
Sesuai dengan permintaan, pagi ini kami memakan masakan buatanku.
Mereka semua mengisi setiap bangku meja makan, ada lima bangku kosong paling pojok karena jumlah kami hanya sembilan dari dua belas anggota yang tersedia untuk masing-masing club. Terlebih Fate masih di mansion Lucian---tidak, tiap pagi selalu di sana karena memang itu tempat tinggalnya.
Satu bangku kosong lainnya adalah Crist. Ia sempat turun sesaat, tapi naik lagi ke kamar. Ada urusan yang belum selesai katanya, dan data itu harus diserahkan hari ini juga. Seperti biasa, si pemuda berkacamata selalu sibuk dengan tumpukan dokumen.
Namun, kenapa atmosfer pagi ini berbeda? Maksudku mereka sangat sunyi, bahkan terlihat tegang? Aku memutuskan untuk menoleh pada Daniel tepat di sisi paling kanan dan dia membalas tatapanku atas suatu senyum canggung. Sangat aneh melihat Daniel seperti ini, ekspresinya tak biasa.
Sedangkan yang lain ... terkejut? Aku bisa memaklumi karena hampir dua tahun kedatanganku di Vaughan, baru sekarang menyiapkan makanan untuk mereka.
Ini tidak buruk 'kan? Aku mulai memberanikan diri melakukan kesukaan yang orang terkasihku dulu ajarkan. Rasanya ringan seperti bisa mengingat ia tanpa sesak di dada. Namun, tadi Cecil sempat berteriak ketika melihat aku memegang pisau di dapur ... kalau Daniel tidak menenangkannya; menyeret si gadis kecil dan entah mereka berbicara apa kemudian. Anggota yang lain juga, mereka hanya mengintip dari balik tembok. Padahal aku senang kalau mereka ikut membantu.
Berakhir terjebak dalam kondisi canggung sampai sekarang. Seharusnya aku tidak memaksakan diri, melihatku memasak seperti sebuah anomali tersendiri sampai mereka semua terdiam. Aku mulai menautkan jemari di atas meja. Tidak enak---
"Hooo, kalian menungguku?"
Suara itu, Crist! Dia turun perlahan seraya menoleh ke arah kami semua, wajah turut terlukiskan senyuman ringan.
Mata biru tua terpejam dan si pemuda tertawa kecil. "Tumben! Tapi sarapannya lumayan banyak, apa bahan yang kita punya cukup sampai nanti malam? Siapa yang memasak untuk hari ini?"
Ah, lupa kalau setiap hari kami memiliki jadwal siapa yang harus memasak. Biasanya aku hanya bagian bersih-bersih dan selalu membantu jikalau senggang, jadi tidak begitu memperhatikan jadwal harian. Apa aku membuat orang yang bertugas hari ini merasa kesulitan? Dan benar juga, tadi terlalu bersemangat hingga menyiapkan sebegini banyak makanan. Aku mulai mengembuskan napas panjang.
"Aku yang bertugas hari ini. Enggak apalah, nantikan bisa dipanasin lagi pas siang. Masih ada sisa bahan buat nanti malam," tutur Cecil.
Crist mengangguk mengerti dan mulai duduk tepat di bangku sampingku yang kosong. "Jadi, sekarang kita menunggu apa?"
Perlahan, dia mulai melempar pandang pada tiap makanan di atas meja dan berakhir menatap si gadis kecil. "Kamu sibuk nanti Cil?"
"Hah? Enggak! Aku tuh kalau masak selalu pas. Ya karena bukan aku yang masak meski dah jadwalku, jadi berlebihan begini."
"Lalu, siapa?"
Menjawab pertanyaannya, lengan mungil mulai menunjuk tepat ke arahku membuat Crist berakhir celangap. A-apa seaneh itukah? Aku mulai jatuh dalam gelagap canggung dan menyentuh tengkuk.
Crist mulai tertawa kering. "Y-ya, kalau begitu ayo makan!"
