
Saat pertama tiba di dunia ini, aku begitu yakin dengan ingatanku sendiri bahwa mengingat segala hal yang terjadi dari awal kelahiran sampai sekarang, karena memang kebenarannya seperti itu.
Hanya saja, Tiamat mengacak-acak ingatan tersebut dan merebut beberapa potong memori, menyisakan seluruh ingatan buruk agar aku tenggelam dalam kesengsaraan abadi ... sebab, ia ingin mengendalikanku.
Saat kami bertemu lagi, Tiamat melepas semua ingatan tersebut tapi dalam kondisi berantakan dan aku berakhir rancu. Walau begitu; meski berantakan, semua memori yang ada adalah mutlak; benar; konkret, termasuk aku yang terlahir dari iblis ... dan aku adalah manusia, yang terlahir dari rahim berdasarkan teriakan Aion.
Karena jiwa ini telah melewati tiga fase kehidupan.
Awal penciptaanku berkat iming-iming dari para iblis.
Dan aku, adalah bentuk keputusasaan para manusia.
Bumi tempat asalku sudah terjatuh dalam kondisi yang kacau. Aku tidak tahu kenapa para manusia bisa sampai pada saat sebegitu sengsara dan hancur, seperti kehidupan sudah tak ada artinya dan kematian adalah hal biasa yang dapat dilihat setiap hari di depan mata. Mungkin ini efek samping dari banyaknya manusia memenuhi muka bumi? Sampai alam sudah tak mampu mencukupi tiap individu.
Ya, alam itu sendiri telah rusak dan tidak ada lagi ekosistem karena satu-satunya makhluk hidup yang tersisa ... adalah manusia. Maka, manusia itu pula menjadi bahan konsumsi untuk manusia lainnya.
Kondisi seperti ini, memprihatinkan bukan?
Mungkin mereka sampai sejauh ini karena telah lupa pada Sang Pencipta? Sebab, segala ucapan iblislah yang didengar. Bahkan jiwa bumi pertiwi telah lemah dan semakin lemah hingga tak mampu lagi memberikan kestabilan pada makhluk hidup di dalamnya, berakhir dapat digenggam dengan mudah oleh para iblis ... atas izin manusia itu sendiri.
Padahal iblis dan manusia telah lama perang dingin, mereka menginginkan manusia memenuhi neraka---ah, memang benar manusia rusak lantaran kesalahannya sendiri yang lebih mendengar bisikan makhluk jahanam.
Saat kondisi kacau seperti ini, tentu semua hak milik perseorangan hilang dan digantikan dengan hak milik bersama yang dikontrol oleh satu pemimpin. Dan pemimpin tersebut memiliki paham bahwa manusia sudah tidak bisa lagi terus melanjutkan kehidupan, ia menginginkan kepunahan; kebinasaan; kiamat, seolah-olah kematian adalah jalan keluar dan bentuk keselamatan.
Benar-benar tidak paham lagi kenapa mereka bisa berpikir segila ini. Apa dari sekian banyak manusia, sungguh tak ada pemilik cahaya dan pengingat Tuhan yang berakal?
Namun, sebab itu pula aku tercipta.
Mereka menginginkan sesuatu yang bisa membinasakan manusia dalam jumlah masal, dan hal yang paling menyedihkan ... Lucifer menggunakannya sebagai jalan untuk menjalankan siasat.
Melalui mimpi sang pemimpin, Lucifer memberi satu penglihatan bahwa keinginannya akan terwujud, berupa anak dari bagian raga para iblis berpangkat.
Lalu hasutan lainnya datang, "Karena tubuh merupakan bagian dari kami, maka jiwa adalah ketujuh dosa mematikan. Daripada manusia mati dengan sia-sia seperti sekarang, bagaimana jika gunakan kematian mereka sebagai pembuatan wadah dosa? Siapa tahu jiwa mereka akan terkumpul dan menghasilkan jiwa baru."
Tujuh dosa yang dimaksud adalah: hasrat seksual yang rusak dan salah; kerakusan pada makanan; keserakahan terhadap material dunia; kemalasan dan kesia-siaan; amarah besar dan dendam; benci dan kecemburuan; kesombongan dan keangkuhan.
Sebab itu pula proyek pencarian dosa dilakukan, sebagai jalan para iblis mendatangkan anak yang Lucifer maksud.
Akhirnya manusia pemilik dosa kuat dikumpulkan, bangga mereka memamerkan kekejian tanpa dilakukan tindakan hukum---ah, memang sudah kacau kondisi bumiku.
Setelahnya sang pemimpin mendeklarasikan bahwa ia hanya memilih satu pendosa terbaik dari tiap tujuh dosa yang nantinya akan diberi tahta dan harapan menjadi nyata.
