
Sudah berhari-hari berlalu ... terkadang aku kembali diberikan misi utama dengan tenggat waktu, karena perlu fokus untuk berlatih setelahnya.
Sampai sekarang semua berjalan dengan baik lantaran titik kelemahan sudah ditemukan dan hanya perlu menanganinya, yaitu aku yang tak bisa berpikir cepat di tengah pertarungan. Satu sisi, memiliki refleks dan insting bagus dan kami terus mengasah hal tersebut.
Kupikir setiap orang memiliki kelemahan masing-masing dan dari kelemahannya, muncul suatu resolusi atau kelebihan seperti Theo itu sendiri; untuk masalah fisik sangat kurang tetapi pandai memaikan serangan, berakhir memanipulasi kekuatan musuh.
Pada hari terakhir latihan, kami diarahkan untuk menganalisis sparing partner kami, yaitu Fate dengan Theo melawan Lux dan Rose. Ini merupakan usul dari Lucian agar kami bisa mengerti dan menilai gaya bertarung mereka karena perlu memahami kombinasi masing-masing class dan tipe serangan, terlebih mengasah kemampuan observasi.
Aku, Crist, Cecil, dan Daniel duduk pada kursi taman yang panjang. Sedangkan empat guru wali--yang juga ketua departemen--menempati bangku di sekitar meja, kecuali Head Master Lucian; dalam wajah penuh antusiasme berdiri dekat empat murid yang siap bertarung.
Hingga Lucian memberikan suatu aba-aba; mereka berempat langsung melesat seperti angin memotong udara. Mereka cepat; sangat cepat bak siluet kelam bergerak di atas karpet hijau alam, sampai menukik di angkasa memancing angin menderu liar hingga debu dan dedaunan meraja.
Aku mulai duduk tegap dari sandaran dengan menutup mulut menggunakan tangan kanan. Sebab jika dilihat baik-baik, untuk masalah taktik dan strategi kelompok Fate dan Theo lebih unggul, terbukti Lux beberapa kali berhasil dipukul mundur.
Dan memperhatikan pertarungan mereka seperti ini, memang menjadi lebih mudah untuk menyelidiki. Sekarang aku mengerti kenapa akademi selalu mengusulkan melakukan evaluasi setelah sparing untuk pendataan grade ulang.
Lambat laun pertarungan mereka semakin intens ketika Fate dan Lux mulai bergantian mengubah senjata, sampai-sampai desing peluru mengudara bersamaan percikan api di udara.
Dalam kecepatan mereka yang sekarang, terasa mata seolah-olah tak melihat ada bukti nyata seperti terpelesatnya peluru; keberadaan penembak atau alat menembaknya. Begitu riuh dan tegang seperti ada di tengah peperangan, atas letupan moncong senjata yang berisik menemani ledakan akbar tanpa percikan pasti.
Akhirnya Rose berhasil ditumbangkan, pertama kali. Keadaan Lux menjadi sedikit tertekan---tidak! Justru dalam waktu sesingkat itu dia berhasil menjatuhkan Theo. Padahal aku bertarung melawan Theo sedikit kesulitan tetapi ... Lux berhasil, hanya dengan beberapa kali percobaan. Memang mereka berada dalam tingkatan berbeda.
Mengambil kesempatan, Fate langsung menyerang Lux yang masih sibuk dengan Theo. Detik kemudian menangkupkan tubuh si pemuda ke tanah. Tanpa berniat melepas cengkeraman pada lengan lawannya, gadis itu menarik lengan tersebut ke belakang dan menyilangkan di punggung menggunakan kaki yang menjejak tepat di pergelangan tangan Lux.
Sepertinya dari mereka semua, gadis satu ini yang paling mengerikan. Bahkan Lux sampai menggeram, "Agh, sialan Fate, aku benci kecepatanmu."
Dengan begitu, latihan kami berakhir. Empat orang yang melakukan sparing tadi mulai menghampiri kelompok guru wali dan berbincang-bincang--kemungkinan membahas masalah taktik dan strategi.
Aku pun menoleh ke samping, entah kenapa Daniel tampak sangat berbeda? Wajahnya serius tetapi tenang, bahkan sekarang mulai ... mencatat? Sungguh tak biasa.
"Red, kamu juga sadar?"
Eh? Aku langsung mengalihkan perhatian pada si gadis mungil yang ada di sisi kiri Daniel. Cecil lanjut berkata, "Lihat tuh mukanya, enggak kayak banteng mau menyeruduk."
"Ah, iya ... aku merasa ada yang berbeda dari Daniel."
Aku dan Cecil mulai memperhatikan Daniel yang duduk tepat di tengah-tengah kami dengan saksama. Namun, si pirang hanya mengelus dada dan mengembuskan napas panjang---ah, benar-benar tenang. Apa ini sungguh ketua kami yang asli? Aku mulai memasang wajah heran dan sepertinya hal tersebut sedikit menarik perhatian, terbukti Lux dan Fate mendekat pada kumpulan kami. Tetapi Crist ... hanya tertawa.
