
Sebenarnya aku sedikit gugup.
Dan ada yang membuatku heran, adalah ... masion Lucian bisa menampung seluruh anggota Vaughan wilayah Centru. Aku tahu tempat tinggal beliau begitu besar. Namun, ini lebih dari yang aku bayangkan. Mungkin karena dulu hanya melewati bagian sisi mansion? Ketika secara seluruhan, luas.
Setelah ujian selesai, pesta perayaan Vaughan dilaksanakan sesuai dengan pengumuman.
Kini rata-rata orang yang berdatangan mengenakan baju formal senada berwarna putih, termasuk aku. Tapi tidak tahu ini cocok atau tidak karena dari dulu selalu mengenakan pakaian hitam, hanya seragam saja yang putih dan itu pun baru-baru ini.
Jadi, aku hanya bisa menautkan jemari melihat orang berlalu lalang---astaga, rasanya seperti ada dalam lautan manusia ... aku sedikit, pusing.
Terlebih tidak tahu di mana Profesor Kaidan berada. Setelah memberikan baju ini, beliau memintaku pergi terlebih dulu. Tentu aku turuti, tetapi detak jantung menjadi tak teratur ketika kaki menjejak di depan julangan pagar mansion Lucian. Kiri; kanan, orang-orang tampak berbincang ringan dengan pasangan atau kelompok mereka dan memasuki gedung raksasa penuh ukir rumit di depan sana.
Sialnya, aku juga tak mengenal siapa pun sekarang. Daniel; Crist; Cecil; Fate; atau siapalah, entah mereka di mana. Jadilah seperti ini, anak hilang---Tuhan, betapa menyedihkannya diriku ....
Lantas dengan ragu-ragu aku masuk pada ruang utama masion dengan mengelus tengkuk sekali, dan langsung disambut dengan karpet merah membentang. Termasuk pernak-pernik berlian murni menghiasi sisi ruang, juga lampu gantung yang membuat kilauan tersendiri ketika mata jelagaku berkedip.
Sungguh, memasuki tempat ini suasana malam di mana senja di ufuk barat perlahan ditelan jelaga sirna, karena sangat ... ramai.
Tetapi tidak tahu lagi siapa mereka-mereka ini, departemen mana; club mana, entahlah. Pernah aku berada dalam posisi ini? Tentu saja belum. Coba bayangkan kapan berada di tengah orang banyak ... ketika dipukuli satu desa? Tunggu, apa itu terhitung? Aaah, yang pasti suara mereka semua bagai dengungan lebah!
Akhirnya aku mencoba menyelamatkan diri dengan menunduk dan menutup mata menggunakan jemari tangan kanan, lalu berjalan lepas mengandalkan insting sendiri. Kadang berkelit kecil ketika terasa aura seseorang di dekatku.
Dan derapku berhenti.
Sontak aku menurunkan tangan dan melihat---eh, ini boleh dimakan? Boleh tidak? Sebab ternyata berdiri depan meja panjang sepenuh sisi ruangan, banyak sekali makanan dan minuman disajikan di atasnya termasuk berbagai jenis kue. Pasti mahal, karena aku sering melihatnya dalam majalah resep. Ini semakin memancing rasa penasaran. Aku ingin cicipi, lalu mempelajarinya teksturnya.
Sekali-kali ingin bisa membuat kue.
Ketika menoleh ke samping, kulihat beberapa perempuan ada yang mengambil minuman. Kusimpulkan boleh mengonsumsi pun mulai mengambil piring kecil yang tak jauh dan memilih beberapa potong kue.
Sebelum mencari tempat duduk aku ingin mencicipnya sedikit, mengambil satu sendok kecil; memasukkannya ke mulut, dan ternyata ... sangat enak! Mengambil satu sendok lagi---astaga, baru sekarang memakan sesuatu sebegini manis tanpa menimbulkan efek samping!
Biasanya makanan yang banyak mengandung gula membuat gigiku berdenyut, tapi ini tidak. Ah, benar-benar menikmati---
Buk!
"Oi, sendiri saja nih!"
Akh, mati---rasanya tercekik; tersedak! Buru-buru aku meletakkan piring ke sisi meja dan memukul-mukul dada. Daniel yang mendadak datang langsung memberikanku segelas air dan tanpa basa-basi kutenggak habis.
Selamat---ah, akhirnya bisa bernapas lega. Tuhan, kukira akan mati konyol tadi ... tunggu, aku tidak bisa mati 'kan?
"Red, kamu kok dikit-dikit kagetan sih," celetuk orang yang tadi menepuk punggungku kuat-kuat---astaga, dia ini benar-benar ....
"Daniel, aku sedang makan," tuturku lembut yang justru dibalas dengan cengir kuda bak tak bersalah.
