When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| Makhluk Buatan



"Masih ingat pertama melihat Red? Dia sangat dingin, mendekati atau mengajaknya berbicara saja sulit. Kamu pasti pernah mendapat jawaban dingin darinya. Yah ... walau perkataanmu sebenarnya lebih dingin dari dia tapi sifat tidak pedulinya itu yang membunuh, terutama pada dirinya sendiri."


Detik itu juga berjanji dalam hati untuk benar-benar berubah. Mereka memercayaiku dan seharusnya aku juga begitu 'kan? Mungkin sudah lama aku menutup mata, tapi tidak ada yang terlambat. Benarkan, Fate? Aku menatap gadis berwajah tenang jauh di depan sana, selaras dalam mata biru keperakan nan teduhnya.


"Dulu aku merasa sulit menghadapinya. Bahkan aku berpikir ia melihatku seperti angin berlalu," ucap si pemuda dengan senyum masam.


Astaga, maafkan aku Crist! Dulu memang tidak mau berinteraksi dengan siapa pun.


"Dan sekarang, ia melunak. Jujur, aku masih sedikit takut menghadapinya walau sudah setenang ini. Apa yang kamu lakukan?"


"Tidak ada." Wajah Fate masih belum menunjukkan perubahan emosi. "Dia menarik, jadi aku dekati. Hanya itu, tidak lebih dan tidak kurang.


"Tapikan---"


"Aku belum pernah bertemu immortal seperti dia. Dari rasa penasaran ... hingga tanpa sadar aku mulai membimbingnya," sambung Fate cepat seolah-olah mengerti apa yang ada dalam pikiran Crist, "lagi pula aku sudah terbiasa dengan aura Red. Karena di duniaku banyak yang memiliki aura lebih menakutkan. Dia tidak ada apa-apanya dibandingkan mereka. Dan lagi ... ada satu makhluk yang membuat aura pekat Red bagai anak kucing dibandingkan dengannya."


Sontak Crist terkejut sampai membusungkan badan, wajah pun berubah kusut bersamaan mengerjapkan mata berkali-kali. Sedangkan Fate hanya menaikkan kedua pundak, mungkin respons si pemuda sedikit berlebihan dalam pikirnya. Namun, mendengar makhluk yang gadis itu maksud ... kenapa aku memiliki firasat buruk?


"Oh, dan lagi aura mencekam lama kelamaan berkurang---ah, lupakan." Crist langsung kembali duduk tegap. Wajah berantakan kini berubah serius beriringan dengan menyilangkan tangan depan dada, seperti berpikir keras.


Sekarang ... boleh aku dekati mereka? Khawatir mereka belum sarapan, apa lagi Crist sejak pagi hanya mengikutiku. Dengan ragu-ragu dan berjalan pelan, aku mendekati Fate dan si gadis langsung menoleh. Ah, sepertinya sudah tak apa. Fate menerima pemberianku seraya tersenyum tipis, sangat samar hingga tampak tak ada perubahan berarti di bibir merah muda.


Berbeda dengan Crist, dia masih tenggelam dalam pikiran sendiri. Sampai aku berdiri beberapa menit di sisinya pun tak sadar.


"Crist?"


Bruk!


Seketika tubuh Crist ambruk ke samping, atas wajah terkejut mendongak dan menatapku tak percaya. Refleks aku merasa panik, meletakkan bekal makan pada meja dan membantunya berdiri. Namun, Crist tak kunjung bergerak; masih beku dalam ekspresi tak percaya.


Sungguh, baru pertama melihat dia terkejut sebegini heboh.


"A-apa aku seseram itu?" tanyaku ragu, masih berlutut di dekatnya.


"Red, kamu dengar?!"


"Eh, iya?"


Aku mengerjapkan mata karena bingung, tapi pemuda di dekatku masih setia dalam ekspresi terheran-heran. "Ya ampun, ya ampun! Red, maaf aku tidak bermaksud membicarakanmu di belakang!" Sekarang dia mencengkeram pundakku seraya mendampilkan pucuk kepala ke dadaku.


