
Berhari-hari di ruang rawat dan akhirnya salah satu staf menyatakan aku sudah diizinkan untuk pergi ... syukurlah. Tak tahan terus berbaring, punggungku sakit dan mungkin juga kali pertama beristirahat selama itu.
Terlebih tak bisa tidur untuk beberapa hari karena ucapan Fate, untung sudah terbiasa. Bergegas aku menyiapkan diri---ah, malas berkaca; tidak mau melihat diri sendiri. Lagi pula aku tampak seperti biasa, mungkin.
Sesaat mengecek ponsel ... oh, ternyata penghasilan dari misi Grade SS sudah masuk. Aku pun memutuskan untuk kembali berjalan, langkah tungkaiku begitu menggema di lorong rumah sakit Vaughan yang sepi. Pintu rumah sakit terbuka secara otomatis dan aku melintasi akademi sampai tiba pada gedung Departemen Gear.
Tanpa melapor ke meja lobi Departemen Gear, kaki jenjangku terus berjalan hingga berhenti pada suatu ruangan di lantai dua.
Salah satu staf menyadari kehadiranku dan mendekat. "Ingin membuka Class Swordmaster?"
Aku mengangguk sebagai jawaban dan menyerahkan Heart Core beserta ponsel. Penghasilan dari misi langsung kugunakan, untung saja mereka memberikan lumayan banyak uang terbilang misi grade tinggi sehingga cukup untuk membuka class.
Aku pun duduk pada kursi berderet di pinggir ruang yang banyak mesin dan holografi.
Tidak memakan banyak waktu menunggu proses peningkatan selesai, mereka memberikan kembali barang-barang milikku. Lantas aku keluar dari gedung tersebut dan beralih ke perpustakaan yang jaraknya lumayan jauh dari sini.
Tiba di depan gedung perpustakaan, aku mengeluarkan dompet dan menyiapkan kartu identitas. Kutempelkan kartu identitas pada mesin pemindai dekat pintu dan menahannya beberapa saat. Seketika pintu terbuka otomatis dan mataku langsung menuju pada tangga di sisi belakang. Aku terus menyisir setiap anak tangga seraya tangan sibuk merapikan kartu ke dalam dompet.
Seolah tergerak oleh penyesalan, aku melakukan itu semua tanpa sadar dan berakhir menghabiskan waktu di balkoni paling atas perpustakaan. Duduk dan melihat suguhan alam, seperti biasa.
"... Mengunci ingatan sendiri."
Suara bisikan yang sangat pelan terdengar di samping membuatku sadar, aku ... tidak sendirian.
"Fate?! Kenapa kamu di sini?"
Kini wajahnya yang datar menoleh padaku. "Membaca buku. Aku duduk di pojok, kau mungkin tidak menyadarinya. Kulihat kau berjalan menaiki tangga, jadi kuikuti. Aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian."
Kalimat itu sukses membuat mataku membulat sempurna tapi aku terlalu lelah untuk berkomentar, termasuk memikirkan bisikannya yang tak terdengar olehku.
Helaan napas terumbar kemudian. Aku menikmati embus lembut sang angin, embun masih terasa pekat di pagi ini. Akhir Mei, sebentar lagi musim panas. Mentari begitu terik tetapi epidermisku terasa beku. Musim semi berlalu begitu cepat saat aku sendirian, entah mengapa. Mungkin karena itu hanyalah suatu kebohongan lainnya atau apa, dan aku terus diingatkan oleh memori di masa lalu.
Apa lagi perkataan Fate watu itu ... tapi jika kembali mengambil pedang dan berakhir melukai seseorang, aku akan benar-benar tidak bisa berhenti mengutuk diri sendiri.
Aku tidak mau.
"Fate, kamu ... kenapa memilih menjadi Supporter?"
"Aku terbiasa menjadi support dan keadaan memaksaku untuk menjadi support, karena hanya aku satu-satunya supporter yang cocok dengan gaya bertarung Sen."
Aku melihat ada gurat kesedihan di mata Fate ... atau hanya perasaanku saja. Apakah dia merindukan Sen? Itu mencelikkanku untuk membantu Fate ingat dari amnesia dan bertemu lagi dengan orang terkasihnya.
Ah, kenapa sampai lupa?
