
Kami kembali ke jajaran kafetaria. Namun, kali ini kami berada lebih ke arah pojok kanan; paling ujung akademi, bahkan dinding besar pembatas pun terlihat jelas.
"Ini! Banyak boneka dan kotak hadiah di dalamnya. Apa ini mesin capit?"
"Ah, iya. Akademi menyediakan mesin capit untuk para murid."
Fate terlihat lebih bersemangat daripada biasanya, mengamati satu persatu jajaran mesin capit di sini.
Memang sedikit unik, mereka menyediakan permainan seperti ini di akademi seperti sangat berusaha membuat murid-muridnya senang dan bisa menjalin ikatan erat satu sama lain.
Vaughan benar-benar memperhatikan setiap individu di dalam organisasi mereka, bahkan hal sekecil ini pun diperhatikan.
Namun, bukannya ini berlebihan?
Mungkin ... karena reputasi kami tak begitu bagus di luar sana. Terlebih dengan rumor itu. Mereka pun menyediakan hiburan di dalam akademi.
"Hmmmm. Tidak ada pemindai untuk ponsel dan slot koinnya lebih besar dibandingkan uang biasa. Menggunakan koin khusus ya ...," gumam Fate tiba-tiba seraya menyentuh dagu, memandang salah satu mesin capit di depan.
Aku menyentuh tengkuk dengan canggung. Seperti biasa, pengamatannya bagus sekali.
"Ya, koin khusus mesin capit. Hanya bisa digunakan di dalam akademi. Kalau tidak salah masih ada ...."
Aku mulai mengecek tas pinggang. Seingatku masih tersisa banyak koin karena jarang memainkan ini.
Capitnya lemah, ketika mencoba selalu gagal mendapatkan hadiah, berakhir jarang kugunakan ... ah, ini dia!
Aku mengeluarkan kantung kecil khusus uang receh dan menyerahkan lima koin kepada Fate.
"Terima kasih! Tapi dari mana mendapatkan koin ini?"
"Heem. Kamu sering melihat forum? Bukan hanya murid, tapi profesor dan para staf juga sering menggunakannya, mereka terkadang mengadakan acara kecil-kecilan di forum. Kalau menang bisa mendapatkan bingkisan dari mereka atau koin mainan ini. Biasanya terbatas orang yang bisa ikut acara kecil-kecilan mereka, karena sebenarnya itu tugas sederhana seperti membeli daftar belanjaan; melakukan absen untuk salah satu acara; sebagainya."
Aaaa, Fate mengukir senyum yang samar!
Memang itu terdengar aneh, tetapi kenyataannya begitu. Lagi-lagi aku menyentuh tengkuk dengan canggung.
"Akademi ini selalu memiliki caranya sendiri mendekatkan salah satu staf kepada para muridnya. Ini pasti ide Pak Lucian."
"Huh? Bagaimana kamu bisa tahu?"
"Aku tinggal di mansion keluarga Rectorem, pasti aku tahu bagaimana sifatnya. Meski jiwanya terasa sudah tua, pemikirannya terbuka dan kreatif. Ia juga mudah bergaul, meskipun ... terkadang ia kekanak-kanakan."
Sejujurnya aku tak begitu dekat dengan Head Master kami, Lucian Rectorem. Terlebih aku memiliki kesan pertama yang buruk.
Saat pertama tiba, beliau terus menatap dingin dan meminta Profesor Kaidan menembakku tepat di jantung.
Jika mengingat itu rasanya merinding.
Ah, aku langsung menggeleng. Tidak boleh berpikir aneh-aneh.
Kulihat Fate mulai menggerakan capit di dalam mesin mainan tersebut. Oh, dia mengincar kotak hadiah yang kecil.
Capit logam itu turun dan terlihat jelas sekali betapa lemah cengkeraman---
"Lihat, aku dapat satu kotak! Gantungan kunci bermotif bunga. Lucu juga."
Ah ....
Dia cukup beruntung.
Dulu aku sering mencobanya, tetapi tak pernah menang.
Bahkan yang lain sebut ini mesin penuh tipu daya sampai entah berapa koin habis, tetapi tidak kunjung mendapatkan apa-apa. Akhirnya banyak yang tak pernah mencoba lagi.
Mungkin kebetulan. Benar. Aku mengangguk-angguk.
Fate masih memiliki sisa empat koin dan dia kembali mencoba mengambil mainan di dalamnya. Oh, kali ini mengincar boneka---astaga ....