Ah, aku berakhir mengelus punggungnya pelan dan berkata, "Kenapa meminta maaf? Harusnya aku yang meminta maaf. Kamu Departemen Konsultasi berbicara dengan Fate, Disiplinaria. Kalian ingin mendata diriku 'kan? Maksudku ... mengawasi perkembangan sosial para murid, termasuk aku. Ah, a-aku janji kedepannya tidak akan melakukan kesalahan seperti ini lagi. Ya, aku usahakan!"


Crist langsung mendongak, mata biru menatapku lurus sampai-sampai kelopaknya terbuka lebar. Dan aku menjadi gugup. Apa aku salah ucap? Ugh, sepertinya akan terkena masalah---heee, beberapa detik berselang Crist justru tertawa keras. Sangat kencang hingga menepuk-nepuk kening.


Aduh, kenapa lagi ini ... aku memilih menoleh pada Fate tetapi gadis itu justru tersenyum kecil dan menghela napas.


Lantas dengan sedikit ragu-ragu aku meminta Crist untuk sarapan terlebih dulu ... mungkin efek lapar? Yang dituju pun mengangguk; duduk kembali pada kursi; mengabil dan melahap isi kotak bekal. Tapi aku semakin merasa canggung ketika di sela makan, Crist terkekeh--meskipun dia coba tahan--jadi aku memilih untuk menoleh ke depan, Fate masih duduk tenang di sana.


"Fate, kamu tak apa dekat denganku? Karena sangat yakin ... aku ini, bukan manusia seperti yang dulu kamu sebutkan."


"Ha, bagaimana Red?" tanya Crist mendadak, bahkan mulut masih jelas mengunyah makanan.


"Saat itu, ingatanku ada yang terbuka jelas." Aku menoleh ke arah Crist, dia berhenti makan dan tampak tertegun dengan apa yang didengar. "Yaitu aku dikelilingi oleh tujuh orang dengan aura aneh, dan mereka adalah wadah dosa mematikan. Sebab mereka pula jiwaku terbentuk. Dan tubuhku ...."


Tak langsung menjawab, aku menunduk dan melihat jemari yang sedang aku genggam dan lepaskan berkali-kali.


"Tubuhku terbuat dari potongan raga para tujuh iblis dosa mematikan. Bagai potongan gambar, memori setelahnya hitam. Tapi aku juga ingat diciptakan untuk mengabulkan satu permohonan dan sudah digunakan olehnya, orang terkasihku. Ia memohon agar aku bisa hidup normal dan itu menciptakan paradoks. Harusnya aku musnah setelah mengabulkan permohonan tapi karena permohonan itu berkaitan denganku, sebagai gantinya, ia yang musnah ... beserta dunia tempatku berasal."


Karena sudah tak dapat lagi hidup di sana, apa lagi dengan menjalankan kehidupan normal. Itu yang aku yakini. Dan jelas membuktikan ... eksistenstensiku merupakan sebuah ancaman.


Aku beralih mengarahkan atensi pada Fate. "Meskipun begitu, aku tetap berbahaya ... walau tanpa kekuatan asliku."


"Tapi aku tidak apa-apa," jawabnya santai, memancingku mengernyit sampai mata yang sudah tajam semakin sipit.


Lantas aku berpindah duduk ke sebelah Fate dan menggenggam jemari lentiknya, amat pelan dan penuh kehati-hatian karena bagai memegang sebuah bongkahan es yang rapuh ... tangannya dingin bagai terlalu lama di tempat bersuhu rendah.


Benar, sesuai dugaanku.


"Lalu ini apa?" tanyaku nanar dan mata turut menjadi sayu, "aku masih ingat betapa rendahnya suhu tubuhmu waktu awal kita bertemu, sekarang ... semakin parah."


Perlahan ekspresi terkejutnya--mungkin tak menduga aku akan terus memegang tangannya?--luntur dan dia menjawab, "Suhu rendah ya ... mungkin karena tubuhku buatan."


"Apa?!" kejut Crist sampai makanan dalam mulut berjatuhan ke kotak bekal di tangannya. Jujur, pagi ini orang yang terkenal pemikir dan penuh perhitungan terlihat sedikit konyol.


"Berbeda dengan Red yang dibuat untuk mengabulkan permohonan," lanjut Fate dalam aksen datar biasanya yang sulit kuterima, "Aku ... bisa dibilang, 'dibuat' untuk menjadi baterai dari sebuah senjata. Tidak lebih dan tidak kurang."