
Di bawah kanopi langit pun bayang-bayang awan menemani kesejukan dari sorot mentari, guru waliku masih belum menunjukkan sarat akan berhenti. Sebenarnya ke mana Profesor Kaidan akan membawaku? Ini bukan menuju gedung-gedung club tapi sangat kukenali. Apa mungkin---
"Red, sudah lama tidak makan bersama ... mau makan siang dengan Bapak?"
"Tidak ada misi?"
Beliau terkekeh dan menepuk pelan rambut merahku. "Tidak. Tidak ada untuk sekarang."
"Apa Bapak masih terpikirkan masalah tadi?"
Suara embusan napas panjang yang terdengar daripada jawaban. Tungkai jenjang juga terus berayun ritmis, selaras dengan sunyi merengkuh dalam belaian angin. Selang beberapa menit mata bak kayu kembali melihatku, dalam suatu ekspresi tak kumengerti.
"Tidak." Itu jawaban beliau, sebelum tersenyum masam dan kembali menatap lurus ke depan.
Walaupun begitu, aku ... entah kenapa, merasa tak enak. Berakhir hanya bergumam; mengarahkan mata jelaga pada jalan setapak; melihat dedaunan kuning berguguran.
Makan bersama, ya? Sepertinya memang sudah lama---oh! Bergegas aku berjalan cepat, mulai meniti langkah ketika berada tepat di depan Profesor Kaidan. "Bapak, sebenarnya aku bisa memasak. Bagaimana kalau siang ini aku yang buat makanan?"
Seketika beliau menghentikan langkah, wajah kembali diselimuti rasa terkejut tetapi aku lanjut berkata, "Setiap hari kalau tidak ada misi, aku selalu membuat makanan untuk anggota club. Aku juga ... ingin memasak untuk Bapak."
Suara tawa pun pecah. Akhirnya wajah sawo matang kembali mengukir senyum teduh; membuat hatiku meleleh dalam lega dan nyaman. "Ya, boleh. Kita ke gedung Departemen Eksekusi."
"Eh? Tidak ke kafetaria?"
"Kalau kamu bukan orang yang punya izin masuk dapur kafetaria, tidak bisa masak di sana Red. Lagi pula setiap departemen memiliki dapur dan ruang makan khusus, begitu juga dengan eksekusi."
Aku mengangguk mengerti dan kami langsung menuju tempat tujuan.
Jika dipikir lagi, kafetaria terbuka milik akademi lebih dekat dengan jajaran club. Bisa disebut gedung club seperti perumahan dan kafetaria terbuka adalah restorannya. Biasa orang dari kelompok hobi memasak yang mengurus kafetaria terbuka tetapi untuk yang ada di setiap gedung departemen, apa anggota mereka itu sendiri?
Beberapa menit setelah melewati tahapan yang sedikit menyulitkan untuk masuk ke gedung Departemen Eksekusi, kami tiba. Mulai menuruni tangga melintang; berpapasan dengan beberapa deret pintu metalik, hingga derap langkah pengolah simfoni berhenti.
Profesor Kaidan membuka dua gerbang pintu kayu yang cukup besar dan ... benar saja, terlihat dapur kecil lengkap dengan meja dan kursi. Cukup sepi, tapi bersih dan terawat.
Lantas aku berjalan ke arah kulkas dan mengecek---ah, bisa. Bahan makan terbilang cukup.
"Kita lebih sering bertugas keluar, dapur ini jarang digunakan. Wajar kamu juga tidak tahu. Terkadang Bapak dan beberapa staf sering pakai untuk membuat makanan cepat saji."
Begitukah? Pantas saja. Aku mulai menyiapkan beberapa bahan makanan. Kemudian menyisihkan makanan mentah ke atas meja, juga meminta beliau untuk duduk sembari menunggu.
Hawa panas mulai merangkul ketika kompor dinyalakan. Tampak dari celah ventilasi sinar mentari merambat masuk, membuat bumbungan asap beraroma terlihat jelas; juga suara cipratan minyak ketika bawang ditumpahkan ke atas panci.
