
Merah?! Benarkah? Aku mulai mengelus rambut sendiri, rasanya masih seperti biasa tapi memang sudah sangat tebal ... sebentar, bukan itu masalahnya!
Mata jelaga mulai menatap mereka---ah, semua orang melihatku dengan ekspresi heran. Sepertinya memang bukan lagi hitam, tapi bagaimana bisa? Karena diberi cat rambut pun tidak berpengaruh.
Mendadak Fate bangkit dari duduk dan berjalan. Dia sedikit terhuyung-huyung, sepertinya terlalu lelah sampai masih setengah tidur begitu. Apa gadis ini akan baik-baik saja? He? Langkahnya berhenti tepat di depanku. A-apa yang akan Fate lakukan?! Dia mulai membungkuk---hah, dekat sekali wajahnya! Mata perak kebiruan sayup-sayup melihatku, bahkan semburat merah di pipi menambah kesan ... manis!
Jantungku seperti genderang sekarang, bahkan napas menjadi tak teratur. Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku bertingkah seperti bukan diri sendiri?! Terlebih ketika lengan jenjang itu mendekat ke wajahku, perlahan mengelus kepala, terasa jemari lentik menyisir setiap sisi rambut membuatku---ah, ini berlebihan!
"Lebih baik ... kamu ... lapor Pak Kaidan."
Aku mengedip berkali-kali, merasa sedikit tersipu ... sadar Red! Ah, benar harus melapor pada guru wali---
Bruk!
Ha! Ketika Fate hendak kembali berdiri tegap ia justru terjatuh, ke arahku! Refleks aku mendekap---tunggu, tidak boleh! Apa-apaan ini?! Astaga, langsung aku menyembunyikan kedua tangan ke belakang punggung dan mendudukinya. Seketika badan membeku ketika tubuh semampai itu masih lekat di dadaku. Selalu saja salah tingkah, seperti pertama bertemu---tidak, bahkan semakin parah!
Aku tak mengerti sebenarnya kenapa---ah, rasanya baru sekarang ada perempuan sedekat ini padaku selama ... mungkin ratusan? Ribuan? Terakhir adalah orang terkasihku tapi---
"Maaf Red, masih mengantuk ... keseimbanganku agak kacau."
Aaaa, apa yang harus aku lakukan?! Malu sekali! Mati sajalah---sebentar, aku immortal! Apa harus membantunya berdiri? Karena Fate mulai menyentuh pundakku seperti berusaha untuk bangkit, tetapi rasanya ingin berkata tak apa beristirahat sebentar dan tetap di pangkuanku---berhenti! Red, astaga, sadar diri! Tuhan, kenapa pikiranku menjadi liar?!
Namun, wangi tubuhnya tercium karena jujur ini sangat dekat; harum mengalahkan parfum yang aku gunakan sekarang. Aku seperti ... tidak bisa bergerak, badan beku tiba-tiba dengan jantung tak henti berdentum. Tuhan, tolong lindungi aku! Karena dalam dada ada suatu rasa tak biasa tumbuh, seperti suatu gejolak yang membara---ah, aku menekannya kuat-kuat dan memejamkan mata.
Akhirnya beban pada kaki jenjangku menghilang, sepertinya Fate sudah benar-benar berdiri sempurna. Aku mengembuskan napas panjang dan perlahan membuka mata. Ah, gadis itu mulai sedikit memiringkan kepala dan mengusap mata dalam gelagat lugu. Ha-ah, memang sungguh manis!
Dengan sedikit menguap, wajah pualam itu menyisir sekitar, melihat jam dan mengangguk kecil. "Lebih baik aku kembali ke mansion sekarang, perlu siap-siap."
Saat itu juga Fate langsung pergi dari ruang club, Cecil tampak mengejarnya lantaran ... khawatir? Karena gadis itu masih berjalan sempoyongan.
"Tunggu Fate! Pagi ini tuh bukan aku yang siapin sarapan, biar aku antar!"
Aku---ah, pikiranku melayang sekarang. Astaga, iya, masih terlalu pagi. Samar-samar dalam kepala teringat dulu pernah mengalami kejadian seperti ini.
