When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| Fenomenal



Tiba pada waktu pertengahan Juni, beberapa hari telah berlalu semenjak malam itu dan seluruh aktivitas sudah berjalan seperti biasa termasuk tugas untuk melakukan misi dan kuis harian.


Aku mulai bangun dan duduk di pinggir kasur. Mengusap-usap wajah, melihat jam ... masih pukul enam pagi. Langsung bergegas merapikan kasur---oh, tuan kelinci. Aku meraih dan mengangkat boneka berukuran sedang pemberian Fate. Entah mengapa setiap bangun dan melihatnya membuatku merasa senang. Aku pun kembali membenamkan wajah dalam perut putih yang berbulu halus.


Hmm, nyaman.


Ah, hampir lupa! Harus segera melaporkan tugas yang kemarin dan memberikan datanya. Misi Grade A, lumayan penting. Bergegas aku meletakkan sang boneka dengan hati-hati. Sebelum itu, mengelus kepalanya sekali dan beranjak ke kamar mandi.


Kalau tidak salah memelihara hewan peliharaan bisa melepas stres, mungkin ini yang dimaksud karena hanya dengan boneka, itu cukup membuatku tenang. Aku mengulas senyum simpul dan mempersiapkan diri; memakai tas pinggang dan memasukkan Heart Core! Penting, jangan tertinggal.


Saat hendak berjalan keluar kamar, aku kembali melewati cermin yang hancur. Seperti biasa, hanya terlihat bayang-bayang tetapi ... ada yang berbeda? Aku mendengkus, mungkin hanya perasaan saja.


Dengan tergesa tumit menyaruk langkah menelusuri lorong kamar, mungkin gema kakiku dari lantai kayu ini terdengar hingga ke bawah. Eh? Namun, ketika sampai pada pertengahan tangga langsung disambut sesuatu yang asing; kenapa mereka semua mengelilingi sofa di ruang utama club? Bahkan sampai berbisik-bisik, kecuali Crist. Walau tak semua anggota Dion berkumpul seperti itu, tetap saja ... apa mereka membicarakan hal serius?


Sontak aku memandang si pemuda berkacamata dan perlahan menuruni anak tangga. Ah, Crist mulai menoleh ke arahku dan tersenyum. Seperti biasa, tiap pagi dia duduk di bangku meja makan dengan secangkir teh dan dokumen dalam genggaman.


"Ada apa ... itu, kenapa anak-anak begitu?" tanyaku dengan sedikit menunjuk kumpulan orang-orang di ruang tengah.


Dengan terkekeh Crist menjawab, "Lihat saja sendiri, nanti kamu tahu."


Aku bergumam dan mendekati mereka. Sontak aku melihat malaikat---bukan, Fate tertidur di sana. Napas ritmis menukar udara pada alveolus begitu kentara dengan helai rambut perak perlahan jatuh satu demi satu. Sorot sang fajar merambat masuk, membuat gemerlap nan berkilauan pada surai argentum sang gadis seperti serpihan berlian. Astaga ... terlihat, manis.


Mungkin ini kali pertama aku memandangnya tidur dengan tenang. Entah kenapa aku ... merasa tersipu, tetapi tak suka jika mereka berkumpul dan melihat Fate seperti ini. Tanpa pikir panjang aku menabrak kumpulan orang-orang tersebut dan duduk pada sofa di sisi. Memandang dingin pada mereka semua, satu persatu.


Terdengar erangan dan ocehan protes namun ketika mata-mata itu tertuju padaku, perlahan ... mereka pergi dari tempat, kecuali Daniel yang berpindah; duduk ke sisiku. Sedangkan Cecil masih setia di samping Fate. Tetap, mata jelaga tak lepas memandang mereka semua. Beberapa mulai membereskan ruang dan ada yang mempersiapkan sarapan. Aku pun mengembuskan napas dan memalingkan wajah.


Tak lama suara desau terdengar membuatku kembali memperhatikan Fate. Perlahan, kelopak pualam itu terbuka bagai bunga tulip yang mekar di pagi hari dengan sambutan cicit burung. Lembut, mengusap matanya lugu dalam gelagat bingung melihat sekitar. Ha-ah, kenapa ... imut! Dalam dada ada perasaan yang tak biasa.


Aku tak tahu apa ini, seperti keinginan---tunggu, keinginan untuk apa? Hangat dan mekar, apa ini? Bagaimana cara mengungkapkannya? Perasaan ini rumit tapi sekuat tenaga aku tahan dengan menggenggam kedua tangan di tengah paha dan menekan kuat-kuat sofa yang aku duduki.


"Oh, maaf tidur di sini. Aku terlalu lelah untuk kembali ke Mansion Lucian ...."


"Enggak apa-apa! Sering-sering tidur di sini biar dapat tontonan malaikat tidur gratis---eh! Maksudnya mansion tuh jauh, jadi di sini enggak capek jalan." Cecil langsung berkata cepat dengan sedikit memeluk Fate.


