
Tak bisa tidur, malam ini aku memutuskan untuk melakukan peningkatan pada Heart Core.
Setelah menyelesaikan misi Grade B, aku mendapatkan hadiah tambahan berupa batu elemen.
Di sini aku sekarang, duduk di meja belajar ditemani banyak layar holografi biru.
Heart Core melayang stabil di tengah-tengah meja. Aku mendekatkan satu batu elemen dan Heart Core milikku langsung beresonan. Seketika itu pula batu elemen tersebut lebur menjadi serpihan cahaya dan terserap masuk ke dalam Heart Core.
Aku bersandar ke bangku. Kutatap satu-satu layar yang ada di hadapan.
Satu layar memperlihatkan motorku--Mount Pheonix; satu menampilkan detail Floating Hourglass; satu menunjukkan status; satu menjabarkan identitas yang rata-rata berisi tanda tanya; satu berisi daftar misi.
Aku menutup mulut menggunakan tangan kanan dan menimbang-nimbang bagian apa yang perlu aku optimalkan. Mungkin bisa ke optimalisasi senjata saja.
Aku pun menyentuh salah satu layar yang tergambar Floating Hourglass dan merentangkan jemari di depannya. Sontak layar tersebut muncul dan membentang ke depanku.
Jemariku mulai tak henti menekan layar holografi untuk melakukan pengaturan pada senjata. Lantas layar tersebut menampilkan suatu ilustrasi rumit yang aku pahami.
Bar demi bar bermunculan di dalam layar dan aku melakukan pengaturan lebih dalam hingga selesai.
Kemudian, aku menekan tombol kembali. Layar itu langsung menampakkan beranda.
Di sana terlihat empat jenis senjata lain; tiga masih berbayang hitam dan satu memiliki warna, yaitu Floating Hourglass. Sebab hanya Class Soul Dancer yang aku gunakan.
Sebenarnya bisa membuka Class lain. Namun, ketika membuka Class perlu membayar beberapa uang untuk biaya penanganan dan peningkatan Heart Core.
Tiga Class lainnya yang tersedia adalah Gunner dengan senjata Twin Gun; Executioner dengan Dual Dagger berantai di bagian bawah gagang yang menghubungkan satu sama lain; Swordmaster dengan dua pedangnya, Sabel dan Zweihande.
Ini mengingatkanku ketika melakukan test pertama kali memasuki Vaughan.
Saat itu ....
...****************...
Pertama kali aku sadarkan diri, terasa ... silau.
Cahaya sangat menyoroti hingga aku menyipitkan mata dan sedikit menunduk demi meraih fokus.
Tidak tahu ini di mana dan apa yang terjadi, aku memutuskan untuk tak banyak bergerak.
Yang aku lihat pertama kali adalah pria rambut cokelat dengan mata yang berwarna sama--Profesor Kaidan.
"... Menemukannya setelah investigasi General Tiamat."
Samar-samar aku mendengar obrolan mereka dan pandanganku mulai fokus.
Ternyata aku ada di dalam ruangan yang asing, tepat di bawah holografi dunia dikelilingi tiga holografi bulat. Dan aku bangun di atas ... kasur neon? Pemindai? Tidak apa itu.
Ini sangat tak kukenali.
Sontak sepasang mata berwarna merah darah menatapku sinis. Entah mengapa aku merasakan suatu ancaman dan balik menatapnya.
"Seketika portal menuju dimensi persembunyian Tiamat tertutup, kami simpulkan berhasil kabur. Saat itu juga kami menemukan dia. Bisa saja dia korban Pawn, apa lagi dengan aura itu. Belum ditemukan tanda-tanda perubahan, kita bisa menetralkannya," jelas si pria rambut cokelat.
"Tidak akan bisa dinetralisir, bahkan aku ragu dia manusia. Ditambah dia tak masuk dalam pusat data kita. EVE tidak mungkin menyisakan satu orang di bumi tidak terdaftar dalam database. Selama bukan naga, tak masalah."
Mendengar itu aku mencoba duduk dan menatap mereka.
Satu pria berkulit sawo matang--Kaidan--dan satu laki-laki yang terlihat begitu serius pemilik rambut hitam panjang yang diikat rendah. Mata serupa berlian merahnya tak henti-henti mengamatiku. Mungkin menyadari aku mendengar perbincangan mereka, sekarang mereka mulai mendekat.
