When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| Dampak



Pengaruh kuat yang timbul dari kejadian sebelumnya memang luar biasa, entah mengapa.


Setelah bertemu dengan Profesor Kaidan dan mengalami hal lain yang tak mau lagi kuingat, aku langsung tidak sadarkan diri sampai tertidur selama dua hari penuh. Mungkin efek samping dari lelah luar biasa, juga tubuh masih menyesuaikan diri?


Ketika terbangun, langsung menyadari para staf penanganan masa rehabilitasi sudah mengelilingi aku yang masih berbaring lemas dan membicarakan hal rumit.


Sesudahnya aku pun mengerti ... telah dibawa kembali pada ruang khusus di bawah tanah.


Saat mereka menyadari aku sudah bangun, seketika dibantu untuk duduk serta diberikan runtutan pertanyaan bahwa mereka ingin mengetahui apa yang terjadi padaku karena tak lama, aku diberikan sebuah cermin dan terlihatlah mata merah nan polos terpampang jelas di sana; tanpa pupil; begitu bening dan kosong.


Melihat itu campur aduklah isi hatiku, senang; sedih; rancu; apa pun tak terbayangkan hingga aku sendiri bingung harus tersenyum, menunduk, atau mengerang. Namun, lebih memilih mengulas senyuman lemah.


Maka kuceritakan apa yang terjadi secara mendetail karena untuk apa menyembunyikan kenyataan pada mereka? Termasuk aku yang sudah tidak abadi lantaran ketujuh dosa mematikan dalam jiwa telah disucikan, alhasil kembali merah seperti pertama dilahirkan.


Pada awalnya memang hanya rambutku, mungkin itu adalah permulaan dari tahap penyucian? Dan berakhir pada kedua mataku, sebagai simbol dari kekelaman ketujuh dosa yang menjerat ... sudah terlepas.


Sebab dalam diri manusia, kebaikan dan kejahatan berpadu menjadi satu. Konsep itu juga berlaku pada penciptaanku, diterapkan pada jiwa terbuat dari ketujuh dosa dan hati terbentuk atas tujuh kebajikan. Keduanya harus netral dan stabil tetapi si malaikat jatuh justru mengaktifkan ketuju dosa mematikan, membuatku berakhir kelam.


Namun, sekarang, sudah terbebas ... sebagaimana mestinya. Aku hanya manusia biasa, berumur; tanpa aura aneh dalam tubuh; bisa mati kapan saja.


Sayang, hal tersebut membuat para staf penanganan rehabilitasi menahanku. Seharusnya aku telah dibebaskan dari masa pemulihan tetapi kini justru melewati perawatan intensif.


Katanya mereka ingin membatu pemulihan atas tubuhku yang masih menyesuaikan diri dengan keadaan, juga psikologis dilaporkan mengalami guncangan. Hal tersebut membuatku teringat perkataan Sen; walau umur jiwa telah dibuat sesuai dengan tubuh tetapi ingatanku masih ada, karena ini tubuhku merasa lemah. Dan kejadian lain di malam itu ....


Bisa jadi karena hal tersebut, aku mengalami guncangan lagi. Tuhan, kenapa jiwaku harus selemah ini? Sungguh membuatku frustrasi.


Aku pun mengembuskan napas panjang.


Di sini aku, pada awal bulan Maret baru mendapatkan surat bebas rawat dan kembali diaktifkan untuk bertugas, berdiri depan pintu masuk otomatis Rumah Sakit Vaughan.


Saat keluar hawa dingin kembali menjamah kulit walau pagi ini tak ada rintikkan salju menemani, lantas aku menaikkan tangan kanan dan merapikan syal---eh, tidak ada? Biasanya langsung kupakai secara spontan ... ah, lupa syal merahku tertinggal di reruntuhan. Aku pun menaikkan kedua pundak. Biarlah, sudah rusak juga karena bertarung dengan Sen.


Pemuda itu memang luar biasa.


Dengan selembar surat di tangan kiri, aku mulai berjalan lepas menelusuri akademi. Mungkin harus segera melapor pada Profesor Kaidan agar kembali diberikan misi. Kira-kira, sudah selama apa aku tidak bertugas? Oh, sebelum itu ingin sarapan terlebih dulu. Seharusnya kafetaria akademi sudah buk---seketika langkahku tersentak.


Kafetaria dekat dengan gedung club dan aku masih belum memiliki muka untuk bertemu teman-temanku. Apa yang harus dijelaskan pada mereka jika melihatku seperti ini? Terlebih sudah tidak lagi abadi, dan Fate ....


Aku memutuskan pergi menuju Gedung Departemen Eksekusi.


Setibanya aku langsung berjalan pada jajaran lorong nan remang-remang menuju lantai tiga. Menaiki tangga melintang, berpapasan dengan beberapa deret pintu metalik, sampai langkah berhenti pada pintu besar yang terbuka lebar hingga jelaslah Profesor Kaidan sedang memilah dokumen dan menulis sesuatu pada meja kerjanya. Terlihat sibuk ... apa aku akan mengganggu?


