
Matahari tak memancarkan sinarnya, tertutup pusar awan kelam nan berlimpah lantaran badai salju tak henti menerjang sejak kemarin sore. Dan aku terus berdiri di balik jendela menatap suasana sehingga pantulan diri tergambar jelas pada kaca transparan.
Jelas sekarang bukan waktu yang baik untuk keluar, sepertinya musim dingin di awal Februari lumayan keras.
Aku pun mengembuskan napas panjang.
Mendadak suara derit pintu terdengar, membuatku spontan menoleh ke belakang. Mereka--Fate dan Cecil--akhirnya keluar dari ruang dokter, menjelaskan bahwa Fate telah selesai melakukan pemeriksaan.
Lantas aku membalikkan badan dengan sempurna. "Bagaimana hasilnya?"
Perlahan, Fate menggerakan tangan kiri seakan memeriksa seberapa kuat genggaman tangannya. "Meskipun masih harus menjalani rehabilitasi, aku sudah diizinkan untuk keluar rumah sakit."
Kabar baik ini mengundang wajah semringahku. "Baguslah! Aku sendiri juga tidak suka berlama-lama berbaring seperti itu. Berarti fisikmu sudah lebih baik?"
"Dibandingkan awal bangun ... iya, sudah lebih baik. Tapi rasanya badanku masih kaku. Jika keadaan memungkinkan, apakah kalian tidak keberatan sparing denganku? Hanya latihan kecil karena sudah lama tidak bergerak di masa koma."
"Ide yang bagus, aku akan mengawasi latihanmu untuk memberikan perkembangan data rehabilitasi. Aku yakin Red juga tidak keberatan menemanikan?"
Langsung aku mengangguk cepat terhadap pernyataan Crist yang berdiri di samping.
"Kita tuh dikasih tugas lumayan ringan biar bisa temani Fate dan membantu masa pemulihan, kalau Red sih memang libur karena rehabilitasi juga. Tapi belakangan ini Daniel dapat panggilan di kantor ...."
"Kita bisa melakukan sparing kalau Daniel libur," balas Fate, "aku ingin melatih kemampuan menggunakan pistol dalam jarak dekat, dan latihan itu juga bagus untuk Daniel."
"Pistol jarak dekat ya ... aku penasaran, siapa yang melatihmu menggunakan pistol untuk jarak dekat? Pak Lucian? Padahal pengguna Class Gunner yang memang dikhususkan menyerang jarak jauh, biasa kesulitan untuk serangan dekat. Tapi batasan itu kayaknya tidak berlaku untukmu."
Pertanyaan Crist mencelikkan benak. Benar juga, ketika sparing semasa pendataan grade ulang, Fate sangat andal melawan aku yang menggunakan pedang sampai berhasil ditundukkan---ah, termasuk kejutan bahwa dia bisa mengganti senjata dengan mudah ditengah pertarungan.
"Yang pertama kali mengajariku ... adalah Sen."
Sontak sebelah mataku berkedut sekali seraya menatap datar ke arah mereka yang sibuk berbincang-bincang.
"Oh, nama itu lagi! Aku sering dengar nama Sen terucap waktu kita suka cerita-cerita. Kalau boleh tahu memangnya Sen tuh siapa sih? Orangnya kayak gimana?"
"Hmm, dari yang kuingat ... Sen pemimpin yang baik, cerdas, juga ahli strategi. Ia salah seorang yang mengajariku cara berpikir di tengah pertarungan. Dan selalu di sisiku, selalu melindungiku. Orang yang setiap kuingat selalu membawa kehangatan ...." Dan Fate mengerutkan baju di bagian dada "Di sini."
"Sen memang luar biasa, seberapa kali aku mendengar tentangnya." Seketika, bibirku tertarik untuk mengukir sebuah senyuman. "Rasanya menyenangkan, bisa terus mengingat ia dan perasaan itu 'kan?"
Suatu senyuman ikut merambat pada wajahnya. "Ya, rasanya menyenangkan. Tapi ... aku masih tidak begitu mengingatnya dengan baik sekarang, beberapa ingatanku masih ada yang kabur."
"Aku yakin, suatu saat semua ingatanmu akan kembali." Dan mungkin sampai di situ saja, aku bisa menemani.
"Oh, Red, kamu sudah tahu soal Sen?" Dan atensi Cecil tertuju padaku.
"Tentu saja aku tahu, dari awal sudah tahu ...."