"Ternyata kamu bisa berwajah tenang juga."
Mendengar itu sudut bibirku tertarik samar. Mungkin ketika memasak, secara tak sadar membuatku teringat padanya. Seperti yang Daniel katakan, melakukan hal kesukaan kami sewaktu dulu tidak buruk juga.
"Hooo, kamu terlihat andal. Cepat juga memotong-motong. Siapa yang ajarkan?"
"Orang terkasihku ... yang sudah tiada."
Ada jeda sebentar sebelum beliau kembali bertanya. "Red, sebenarnya apa yang terjadi di masa lalumu? Kamu bertemu lagi dengannya bukan?"
"Iya. Semua ingatan tentang masa laluku terasa seperti benang kusut. Mungkin memang ...," jawabku terpotong lantaran mendongak sebab aroma menusuk hampir membuat bersin, "... memiliki ingatan yang cukup kacau, seperti kata Profesor Caterine. Aku hidup sudah cukup lama dan sering terkena serangan jiwa. Semua berakhir rumit."
Aku menoleh untuk melihat beliau---eh, kenapa terlihat sedih? Apa aku masak selama itu? Dengan tersenyum gugup aku berkata, "Sebentar lagi jadi."
Aku pun kembali berkutat dengan masakanku.
Setelah memastikan rasa masakan, aku langsung menyajikannya ke atas meja depan guru waliku. Setelahnya duduk pada bangku tepat di depan Profesor Kaidan. Kemudian mengambil piring; bersiap untuk makan, begitu juga dengan beliau setelah melihatku mengambil satu suapan.
Aku turut tersenyum mengetahui Profesor Kaidan menyukainya. Setelah dirasa mulut kosong dari makanan, aku menjawab, "Bapak, dulu waktuku habis untuk belajar memasak dan bertahan hidup dengannya."
Perlahan aku mengambil makanan dengan sendok, tatapan ikut berubah sayu. "Sayangnya untuk bertarung ... aku harap, Bapak bisa mengajarkanku untuk masalah itu."
Mendadak Profesor Kaidan meletakkan paksa sendok miliknya hingga suara denting membuatku terkejut. Beliau menyandarkan kepala pada telapak tangan yang sudah bersandar di atas meja dan mengerang kecil. "Maaf. Aku benar-benar egois."
"Eh? Bapak tidak---"
"Bapak memang ambisius, terlalu mengejar cita-cita membawa harum nama keluarga demi membalas kesalahan waktu kecil. Berakhir tidak melihat perasaan sendiri, akhirnya Bapak merasa kesepian; tidak bahagia. Tapi setelah kau datang, terasa hati mulai terbuka."
Beliau mulia mengepalkan tangan ke atas meja seraya menautkan ibu jari.
"Bapak ... tidak bisa keras padamu. Tapi itu buruk, orang tua yang terlalu memanjakan anaknya itu buruk. Seperti kata Lucian, kamu tidak berkembang."
Aku terdiam mendengar itu. Sepertinya kata dari Head Master Lucian cukup menampar hingga terus memikirkannya seperti ini, tetapi entah harus membalas apa dan berucap apa ... hati terasa campur aduk, terlebih beliau tak henti mengucapkan maaf. Namun, mengharumkan nama keluarga? Sedangkan beliau juga memanggil Lucian kakak.
"Aku tak mengerti, bukannya Bapak satu keluarga dengan Head Master Lucian?"
Dengan menggaruk kasar rambut cokelatnya beliau menjawab, "Saat itu Lucian menemukan Bapak dan mengajak untuk bergabung dengan keluarga Rectorem, tapi Bapak menolaknya. Aslinya Bapak hanya seorang bocah dari desa kecil di timur tengah."
