When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| Tidak Baik-Baik Saja



Lagi-lagi berada dalam ruang putih nan khas yang dipenuhi rak kaca berisi berbagai macam jenis obat, tapi kondisiku tidak sedang sakit, jujur saja. Meskipun pukulan dari Daniel memang lumayan membuatku terkejut hingga terjatuh, mungkin ... hanya meninggalkan sedikit nyeri, dan itu tidak terlalu parah sampai harus masuk ke ruang rawat bukan?


Ah, mungkin hanya pengecekan sementara? Tapi tetap saja ....


Apa lagi sampai diberikan tempat untuk duduk di dekat jendela yang kini terbuka lebar hingga desir angin terasa meniup punggung, juga tira-tirai yang melambai lembut di kanan dan kiriku. Agar aku bisa bernapas dengan baik katanya, padahal sama sekali tidak merasa sesak.


Rasanya, mereka berlebihan menanganiku.


"Tadi ada kejadian apa?" tanyaku pada dua orang yang tampak sibuk di depan sana.


"Bapak membawamu ikut menjenguk Fate bersama teman-teman club-mu, mungkin dengan begitu kamu bisa merasa jauh lebih baik."


Akhirnya Profesor Kaidan menurunkan ponselnya setelah sekian lama mengetik sesuatu, dan lanjut berkata, "Kelihatannya kamu masih syok melihat keadaan Fate. Setelah mendengar penjelasan Fate koma karena terlalu memaksakan diri menggunakan Time Stop sendirian, kamu langsung bertingkah aneh dan mengeluarkan Sabel ... berusaha menyakiti diri sendiri."


"Hah?!" kejutku sampai duduk tegap sempurna. Tuhan, sampai menggunakan Sabel? Separah itukah?! "Ta-tapi aku tidak mau lagi menyakiti diri sendiri---"


"Kamu mengalami halusinasi berat sampai badan tidak mau bergerak, atau bergerak dengan sendirinya yang disebut Katatonik. Tapi itu baru diagnosis awal," timpal Crist dalam aksen datarnya, wajah juga tak menunjukkan ekspresi berarti. Hanya menatap meja alumunium penuh berbagai benda yang tak henti dia gunakan untuk mengobati luka memar dan bekas sobekan besar di tangan kiri.


Sepertinya ... karena membentur bangku besi terbilang dia tersungkur lumayan lama di sana? Namun, sudah ditangani dengan baik--mungkin menggunakan skill healing?--terbilang tidak ada pendarahan.


"Kamu tidak merespons orang lain dan rangsangan yang ada seperti pikiran sudah tidak terhubung dengan kesadaran. Badanmu agak kaku, bahkan tidak bergerak sama sekali. Lebih berbahaya lagi kamu pernah bergerak dengan sendirinya; pergi berjalan-jalan sampai sulit ditemukan, untung saja tidak terluka."


"Setelahnya, dua hari belakangan kamu sempat merespons dengan baik walau pikiran tampak belum fokus pada dunia nyata. Kami berusaha membuatmu untuk sadar sepenuhnya," lanjut Crist, kemudian meringis kecil karena memijat siku tangan---ah, pasti ngilu.


"Makannya Bapak berinisiatif membawamu menjenguk Fate, malah berakhir buruk. Crist sempat ingin menghentikanmu untuk melukai diri, tapi kamu langsung menghempasnya."


Astaga, jadi itu karenaku?!


"Aaah, Crist! Maaf aku tidak bermaksud---"


"Tidak apa, Red, aku mengerti. Lagi pula apa yang aku alami tidak sebanding dengan dirimu." Crist menghentikan kesibukan tangannya demi tersenyum padaku. Suatu senyum yang biasa diperlihatkan dan kini kumengerti ... bahwa itu adalah senyuman palsu.


Tunggu-tunggu, kalau mengeluarkan Sabel berarti aku membawa Heart Core? Lantas mulai mengecek diri sendiri. Dan ternyata memang mengenakan baju lengkap berserta tas pinggang, mungkinkah Profesor Kaidan yang mengurusku selama ini?