Sampai kekehannya mereda, dengan memperbaiki posisi kacamata Crist berkata, "Wajar saja Daniel begini, mungkin itu hasil dari latihan." Perlahan, dia serentak menaikkan kedua tangan dan pundak. "Apa lagi yang menangani dia itu Lux."
Heee, begitukah? Tapi apa hubungannya dengan Lux? Aku mulai melirik ke arahnya---ah, Fate juga ikut memandang si pemuda dan berkata datar, "Apa yang kau lakukan?"
Apa harus bersyukur dipasangkan dengan Theo? Tunggu, tapi guru pengawasku Lucian ....
"Kalau kamu sendiri latihannya gimana Crist?" Cecil mulai mencondongkan badan, bahkan sampai muncul ke depan Daniel hingga laki-laki itu tersipu. "Kalau aku sama Rose, pengin fokus full support."
Crist mengukir suatu senyuman yang sedikit masam. "Pak Gil memaksaku untuk lebih gesit lagi. Kacamataku sampai lepas berkali-kali."
"Crist, mau operasi mata?" tanya Profesor Caterine.
Mendengar itu aku sedikit terkejut, terutama Crist sampai tertawa canggung. "Aku tidak ada dana ...."
"Tidak perlu memikirkan masalah biaya." Lantas aku terpancing pada beliau yang setia dalam ekspresi sungguh-sungguh; menaikkan paha ke salah satu kaki; dua tangan melipat sampai dada terangkat---baik, cukup melihat sampai di situ.
"Aku yang langsung menangani operasinya. Bisa dikatakan, kemampuanmu sangat diperlukan di tengah misi dan mata minusmu mengganggu dalam bertugas. Selama kekuranganmu bisa ditangani, kenapa tidak?"
Heee, bukahkan itu hal yang baik? Tapi Crist masih tampak ragu-ragu. Lantas Daniel mulai menyemangatinya, begitu pula dengan Cecil.
Melihat ini Profesor Caterine tertawa renyah, pun rona merah muncul di pipi melihat kedekatan kami. Terlukis emosi lunak seperti melihat orang terkasih diselimuti oleh kehangatan; seperti ekspresi guru waliku. Kupikir, meskipun senang menggoda Crist ... beliau begitu peduli.
Ah, sekarang menjadi sedikit ramai. Kami mulai berbincang-bincang ringan, termasuk tertawa dan bercanda kecil. Namun, rasanya belum pernah berkumpul santai di alam terbuka. Seperti ini tidak buruk juga.
Seketika senyap bak hawa mencekam merengkuh saat Head Master Lucian mendekati bangku taman memanjang. Saat itu pula wajah santai kami berubah menegang, tetapi beliau hanya mengeluarkan senyum gemilang yang biasa.
"Katakan, Red, apa yang kau pelajari dari latihan ini?"
Aku terdiam, karena aura besar yang sungguh mencekam dan bingung kenapa tertuju padaku. Tunggu, barangkali beliau yang mengawasiku dalam latihan kali ini jadi bertanya demikian?
Aku pun menjawab, "Banyak. Mungkin diantaranya jangan membiarkan senjata lebih tinggi daripada pundak karena itu akan membuat banyak ruang untuk menyerang balik, kecuali memiliki kecepatan yang setara dengan Fate. Sedangkan aku, lebih pada kekuatan dan stamina yang besar maka hal seperti itu cukup berbahaya."
Perlahan, aku meletakkan tangan ke atas paha.
"Mungkin, aku ... lebih cocok untuk barisan pertahanan? Aku selalu mengeluarkan tenaga penuh ketika menyerang, itu memang bagus untuk memecah pertahanan musuh tetapi jika sering digunakan, musuh bisa memanfaatkannya. Dan bisa jadi, titik lengah muncul ketika tidak bisa mengira-ngira kekuatan yang harus dikerahkan."
Aku mulai tertawa canggung dan mengelus tengkuk.
"Dari sparing sebelumnya juga aku mengerti kenapa Theo selalu berusaha mengincar leherku, karena aku bertumpu pada kekuatan sehingga Theo berusaha membuatku lebih rendah darinya. Melawanku lebih mudah jika mengincar titik lemah daripada bertarung berhadapan secara langsung. Terlebih ketika Theo melawan Lux dan Rose, gaya bertarungnya sedikit berbeda karena mereka memiliki tipe serangan yang berbeda juga. Mungkin begitu ... kira-kira."
Lucian mulai melipat tangan depan dada dalam gelagat ... bangga? Pun mata merah darah terpejam ketika mengangguk-angguk kecil. "Bagus. Kau paham kelemahanmu, dan kau harus bisa menanganinya."