"Boneka kelinci! Pegang sebentar aku mau coba lagi."
Keberuntungannya ... ini dua kali berturut-turut mencoba, tetapi bisa menang.
Kalau tidak salah mesin ini tahan kekuatan dragonic dan peluru sehingga tak bisa dicurangi.
Kali ini, akan kuperhatikan baik-baik---he?!
"Sekarang boneka beruang!" seru Fate dengan bersemangat.
Tuhan, apa dia sadar keberuntungannya mengerikan?
"Buset! Tiga kali berturut-turut dapat?!"
"Masih sisa dua koin---"
"Nanti lagi!" seruku.
Aku menggenggam tangannya erat dan ... boneka ini.
Saat tiba di deretan pohon besar, kami duduk di bangku taman di bawahnya. Aku langsung bersandar dan mengatur napas.
Keberuntungannya ... mungkin bisa membuat Fate menang undian dan berlibur keliling dunia---ah, itu sedikit berlebihan.
Fate duduk di sampingku dan tampak terengah-engah. Aku merasa tak enak jika berakhir seperti ini, tetapi khawatir ada yang berpikir tidak-tidak kepadanya.
Lantas aku berkata, "Maaf Fate, mendadak kita pergi."
Dia menyentuh dada dan berkata, "Tidak masalah. Lagi pula kau yang bertugas menjagaku. Setiap tindakanmu pasti untuk melindungiku."
Aku terdiam dan menatapnya sungguh-sungguh. Fate tidak membaca pikirankan? Oh, bonekanya ....
"Ini, boneka kelinci yang kamu menangkan tadi."
Fate menggeleng.
"Itu buatmu sebagai ucapan terima kasih. Lagi pula aku juga punya, beruang teddy!" kata Fate dengan memeluk boneka beruang.
Seketika mataku terbuka lebar. I-ini pertama kalinya aku diberikan hadiah setelah ... beberapa ratus tahun yang lalu?
Aku merasa tersipu.
"Sungguh?"
Dan Fate mengangguk.
"A-ah. Terima kasih," gumamku, tidak tahu Fate bisa mendengarnya atau tidak.
"Sama-sama. Ternyata tidak seperti penampilanmu, kau sangat lembut."
Eh, lembut? Jujur itu juga pertama kali mendengar orang berkata demikian. Terlebih aku tahu bahwa diriku ....
Aku mulai memegang erat boneka kelinci di pangkuan.
"Walau tahu siapa saya?"
Tak lama, terdengar embusan napas yang panjang.
"Pertanyaan itu lagi? Red, kau adalah kau. Tidak peduli kau ini apa dan asal usulmu apa."
"Dulu saya berwarna merah, mata dan rambut. Mungkin itu kenapa mereka menjuluki saya 'REDstar', tetapi setelahnya, lama kelamaan saya menjadi hitam dan saya rasakan ... aura itu, semenjak mendengar bisikan dari malaikat."
Aku menunduk, semakin erat memegang boneka kelinci putih.
"Sekarang saya mendengar bisikan lainnya. Sedikit ... takut. Tidak mau itu terjadi lagi. Lebih baik kamu menjauh dan waspada di dekat saya."
Seketika, suasana menjadi hening.
Akhirnya aku menoleh ke arahnya---eh, Fate mengantuk? Badan sedikit terhuyung dan matanya mengerjap-kerjap. Refleks aku menahannya.
Mungkinkah kelelahan? Seharian kami sudah melakukan patroli, terlebih tadi berlari jauh.
"Fate?"
"Maaf. Tiba-tiba ... mengantuk. Aku pinjam, pundak ...."
Eeeek, mendadak dia menyandarkan kepala ke pundakku!
Astaga, tak apa. Fate butuh tidur sebentar, ya, tak apa. Aaaa, kenapa jantungku berdetak kencang sekarang?! Aku semakin memeluk boneka kelinci.
Untung saja tempat ini sepi.
Melirik---ah, Fate dekat sekali, bahkan wangi tubuhnya sampai ke hidung. Aku terus duduk tegap, tak mau membangunkannya.
Maafkan aku ... Tuhan, Sen, aku tak menduga akan terjadi seperti ini.
"Untuk berpikir bahwa aku adalah 'itu'. Aku merasa terhina, Halfling."
Sontak aku menoleh ke arah Fate---bukan, auranya berbeda.
Gesit aku menggenggam Heart Core di dalam tas pinggang dan menyipitkan mata.
"Siapa ... kamu?"