Pantas saja Daniel memukulku kuat-kuat sampai berteriak seperti tadi. Namun, berkat itu aku bisa membuka mata sebagaimana yang ia serukan. Tampaknya secara tidak sadar pula--di bawah alam sadarku--mulai menyalahkan diri sendiri atas kondisi Fate yang berakhir koma, karena masih ingat dengan jelas belum melapor perihal sukses melakukan Ultimate Skill Soul Dancer bersamanya.


Aku merasa senang sempat mengucapkan terima kasih kepada Daniel.


"Apa boleh bertanya?"


"Tentu saja!" Waaa! Profesor Kaidan dan Crist menjawab secara bersamaan, kompak sekali.


"Jika suatu saat kondisiku memburuk seperti tadi, apa bisa melakukan hal sebagaimana yang Daniel lakukan? Seperti ... seperti, memukulku?"


Heee, mereka langsung membuang muka. Sepertinya tidak bisa? Lantas aku mengukir senyuman canggung, kenapa juga bertanya semacam itu?


Seketika hening. Matahari memancarkan sinarnya, menghangatkan diriku juga ruang ini tetapi wajah-wajah mereka semakin terlihat gusar pun suara detak jam menjadi irama kekecutan tersendiri.


Hingga suara embusan napas nan panjang mengudara, Profesor Kaidan beranjak dari bersandar di dinding tembok dan menepuk pundak Crist. Lantas dia mengangguk seperti mengerti maksud dari gelagat beliau.


Kemudian langkahnya menuju ke arahku. "Bapak senang kamu sudah jauh lebih baik, jaga dirimu ya. Bapak harus pergi mengurus sesuatu." Satu tepukan di kepala kurasa, dan beliau mulai meninggalkan ruang.


Aku pun terdiam, sorot mata akhirnya terpaku pada Crist yang sekarang sudah selesai menangani lukanya sendiri. Dia terbilang andal, kemungkinan keahliannya lahir karena menjadi anak didik dokter terbaik di Vaughan, apa lagi sebelum ini menolak untuk diberikan perawatan oleh beberapa staf yang berdatangan.


Hal ini mengingatkanku mengenai surat yang dulu pernah Crist berikan, berisi tanda tangan Profesor Kaidan; Profesor Caterine; Head Master Lucian; juga ... tanda tanganku. Pembahasannya memang rahasia kelas atas, seperti kerahasiaan diriku yang abadi; berasal dari dunia lain.


"Sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri seperti itu?"


Pandanganku berakhir sayu. "Jika dibiarkan terus, berbahaya 'kan?"


Satu-satunya lawan bicaraku tak menjawab tetapi wajah masih belum menunjukkan ekspresi. Lebih-lebih, binar iris biru tua ikut redup dan akhirnya, dia memejamkan mata.


Selang beberapa menit, Crist menjawab, "Iya. Dari awal kondisimu tidak baik-baik saja."


Aku membalasnya dengan bergumam dan perlahan mulai menunduk.


Dalam surat juga dijelaskan memang kondisiku tidak baik-baik saja.


Aku mengalami depresi berat karena trauma di masa lalu--PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder). Itu mengapa memiliki kecenderungan untuk menjauhi hal yang membuat traumaku kambuh seperti memegang pedang, karena takut kembali membunuh; menghindari manusia, karena takut kembali disakiti; terus menyendiri, karena takut kehilangan.


Akhirnya sering terjadi penolakan batin. Terlebih memiliki gejolak emosi yang tak biasa seperti mudah merasa sedih dan menangis. Apa lagi berkali-kali ingatanku dipermainkan oleh pihak lain, berakibat pemikiran negatif sukar hilang pemicu depresi semakin parah.


Dijelaskan pula karena depresi ini aku sering berhalusinasi dan mengalami tahapan berat seperti yang tadi Crist sebutkan, Katatonik.


