
Setelah rapat, sorenya kami pergi untuk memulai penyelidikan dengan tenaga ahli yang cukup juga peralatan yang mumpuni.
Alhasil data yang kini kami peroleh lumayan banyak, hampir mencakup seluruh daerah Nifle. Dan kemungkinan besar ... tempat ini tak bisa kembali dihuni, ibarat telah terkena paparan radio aktif dari nuklir; intensitas tekanan dragonic sangatlah kuat. Bahkan beberapa staf Departemen Dragonic sampai menduga sisa energi Tiamat kemungkinan masih ada dan ingin meneliti lebih lanjut.
Padahal sudah dua hari misi berlangsung, masa penyelidikan tak kunjung selesai. Selain itu, pencarian jejak mengenai tim yang dulu hilang juga tidak menemukan titik cerah.
Jujur, daerah Nifle memang jauh berbeda dari dunia mimpi--ilusi ruang dimensi yang Tiamat dulu gunakan untuk mengurung orang-orang dalam mimpi buruk. Gersang; abu; kelam, sungguh mendominasi sampai pepohonan tampak kering kerontang. Ceruk cukup dalam sepeninggalan bertarung dengan Tiamat pun masih tersisa.
Tapi semasa penyelidikan, kami tidak memeriksa ke wilayah sana karena saat melakukan patroli tidak ada tanda-tanda yang berarti dan tempat tersebut sudah di luar area pedesaan. Namun, rasa penasaranku berkata sebaliknya.
Maka aku berusaha mendapatkan izin untuk menelusuri wilayah tersebut sampai meminta tolong pada Profesor Kaidan, akhirnya surat bebas menyidik pun kugenggam--awalnya masuk regu dua, yang terdiri dari dua staf Departemen Dragonic; pelajar dari Departemen Gear; satu Eksekusi yaitu aku.
Di hari ke tiga ini, aku harap dapat menemukan sesuatu.
Lantas setelah sarapan aku keluar dari tenda sementara yang kami bangun semasa penyelidikan, untuk melangkah cepat menuju peninggalan sisa bertarung dengan Tiamat.
Setibanya aku berdiri pada pinggir tebing dengan netra merah menatap lekukan tanah cukup dalam, aku sendiri tidak tahu berapa luas diameternya.
Dengan sedikit bergumam, aku pun berjongkok ... mungkin, memang tidak ada hal spesial di sini? Bahkan tekanan dragonic pun tidak ada. Apa rasa menganjal waktu itu hanya perasaanku saja?
Aku mulai mendengkus, lebih baik berkeliling ke tempat lain berhubung sudah dapat surat bebas menyidik. Namun, ketika hendak berdiri samar-samar terdengar suara orang dari ... eh, di mana? Ketika mata menyelisik ke sana kemari, tak ada tanda gedung atau keberadaan seseorang---sebentar, dalam tanah? Maka kuputuskan untuk memejamkan mata demi meningkatkan fokus pada indra pendengaran.
Samar-samar aksen pria menggema terbawa oleh desis angin ... benar, dari dalam tanah tepat di bawah lekukan cukup dalam itu.
Tanpa basa-basi aku menyiapkan Heart Core dan mengeluarkan Zweihande. Langsung aku melonjak tinggi; menggenggam gagang pedang besar menggunakan dua tangan; mengarahkan ujung pedang demi menjamah tepat di tengah-tengah lekukan dengan mengandalkan berat tubuh sendiri.
Bam!
Sontak debam terdengar menggelegar sebab gemeretuk bebatuan saling bertumbukan ikut meramaikan, membuat partikel debu memenuhi udara hingga menghalau penglihatan---ah, aku harap suara tadi tidak memancing perhatian yang lain.
Aku pun mengibas tangan di depan wajah demi melenyapkan debu yang menghalangi dan mulai siaga; mengangkat Zweihande bersama kuda-kuda untuk berjalan ke depan perlahan-lahan.
Tampaknya aku tiba pada ruang bawah tanah.
Aku tak menduga ternyata ada tempat sejenis ini di Nifle, apa mungkin di sini Ritual Pengorbanan dilaksanakan? Sepertinya posisiku berada di lorong panjang dengan tembok terdiri dari batu-batu ukuran besar.
Kemudian mata menatap lurus demi membaca sekitar dan terlihat jelas pendar cahaya sungguh minim. Mungkin, penerangan hanya sorot mentari dari lubang yang sempat kubuat paksa.
Sembari mengesah panjang aku menancapkan Zweihande di sisi dan membiarkan pedang itu membias, perlahan-lahan kembali pada bentuk bola kristal hitam dalam genggaman.
Dengan begitu, aku pun menyiapkan Vision melalui Heart Core yang kini melayang dan berpendar biru atas radius beberapa meter. Perlahan, mulai melemaskan tubuh terlebih pada bagian tangan untuk bersiap atas kekuatan fisik secara mentah jikalau ada musuh menghadang.
Nekat memang, tanpa ada penerangan yang cukup juga peta, aku menelusuri ruang bawah tanah tetapi selama sinyal tak terganggu, bukan masalah besar---ah, suara tadi!