Namun, ketika kakiku menderap, sepertinya ketuk sol begitu menggaung sampai beliau refleks melihat ke depan. Seketika itu pula Profesor Kaidan menaikkan tangan kanan ibarat memintaku untuk masuk, maka aku turuti.


Saat melangkah lebih dalam, pintu metalik di belakang langsung tertutup; selaras dengan wajah sang guru wali yang sebelumnya serius, kini mengukirkan senyuman nan teduh. "Bagaimana kondisimu Nak, sudah jauh lebih baik?"


Sontak senyuman di wajah Profesor Kaidan semakin melebar dan tangan kukuhnya mengambil surat yang baru aku serahkan. Dengan hati-hati mata cokelat itu tampak menyapu tiap baris kata secara saksama. Jika diingat lagi, para staf rehabilitasi mengatakan beliaulah yang membawaku pada mereka dengan ekspresi khawatirnya.


Tapi aku tak habis pikir. Padahal dulu selalu membuat beliau dalam kondisi yang sulit, bahkan sampai terkena teguran dari Head Master Lucian. Namun, tetap saja wajah teduh itu terus beliau berikan padaku. Sesungguhnya aku ingin meminta sesuatu kepada Profesor Kaidan, tapi ....


"Red, kamu ada permintaan untuk misimu?"


Eh?


"Bapak menanyakan masalahmu pada staf konsultasi karena kamu pasti menyembunyikan sesuatu dari Bapak. Mereka bilang kamu kurang percaya diri dengan kondisimu yang sekarang, mungkin kamu masih membutuhkan waktu untuk menenangkan diri?"


"Aaaa, tidak, tak perlu! Aku tidak keberatan sudah diberikan misi, tapi ...." Aku mulai menautkan kedua tangan.


"Ingin bertugas pada tempat yang jauh dan informasi tentangku dirahasiakan dari Club Dion. Setidaknya, sampai hatiku sudah merasa tenang. Kali ini aku tak mau terlalu gegabah dan memaksakan diri sendiri, karena tidak mau mengacau---eek, ta-tapi kalau permintaanku berlebihan tidak masalah menerima misi yang biasa."


Namun, ucapanku justru membuat beliau tertawa lumayan keras---ah, apa memang berlebihan?


Dengan bersandar pada bangku setelah tawanya reda, beliau pun berkata, "Iya, tidak masalah. Bapak senang kamu mulai meminta sesuatu dan permintaanmu tidak berlebihan. Bapak akan menempatkanmu pada tim pencari orang hilang dan penyurvei, melanjutkan tugasmu yang dulu. Oh, satu lagi."


Beliau mengambil secarik kertas paling atas dari tumpukan dokumen di sisi kiri meja. Seraya bertopang dagu, Profesor Kaidan tampak membaca isinya. "Bapak akan dipindahkan ke cabang Eother karena mereka membutuhkan staf senior untuk membatu bertugas. Setelah kejadian Tiamat, cabang kita di sana kekurangan banyak anggota. Mereka juga meminta satu murid Grade S ...."


"Aku ikut!"


"... Untuk bantu mengisi---oi, Nak, Bapak belum selesai menjelaskan!"


Lantas aku menggeleng cepat dan berkata dengan menggebu, "Tidak perlu! Aku tidak mau ditinggal Ayah---"


Langsung aku menutup mulut dengan kedua tangan dan memejamkan mata---heee, bicara apa kau Red! Sejak kapan Profesor Kaidan menjadi orang tuamu?! Hanya karena beliau sangat baik bukan berarti berhak menganggapnya begitu! Memangnya siapa aku? Astaga, keterlaluan; tidak tahu diri!


"Aaah!! Maaf Bapak aku tidak bermaksud---"


Mendadak terasa ada seseorang yang merangkul---bukan, ini Profesor Kaidan. Beliau mendekapku begitu rapat tetapi hangat pula, entah mengapa aku merasa nyaman dan refleks memeluk balik hingga terasalah punggung beliau bergetar.


Jujur, aku terkejut dengan tindakan tiba-tiba guru waliku ini tetapi ... suka, berakhir turut membenamkan kepala pada pundak beliau dan terciumlah wangi matahari nan khas.


Mungkin aku secara spontan berkata demikian karena rasa takut teramat sangat jika kehilangan beliau.


Tapi, sungguh ... tidak mau kehilangan orang yang berharga dalam hidup, untuk kesekian kalinya. Aku tahu masih memiliki memori nan indah yang kuhabiskan bersama mereka, tapi rasa kehilangan begitu menyiksa.


Mereka memiliki tempat tersendiri di hati karena pengalaman yang kuterima dari setiap individu pasti berbeda. Jika mereka hilang, maka terasa kosong pula sudut relung dada ibarat kekurangan akan sesuatu; membuat jiwa tak henti berteriak dan meronta lapar akan kasih sayang.


Maka aku semakin rekat memeluk tubuh kekar beliau sampai mencengkeram baju belakangnya.


Sebab aku ... tidak mau lagi, kesepian.