
Akhir-akhir ini waktuku banyak dihabiskan dengan Profesor Kaidan. Juga tak tahu di mana aku tidur.
Semua terasa asing.
Sering kali seluruh tubuhku hilang kemampuan untuk bergerak, hanya bisa menghabiskan waktu meringkuk di atas kasur. Jika itu terjadi, Profesor Kaidan akan menarik tanganku kuat-kuat; memaksa untuk berdiri. Sekali lagi, aku bingung dengan perlakuan beliau.
Terkadang beliau menitipkanku pada seseorang dan semua manusia di sekitar, tak kukenal. Bukankah ini aneh? Wajah mereka tak berbentuk dan itu menyeramkan, membuatku memilih untuk menutup mata. Kemudian pikiran menjadi kosong ketika langkah kaki beliau terdengar menjauh.
Dan yang membuatku bangun dari kekosongan adalah genggaman tangannya, mungkin itu kenapa Profesor Kaidan tak pernah melepas tautan kami jika bersama ... hanya lepas sesekali, diikutin sentuhan dan afeksi kecil yang membuat perhatianku tertuju padanya.
Ketika kami bersama, adakalanya beliau berbicara lepas; adakalanya beliau tertawa. Setelah melihat ke arahku, ekspresinya berubah menjadi sendu ... entah mengapa. Tidak mengerti pandangan wajah itu memperlihatkan perasaan marah; sedih; iba, ini terlalu rumit untuk dipahami.
Semua itu terus berlanjut, hari demi hari.
Seperti sekarang.
Kami berpegangan tangan, menelusuri ... mungkin, jalan setapak? Mata terlalu kabur untuk menelaah satu persatu, hanya terasa rindang pepohonan menaungi. Sunyi; tidak ada kicau burung juga serangga, hanya kesejukan dari zat pembakar pohon dan sorot mentari. Tempat ini lumayan membuat tenang karena tak banyak suara mengisi pendengaranku yang sudah berisik oleh dengungan.
Ketika lebih dalam memasuki kebun yang ditanami dengan bunga-bunga, tampak satu bangku taman begitu mencolok di sekitar pepohonan yang renggang.
Lantas Profesor Kaidan duduk di situ, lalu aku mengikuti.
Tak lama, beliau memberikan sebuah buku. Aku pun mengambilnya, pelan-pelan jemari meraba pada sampul lantaran ada gambar timbul di sana dan ini menarik perhatian sampai kelopak mataku sedikit tersibak.
Selang beberapa menit, kedua pipiku beliau sentuh dengan tangan besarnya. Ternyata Profesor Kaidan telah berdiri dan membungkuk di depan. Butuh beberapa saat sampai penglihatanku terfokus padanya.
"Red, bisa tunggu di sini sebentar? Kalau bosan kamu bisa buka buku ini, nanti Bapak kembali jadi jangan ke mana-mana, ya?" Sontak aku mengangguk dan beliau mengukir senyuman kecil.
Setelah menepuk kepalaku, Profesor Kaidan melangkah menjauh ... tenggelam dalam temaram pepohonan.
Aku pun memutuskan untuk membuka buku pemberian beliau. Jujur saja, aku sangat menyukainya. Mungkinkah ini termasuk buku cerita bergambar? Alhasil, aku hanyut dalam gambar-gambar krayon.
Namun, pernahkah aku melihatnya di suatu waktu?
Aneh.
Ada yang aneh.
Kenapa terasa aneh?
Saat membalik satu lembarnya, buku itu terjatuh ... ah, lagi-lagi tanganku bergetar. Aku pun berusaha mengambil---
"Ini jadinya kalau kamu terus hidup abadi."
Huh?
Aku kembali duduk tegap karena mengurungkan niat mengambil buku yang terjatuh lantaran muncul sosok seorang gadis berdiri di depan. Melihatnya, tiba-tiba sudut emosi berkecamuk atas perasaan nostalgia terhadap kenangan terdahulu.
Kenapa tak asing?
"Padahal sudah menceritakannya; sudah memberikannya, tapi kamu tak kunjung ingat. Apa karena berpura-pura? Kalau begitu, sekarang aku akan berterus terang."
Begitu ucap lemahnya dalam vokal bergetar, mata nan bulat turut berubah sayu. Kemudian, dia bersimpuh dan memangku kepala seorang pemuda di paha---huh?
Itu ... aku?