Aku mendengkus dan mulai tidak memedulikan sekitar. Lebih baik makan terlebih dulu, jam sembilan sudah harus pergi dan melakukan pengamatan di kota sebelah. Setelah dicicipi, rasanya tak jauh berbeda seperti dulu. Tapi ... ha-ah, sup tomat buatan Aion memang lebih enak daripada buatanku.
Brak!
Sungguh aku terkejut! Mendadak Crist berdiri dengan membanting dua tangan pada meja. Seketika dia kembali duduk dan menoleh ke arahku dengan sangat cepat, membuatku terkesiap dan hampir jatuh dari bangku. Sangat jarang melihat Crist bertingkah seperti ini---ah!
Dia menggenggam kedua tanganku atas wajah berseri dan berbicara dengan semangat, "Demi menambah pemasukan, akademi dengan anggota para hobi memasak akan membuka rumah makan kecil-kecilan di pinggir Kota Eyphis. Red, jadilah salah satu juru masak di sana!"
"Hah?!"
"O-oi kacamata, apa-apaan maksudmu?!" Daniel ikut berteriak dan menuding tepat ke arah Crist tetapi yang dituju sudah melepasku, kembali menghadap depan dalam ekspresi berapi-api.
Tangannya mengepal kuat, Crist pun berseru, "Aku melihat peluang usaha!"
"Wooow!" Kali ini Cecil yang mulai berteriak, tetapi wajahnya ... bersinar? Seperti kagum dan senang. Ah, si gadis kecil mulai makan dengan sangat lahap, aku takut dia tersedak---
"Apa-apaan ini?!" Heh, kenapa semuanya meninggikan suara? Aku kembali menoleh ke arah Daniel yang sudah berdiri dengan---eh, apa Daniel marah? Mata hijau nan tajam mulai mendelikku. "Kau, kurang ajar! Kau bilang enggak mau masak tapi masakanmu seenak ini?! Penghinaan macam apa ini?!"
Anggota yang lain mulai mencoba menenangkan ketua kami karena Daniel terus mengoceh tiada henti. Awalnya mereka diam, lalu berisik seperti ini. Apa keracunan? Eh, tadi memasukan bahan yang sesuai
... rasanya juga baik-baik saja untukku. Aku mulai menggaruk kepala tapi Crist tertawa di sampingku. Aku sedikit melirik---ah, wajahnya sudah kembali tenang.
"Red, ini benar-benar kejutan."
"Ya, aku tidak menyangka kamu bisa memasak. Selama ini kamu selalu menjauhi dapur. Hahaha, mungkin ini bisa menjadi laporan yang baik. Haah, andai Fate bisa mencicipi ini," ucap Crist dengan senyuman ringan.
Fate ....
Aku pun mengeluarkan ponsel, masih jam setengah tujuh. Apa Fate sudah sarapan? Apa ia tak keberatan aku hubung---
"Telepon saja!"
Ha! Tiba-tiba Crist menepuk punggung sampai membuatku terkejut dan tanpa sengaja menekan tombol panggilan. Tuhan, pasti sudah mengganggunya karena ini masih pagi---eh? Diangkat. Aku mulai mendekatkan ponsel pada telinga.
"Red? Ada apa menghubungiku?"
Astaga, suaranya jauh lebih imut dan lugu melalui telepon! Aku sedikit menggaruk pipi dengan canggung karena merasa tersipu dan membalas, "Ah, eem ... maaf, tapi apa kamu sudah sarapan? Ingin makan dengan anak-anak club? Kebetulan kami membuat banyak makanan."
"Oh? Boleh, Pak Lucian sudah pergi terlebih dulu jadi belum ada sarapan. Aku segera ke sana."
Dan panggilan pun berakhir. Aku menutup mulut dengan tangan kiri, ini pertama kali menghubungi orang lain selain urusan misi. Astaga, pasti memalukan! Segera aku meletakkan ponsel ke atas meja dan sedikit mengusap pelupuk mata dengan punggung tangan.