... Kalau aku sama sekali tak punya kesempatan.
Tetapi kenapa rasanya menyakitkan? Padahal sudah mengerti dari awal aku bertugas menemaninya sebentar; hanya sementara. Jadi, kenapa saat mengingat hal tersebut hati terasa menderita seperti perlahan-lahan; satu persatu, ditusuk oleh jarum hingga denyut nyeri menjalar ke seluruh syaraf? Sampai tidak bisa lagi aku menahan senyuman dan berakhir menatap sendu.
Sebenarnya, sudah tidak mau lagi memikirkan perihal Sen pun aku mengalihkan pembicaraan dan sedikit terkekeh. "Mungkin kita bisa lakukan sparing ketika badai mereda? Atau pada Gedung Pusat Pelatihan."
"Haaa, bisa-bisa! Nanti biar aku yang urus dokumen untuk pinjam ruangannya! Untuk sekarang, kita siap-siap buat makan malam! Mmmn, dingin-dingin gini enak makan krim sup ... oh! Fate baru keluar dari rumah sakitkan? Kita buat makanan spesial! Fate, makan malam kamu mau dimasakin apa?"
Lantas tawa nan renyah terdengar sayup ketika Fate melihat tingkah lugu sahabatnya. Kami pun mulai menyusuri lorong dengan para gadis sibuk berbincang-bincang ringan. Melihat dia menderap langkah ritmis dan menggenggam tangan mungil Cecil, memberikan ketenangan tersendiri dalam dada.
Aku harap, Fate terus diselimuti oleh kebaikan dan kehangatan. Meskipun aku sudah tak bisa lagi mendampingi lantaran tidak mungkin mengusik ketenangan dia bersama orang terkasihnya. Asalkan bahagia; asalkan senang, itu cukup. Cinta tidak harus memiliki 'kan? Tetapi kenapa ini ... hal ini, justru terkesan menyedihkan?
Aku pun mendengkus dan memejamkan mata, perlahan.
"Kalau boleh tanya." Mendadak suara Crist menggema dalam lorong nan sepi. "Apa ada orang yang mirip seperti Sen di akademi?"
"Ada." Jawaban dari aksen nan lembut memancingku untuk memfokuskan pandangan ke depan. "Lux."
"Ha? Dari semua orang ... Lux yang mirip?!" tanya Cecil penuh kejut hingga mulutnya celangap.
"... Aura mereka mirip, pemimpin dan gaya bertarung juga agak mirip, tapi sifat mereka memang berbeda seratus delapan puluh derajat," tambah Fate atas nada bicara nan datar.
Kulihat Crist mulai menyilangkan tangan depan dada seperti berpikir, tapi aksen terdengar berkelakar disela-sela kekehan samar. "Jadi, apa kamu jadian sama Lux?"
"Hah, aku ... dengan Lux?" Fate langsung meluk dirinya sendiri seakan merinding mendengarnya. "Tidak mungkin. Amat sangat tidak mungkin. Aku hanya menganggapnya sebagai kakak."
Kemudian vokal berisik ikut mengisi pembicaraan. "Wahahaha, kan! Ada yang lebih nyebelin dari Daniel, ya?"
Lagi-lagi para gadis bercanda gurau yang tidak kudengar jelas lantaran terpisah oleh jarak. Entah mengapa aku merasa Crist menanyakan hal tersebut untukku, tapi aku terkekeh pelan. Mungkin hanya perasaan saja? Karena yang seperti itu ....
"... Sungguh, tidak perlu."
"Kenapa?"
"Eh, apa aku bilang sesuatu?"
Sepertinya kata-kataku keluar tanpa permisi. Namun, cara Crist bertanya sangat berbeda atas suara rendah tak biasa, apa lagi sampai menghentikan langkah demi sejajar denganku.
"Kenapa kamu tidak suka aku bertanya soal Sen? ... Tidak perlu? Jangan-jangan kamu selalu menghindar dari Fate karena orang bernama Sen ini?"
"Hnng, bisa dibilang?" Lantas aku mengerang kecil. "Aku sangat mengerti dan tahu kalau Sen orang yang penting untuk Fate, sama penting seperti Aion untukku berdasarkan cerita-ceritanya. Jika Aion masih di sini; di sisiku, aku tidak mau ada orang yang mengganggu ketenangan kami. Maka dari itu ... biarpun aku mencintai Fate, aku tahu batasan diri."
