When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| Pemberian Tuhan



Setelah Fate berkata demikian, Crist setia membungkam membuat hening membubung hingga tak sadar, udara terasa berat pun beku seketika sampai terasa angin berembus ringan. Mungkin mengetahui aku dan Fate sama-sama buatan itu berlebihan? Apa lagi berasal dari dunia berbeda.


Sedangkan aku ... entahlah. Dibandingkan aku, Fate terlihat normal.


Pada akhirnya si gadis memecah sunyi dan berkata, "Dari awal yang aku ingat, aku selalu ada di sebuah laboratorium. Dikelilingi oleh orang-orang berjas putih dengan mesin-mesin yang tidak kumengerti fungsinya. Banyak hal yang tidak aku ketahui pada saat itu."


"Ada banyak anak-anak lainnya di tempat itu. Hampir setiap hari mereka menangis, menjerit, meminta untuk dikembalikan kepada orang tua mereka. Pada saat itu, aku yang dibesarkan di laboratorium ... tidak tahu apa itu orang tua."


Perlahan kelopak pualam terbuka hingga sorot mentari membias, membuat mata perak kebiruan seakan berpendar biru langit nan samar.


"Suatu saat, kami dikumpulkan di satu ruangan. Setelah itu ... satu persatu dari kami dibawa masuk ke dalam ruangan lain, yang terhubung dengan ruang tempat kami menunggu. Aku tidak tahu apa yang terjadi di dalam ruang itu, hingga giliranku tiba."


Wajah itu tetap dan terus datar tapi bibir tipis merah mudanya berkata, "Saat aku masuk, aku melihat banyak mesin dan kabel yang tersambung ke tabung kaca yang ada di tengah ruangan. Aku pun dimasukkan ke dalam tabung kaca tersebut. Setelahnya yang kutahu adalah rasa sakit. Seakan perlahan sesuatu ditarik keluar dari tubuhku. Badanku seakan mendidih tetapi terasa dingin pada saat bersamaan, seperti dikoyak tiada henti."


Walau masih menyantap makanan dalam kotak bekal di genggaman, Crist mulai melihat Fate dengan horor; seolah-olah mencoba mencerna dan membayangkan apa yang si gadis alami. Sedangkan aku mendengar itu, entah kenapa terasa ... tidak asing?


"Aku tidak tahu berapa lama rasa sakit itu ada. Hingga ... tidak sanggup lagi dan akhirnya menutup mataku," lanjut si gadis, "saat tersadar, aku sudah berada di ruang berbeda dan beberapa dari kami hilang. Setelahnya, setiap beberapa hari sekali, kami kembali ke ruang itu dan rasa sakit yang sama terulang lagi. Awalnya aku tidak mengerti, apa yang orang-orang ini lakukan pada kami? Rasa sakit apa ini yang seakan membunuh kami secara perlahan?"


"Ya ampun, dunia asal kalian berdua gila ... untuk apa hal-hal gila ini mereka lakukan?!" keluh Crist diikuti memasukkan banyak nasi dalam mulutnya.


"Perang," jawabku, mengundang si pemuda yang pipinya sudah gembul sebab makanan menoleh padaku, "mungkin ... yang terjadi di dunia Fate adalah perang."


"Benar. Beberapa saat berlalu, akhirnya aku tahu jawabannya. Yang diambil dari kami semua adalah kekuatan sihir. Kekuatan kami diambil paksa dan dijadikan sebagai baterai untuk senjata mereka dalam perang," jelas Fate kemudian, "harusnya kami semua mati setelah kekuatan sihir kami diambil paksa, karena tubuh anak kecil tidak akan selamat dari menahan rasa sakit. Tapi mereka tidak mengizinkan kami untuk mati."


"Fate, jadi maksudmu---ack!" Si pemuda tampak menelan paksa seluruh makanan yang dikunyah, pun kembali berkata, "Tubuhmu sekarang ... bukan tubuh aslimu?"


Seperti biasa, Crist tanggap terhadap sesuatu yang dikatakan.


"Bisa dibilang. Kekuatan sihir berasal dari jiwa dan emosi, karena itu mereka menyiapkan tubuh cadangan untuk kami yang dibuat dari proses kloning. Setiap proses pengambilan sihir selesai, jiwa kami akan dipindahkan ke tubuh baru. Dan proses itu terus berulang, hingga kami kehilangan emosi kami. Anak-anak yang benar-benar kehilangan emosinya dibuang atau dimusnahkan, karena sudah tidak berguna. Tanpa emosi, sihir tidak akan bereaksi sepenuhnya."


Crist melihat aku dan dia secara bergantian, mengesah lalu memijat kening. Sedangkan Fate masih melanjutkan ceritanya.


"Aku adalah satu-satunya yang tersisa, satu-satunya yang bertahan hingga akhir. Pada saat ayah angkatku, Arthur, menyelamatkanku ... aku sudah kehilangan hampir seluruh emosiku. Meski telah diselamatkan dan bertahun-tahun diberi kasih sayang dan diajarkan tentang emosi ... terkadang, emosi-emosi yang ada masih terasa asing. Mungkin karena inilah wajahku selalu datar."


