When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| Pembukaan Sparing



Seluruh anggota berkumpul dalam ruang yang di bawahnya ada arena simulasi dikelilingi bangku penonton bertingkat-tingkat, seperti stadion namun begitulah lokasi sparing kami pada Gedung Pusat Pelatihan.


Setelah kompetisi dengan sesama anggota club, tiga orang dari babak final akan tanding dengan tiga orang terbaik club lain dan nantinya hasil peringkat bisa ditetapkan. Posisi peringkat ini memang tidak berpengaruh banyak pada grade dan misi kita--bisa saja Grade B mengisi peringkat atas. Namun, untuk sebagian orang itu merupakan ajang tunjuk gigi yang tepat dan suatu kebanggaan tersendiri.


Ketika pertandingan antar club, bangku-bangku penonton biasanya akan sangat penuh. Masih ingat persis kericuhan waktu itu, ketika aku berhasil mengalahkan ketua Club Mercy--Lux Fedrian--para penonton bersorak, ramai sekali. Tapi sekarang masih tanding dengan sesama anggota club, tidak ada siapa pun di sana.


Hanya kami di tempat tertutup paling atas stadion. Tiga layar besar menggantung di tembok kaca, membuat siapa pun dalam ruang bisa memilih untuk menonton siaran melalui televisi besar itu atau melihat langsung ke bawah.


Tiga kamera pengintai bertengger di sisi lapangan simulasi, menampilkan situasi di bawah untuk televisi ruang ini. Rekaman sparing biasanya akan disalurkan untuk bagian pusat akademi sebagai dokumentasi dan pengawasan setiap wali murid, tidak didistribusikan untuk umum. Jika salah satu club ingin rekamannya sendiri, mereka harus memilih seorang utusan dan membuat laporan perizinan terlebih dulu.


Tak lama terdengar suara tepukan tangan yang keras, hanya sekali namun sukses menarik seluruh atensi menuju pada Profesor Kaidan.


Dengan membaca dokumen di genggaman tangan kanan, beliau berkata, "Club Dion jumlah sembilan orang, ganjil, akan ada satu orang yang langsung melewati babak pertama. Untuk detailnya silakan cek datanya, sudah Bapak transfer pada Heart Core kalian." Di saat bersamaan layar holografi biru terbuka di depan masing-masing kami, menampilkan akar data pertarungan.


Ah, ternyata aku yang melewati babak pertama. Aku menutup mulut dengan tangan kanan, mencoba berpikir ... mungkin karena berturut-turut menduduki peringkat satu Club Dion sehingga dibebaskan untuk babak awal? Jika Cecil menang, selanjutnya dia akan melawanku.


Kulihat rata-rata member inti club melawan Fate dan nanti akan menyambut Daniel sebagai lawan pertama. Aku pun melambai di depan layar demi menutupnya dan mengembuskan napas panjang.


"Jika sudah siap, peserta pertama silakan ikuti Bapak, kita turun dan jangan lagi mengulur waktu," tegas beliau sembari melihat jam di pergelangan tangan kiri, "Bapak harap bisa menyelesaikan sparing ini sebelum malam."


Beliau masih mengenakan jam tangan yang aku berikan, itu sedikit membuatku merasa tersipu, tapi berusaha menghindari kontak mata dengannya.


Tidak seperti mereka, duduk tenang---oh, ada yang sedikit gelisah pada bangku-bangku dalam ruang, aku memilih mendekati dinding tembok kaca. Ingin melihat pertarungannya secara langsung daripada melalu siaran. Hingga akhirnya langkah sepatu sang guru pengawas mulai menjauh dan tenggelam.


"Sepertinya sparing kali ini akan seru."


Aku menoleh ke asal suara, yaitu Crist yang berdiri di samping dengan menggenggam handycam sejajar pundak kanan. Senyum tengil terukir di bibir, bahkan kedua mata biru ikut terpejam. Tidak tahu apa maksudnya, dan sepertinya ia yang bertanggung jawab dalam rekaman club kali ini.


"Crist, apa kamu ... akan merekam seluruh pertandingan?"


"Hm? Lihat saja nanti."


Aku menatapnya dalam-dalam, entah kenapa merasa ada yang tidak beres. Tak biasa Crist seperti ini. Maksudku, memang ia sering tersenyum tetapi gurat sabit itu terlihat berbeda. Aku memejamkan mata dan menutup mulut dengan tangan kanan, ia seperti ... ingin usil? Kembali menoleh---ah, pemuda ini bukan tipe yang seperti itu. Ia lebih seperti menantikan sesuatu.