Ah, terlihat kesadaran Fate masih belum benar-benar kembali. Tatapan itu sayu dan teduh, menatap polos pada Cecil yang mulai mengelus kepalanya. Pelan; rapi; sopan, mengusap sang rambut perak dan menata dengan anggun. Si gadis tampak pasrah, justru ... menikmati? Terbukti perlahan semburat merah muncul pada pipi Fate yang mulus. Ha-ah, aku juga ingin---


"Oi, Red! Sehat?! Sampai enggak kedip!"


Refleks aku terkejut dan kehabisan kata-kata ketika Daniel menepuk punggungku kuat-kuat. "Ha-ah! Ti-tidak, aku hanya---aku cuma ... aaaa!!"


Aku mulai menutup wajah erat-erat dengan kedua tangan. Astaga! Apa yang aku pikirkan?! Tidak-tidak, sejujurnya tak ada yang aku pikirkan! Seketika kepala terasa kosong, memalukan sekali! Daniel benar-benar tak ampun ....


Ah, jantung berderu menghantarkan panas menusuk pada punggung yang sudah penuh dengan beku. Rasa tersipu luar biasa memenuhi batin hingga ubun-ubun berdenyut. Agh, apa-apaan ini?! Tapi mendadak tanganku ditarik---eh? Daniel menyengir kuda.


"Gila! Merah padam! Wahahaha, enggak benar ...."


"Hentikan---"


"Daniel!"


"Ayolah, cowok itu berani!"


"Ah, jangan!


"Buset! Merah sampai telinga, ahahahaha!"


Tok! Tok! Tok!


Mendadak suara ketukan di pintu menggema dan saat itu juga Daniel melepasku. Tuhan, terima kasih masih memperhatikan dan menolongku. Aku langsung mendengkus dan bersandar pada sofa, menutup wajah dengan lengan kanan.


Ah, rasanya jiwaku meleleh ....


"Rose, anggota Departemen Disiplin, memohon izin untuk masuk."


"Oh, ya, ya. Silakan masuk," balas Daniel.


Aksennya kuat meski vokal tinggi khas wanita terdengar kental, benar-benar terbaca bahwa dia Disiplinaria. Tetapi kenapa ia kemari? Aku sedikit melirik---eh? Derap langkah nan tegas berhenti tepat di samping Fate. Bahkan tubuh ramping itu mulai menegap dan memberikan hormat pada gadis rambut perak. Aku sedikit terkejut melihatnya ... bukan hanya aku, yang lain juga. Kalau tidak salah, dia peringkat empat dari hasil pendataan ulang kemarin.


"Enforcer Fate, Kepala Departemen Gil dan Kepala Sekolah Lucian memintamu beserta Enforcer Lux untuk hadir pada rapat yang akan dilaksanakan dua jam lagi."


Enforcer? Ha-ah, Fate telah resmi menjadi anggota elite Departemen Disiplin. Namun, heee ... sepertinya gadis ini masih setengah sadar karena kepala sedikit terhuyung-huyung, tetapi mengangguk pelan kemudian.


"Dimengerti. Kembali ke tempatmu." Tak lama ia mengulas senyum kecil yang begitu lembut, selaras pada merah di pipi bagai matahari dalam hamparan bunga mawar. "Terima kasih, Rose."


Perempuan bernama Rose itu langsung tersipu dalam sekejap dan kembali memberi hormat. "Ti-tidak! Merupakan sebuah kehormatan untuk saya! Pe-permisi!"


Dengan langkah terburu-buru ia meninggalkan ruang, mungkin karena wajahnya semakin merah? Namun, itu meninggalkan Fate dalam keadaan bingung. Terbukti dari gelagat lugunya melihat Cecil dan bertanya, "Apa aku mengucapkan sesuatu yang salah?"


Si gadis kecil hanya menepuk keningnya pasrah. Bukan hanya Cecil, Daniel juga. Heee, memangnya ada apa? Fate memang tidak salah bukan? Tapi mereka berdua--Cecil dan Daniel--memang kompak. Mendadak Crist tertawa lepas hingga atensi seluruh anggota dalam gedung tertuju padanya.


Si pemuda berkacamata mulai beranjak dari bangku dan berlisan lantang, "Baiklah, pagi ini sangat menyenangkan tapi sebelum beraktivitas lebih baik kita sarapan ...." Tiba-tiba suaranya memelan pada akhir kalimat ketika mata biru tua menatap dalam-dalam ke arahku. Apa ada yang salah?


"Red, kamu mengubah penampilan?"


He? Aku langsung menyentuh tengkuk. "Penampilan? Tidak, aku baru bangun."


"Whoaa, iya juga! Keasikan tadi jadi baru sadar." Kini berganti Daniel yang terkejut, bahkan sampai berjalan ke belakang sofa yang aku duduki dan menyentuh kepalaku dengan dua tangan. Eh, ada apa lagi?


"Kayaknya dia tuh enggak sadar deh," ucap Cecil dengan menatap datar padaku.


Bahkan Fate sampai benar-benar membuka matanya dengan sempurna dan berkata lembut, "Red, rambutmu merah."