Ah, kekuatan sihir yang besar ... memang sihir--kekuatan dragonic untuk sebutan di dunia ini--milik Fate sangatlah besar. Mungkin baru sekarang aku bertemu yang sebesar itu, selain Lucian dan orang terkasihku. Terlebih Arthur begitu memperhatikan Fate, sampai meminta izin Lord Metatron menyampaikan tentangnya padaku---tunggu, apa ini ada kaitan dengan bahaya besar yang dulu beliau pernah sebutkan?


Sontak aku mengarahkan mata jelaga ke depan tetapi Fate langsung menunduk, memperhatikan kedua telapak tangannya yang terentang.


"Meski jiwaku asli, tubuhku tidak. Semua yang dibuat manusia memiliki batasan, termasuk tubuh ini. Aku ... tubuh ini tidak seharusnya bertahan lama. Dokter yang membantuku mengatakan, usiaku tidak akan lebih dari delapan belas tahun. Akibat tubuh palsu yang kugunakan, staminaku di bawah normal dan suhu tubuhku selalu di bawah normal."


Mendengar itu aku langsung tertegun bersamaan dengan napas berhenti sesaat, jantung ikut berderu lantaran bagaimana bisa? Umurnya---


"Itu sebentar lagikan? Umurmu ...," tanya Crist yang entah kenapa ingin aku utarakan terlebih dulu tapi tak sanggup.


Lantas Crist mengembuskan napas, sedangkan aku ... kenapa belum merasa lega mendengarnya? Hingga tiba-tiba mata perak kebiruan tertuju kepadaku.


"Aku menceritakan ini semua bukan tanpa alasan. Red, alasan mengapa aku bilang kau manusia ... karena meski tubuhmu dibuat dari bagian iblis tujuh dosa mematikan. Jiwamu hanya Tuhan yang bisa memberikan."


Dan aku terkejut sampai kelopak pucat tersibak, sedangkan si gadis tak henti berkata, "Secanggih apa pun teknologi manusia; sekuat apa pun iblis, yang dapat memberikan suatu makhluk jiwa ... hanyalah Tuhan."


Apa?


"Kau memiliki hati dan akal. Satu-satunya makhluk yang diberikan hati dan akal adalah manusia. Karena itu, kau manusia," lanjutnya lagi, tetapi ... kepalaku, kosong seketika.


Bagaimana? Ah? Aku tidak mengerti.


"Jika kau bilang kau bukan manusia karena tubuhmu ... maka berdasarkan hal itu, aku pun bukan manusia."


Kenapa? Aku---ack! Seketika dalam kepala terasa dengung yang begitu mengusik dan membuat penglihatan membuyar; memancingku untuk menutup mata rapat-rapat dan menunduk.


Setelahnya ... tidak tahu apa yang terjadi. Berapa lama? Tidak tahu. Aku hanya mengernyit. Menggeram. Menahan kepala dengan sebelah tangan. Membungkuk menahan sakit. Kepalaku berat dan tak dapat lagi berpikir.


Serpihan ingatan seperti kembali tapi aku tak dapat membacanya dengan jelas. Sekilas; sesaat, dalam kepala melihat ada anak kecil depan pohon besar---ah, apa ini?! Lalu banyak tangan semu putih menggapainya dari atas. Namun, suara gema tak henti memenuhi kepala. Apa yang mereka ucapkan? Apa? Berbicaralah satu-satu! Apa yang ingin kalian sampaikan? Apa?! Tak tahan! Aku memaksa kelopak untuk membuka tetapi ....


Terlihat ada mata biru menatap tajam dalam kilau menari-nari laksana komet mengitar dan seketika, napasku berhenti. Sebab ini bukanlah tatapan biasa, melainkan---


Aion?


'Kamu manusia dan kamu terlahir dari rahim!'


Brak!


"Red?" Lantas aku menoleh ke asal suara; Crist menatapku heran dalam kotak bekalnya yang telah kosong.


Ternyata aku telah berdiri tegak sampai bangku yang diduduki terhempas, napas juga terengah. Astaga, apa itu ... tadi?


"Fate ... di mana Fate?" tanyaku terbata-bata, napas masih belum menunjukkan tanda akan menenang.


"Dia sudah pergi dari tadi, mendapat panggilan telepon. Kamu lupa?"


Eh, begitukah? Ah, lemas seketika. Refleks aku menyangga raga agar tak ambruk, bersandar atas meja dengan kedua lenganku yang tegak. Seketika itu juga keringat sebesar jagung menetes ke atas meja kayu ketika tubuhku tersentak. Aku ... kenapa lagi? Apa yang terjadi?


"Red, kamu baik-baik saja? Kenapa?" tanya Crist, tapi aku hanya menatapnya datar.


"Aku juga ... tidak tahu."