Aku memutuskan mengalihkan fokus pada arena simulasi. Lantai neon dan metalik di bawah berpendar dan yang terjadi setelahnya itu berubah menjadi lapangan pasir yang sangat luas. Berdiri dua siswa saling berhadapan, satu Executioner dan yang lainnya lagi adalah Gunner. Aku menyandarkan kepala pada kaca, melihat baik-baik setiap gerak-gerik mereka.


Tunggu dulu ... kenapa Profesor Kaidan juga ikut turun ke lapangan? Walau aku tahu arena ini sangat besar tetapi guru pengawas ada tempat berdirinya sendiri dan itu di sisi kiri, dekat pintu masuk ke ruang simulasi. Apa mereka menetapkan ketentuan baru? Karena sungguh tak biasa.


Yang dituju tak langsung membalas, justru menyeringai dan membenarkan posisi kacamata frame hitamnya dengan gaya penuh rasa bangga. Apa-apaan itu? Sepertinya yang ia tunggu-tunggu yaitu aku menanyakan masalah tersebut.


"Setiap departemen memiliki kode etiknya masing-masing dan kali ini, kode etik Departemen Disiplin diangkat. Maka dari itu pengawas akan turun langsung ke lapangan."


Aku sedikit memiringkan kepala. Memang benar setiap departemen memiliki kode etik masing-masing demi menjunjung tinggi visi dan misi. Yang aku tahu hanyalah kode etik Departemen Eksekusi: hormat, tunduk, patuh; tak gentar terhadap apa pun dan melindungi seluruh manusia tetapi tanpa ampun pada naga; berani menyerahkan diri sebagai pasukan terdepan.


Departemen Disiplin lebih kepada interaksi seluruh anggota Vaughan tanpa terkecuali, dan diangkat ... berarti dihilangkan?


"Dari ekspresimu, sepertinya benar-benar penasaran. Kamu memang mudah tertarik pada hal yang tidak kamu ketahui, Red."


Heee, kenapa sekarang jadi aku? Apa Crist benar-benar mengamatiku sedetail itu?


Ia lanjut berkata, "Dan kode etik Departemen Disiplin adalah ... sabar dan menahan diri."


"Sesederhana itu?" kejutku.


Si pemuda terkekeh. "Memang sederhana tapi berdampak besar. Kamu tahu sendirikan seluruh anggota Departemen Disiplin biasanya tidak disukai banyak orang karena tugas mereka, maka dari itu mereka selalu merendah dan mengalah."


Crist mulai membuka layar kecil handycam dan mendekatkan pada mata birunya, barangkali mulai merekam.


"Tapi salah satu anggota Departemen Disiplin yang memiliki pengamatan dan pemikiran tajam mengusulkan kode etik tersebut untuk dihapuskan, karena orang-orang menjadi merendahkan dan tidak hormat pada Disiplinaria--sebutan untuk anggota Departemen Disiplin. Jadi sparing kali ini sama sekali tidak ada batasan apa pun kecuali jangan terlalu berlebihan menggunakan kekuatan, atau itu berakhir seperti pertarungan hidup dan mati."


Jeda sebentar, ia tampak sibuk mengatur fokus kamera. "Namun tidak ada yang menjamin anak-anak tidak berlebihan menggunakan kekuatan mereka, apa lagi ada lampu hijau untuk tidak menahan diri dan lagi, akan menghadapi murid-murid terbaik di Vaughan, bukan begitu? Jadi, yah, pengawas turun tangan langsung menuju arena."


"Kamu tahu siapa yang akan mengawasi pertandingan terbuka antar club di babak final?" Medadak Crist tak melanjutkan ucapannya. Kamera ikut ia turunkan demi menatapku tajam meskipun dua orang di bawah sana sudah memulai pertarungan, lebih-lebih hampir selesai dan berganti tim berikutnya. "Nanti Pak Lucian akan ada di arena."


Mendengar nama itu mendadak bulu tengkuk berdiri dan mengundang dingin merambat punggung. Dengan menyentuh belakang leher, aku bertanya, "Kamu tahu banyak ... dan, kenapa mereka tidak mengumumkannya?"


"Aku anggota Departemen Konsultasi tentu tahu, meskipun informasi yang diberikan dari pusat tergantung dari grade masing-masing, namun hal tersebut sangat dasar. Kenapa tidak diumumkan? Tidak tahu, itu kehendak Pak Lucian."


Jadi itu yang Crist sebut sparing kali ini akan menarik, dan anggota Departemen Disiplin yang dimaksud ... sepertinya aku tahu siapa.


Tidak tahu mengapa aku justru berfirasat buruk, terlebih ketika membayangkan wajah Head Master Lucian yang semringah dengan senyum mematikan.


"Haaah." Aku mengembuskan napas panjang dan mengusap wajah lelah---sebentar, kenapa aku benar-benar meniru gelagat Profesor Kaidan?