"Kamu tinggi besar! Ya gampanglah nyarinya."
Ah, benar juga. Spontan aku mengusap tengkuk dengan canggung. Omong-omong kenapa Cecil lebih banyak diam? Biasanya dia heboh apa lagi dengan Daniel, tapi sekarang lengan mungilnya menggandeng si pirang, bahkan bersembunyi-sembunyi di belakangnya.
Seperti tahu apa yang aku pikirkan, seketika Daniel merangkul pundakku agar menunduk dan berbisik, "Dia minder ditengah orang banyak."
Minder? Itu bahasa anak muda yang artinya rendah diri 'kan? Jika iya, pantas saja sewaktu konser acara penutupan Daniel langsung berlari mencari Cecil---ah, tiba-tiba dia melepas rangkulannya dan mendorongku sedikit ke depan. "Red, lihat anggota Disiplinaria baru datang!"
Refleks aku mengarahkan atensi ke depan aula, terlihat beberapa murid yang mengenakan rompi hitam membalut kemeja abu-abu dengan bawahan hitam tiba. Mungkin terlebih dulu memastikan seluruh murid masuk--terbilang ini acara wajib--dan keamanan yang bertugas sudah di tempat. Namun, aku tak melihat Fate dan Lux.
Dan kenapa firasatku tak enak?
Seketika seluruh orang senyap, hingga terdengar langkah kaki dari pemilik karisma memasuki ruang utama mansion.
Para ketua departemen berdatangan.
Ini kedua kalinya aku melihat orang penting di akademi secara bersamaan. Mungkin jika dalam kegiatan sehari-hari, mereka tak begitu mencolok tetapi sekarang ... sungguh aura mereka terasa.
Terlebih mengenakan pakaian formal yang glamor namun simpel pula, menambah kesan jabatan mereka dan lagi, mengenakan emblem khusus berwarna perak di dada kiri.
Sebenarnya saat memasuki Vaughan selain diberi Heart Core, kami juga mendapat emblem khusus sesuai jabatan masing-masing. Seperti aku; seorang murid, mengenakan emblem putih khusus untuk acara formal seperti ini. Sedangkan para profesor dan senior staf berwarna perunggu.
Namun, lagi-lagi dibuat khawatir karena tak melihat Profesor Kaidan di mana pun. Aku mulai menoleh ke sana kemari, sampai Daniel menarik pundakku kasar dan berkata, "Mencari bapakmu? Itu di atas!"
Eh, bapak? Tapi mata jelaga langsung melihat ke tempat yang dituju.
Di balkoni dalam ruangan tersambung dua tangga di tiap sisi, Profesor Kaidan dan Head Master Lucian tiba dan seketika itu juga terasa sunyi, berkat aura wibawa nan bahana yang begitu kuat.
Meski pun jauh, suara gemerencing rantai-rantai emas yang menghiasi pakaian formal Lucian terdengar. Matel jubah berbulu di pundak pun sangat mencolok, seperti emblem Vaughan berwarna emas dan pin dasi bermotif angka romawi XXII. Sosok beliau membuat Profesor Kaidan yang berdiri di sampingnya terlihat semakin gagah, membuat mereka seperti suatu keserasian.
Kemudian Head Master Lucian melakukan pidato pembukaan dan sambutan, menarik seluruh perhatian penghuni seperti setiap baris kata yang terlontar adalah perkara penting tapi kenapa ... aku tak bisa fokus? Perhatianku justru lebih tertarik pada sosok elok yang menjaga di belakangnya, membuat suara khas nan eksentrik beliau terdengar mendam.
Sama seperti jubah hitam berkebit anggun seperti rambut perak panjang yang gemerlap bak gliter, hiasan bulu putih bagian atas jubah serasi dengan kulit pualam si gadis. Yang paling aku suka adalah baju seragam merah dan rok hitam pendeknya, juga hak bot sebetis membalut kaki jenjang nan apik.
Kenapa begitu ... menawan? Padahal itu pakaian formal bukan? Dan lagi, jantung berdetak kencang---tunggu! Berhenti-berhenti, kenapa justru memperhatikan Fate dengan serius begini?! Astaga, lagi-lagi perasaan ini, sontak aku mencengkeram kemeja putih di bagian dada.
Rasanya benci lantaran perasaan tersebut selalu datang tiba-tiba dan seharusnya, aku tak boleh merasakannya. Harus tahu batas. Tapi lama-kelamaan ... kenapa semakin kuat?
Aku tidak mau terus-terusan memikirkan gadis yang berdiri di belakang Head Master, jadi lebih baik memperhatikan pidato beliau---eh, kenapa semua orang bertepuk tangan?
Apa ... pidatonya sudah selesai?