Lagi-lagi aku mendengar teriakan seseorang yang lumayan menggema jauh di dalam sana dan kini semakin kencang. Mungkin runtuhan tadi membuat ia tersadar ada orang lain yang tiba sehingga terus berseru minta tolong? Segera aku mendekati asal suara.
Aku harap tak ada naga di sini karena lumayan mengejutkan mengetahui ada rakyat sipil atau siapa pun itu tinggal di bawah tanah setelah kejadian Tiamat dan Ritual Pengorbanan yang gagal.
Tunggu, bisa saja ia salah satu anggota tim Vaughan yang dulu hilang 'kan? Langsung kaki berlari semakin cepat.
Tanganku spontan menggaruk kepala yang tak gatal karena ... ternyata banyak lorong bercabang. Maka kuputuskan kembali menghirup napas dalam-dalam dan tetap tenang pada posisi; sebisa mungkin memfokuskan diri demi mendengar---di sana!
Sontak aku berlari ke lorong paling kiri, dengan begitu makin jelaslah suara minta tolong membuatku yakin menelusuri jalan yang benar.
Kini terlihat aku tiba pada jajaran ... penjara? Dan jelaslah suara pria paruh baya tak henti menggema. Demi menenangkan orang tersebut maka aku berkata, "Bantuan tiba, saya anggota Va---waaa!!"
Tuhan, astaga! Aku terkejut saat bayangan bergerak liar tepat di depanku dan berhenti---sebentar, sorot dari Vision membuat tempat ini sedikit demi sedikit terlihat jelas. Ternyata beberapa blok di depan ada seseorang, dan dari seragam itu ... ternyata benar, salah satu staf Vaughan!
"Anda anggota Departemen Konsultasi?" Aku semakin mendekat pada orang tua yang setia bertengger pada jeruji besi salah satu ruang penjara. "Saya murid Grade S Departemen Eksekusi, regu pencari orang hilang dan penyurvei, bertugas menyelidiki kasus Misi Grade A nomor R047 daerah Nifle."
Mendadak, orang tua tersebut mengerang hingga menunduk-nunduk. "Iya! Akhirnya, bala bantuan!!"
Lantas aku mengangguk mantap dan gesit menelisik tiang-tiang besi penutup penjara ... di mana pintu masuknya? Kenapa semua besi tertancap kokoh pada tembok begini? Bagaimana aku bisa mengeluarkan beliau? Ah, mungkin, kuhancurkan saja temboknya? Ini dari bebatuan, seharusnya jika terdorong satu beberapa akan ikut runtuh terlebih melihat dari banyak genangan air dan lumut yang memenuhi ... pasti sedikit keropos.
"Harap menjauh dari tembok dan jongkok berlindung."
"He? Memang kamu mau apa?"
"Mengeluarkan Anda."
"Ha?!"
Tanpa kembali balas berkata, aku beralih ke sisi tembok dan mundur beberapa langkah. Langsung aku berlari. Kemudian menggunakan kaki kiri sebagai tumpuan untuk putar belakang, aku memfokuskan kekuatan pada tumit kaki kanan untuk menendang lurus ke samping pun memberikan tenaga pegas nan kuat hingga---
Brak!
Beberapa bongkah batu terpental sampai membentur tembok di belakang---ah, andai orang tua itu tidak mengelak mungkin sudah tertimpa puing-puing tersebut, walau ... beliau berakhir melihat horor ke arahku sampai ambruk ke tanah. Namun, aku abaikan hal tersebut dan bergegas masuk untuk mengulurkan tangan demi membantunya berdiri.
"Kau ... apa-apaan tadi? Kenapa tidak menggunakan senjata?!"
Langsung aku memiringkan kepala. "Karena sedang menggunakan Vison jadi tidak bisa. Lagi pula ditendang seperti tadi cukupkan?"
Tetapi beliau justru membalasku dengan mengembuskan napas panjang. Ha-ah, mendadak aku merasa bersalah. "Uumm, kalau Anda menggunakan Vision mungkin saya bisa menyiapkan senjata."
Seketika orang tua itu menjentikkan jari. "Itu dia! Heart Core-ku ada di ruang belakang bersama dengan barang-barangku. Aaakh, kita harus ke sana! Aku sudah membuat salinan denah tempat ini juga, dan butuh menyelamatkan anggota tim yang lain!"
"Eh, yang lain tidak bersama Anda?"
"Tidak, ketika kami terkena serangan mendadak dari naga, kami langsung berpencar karena keadaan terlalu menjepit sampai satu Swordmaster harus menahan semua musuh. Kamu sendiri ... cuma sendirian?"
Aku mengangguk terhadap pertanyaan beliau. "Saya sudah mendapatkan izin bebas menyidik dari Profesor Kaidan."
"Langsung dari Kaidan?! Aaakh, berarti kamu memang lumayan." Dan orang tua ini menggaruk rambutnya seraya terus mengerang. "Kita harus bergerak cepat, anggotaku mungkin dalam bahaya! Ikuti aku, aku masih hafal jalannya!"
Sontak beliau berlari tetapi aku merasa ... ada banyak kejanggalan. Terlebih mata biru tuanya entah mengapa terasa tidak asing---ah, ada yang lebih penting! Bergegas aku mencepatkan langkah untuk menyusul.