Dengan tawaran tersebut, makin banyak orang berani pada kefasikan. Hilang sudah akal sehat dalam angan harta; tahta; harapan, padahal semua hanya omong kosong belaka.
Namun, mendapat dosa dominan dalam satu tubuh mendekati tidak mungkin. Maka secara diam-diam; tanpa pengetahuan rakyat sipil, mereka membuat kloning. Kemudian peserta sayembara dikelompokkan sesuai dosa terkuat untuk dijadikan tumbal. Walau mengalami kegagalan, manusia-manusia itu tetap tidak menyerah. Hal ini membuat krisis, terutama pada negara kecil.
Sebab, bagaimanapun ... yang bisa memberikan jiwa hanyalah Tuhan.
Kendatipun, Tuhan mendengar keinginan para makhluknya meski telah sampai pada saat paling buruk seperti ini karena Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang tidak suka manusia terus saling merusak diri, pun eksistensi jiwa ini hanya satu ... mengabulkan permohonan.
Akhirnya dari ketujuh dosa mematikan itulah, suatu jiwa terbentuk.
Sebabnya, eksperimen mereka menemukan titik terang.
Lantas para wadah dosa terlahir; tujuh dosa mematikan terkumpul, apa yang diimpikan keluar dari tabung khususnya yang telah lama mereka siapkan.
Dan itu ... adalah aku.
Bisa dibilang, wujud asliku sangat menyeramkan terbilang raga tercipta dari potongan para iblis yang bebas merayap di muka bumi. Meskipun begitu, aku dapat menyamarkan diri serupa balita rambut dan mata merah. Karenanya nama panggilan pertamaku terbentuk, berupa sebuah legenda turun temurun di duniaku ... REDstar, bintang merah sang pengabul permohonan. Dengan nama lain, The Hope--sang harapan.
Lantas sang pemimpin amat senang sampai menyimpanku pada kamar khusus; tak boleh sembarang orang masuk.
Walau aku--sang harapan--sudah turun, apa yang diinginkan belum terwujud. Karena aku tak melakukan gerak berarti; tidak merespons, hal ini mendasari suatu konflik antar para wadah dosa.
Padahal bagai anak kecil pada umumnya, aku baru bisa merespons jika diberikan suatu sentuhan kasih sayang dari seorang ibu---ah, tidak tahu lagi mengikuti para iblis ternyata membawa kebodohan sebegini jauh untuk manusia.
Akibat konflik berujung pada buntu, terjadi suatu persaingan antar para kloning yang menjadi wadah dosa. Siapa yang bisa membuat The Hope merespons maka dia yang berhak atasnya. Dan sejak saat itu aku terus menyaksikan mereka berlomba-lomba menunjukkan keunggulan masing-masing ... lebih tepatnya, menyaksikan mereka berbuat konyol berdasarkan dosa yang dimiliki.
Sering kali mereka bertujuh berakhir mengelilingiku, cukup luar biasa ternyata mereka bersaing secara adil.
Hingga pada satu waktu, hal menakjubkan terjadi.
Ada satu wadah dosa yang bertindak di luar kendali, dan wadah tersebut adalah kloning dari dosa kesombongan dan keangkuhan, bernama Pride.
Ini terjadi ketika malam hari.
Dan aku melihatnya ... berlinangan air mata.
Gemuk tirta tumpah atas senyuman lirih dengan tangan tak henti membelai kepalaku. Pun aku mengetahui bahwa ia berkata tentang perihal anak; orang tua; keluarga, dan secara diam-diam aku berhasil dibawa kabur. Kemudian ia membawaku pada suatu desa dan menyamar dengan penghuninya.
Sejak saat itu, aku diperlakukan sebagaimana balita normal pada umumnya. Dan dia, bertindak seperti ibu normal pada umumnya.
Sungguh ini terasa sangat damai sampai lupa kami adalah makhluk buatan; jiwaku terbentuk berdasarkan tujuh dosa mematikan; ia adalah salah satu wadah dosa; bumi sedang dilanda krisis.
Hingga aku berpikir, mungkinkah Pride memiliki hati? Atau semua sebatas bentuk besar diri dan merasa paling unggul daripada yang lain? Kendatipun, aku ingin waktu berhenti saat ini juga lantaran ... mala petaka terjadi setelahnya.
Tak lama Pride tahu keberadaannya terancam berkat aura dosa kecemburuan dari Envy. Tanpa memakan waktu, kami pun melarikan diri. Kemudian ia meninggalkanku sendirian atas air mata tak henti membasahi pipi.
Mengetahui ia tak henti menangis, aku mulai berpikir bahwa Pride sungguh memiliki hati.
Tentu saja, aku balita yang belum lama lahir di bumi dan baru mengerti makna kasih sayang, tidak ingin kehilangan seseorang yang kuanggap sebagai ibu. Maka aku tak henti mengikutinya sampai ia berkata kasar.