"Memangnya kamu sudah lihat Sen secara langsung?"
Sontak langkahku tersentak sebab tertegun untuk beberapa menit lantaran tidak tahu harus menjawab apa. Seketika hati penuh campur aduk dan jujur saja segala hal mengenai Fate terasa misterius, bahkan bagiku yang terbilang dekat dengannya daripada orang lain.
"Belum. Tapi untuk sekarang biarlah seperti ini sampai aku memastikan dia baik-baik saja. Setelah ingatannya kembali dan semua permasalahan kami selesai, aku akan pikirkan langkah apa yang harus diambil kedepannya." Dan aku melihat ke arah Crist dalam ukir gurat sabit di bibir nan tulus.
Si pemuda justru membuang muka, punggung tangan kanan ikut menghalang di depan mulut. Samar-samar juga terdengar dia bergumam, "Memang terlalu menyilaukan."
He?
Mendadak teriakan cemas melengking membuat perhatianku refleks tertuju pada para gadis. "O-oi Fate! Fate! Kamu tuh kenapa?! Fate, ayo sadar!"
Gelagat Cecil semakin panik ketika tubuh si gadis kaku meskipun sudah diguncang-guncangkan terlebih mereka ada jauh di depan, membuatku tidak tahu ekspresi di wajah Fate. Yang kutahu hanyalah dia melihat lurus ke luar melalu jendela.
Bergegas aku berlari guna menghampiri, gesit beralih ke depannya maka jelaslah tatapan dari iris ambar begitu kosong bak telah kehilangan jiwa dan spontan aku menyentuh kedua pundak nan ramping. Lalu memanggil namanya berkali-kali, tapi tidak dijawabnya juga.
Lantas aku beralih menoleh ke kanan demi melihat Cecil yang masih memegang lengan kiri Fate. Hal ini membuatku teringat kata-kata Profesor Caterine, secepatnya aku melihat Crist dan langsung menangkap tatapan matanya. Sontak mata Crist melebar seakan mengerti apa yang aku minta dan dia segera memegang tangan kanan Fate.
Dan Fate langsung tersentak dalam tatapan bingung, juga takut. "Ba-barusan ... apa yang ...."
"A-aduh, mumpung masih di rumah sakit. Apa kita bawa Fate buat periksa lagi?
Pekikan khawatir Cecil mengudara tetapi aku menjamah pelipis Fate sampai ke sisi kepala untuk menyingkap helai-helai rambut perak, demi memastikan dia melihat padaku seorang. Kemudian berbicara pelan, "Kamu mendengar bisikan lagi?"
Atas pandangan lemah yang tak biasa hadir di wajah, Fate menjawab, "Iya."
"Bisikan apa?"
"Masih sama. Memanggil namaku ... meminta pulang. Dan, tidak hanya itu." Kedua tangannya perlahan bergetar sampai melepaskan pegangan Cecil dan Crist demi mencengkeram dada. Ini pertama kali bagiku melihat Fate sebegitu ketakutan.
"Saat aku koma ada sosok datang dalam mimpi. Terkadang sosok anak kecil. Terkadang berubah menjadi orang dewasa. Tapi apa yang mereka minta sama ... yaitu memintaku untuk kembali." Perlahan aku meraih kedua tangan si gadis; saling menautkan jemari dan mengelus punggung tangannya; pelan-pelan ibarat berusaha memberikan ketenangan.
Kemudian mata jelaga tertuju pada Cecil, membuat tubuh mungil si gadis tegang seketika. Mungkin terkejut terhadap tatapanku yang dingin? Apa pun itu aku tak peduli dan menggapai tangan kanannya, kemudian menarik ke arah Fate agar mereka kembali berpegangan sehingga tanganku lepas dari jemari lentiknya.
Kemudian atensi tertuju pada Crist. "Aku ingin pergi, bisa tolong jaga mereka?"
Si pemuda terdiam atas ekspresi tak kumengerti, tapi hanya sementara karena dia sudah mengulas senyum simpul. "Tentu, sudah tugasku."
Sontak aku mengangguk mantap dan melihat pada Cecil. "Terus temani Fate."
Cecil mengedipkan mata berkali-kali seakan terkejut tetapi dia mengangguk mengerti kemudian. Aku pun mundur beberapa langkah. Kendati wajah-wajah mereka sarat akan rasa heran, tanpa pikir panjang aku berlari menjauhi lorong.