Saat itu kami hanya tinggal berdua di tengah hutan, masa yang begitu hangat. Orang terkasihku memandang dalam tatapan sayu. Mendekat dan mengusap wajahku dengan buku-buku jari atas mata redup dan teduh. Lalu ia mendekat, menguar aroma yang manis. Berbisik lembut dan napas hangatnya menggelitik telinga, membuat pikiranku terbang. Lalu dia ... lalu kami---
"Red! Sudah kelar mengkhayalnya? Nikmat?!"
"Ha! Daniel?!"
Fokusku kembali ketika Daniel tak henti memukul punggungku sembari tertawa lepas. Astaga, sakit sekali ... laki-laki pirang ini tidak main-main. Aku mulai melihat sekitar---heee? Kenapa mereka menatapku begitu? Apa ada yang lucu?!
"Red, kamu baik-baik saja? Masih sadar?"
Aku langsung menoleh ke samping---ah, Crist. Namun wajahnya tak dapat kubaca, dia khawatir atau menahan tawa? Memangnya aku kenapa? Ada yang salah?!
"Aku enggak pernah lihat senior Red salah tingkah ...."
"Hu um. Ternyata mempunyai sisi lembut, kukira dia horor."
"Hehehe, sampai malu-malu. Wajah merah serasi dengan rambutnya sekarang."
"Ha, haaa! Aku bisa dengar!" Seketika aku langsung menyalak.
Akh, kepalaku pusing! Ini terlalu berlebihan. Tetapi tidak sesuai perkiraan, mereka justru ... terkekeh? Apa aku kehilangan karisma? Bahkan tangan-tangan itu mulai menjulur dan ingin menyentuh kepalaku---baik, cukup!
Dengan kuat aku berdiri--sedikit melompat--dengan kaki kukuh menjejak bumi. Ternyata memang aku paling tinggi. Namun, mereka tak henti melihatku dengan tersenyum---ah, aku harus segera melapor! Tanpa pikir panjang langsung mendorong mereka semua dan berlari keluar gedung club, memusatkan fokus untuk bertemu Profesor Kaidan.
Astaga, kukira sudah terlepas dari neraka, ternyata itu hanya berubah menjadi cobaan lain! Tuhan, tolong aku ....
"Red! Jangan lupa sarapan!" Samar-samar aku mendengar Crist berteriak---hah, mana terpikirkan untuk makan di saat seperti ini?!
Aku mulai menelusuri jalan setapak.
Kenapa bisa ... benar-benar bukan seperti diri sendiri! Aku terus saja berlari hingga napas terasa berat, berharap rasa ini juga turut larut dalam langkah tetapi tidak, kepalaku tak henti-hentinya memikirkan gadis itu. Seharusnya aku tidak memiliki perasaan ini karena tak layak; tidak sepantasnya aku bisa dekat dengan Fate, apa yang harus aku katakan pada Sen nanti?
Dengan terburu-buru aku melewati tahapan memasuki gedung Departemen Eksekusi. Ah, aku tak bisa melakukannya dengan cepat karena tangan tak henti bergetar ketika melakukan pemindaian. Ayo Red, fokus!
... Akhirnya!
Ah! Seketika suara debam menguar kala ragaku telah mencumbu lantai. Tanpa sengaja menabrak sesuatu---ralat, seseorang.
"Staf Oumar! Maaf saya tidak memperhatikan jalan."
Bergegas aku berdiri dan mengulurkan tangan untuk membantu beliau. Pria paruh baya itu tersenyum masam, menggenggam telapakku dan meregangkan badan ketika kaki berdiri sempurna. Ah, aku harus lebih berhati-hati.
"Tidak perlu diambil pusing, aku tak apa. Omong-omong kamu baik-baik saja? Wajahmu merah---"
"Hah! Jangan sentuh!" Refleks aku melangkah mundur dan menghalau muka dengan lengan kanan. Tidak-tidak, jangan bertingkah seperti ini, Red! Lekas aku menggeleng dan menatapnya. "Sa-saya mencari Profesor Kaidan, apa beliau ada di ruangnya?"
"Ho? Ada, ruangnya terbuka karena Tuan Kaidan menunggu gelombang informasi dan laporan."
"Terima kasih, saya pamit dulu." Segera aku membungkuk sebagai tanda penghormatan dan kembali menyegerakan langkah.
Benar-benar ... entah terlalu terbawa perasaan sendiri seperti biasa, atau hal lainnya. Sebab kini, aku sama sekali tak mengerti suasana hati sendiri.
