kembali mengarahkan pandangan pada istana boneka. "Melihat wahana itu membuatku teringat pernah menyaksikan suatu kerajaan beserta istananya, hancur."
Seketika sunyi merengkuh.
Tidak lama, karena aku mendengar bariton gemetar yang samar akibat bibir bergetar heboh. Kembali menoleh---eh, Fate?!
Aku pun berpindah posisi untuk duduk di sampingnya. Entah kenapa dalam dada ketika melihatnya membuat leher sesak, seperti sengatan nyeri yang terlalu besar menyerang. Pertama kali melihat gelagat Fate seperti ini, napas beratnya tak teratur menjadi irama kekecutan dalam mata perak bagai dipenuhi kelabu.
Lengan lentik si gadis mulai meraih sisi bajuku, lemas mencengkeram ujung kain. Ini menyakitkan untuk dilihat hingga meluluhkan seluruh perasaanku yang lain sampai tersisa khawatir meraja. Membuatku memeluknya perlahan dan bertanya dalam aksen lembut lagi rendah, "Fate, ada ap---"
Bam!
Desing baja yang kandas mengudara bersamaan dengan bunyi ledakan besar menyusup telinga. Pelan namun pasti, terasa ruang yang kami singgahi tertarik gravitasi---serangan!
Refleks aku bangkit dan membuka paksa pintu ruang bianglala---ah, bagaimana dengan Fate? Lantas aku menghentikan langkah dan bertengger di mulut pintu untuk menoleh ke belakang. Gadis itu menatapku lurus atas suatu ekspresi tak terbaca.
"Fate, maaf ... boleh aku melakukan evakuasi?"
Gadis itu mengangguk dan mataku menajam kemudian. Langsung aku melonjak ke atas ruang bulat menggunakan tangan sebagai tumpuan, lalu berlari menyusuri tiang-tiang raksasa penyangga ruang bianglala sampai tiba pada bagian tengah kincir dekat logo Dream Land. Aku kembali mengandalkan tangan untuk mencengkeram besi di atas, berusaha keras memanjat dan melonjak menghampiri ruang menggantung lainnya.
Ketika aku membuka paksa ruang bulat yang lain, orang-orang di dalamnya tampak terkejut dan tak percaya melihat kedatanganku. Namun, aku berlisan lantang, "Utamakan evakuasi anak kecil!"
Dan di saat itu juga mereka menyerahkan anak-anaknya. Di waktu singkat memercayakan harta tak ternilai padaku, maka aku harus melindungi mereka dengan baik. Akhirnya terus melonjak demi menghampiri ruang-ruang lain yang mungkin berisi balita; kukuh menggendong anak-anak kecil dalam rangkulan, sampai selesai melakukan evakuasi ... aku harap.
Ah, sudah tak mampu lagi untuk membawa lebih banyak anak kecil. Dua memenuhi tangan kiri dan kanan, satu di sisi depan, juga di atas pundak. Cengkeraman mereka begitu kuat seolah-olah tahu bahwa yang terjadi saat ini membahayakan nyawa.
Maka sebisa mungkin aku berhati-hati untuk meluncur pada sisi depan besi pancang bianglala karena tak mungkin langsung melonjak turun, itu membahayakan balita yang kini kubawa. Tunggu, ini hanya perasaanku atau bianglala sudah berhenti untuk ambruk? Hanya miring.
Sesampai di bawah, Profesor Gil ternyata sudah mengeluarkan Skill Vinnitus. Pantas saja bianglala tak jatuh, rantai-rantai melilit pada tiap sisi besi wahana yang muncul dari dalam tanah tempat beliau menancapkan kedua pisau gandanya. Tunggu, berarti stabilitas dan kontrol beliau sangat besar. Sendirian, orang tua berumur sekitar enam puluh tahun itu bisa menahan wahana raksasa.
Baru sekarang aku melihat seseorang menggunakan Ultimate Skill Executioner dengan rantai sebanyak ini. Profesor Gil, sangat ... luar biasa---aw, aw, aah! Tuhan, anak kecil yang ada di atas pundakku mulai menangis keras! Juga mencengkeram dan menarik rambutku kuat-kuat hingga nyeri di ubun-ubun menjalar. Rasanya tiap helai rambut merahku mau rontok!
Detik kemudian para staf Departemen Gear tiba, menyiapkan alat berat dan bersiap memperbaiki bianglala. Mereka juga menyalakan kubah pelindung karena terasa gelombang magnetik berskala sedang menyebar, membuat warga sipil tak sadarkan diri dan menghasilkan tirai ilusi---bahaya! Anak yang di pundakku! Dia terjatuh tapi tanganku penuh!
"Anak kecil---eh?"
Ketika aku berbalik ke belakang, ternyata anak itu sudah diselamatkan oleh Fate; tertidur pulas dalam gendongannya. Aku mengembuskan napas lega mengetahui mereka berdua baik-baik saja, tetapi ada yang berbeda. Apa Fate baik-baik saja? Terasa auranya suram, terlebih temaram tampak menutup separuh wajah.
Saat ingin membuka mulut untuk bertanya, di saat itu pula terasa ada yang menyentuh pundakku. Aku pun menoleh---ah, Profesor Gil.
"Cepat evakuasi orang-orang ke markas sementara di pintu masuk utama, akan ada arahan tambahan dari Kaidan."