
Yang ada dalam ingatanku, seharusnya pemandangan dari atas sini sangat indah. Tapi sekarang hutan telah roboh dengan gemuruh dan asap. Desa di sebelah pojok kanan pun dipenuhi api, bahkan laut itu juga tak lepas dari jamahan; naga besar leher panjang menguasai bibir pantai.
Namun, perhatianku bukan pada itu semua. Aku mendongak dan mata jelaga menyaksikan langit jingga nan indah.
Dan yang ini masih sama ... dengan isi kepalaku.
Tanpa sadar, kedua tanganku merentang ke atas; seakan ingin meraih bulan dan matahari yang kini berdampingan. Aku mengabaikan suara dalam walkie talkie yang mungkin tertuju padaku; juga napas berat penuh deram yang mungkin dari naga di belakangku, karena langit seperti terus memanggil; seolah-olah menyodorkan suatu jawaban yang terus kucari.
Mataku tak bisa lepas dari melihatnya dengan kelopak yang terbuka lebar perlahan.
Dengan begitu, bulan dan matahari menyatu dan cahaya putih menyoroti sampai-sampai harus memalingkan wajah tetapi tidak kulakukan. Aku benar-benar, tak bisa menggerakkan tubuh yang kini sudah lemas dan terjatuh dengan bersimpuh.
Sebab seluruh ingatanku kembali. Semuanya, secara mendadak dan berantakan hingga aku sendiri dilanda kebingungan amat dalam. Apa itu? Kejadian apa, ini? Semakin ... tak mengerti dengan isi kepalaku sendiri.
Kini semua cahaya sirna karena dua pasang sayap membentang, menenggelamkan segalanya dalam naungan. Tubuh sangat besar itu berbinar seakan menggantikan bulan dan matahari yang telah pecah. Dan keempat kepala--seharusnya lima karena kepala tengah telah buntung--penuh kombinasi warna tertuju ke segala arah dengan melolong tegas menusuk telinga.
Detik itu juga naga besar itu menoleh dan terbang ke arahku, yang akhirnya aku ingat bahwa dia adalah ....
"... Tiamat."
"Red!"
Huh?
Sontak ada yang meluncur ke arah sini, menabrak diriku sampai badan membanting tanah secara kasar. Seketika bunyi debam dan kasak-kusuk kerikil menyayat tubuh terhempasku begitu riuh, aku mendekap entah siapa yang berbuat demikian agar dia tak terluka. Badannya sungguh ringan.
Kemudian dia menegakkan tangan seperti posisi merangkak di atasku dan spontan aku menyentuh pipinya. Orang yang aku kenali ... tapi, mata itu seharusnya perak kebiruan bukan? Tunggu, sebab terkena tekanan mental berubah warna menjadi ambar.
"Fate?" tanyaku, dan dia memegang tanganku yang masih betah menempel di pipinya.
"Iya. Kendalikan dirimu!"
Aku pun tertegun. "Semua ingatanku mendadak kembali, dan ini terlampau banyak. Apa karena umurku ribuan jadi sebanyak ini? Kepalaku sakit, kuputuskan untuk mengenyahkannya dan kini, kosong. Aku ... bingung."
Sungguh, rasanya ingin memuntahkan serpihan benang ingatan ini. Ah, benar-benar tak bisa berpikir.
Langsung si gadis berdiri dan berjalan sedikit menjauh, lalu banyak layar holografi mengelilingi; bibir tipis merah muda juga merapal sesuatu. Mungkin menghubungi orang lain?
Perlahan, aku mencoba untuk bangkit. Ternyata kami sudah berada di tempat berbeda. Mungkin ... halusinasi? Sebentar, bukan itu. Ah, kepalaku sungguh tak bersahabat. Oh, ya! Ini portal dimensi para naga. Dan jauh di depan sana; di bawah langit nan kelabu, terdapat bukit-bukit kecil dengan banyak salib hitam menghiasi. Ini juga sama, kulihat sekilas dalam memori salib yang seperti itu di dunia sebelumnya.
"Fate, di sana," ucapku dengan tangan kanan menunjuk jauh dan mata ambar mengikuti ke mana aku mengarah, "di dunia asalku, aku membunuh Aion di salib seperti itu. Aku menikamnya ... tepat di dada dan ia terpancang di salib. Lalu banyak sekali darah menyelubungiku."
Kini Fate menatapku tak percaya tetapi kubalas dengan memiringkan kepala---huh, ekspresinya tak biasa. Memang apa yang kubilang tadi? Oh ....
"Kenapa, salib sangat identik dengan kematian?"
Seketika tubuh si gadis ambruk dan gesit aku meraihnya.
Ada apa? Matanya tak lagi bersinar; tak lagi cerah; tak lagi gemerlap; justru mengukir pandangan yang membuatku merasakan pilu. Namun, berapa kali aku tanya kenapa, dia tidak membalas kata. Bahkan napas beratnya terdengar parau dengan tubuh gemetar tiada henti.