Detik kemudian Profesor Kaidan mengembuskan napas panjang. "Misal Bapak melupakan nama keluarga, siapa yang akan mengingatnya? Jadi Bapak ingin meraih kesuksesan dengan menyandang nama keluarga Dushku."
"Meskipun begitu, Lucian tetap menerima Bapak dan merawat hingga sekarang. Bapak tetap menganggapnya sebagai kakak, dengan begitu juga Bapak sangat mengabdi pada Lucian. Ya, begitulah ... Bapak menjadi terlalu perfeksionis dan berakhir menjadikanmu sebagai pelampiasan," lanjutnya dalam wajah kusut, pun tak henti mengesah.
Oh, jadi itu sebabnya beliau sangat loyal pada Lucian? Bahkan menuruti segala yang dikatakan, termasuk menembak jantungku ketika pertama kali ke Vaughan. Entah mengapa, mengingatnya membuatku merinding.
"Apa Lucian juga kehilangan? Karena beliau sangat menyayangi Fate ...."
"Ya, Lucian kehilangan istri ketika keluarganya di serang. Istrinya meninggal ketika masih mengandung. Itu meninggalkan luka yang mendalam untuknya hingga ia tidak mau lagi menikah dan sangat berambisi menghabisi seluruh naga yang tersisa."
Perlahan, mata beliau luluh atas sarat penuh kesedihan. "Saat itu juga sifat Lucian yang penuh kedamaian berubah eksentrik seperti sekarang. Mungkin tidak mau terlalu tenggelam dalam kesedihan. Andai anaknya lahir, mungkin persis seperti Fate. Istrinya sangat tenang dan pemikir cepat. Dan mungkin juga ... anaknya seumuran dengan Fate sekarang."
Masih menunduk, beliau tak henti bergumam, "Berbeda dengan Lucian yang serius merawat Fate, aku justru .... Maaf."
Sontak aku bangun dari duduk, menghiraukan makanan yang masih utuh demi singgah di samping Profesor Kaidan. Pelan-pelan, aku menyentuh dan menggenggam tangan beliau yang bebas di atas meja. Sebab itu, beliau tampak terkejut. Mungkin tak menduga kedatanganku tetapi tetap, aku tersenyum ... tulus dalam hati.
"Bapak sangat berpendirian, menurutku itu bagus." Beliau tertegun ketika menatapku tepat di wajah. "Sedangkan aku ... menyebut namanya saja tak mampu, tapi Bapak kukuh ingin membawa nama keluarga yang telah tiada. Aku juga ingin kuat, seperti Bapak!"
Kelopak mata beliau tersibak perlahan.
"Aku menghargai setiap perilaku dan tindakan Bapak. Sudah lama kehilangan dan lupa akan rasa kasih sayang tetapi Bapak kembali mengingatkanku akan hal itu, dan itu cukup membuatku bahagia."
Aku menunduk daripada menatap sang mata cokelat karena rasa tersipu mulai menyerang wajah. "Seandainya aku memiliki ayah, aku ingin Bapak menjadi ayahku. Sebab ayahku yang sesungguhnya ... ayahku yang sesungguhnya ...."
Detik itu juga lidahku kelu, kelopak mata pun tersibak lebar. Terasa iris hitamku bergetar ketika kepala kembali muncul suatu memori seperti gambaran pecah. Kulihat mereka bertujuh mengelilingi---akh! Kedua tanganku langsung mencengkeram dada sebab jantung berdetak kencang. Rasanya ingin berteriak demi melegakan batin merongrong tapi tak mampu, berakhir meringkuk dalam pilu.
Tujuh orang; tujuh dosa mematikan; tujuh iblis, ternyata aku---aku, ah!
Mendadak ada yang merangkulku dan saat itu juga terasa tenang secara perlahan. Pandangan turut memudar seolah-olah tirai kabut menghalangi. Dan dalam binar mata yang perlahan surut, tubuhku ... melemas.
"Red!"
Ternyata, bagaimanapun, aku memang anak iblis.
Bruk!