Sungguh kasar, sampai aku mematung dan berakhir menangis di tempat. Hingga berjam-jam berlalu, aku semakin meringkuk dalam langit jelaga tanpa gemerlap.
Dan anak kecil tetaplah anak kecil.
Emosi tak keruan mulai merengkuh; takut akan kesendirian menyelimuti, lantaran aku berpikir kebaikan yang selama ini diterima hanyalah tipu daya. Semua perasaan tersebut mendidih dalam hati, membuatku hilang kendali oleh dosa mematikan dalam jiwa.
Satu persatu; tiap langkah, mata merah mengelam seiring perubahan dalam tubuh.
Sebab lepasnya emosi tak keruan, aku pun kembali ke wujud asli.
Tak khayal, justru yang kutemukan adalah ... Pride bertarung dan tertikam belati milik Wrath, wadah dosa kemarahan dan dendam.
Pride pun mati.
Dan aku tidak terima.
Tak terima sampai berakhir menggila.
Aku melaung hingga bumi terguncang. Tentu saja karena terbuat atas dosa mematikan dan potongan dari banyak iblis berpangkat, eksistensi untuk kehancuran begitu kuat; membahana, hingga bumi terselimut api. Mungkin juga sampai membunuh jiwa bumi secara tak sadar.
Amarahku benar-benar brutal.
Namun, mungkinkah ... justru mengabulkan permohonan awal para manusia, yaitu kebinasaan? Karena setelahnya, bumi hampir dilanda kekosongan.
Banyak korban berjatuhan, tak pandang bulu; pukul rata. Kejadian tersebut membuatku sadar bahwa diri ini sangat berbahaya dan kotor.
Aku juga mempelajari hal yang seharusnya; manis pahit kehidupan, dari membaca serpihan memori para manusia bak kunang-kunang dalam malam suram yang mendadak muncul.
Mungkin, Tuhan sengaja menunjukkannya padaku.
Maka aku menyebar tujuh dosa mematikan dari para kloning wadah dosa ke seluruh dunia, karena akan berbahaya jika terkumpul menjadi satu ... dan bertemu denganku. Tujuh dosa tersebut juga dijaga oleh tujuh malaikat kebajikan agar kasus seperti ini tak terulang lagi.
Kemudian aku berpikir bahwa semua berhak mendapat kesempatan dan keadilan. Apa lagi manusia memang sumber kekhilafan, tak sempurna. Kesalahan pasti terjadi dan aku memberi kesempatan pada mereka.
Dengan merelakan jiwaku untuk membangun pohon kehidupan; mengganti jiwa bumi ini yang telah musnah.
Lantas panggilanku untuk kehidupan baru bagi bumi didengar oleh pihak surga; Tuhan juga mengasihi. Uluran tangan dari langit datang padaku yang setia berdiri di depan pohon besar, untuk menutup tujuh dosa dengan tujuh kebajikan.
Yaitu hasrat seksualitas diselimuti dengan kesucian; kerakusan ditahan melalui pantangan; keserakahan ditutup oleh kemurahan hati; kemalasan dijerat menggunakan ketekunan; kemarahan dialihkan menjadi kesabaran; kebencian dan kecemburuan diikat dengan mawas diri; kesombongan dan keangkuhan dirangkul atas kerendahan hati.
Maka sempurnalah bentuk jiwa ini secara utuh dan keseluruhan, menjadi entitas berkuasa atas alam semesta yang bisa; menyerupai Tuhan tapi tidak akan pernah bisa menyerupaiNya--Godly Being.
Atas kekuatan ini, pohon kehidupan untuk duniaku siap berdiri kokoh yang kuberi nama ... Yggdrasil.
Akhir bahagia? Tentu si makhluk jahanam tidak tinggal diam.
Detik-detik sebelum aku menyerahkan jiwa pada Yggdrasil, ia berhasil merobeknya. Meskipun kecil, potongan jiwa itu tetaplah aku dan aku yang sudah terlanjur menyerahkan diri sebagai kehidupan kembali bumi ini ... tak bisa melakukan apa-apa terhadap Lucifer.
Sebaliknya, aku tak membutuhkan raga iblis itu maka kukorbankan demi menghidupkan kembali sang Pride.
Sebab, kupikir, ia berhak bahagia di dunia yang baru.
Akibat tercipta dari ragaku--potongan tubuh iblis berpangkat--Pride menjadi immortal.
Kini rambutnya merah muda dan mata menjadi biru langit laksana siang tanpa mendung, memiliki sihir tingkat tinggi; waktu hampir tak berpengaruh padanya; dapat melihat serpihan masa depan. Aku menarik sang penyihir waktu hidup ke dunia, bernama ... Aion.
Dan Aion, menyaksikan bagaimana jiwaku direnggut sebagian oleh Lucifer dan terkunci keseluruhan dalam Yggdrasil.