Napas berat menemani dalam derap cepat, sampai pada akhirnya tiba di depan ruang guru waliku. Lantas aku mengembuskan napas lega dan menyandarkan tangan di atas dua lutut. Beliau seperti terkejut melihat kedatanganku tetapi aku butuh waktu sebentar untuk mengatur napas.
"Red? Ada apa?"
Langkah nan tegas menggema, terasa beliau mendekat. Namun aku belum mampu menjawab, masih terengah-engah.
Akhirnya sunyi menemani tapi terlihat beliau setia berdiri di depanku karena kaki itu belum berpindah. Eh? Suara ini ... aku langsung mendongak dan melihat---
"Bapak! Berhenti mengambil fotoku! Aku ke sini karena ada yang harus dilaporkan!" omelku, segera berusaha mengambil ponsel dalam genggaman beliau.
"Hahaha, aduh Red, jangan marah. Iya-iya, ada apa?" Cepat sekali beliau menyembunyikan ponselnya ke belakang punggung. Aku berakhir menatap dengan ekspresi kesal tetapi bukannya cemas, Profesor Kaidan justru tersenyum lebar dan ... tersipu? Apa-apaan itu, aku sungguh-sungguh! Kini tangannya pun mengelus kepalaku.
"Bapak! Iya, ini! Rambutku ... rambutku merah!"
"Iya, Nak, Bapak tahu. Kamu kelihatan manis kok."
"Hah?! Bukan itu maksudku! Dan juga manis dari mananya?! Aaaagh, berhenti mengambil fotoku!!"
"Ahahaha, tenang Nak! Ya ampun, kamu marah-marah begini lucu juga." Seketika beliau merangkulku kuat-kuat dan mendekatkan ponsel miliknya di antara kami. "Lihat? Jika dibandingkan dengan pertama kamu datang, tidak ada ekspresi dan tatapanmu dingin."
Tuhan, banyak sekali fotoku di sana ... bahkan ada dalam berbagai macam keadaan dan misi, seperti penguntit---cukup! Kenapa aku mulai berpikir yang tidak-tidak?! Tentu beliau punya karena Profesor Kaidan adalah waliku. Itu hal normal bukan?
Mendadak terasa tangan beliau yang merangkul pundak turut mengelus kepalaku. Beliau terkekeh dan lanjut berkata, "Tapi ini yang Bapak paling suka---"
"Hah!"
Spontan aku menghempas ponsel dari hadapan. Ah! Untung saja itu berakhir mendarat tepat ke depan muka guru waliku---tunggu, mana ada untung?! Hidung beliau berakhir memerah seperti orang mabuk!
"Ma-maaf! Tidak tahu kenapa ... aaaah!!"
Aku langsung menutup wajah menggunakan kedua tangan. Kenapa bisa ... mengapa Profesor Kaidan punya fotoku ketika tertidur di pangkuan Fate?! Itu sudah sangat lama! Waktu itu sebelum beliau membawaku ke kamar, Fate sempat katakan beliau mengambil fotoku dulu 'kan? Untuk apa?! Mata jelaga kembali aku arahkan pada orang tua di depan.
Kini Profesor Kaidan tampak seperti ... berpikir? Apa akhirnya beliau menganggapku serius?
"Oh, Bapak mengerti sekarang!"
Tuhan, akhirnya! Aku pun melihat beliau dengan sungguh-sungguh.
"Red, kamu sedang masa puber!"
"Ha?! Masa puber? Aku sudah berumur ribuan tahun!"
Namun beliau seperti tak mendengarkan, justru tertawa lembut dan menepuk-nepuk pundakku. "Tidak apa-apa, Nak. Bapak mendukungmu!"
Apa-apaan ... mendukung apa? Sampai bergaya bangga dan menampilkan ibu jari?! Haaah, kenapa hari ini sangat kacau? Masih pagi namun terasa lelah, rasanya ingin menangis ....
"Waaah, maaf Red! Bapak tidak bisa menahan diri. Sini-sini, ada apa? Ayo bicara sama Bapak."
Kini beliau menuntunku untuk duduk pada sofa hitam dalam ruangnya. Aku mulai mengusap-usap wajah dengan lelah dan mengembuskan napas panjang. Dengan lesu aku berkata, "Bapak tahu sendiri bukan apa yang aku---"
"Ehem!"