"Siapa namamu?" tanya pria mata merah yang terlihat begitu serius.
Aku terdiam mendapat pertanyaan demikian, karena memang tidak mempunyai nama.
Akhirnya memutuskan untuk tetap bungkam dan menunduk.
Ah, tidak tahu kenapa harus berakhir seperti ini.
Suara bisikan dari pria rambut cokelat terdengar, "Mungkin dia hilang ingatan."
"Tidak, saya sangat hafal dari lahir hingga sekarang. Saya memang tidak mempunyai nama," tegasku.
Aku mulai melihat-lihat sekitar. Ruang ini terhias holografi dan metalik, bahkan ada beberapa layar pengintai.
Yang pasti, ini bukan tempat asalku.
"Ini di mana?"
"Akademi Vaughan. Bisa jelaskan kau ini apa?" tanya pria rambut hitam yang mata merahnya tak henti mengamati seluruh tubuhku.
Untuk sekarang tak bisa memberitahukannya kalau aku anak iblis. Aku takut dinilai berbeda, terlebih tidak mengenal mereka sama sekali.
"Tidak ... tahu. Saya terlahir begitu saja."
"Kita akan lakukan pemindaian ulang."
Orang serius itu menyentuh dagunya sesaat; menatapku dalam-dalam; melangkah sedikit mendekatiku dan menjentikkan jari.
Seketika sosok gadis biru transparan muncul di dekat kami. Pria serius itu pun berkata, "EVE, lakukan pemindaian ulang."
Seketika datang bola-bola kecil mengitariku. Beberapa saat kemudian layar holografi besar muncul di depan kami semua. Sejumlah ... data? tertera di sana.
...{Hasil Pemindaian...
...Nama: ???...
...ID Pelajar: ???...
...Grade Kekuatan: S...
...Grade Kontrol: C-...
...Detail Class...
...Swordmaster: SS...
...Gunner: F...
...Executioner: A+...
...Soul Dancer: B...
...Kekuatan besar, tetapi tak terkendali. Butuh pengawasan ketat.}...
Aku memiringkan kepala melihatnya, apa itu? Pertama kali menyaksikan hal-hal menakjubkan seperti ini.
Tak henti-hentinya diriku melihat ke sana kemari; mencoba menelaah sekitar.
"Terasa sangat asing?" Aku tertegun mendengarnya, terlebih mata merah itu masih menatapku tajam. "Terutama untuk manusia berumur ribuan tahun."
Seketika mataku membelalak; terkejut.
Bukan hanya aku, pria rambut cokelat itu juga. Namun, dia justru tertawa kecil melihat ekspresiku dan temannya.
"Kau ikut terkejut, Kaidan? Tembak saja jantungnya."
Tembak? Apa yang---
Dor!
Ah!
Dingin kembali merambat. Syaraf rasa sakit menghantar nyeri menakjubkan ke seluruh tubuh, tetapi detik kemudian terasa beku.
Tubuh pun ambruk. Aku sepenuhnya kehilangan napas.
Bisa dirasakan pendar mataku memudar. Pandangan buyar dipenuhi merah yang samar.
Itu menyakitkan, tetapi tetap saja aku ingin hidup, karena seketika aku ingat, terakhir ia mengorbankan dirinya agar aku terus menjalani kehidupan ke dua.
Ah, ya, benar.
Ia ingin aku terus hidup.
Waktu yang panjang terasa berlalu hingga kurasakan detak jantungku kembali.
Aku mengerjap-ngerjapkan mata hingga dapat sedikit melihat sekitar. Dalam telinga yang berdengung dan kerongkongan tercekik, aku masih mendengar mereka berbicara.
"Hahahahaha! Kau benar-benar menembaknya?"
"He-heeh, Lucian! Katamu tembak?! Aku hanya melakukan perintah ...."
"Tidak, bahkan aku tak serius mengucapkannya. Lagi pula, dia sudah sadar."
Aku mencoba bangun---ah, belum ... masih belum.
Tubuhku kembali ambruk, tetapi samar-samar aku melihat seseorang yang khawatir berlari mendekatiku sebelum kegelapan kembali merenggut kesadaranku.