Mungkin aku orang yang paling beruntung di dunia tapi paling egois pula. Begitu diselimuti perasaan hangat saat diberi kesempatan ke dua pun lupa diri akan siapa diriku sebenarnya beserta tanggung jawab sendiri.
"Supporter, bukan hanya menyembuhkan. Aku pun melakukan serangan jarak jauh dan melukai orang. Sihir menyerang, keahlian menggunakan pistol juga panah. Aku juga bisa sedikit bela diri dan bisa menggunakan pisau, berjaga-jaga ada yang mencoba menyerangku dari jarak dekat."
Aku menoleh ke arah Fate karena merasa kagum mendengarnya. Bukankah itu berarti dia hampir bisa seluruh kemampuan?
"Heee, saya ... tidak bisa memegang pistol sama sekali, tak mengerti caranya."
"Semua bisa karna ada kemauan dan kemampuan. Class Gunner di sini sedikit berbeda dengan gayaku bertarung. Aku biasa menggunakan senapan. One shot, one kill." Fate melihat ke arah tangannya. "Kematian di tengah medan pertempuran terkadang menjadi kemurahan hati untuk lawan."
Aku terdiam menatap dia yang kembali mendongak melihat langit. Rasa kagum tumbuh, terlebih ketika Fate mengucapkan kata terakhir dengan logat nan khas. Mungkin itu bahasa asing yang gunakan di dunia asalnya tapi aku mengerti apa maksud kalimat tersebut. Sekali tembak, musuh jatuh. Bukankah itu terdengar menakjubkan?
Dibandingkan denganku ....
"Fate, soal waktu itu," ucapku tertahan seiringan menunduk melihat kaki yang menjulur lurus ke depan, "sepertinya saya akan tetap menjadi Soul Dancer. Seperti katamu, walaupun supporter ... masih bisa membunuh."
Aku tertawa kering sekilas. "Saya tidak mau lagi memegang pedang."
Obrolan kami tidak berjalan mulus karena aku lebih banyak terdiam daripada langsung berucap. Terlebih, kini Fate ikut membisu.
Selang beberapa menit akhirnya Fate berkata, "Ayah angkatku, Arthur, kehilangan keluarganya di tangan sendiri. Dia dikendalikan oleh orang lain dan hampir menjadi gila karena hal tersebut. Tapi sebab kejadian itu, ia akhirnya membuat tekad yang kuat untuk melindungi sekuat tenaga dengan pedangnya demi membayar dosa ... agar kejadian tersebut tidak terulang kembali."
Aku mendongak, mata jelaga tak lepas melihat angkasa. Aku hanya bergumam terhadap perkataan Fate lantaran tidak tahu apa aku bisa? Hal tersebut bagai sebuah idealisme dalam anganku.
Aku tidak sekuat itu.
Bahkan mendekati sesuatu yang berhubungan dengan pedang sudah membuatku gemetar. Bagai mantra tak terpatahkan, aku terus dihantui oleh ingatan buruk.
"Tapi lebih suka seperti ini ... memberikan support untuk orang lain dari jarak jauh," ucapku lemas dengan mata yang setengah tertutup.
Hening mendadak mengudara, tak ada yang buka suara.
Matahari memancarkan sinarnya sampai aku merasakan suatu kejanggalan, tekanan aura dingin yang menusuk terasa dekat pun aku menoleh ke sebelah dan menatap ... Fate?
"Akh!"
Mendadak suara debam terdengar keras dari tubuhku yang membentur dinginnya lantai lantaran dia menghempaskan badanku. Belum bisa berusaha untuk berdiri, dia sudah menginjak dadaku dengan menancapkan pedang ramping tepat di samping telinga. Suara dengung bilah besi begitu menggelitik, memaksaku melihat orang yang berbuat demikian.
Itu, Fate. Namun auranya berbeda, seperti seorang petarung terlebih warna mata berubah cokelat. Aku ingin bangkit tetapi dia makin kuat menginjak dada membuat sesak tertimbun di rongga rusuk. Lama kelamaan kakinya menekan leher hingga pernapasanku tersumbat.
Ah, ku-kuat sekali ....
"Pengecut yang hanya bisa lari, tidak akan bisa melindungi apa pun."