"Ini hanya halusinasimu, tak ada Kaidan; tak ada buku, kamu berjalan lepas dan tidak sadarkan diri. Kau tahu? Harusnya aku tak ada di sini, karena aku ... sudah mati."
Lalu mata biru nan polos menatap tajam dalam kilau menari-nari laksana komet mengitari. Keindahan yang mengherankan, ini bukanlah tatapan biasa membuatku terbius atas keelokannya sampai-sampai betah mematung. Tapi, tadi, dia berkata apa?
"Hanya ini yang aku bisa; hanya ini jalan untuk menebus dosa-dosaku. Rasanya aku sudah mengatakannya padamu, kehidupan normal yang aku harapkan ... terbaik untukmu." Dan dia membelai rambut pemuda di pangkuan---akh!
Seketika kepalaku terasa sakit, nyeri amat sangat hingga mengernyit seperti ada perubahan dalam tubuh. Refleks aku mengekang kepala dengan sebelah tangan.
"Aku hanya ingin kamu tersenyum lagi, tapi kamu terus terjatuh seperti ini ... membuatku berpikir, alangkah baiknya kalau aku membawamu pada tidur yang abadi."
Begitu perkataannya tetapi mendengar vokal khas anak kecil tersebut, kepala terasa terbakar---ah, sakit, terlalu sakit! Membuatku membungkuk sedikit demi sedikit untuk menahan perih.
"Kamu terus membuatku menyesal terhadap pilihan yang aku harapkan. Apa kamu mengerti kenapa aku berharap untukmu, bukan aku?"
Tetapi aku tidak bisa menjawab lantaran tak henti menggertakkan gigi, sampai tubuh terjatuh dari bangku taman hingga berlutut dan kian menunduk dalam. Bahkan lama kelamaan kening menyentuh alas rerumputan.
"Karena kamu sempurna dan senyummu indah; bersinar; amat meluluhkan, paling berharga yang pernah aku dapatkan. Aku ingin kamu terus hidup; terus merasa bahagia. Aku tak bisa lagi memberikan kebahagiaan padamu tapi dunia ini bisa."
Sebab setiap jemari kecil menyentuh kepala pemuda di pangkuannya, seketika itu pusing menghantam kuat membuat pandanganku kabur, seperti ada sesuatu yang memaksa masuk dalam kepala. Dahsyat sekali nyerinya, mual; ingin muntah; berkeringat dingin---
"Mungkin kamu merasa kosong saat mengetahui setiap orang hilang satu persatu tapi itulah kehidupan, ada yang datang; ada yang pergi. Karena waktu manusia begitu singkat, itu mengapa bisa disebut bagai bongkahan emas. Dengan waktu yang singkat itu, kenapa kamu tidak gunakan demi kebahagiaan? Karena kuyakin, senyummu membawa kebahagiaan untuk orang-orang di sekitarmu."
Seketika tubuhku tergeletak di atas tanah dalam napas memburu, lidah juga terasa kelu dan hanya bisa mendengarnya terus berbicara.
"Itu mengapa kamu sempurna ... orang paling setia yang pernah aku tahu. Dan aku senang mengajarkanmu mengenai Tuhan sehingga kamu bisa terus berdoa, mintalah yang terbaik."
Tangannya berhenti membelai kepala pemuda di pangkuan dan saat itu juga rasa sakit yang mencambuk hilang, menyisakan aku terengah-engah hebat. Sesekali menelan ludah demi mengatur pernapasan kembali normal.
Sungguh, terasa begitu sesak.
"Apple ... Luchifen?" tanyaku atas suara parau nan lirih.
Sebab sekarang kembali teringat, gadis ini benar-benar keturunan Luchifenian; satu-satunya dari duniaku. Orang yang aku selamatkan dan ajak untuk tinggal bersama karena memiliki aura nan nostalgia, tapi waktu itu ....
"Lagi, kamu melihatku sebagai tiga orang yang berbeda." Dia langsung membuang muka. "Kamu melihat Pride sebagai ibumu; kamu melihat Aion sebagai kekasihmu; kamu melihatku sebagai adikmu, mungkin itu kenapa aku berakhir muncul dengan badan yang berbeda, karena kami memiliki wujud berbeda."
"Tidak ... mengerti ...."
Mendadak seluruh tenaga lenyap bagai dicabut paksa membuat pendar mataku hilang sebab penglihatan lagi-lagi berbayang. Terasa lemas, dan perlahan ... kesadaranku memudar.
"Maka aku datang untuk membuatmu ingat dan mengerti, The Hope."