Katatonik merupakan kumpulan gejala dalam perilaku dan pergerakan tubuh yang mungkin terjadi pada beberapa pasien dengan skizofrenia, orang yang cacat genetik sejak lahir sehingga sukar membedakan mana imajinasi dan mana dunia nyata.


Namun, karena rentang waktunya terjadi tiba-tiba dan bukan sepanjang waktu, mereka memperkirakan diriku mengidap Katatonik sebab Episode Psikotik singkat dari halusinasi karena pancingan syok, bukan cacat ketika lahir.


Kemungkinan ada kerusakan pada jaringan otak juga terutama pada daerah depan yang memengaruhi tindakan keseharian dan proses berpikir. Itu sebabnya halusinasi bisa terjadi, akibat dari penyakitku tidak langsung ditangani dalam waktu lama hingga terus semakin parah, sebab ketidaksinambungannya hormon dalam otak.


Mengerikan bukan? Tentu saja semua baru perkiraan, tapi bisa jadi benar adanya karena umurku sudah hampir ribuan tahun; terus menerus tenggelam dalam kegelapan ditambah jiwaku memang rusak.


Dan aku harap, entah bagaimanapun caranya, Vaughan bisa melakukan sesuatu padaku.


Sebab mereka mengatakan penentuan gejala secara pasti baru bisa ditetapkan setelah pemeriksaan lebih lanjut, lalu mereka akan turun tangan mengobatiku.


Namun, karena aku merupakan kasus langka dan berasal dari dunia lain yang status jelasnya belum diketahui; fakta lain memiliki keabadian dan aura tak biasa, maka pengobatan dan terapiku memiliki beberapa risiko.


Apabila pengobatan dan usaha pemulihan berakhir buruk, mereka akan menghapus ingatanku dan menggantinya dengan yang baru. Jika gejala penyakitku kembali kambuh, maka ingatan akan terus diganti dengan yang baru.


Andaikan sampai hilang akal dan berakhir lepas kendali, maka aku akan dibasmi saat itu juga.


Dikarenakan abadi, maka tindakan untuk membunuh akan dikesampingkan. Mereka memilih jalan lain dengan mematikan seluruh saraf terbilang keabadianku hanya menangani luka di tubuh, bukan bagian otak, terbukti dari penyakit yang kuderita.


Atau cara lain yaitu penyegelan. Hal terburuk, Vaughan akan melakukan uji coba yang memanfaatkan keabadianku demi khalayak banyak umat.


Sebab risiko-risiko tersebut, mereka membutuhkan izin penuh dariku dengan kesadaran penuh pula.


Memang ini pilihan teramat sulit, bisa dibilang sangat merugikan. Seperti yang Fate katakan tentang orang abadi di dunianya, mungkin aku berakhir menjadi tikus laboratorium tetapi---


"Ah, ya, sekarang kamu sudah baik-baik saja. Aku akan menyiapkanmu beberapa obat untuk berjaga-jaga." Lantas perhatianku tertuju pada Crist yang sudah berdiri dari duduk, lalu melangkah pada rak kaca penuh obat.


Tetapi aku sudah memutuskan. Mungkin juga ini bisa menjadi balasanku untuk pihak Vaughan.


Terlebih masih ingat jelas di malam itu, pertemuanku dengan Apple dan keputusan untuk terus melangkah. Lantaran hanya ilusi, sungguh terasa nyata. Pun sekarang sudah ingat akan seluruh memori yang aku miliki.


Dan tidak mau lagi ... lari dari masalahku sendiri.


Langsung aku merentangkan tangan untuk menolak pemberian Crist dengan mendorong botol kaca penuh obat kapsul tersebut. Sebagai ganti, tangan kananku menyerahkan amplop cokelat berstempel emas dari dalam tas pinggang, membuatnya membelalak sampai iris biru tua terlihat utuh.


Kemudian berkata mantap, "Aku menyetujui untuk melakukan terapi yang Vaughan ajukan."