When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| Pertarungan Udara



"Umm, aku ...," ucapku tertahan lantaran terasa tersipu sampai ubun-ubun berdenyut! Astaga, apa yang aku pikirkan tadi?!


Spontan aku menggeleng dan mengusap mata menggunakan telapak tangan kanan. "Maaf sudah berpikir yang tidak-tidak. Terima kasih sudah mengingatkanku. Oh, omong-omong banyak daun tersangkut di rambutmu Crist."


Yang dituju tersenyum sampai aku sebutkan betapa berantakan rambut ungu panjangnya. Dia pun merapikan tiap helai dengan menyisir menggunakan jemari, tetapi Daniel masih menatapku tak percaya.


"Eh, Crist, kayaknya ada yang enggak beres ...."


"Apa?" tanya Crist yang sibuk merapikan rambut.


"Red ... kena sihir."


Eh?


Sontak Crist tertawa lepas. Sedangkan aku semakin dibuat bingung, hanya mengerjap dan melihat mereka berdua secara bergantian.


"Enggak, begini ... Red, sejak kapan kamu mulai terbuka dan menerima?"


Daniel mulai mengerang dan menggaruk rambut pirangnya frustrasi.


"Waktu dirawat inap setelah misi Dream Land juga! Tiba-tiba kamu cerita soal orang terkasihmu itu. Lah, aku kaget dong! Mana pernah kamu mau ngobrol panjang lebar sama aku? Apa lagi kalau ekspresi dah enggak enak begitu kamu langsung mengasingkan diri, berhari-hari enggak pulang ke club! Kadang aku sampai cemas sendiri! Tapi mau bagaimana lagi? Kamu diajak omong pun susah."


Oh, itu ... aku langsung mengusap tengkuk dan sedikit menimbang-nimbang kalimat apa yang harus dijelaskan.


"Soal itu, aku minta maaf," jawabku sembari menatap sendu pada Daniel yang setia terheran-heran, "biasanya kalau tertimpa masalah, aku akan mengasingkan diri ... karena tidak mau membebani siapa pun. Nyatanya, aku justru membuat orang yang peduli padaku semakin khawatir."


"Maka dari itu berusaha berubah meski perlahan dan kesulitan ... maaf jika aku selalu merepotkan kalian." Aku pun membungkukkan badan setelahnya sebab dorongan kesungguhan hati.


Tapi terasa ada yang menepuk punggung, membuatku kembali berdiri tenggak dan menoleh---ah, Crist. Dia tersenyum lembut dan berkata, "Ingat apa yang Fate katakan? Tidak ada yang memaksamu langsung beradaptasi. Lagi pula tidak ada yang merasa kerepotan, asal kamu tidak terlalu ekstrem dalam bertindak."


"Aaaa, soal itu ... aku usahakan!"


"Whoaaa, Red sudah besar!" celetuk Daniel, mata hijau turut memandang dari ujung atas sampai bawah badanku.


"Aku memang sudah besar ...."


Lagi-lagi Crist tertawa, kini sembari menutup mulut menggunakan dokumen yang terus digenggam dan berkata, "Untuk masalah kita sekarang, sepertinya harus menunggu di tempat aman sampai mereka selesai sparing? Kalau begini, kita tidak bisa menghampiri mereka."


Oh, sekarang mereka sungguh bertarung di langit!


Dengan menggunakan kekuatan angin, Lucian melayang dan bergerak gesit sembari terus melontarkan serangan es menggunakan Floating Hourglass guna mendekati Fate yang masih terbang stabil. Namun, potongan argentum nan apik penyusun sayap kembali terbentang ketika Fate melesat lebih jauh lagi, sampai serpihan cahaya bertaburan di sekitar raga beriringan suara mengiris udara; membuat seluruh serangan yang ada meleset.


Tak sampai di situ, Albion mendadak pecah menjadi serbuk cahaya dan berubah menjadi pistol ganda di tangan. Kaki jenjang si gadis pun mulai bergerak gesit, berderap seolah-olah menginjak tangga tak terlihat---tunggu, Fate juga bisa menggunakan elemen angin?! Walau dalam waktu singkat dan sekadar sandaran melangkah, itu sudah luar biasa!


Sebab hanya beberapa orang di Vaughan bisa menggunakan kekuatan elemen murni, meskipun hal tersebut juga membuat si gadis ketergantungan sehingga terpaksa menggunakan Class Gunner--karena dasar elemennya sama-sama angin--tapi itu menakjubkan! Aku membayangkan, bagaimana jadinya jika Fate sudah mahir menggunakan elemen murni tanpa ketergantungan dan efek samping?


Detik kemudian kokang senjata api terdengar riuh seperti hujan. Tak kalah gesit, sang orang tua menggunakan percepatan akselerasi hingga tampak hilang dan muncul secara tiba-tiba, bahkan ikat rambutnya turut terlepas membuat rambut hitam terburai lembut dalam kilau mentari. Namun, sayap Albion kembali terentang di saat yang sama Fate melempar bom asap.


Ah, aku ... tak begitu jelas melihat apa yang terjadi! Sama halnya dengan Lucian, samar-samar dalam kabut beliau terlihat kebingungan menoleh ke sana kemari mencari sang lawan. Bergegas lengan kukuhnya terentang pun dihempaskan kuat-kuat ke samping, membuat kebul asap yang membumbung enyah dengan elemen angin.


Yang terjadi di detik setelahnya, dari ketinggian Fate menukik dan menendang Lucian kuat-kuat menggunakan gravitasi beserta kekuatan angin untuk menambah kecepatan.


Sontak bunyi debam terdengar keras, disusul bunyi bebatuan yang saling bertumbukan ketika raga nahas Lucian membentur air mancur halaman utama akademi.


Partikel debu pun memenuhi udara, membuat kami kesulitan untuk melihat apa yang terjadi setelahnya.


Seketika hening merebak dan Fate sudah mendarat mulus di depan sana. Albion pun berubah menjadi pistol kembar di genggaman tangan.


Akhirnya debu perlahan reda.


Meski terengah, mata perak kebiruan tampak tak menurunkan atensi dan terus memperhatikan sekitar---ah, kamuflase!


Refleks Fate mengarahkan senjatanya ke belakang tetapi dia telat seberapa detik karena moncong senjata Lucian telah terarah ke kepala si gadis terlebih dulu.


Tak disangka beliau mengeluarkan skill khas Class Gunner, kamuflase. Dulu Fate pernah menggunakannya ketika sparing dengan Daniel, membuat langkah tak terdengar dalam kurun waktu beberapa detik sehingga mengelabui musuh, padahal skill tersebut membutuhkan konsentrasi dan fokus tinggi.


Fate dan Lucian memang luar biasa.


Lantas kami bertiga--aku, Daniel, Crist--berlari menghampiri mereka. Meskipun Head Master Lucian memenangkan sparing kali ini, wajah bangga terlukis di wajah cakap beliau, membuatku teringat ucapan Fate kalau dia belum pernah sekalipun menang melawannya.


"Selamat, kamu berhasil membuatku mengganti senjata di tengah pertarungan," tutur beliau bangga beriringan mengusap pucuk kepala si gadis.