Pagi ini terasa liar ... hanya karena masakanku?
Beberapa menit berlalu dan untunglah sekarang mereka sudah tenang, mulai melahap sarapan dengan semestinya. Cecil tampak sangat kekenyangan hingga kepala terkapar di atas meja---baik, itu penggambaran yang berlebihan.
Tak lama suara decit pintu terdengar, aku menoleh ke arah pintu depan ketika suara langkah kaki semakin dekat. Ternyata itu Fate dan untunglah masih ada makanan tersisa.
Si gadis mulai meletakkan beberapa barang bawaannya pada salah satu bangku yang kosong dan duduk pada bangku lain di dekatnya. Perlahan, mulai membalik piring yang tersedia dan mengambil beberapa makanan. Sebelum itu, beberapa anggota club tersenyum dan menyapa Fate yang dia balas dengan hangat.
Semuanya normal dan natural, tapi kenapa aku justru merasa gugup?
Hingga Fate mengambil satu suapan, seketika lengan pualamnya berhenti dengan mata melirik sekitar, seperti mencoba berbicara pada orang yang tersedia. Akhirnya, pandangannya terhenti antara aku dan Crist. "Ini ... sangat enak. Aku belum pernah mencoba makanan seenak ini, siapa yang masak?"
"Umm, aku," jawabku gugup dengan mengelus belakang leher, tetapi wajah Fate berubah sedikit ... terkejut?
"Kau bisa masak?"
"Benarkan! Red, kamu egois punya keahlian tapi enggak berbagi sama kita! Mulai sekarang kamu harus selalu masak untuk club!" Mendadak Daniel kembali menyalak, tepat ke arahku.
Lantas rasa terkejut dan panik mulai menyerang. "Heee, tapi kalau aku dalam misi bagaimana?"
Daniel membeku, sedikit menggeram dan mengepal tangan. Tak lama dia mendengkus dan mulai menuding lagi. "Selain dalam misi, wajib! Itu hukumanmu!"
Ah, Crist kembali terkekeh bahkan sampai memalingkan muka. Entah harus merasa senang atau bagaimana, mereka sepertinya ... menyukai masakanku?
Dulu, aku bersama orang terkasihku sering menghabiskan waktu untuk mengenali flora dan fauna yang bisa dikonsumsi--terbilang kami tinggal di tengah hutan--serta mencoba membuat beraneka ragam makanan. Mungkin, bisa dibilang aku handal memasak karena pengalaman ini? Latihan mempelajari berbagai resep selamat ratusan tahun ... aku mulai mendengkus.
Sangat memalukan, kelebihanku adalah memasak, bukan bertarung.
"Bukan maksudku menyembunyikan hal ini pada kalian. Dulu aku menolak karena ada kenangan buruk mengenai memasak, jadi aku selalu jauhi. Tapi sekarang, sepertinya tidak buruk juga," ucapku lesu, memandang tangan yang kini saling bertautan.
Aku mulai menaikkan wajah dan melihat seluruh orang yang duduk di belakang meja. Mereka berwajah santai menatapku, bahkan beberapa ada yang tersenyum. Ya, selain Daniel yang melipat kedua tangan atas gelagat kesal bak seorang anak kecil. Aku terkekeh melihatnya.
Kehangatan ini ... seketika dalam kepala terbesit suatu memori, yang mana aku dengannya duduk berhadapan atas meja mungil. Tersenyum; tertawa; bercanda, suatu kedekatan yang dihabiskan bersama. Ternyata perkataan Fate dan Daniel, ada benarnya.
Mengulang kejadian manis bersama orang terkasih membawaku semakin dekat dengannya.
Aku mengulas senyum hingga terasa mata ikut terpejam. "Aku tidak keberatan memasak untuk kalian. Seperti ini, juga menyenangkan!"