Ini tidak benar! Aku semakin mendekapnya agar Fate merasa tenang.
Namun, tak lama aura berat terasa dekat membuat dingin merambat halus; memancing rasa takut memenuhi punggung. Refleks aku mengeluarkan Zweihande dan menancapkannya kuat-kuat demi mengeluarkan Aegis untuk melindungi kami berdua.
Aku tak suka pemilik aura ini.
"REDstar, Hikiboshi, atau harusnya kupanggil ... The Hope."
Brak!
Sebuah cakar besar mengentak kubah Aegis sampai terasa seluruh tubuhku ikut merinding dibuatnya. Tekanannya begitu kuat dan entah berapa lama bisa kutahan, karena ... isi kepala terasa kacau dan aku dipaksa mendongak oleh tubuh yang mulai sulit dikendalikan.
Tampak keempat kepala Tiamat mengelilingi kami, menatap intens hingga terasa mencekam. Rasanya sakit; nyeri pada semua titik syaraf, karena menolak dan melawan tekanan asing pada tubuhku bak menarik jiwa secara paksa.
Napas terasa berat sekarang sebab gejolak dalam dada, membuatku terus mendekap Fate seolah-olah dunia akan hancur jika melepasnya. Namun, kenyataannya kegelapan justru yang mendekapku balik. Erat, semakin lekat, dan aku larut di dalamnya.
Kini terasa seperti tenggelam dalam samudera nan luas, tenang tapi ... menyeramkan. Hampa. Sepi. Sunyi. Tak ada cahaya. Tanganku menggapai ke atas. Namun, tak ada apa pun di sini.
Ah, lagi-lagi aku hilang dalam kegelapan.
"Apa kau lupa? Sadar siapa kau dan di mana tempatmu."
Spontan aku tertegun, karena kalimat itu yang dulu si malaikat katakan. Di malam itu. Ia datang. Tergambar pula seringai mengerikannya. Melihatku menggunakan wajah---ack! Sontak sesak tertimbun di rongga rusuk lantaran air mulai memenuhi paru-paru dan aku bernapas tak beraturan. Hanya bisa mencengkeram leher dan meronta tanpa arti.
Perih.
"Kau tak seharusnya bersama para manusia, mereka adalah makhluk munafik."
Mendadak di sampingku tergambar pula anak yang begitu hina. Aku kecil, begitu lemah dan tak kuasa. Meski masih terasa tercekik, tanganku mencoba meraihnya, berharap aku yang sekarang bisa berada di sana ... mendekap anak yang haus akan jawaban dan kasih sayang. Namun, selalu berakhir tragis dan diselimuti kesengsaraan.
Apakah salah menginginkan sebuah kehangatan? Salahkah mendambakan sebuah cinta? Kalau tidak, kenapa selalu berakhir seperti itu?
"Terus berhubungan dengan manusia, hanya akan membuat ini terus terulang dan kau terjebak pada takdir yang sama."
Akhirnya aku bisa bernapas meski masih terengah karena kaki telah tiba pada ruang kosong. Hanya ada aku, berdiri di bawah sorot cahaya nan samar.
Ini benar-benar ... ilusi.
Aku terus menyentuh leher, berusaha mengatur napas kian mencekik. Bulir air masih menjadi mayoritas di seluruh tubuh. Bukan karena sisa tenggelam sebelum ini, melainkan keringat yang membasahi lantaran semua terlalu menyakitkan ... menyedihkan untuk dilihat. Seluruh ingatan; memori, terlalu menyiksa untukku.
Kenapa harus ditunjukkan pada semua ini?
Akhirnya aku menatap satu-satunya penghuni lain di sini selain diriku. Naga besar dengan empat kepala duduk tenang di sana, menyunggingkan suatu seringai mengerikan. Lalu dia menjelaskan semuanya, tentang masa laluku yang buruk. Tak terlewatkan, seluruh rasa khawatir yang kuderita. Keseluruhan, mengenai diriku secara mendetail.
Setelahnya, dia melihat dengan kilatan tatapan yang membuatku setia membisu.
"Satu hal yang pasti. Kau berbeda dari mereka para manusia rendahan. Keabadian dan kekelaman, bukanlah suatu hal yang harus disia-siakan. Kau tak butuh tipu daya. Kau tak butuh tipu muslihat. Kau tak butuh segala yang menghalangi. Pengikut; teman; kerja sama; keluarga, tak dibutuhkan pada mereka yang mencapai kesempurnaan."
Itu, dia jelaskan dengan sangat baik sampai terkesan menakutkan dan telingaku panas mendengarnya, tidak kalah dengan hati kian mendidih.
"The Hope, kau seharusnya bersama kami ... menuju kebebasan. Dan kau, pada awalnya, memang telah bersama kami."
Berangsur-angsur, kelopak mataku terbuka hingga memamerkan iris jelaga.
"Apa kau lupa?"