When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
Umur Berapa?



Perlahan-lahan mereka yang siap dengan senjata masing-masing mulai melemaskan tubuh dan kembali pada aktivitas sebelumnya ... kecuali Profesor Kaidan.


Beliau tampak begitu kebingungan karena kepala tiada henti menoleh bergantian pada setiap penghuni ruang. "Kenapa menurunkan senjata? Kalian bisa merasakan auranya tidak biasakan?!"


"Pak, kan sudah dengar sendiri dia itu malaikat. Dan bukan sembarang malaikat juga. Dia adalah Sang Juru Tulis Tuhan, Metatron." Lux pun menaikkan kedua pundaknya, kembali duduk dan menyesap teh di meja sekali teguk. "Jadi wajar auranya tak biasa."


"Dan kamu tahu ini Lux?!"


"Yah ... lebih tepatnya aku sudah pernah melihat juga merasakan auranya melalui ingatan Sen. Sempat lupa sih, tapi berkat klarifikasi Fate barusan, langsung ingat lagi."


"Kaidan, kau berlebihan. Jangan berisik aku perlu selesaikan dokumen-dokumen ini."


"Ha?! Kak, kamu juga tahu?"


"Iya." Beliau menjawab pertanyaan Profesor Kaidan tanpa mengalihkan pandangan dari dokumen di depannya. "Waktu awal pemeriksaan Heart Core milik Fate menunjukkan dua identitas, tentu aku selidiki. Tidak kunjung menemukan jawaban, akhirnya aku menggunakan Deep Dive dan tahu-tahu Metatron muncul di depanku."


"Jadi cuma aku yang tidak mengerti soal Metatron?!" Lux dan Lucian mengangguk secara serempak, membuat gelagat terkejut-kejut beliau semakin parah.


Mendadak mata cokelat itu tertuju padaku. "Red, kamu kenapa tenang begitu? Jangan-jangan kamu juga tahu?!"


Aku sempat tertegun selama beberapa detik, lalu mengukir suatu senyuman nan hangat seraya duduk pada bangku kosong di sisi. "Iya. Bahkan rasanya senang mengetahui beliau kembali hadir---" Langsung aku menutup mulut.


Heee, Red, kau hampir membocorkan masalah hubunganmu dengan Metatron! Termasuk mengenai Arthur ... hah! Sekarang aku merasakan aura nan dingin tepat di sisi dan ketika menoleh, mata perak kebiruan telah tertuang secara penuh padaku. Bahkan, ekspresinya lebih parah--amat sangat datar--dari memberikan perintah tersirat untuk sang Head Master.


Aku yang berusaha meyakinkan diri, lantas menelan ludah sendiri dalam tenggorokan.


"Kenapa berhenti?" Adalah apa yang tiba-tiba diucapkan oleh Fate ketika aku terdiam cukup lama.


Namun, aku membalas dengan menggeleng cepat pun tangan masih menutup mulut.


Lantas jari lentik Fate mengetuk meja secara ritmis. "Hmmm, kalau dipikir lagi nama 'Sirius' itu tidak asing di telingaku. Dan kenapa kemampuan berpedangku meningkat padahal tidak pernah berpedang sama sekali? Juga ... kau mendadak berani memegang pedang."


Seketika senyum cemerlang--yang entah mengapa terkesan menyeramkan--menghias wajah Fate. "Aneh ya?"


Tuhan, aku bertanya-tanya bagaimana harus menjelaskan hal tersebut padanya? Sudah berjanji tidak akan mengatakan, juga itu mengenai Fate sendiri---ah, kalau-kalau angin musim dingin mendobrak masuk dalam ruang ini dan membekukan, tentulah aku sudah membeku sepenuhnya sekarang. Sebab, kini, sepasang mataku membeliak horor; menatap satu-satunya gadis bak baru saja melihat setan karena Fate sudah sangat intens mendelikku!


"Red, kau tidak bisa berbohong dan sangat memikirkan tentangku. Berdasarkan asumsiku, kejadian balkoni perpustakaan yang rusak itu berkaitan sangat erat denganku tapi kau berusaha menyembunyikannya, dan itu juga berhubungan dengan Metatron."


Demi Tuhan dan seluruh keteguhanku yang tersisa! Punggung terasa sama dingin dengan seluruh tubuh. Apakah ini salah satu pertanda bahwa kematian sudah berada di pucuk sekali karena tertangkap basah menyembunyikan banyak hal yang seharusnya dia ketahui? Benar-benar, gadis ini pengamatannya terlampau tajam!


"Iya, itu karenaku. Aku yang memintanya untuk tidak memberitahukan hal tersebut padamu, dan dia melakukannya dengan baik sampai sekarang." Pelan, langkah nan lugas dari sosok jelmaan Metatron mendekat pada meja yang kami singgahi. "Aku menggunakan tubuhmu sebagai medium untuk mendiang Arthur karena ingin memberikan peringatan padanya."


"Sesuai dugaan. Ayah pasti terlibat." Dan Fate tak henti mengerang sebal pun memijat keningnya. "Pertama si malaikat terkutuk itu. Lalu Michael. Sekarang Metatron. Kemudian Arthur? Apa yang sebenarnya terjadi dalam kehidupanku?!"


"Jadi---"


"Diam, Metatron."


"Dimengerti."


Aku yang celangap, langsung menoleh pada pria tinggi berbadan besar ini tetapi Lord Metatron hanya menaikkan kedua pundak melihat gelagatku dengan wajah datarnya. Bahkan, sosok besar dan agung sekelas kaki tangan Tuhan seperti beliau juga bisa tunduk ... pada Fate?!


Lalu apa ucapnya barusan? Pemimpin dari para malaikat, sang Archangel Michael itu juga pernah menetap di tubuhnya?! A-ah, sepertinya hari-hariku kedepan akan sangat sulit? Dan banyak kejutan. Lebih-lebih yang lain jelas menampilkan gelagat kepalang kaget melihat interaksi barusan, kecuali Lux. Dia hanya menggeleng sambil tertawa. Apa interaksi seperti ini pernah terjadi sebelumnya pada ingatan Sen?


"Ya sudahlah." Akhirnya Fate mengembuskan napas pasrah. "Yang terjadi maka terjadilah."


"Sebenarnya ... waktu aku melawan Arthur memang luar biasa, padahal dengan kondisi terbatas seperti itu beliau mampu mengerahkan kemampuan sampai aku merasa terdesak dan terpaksa mengeluarkan pedang untuk menjatuhkannya. Maka dari itu, akhirnya aku sadar dan bisa dengan tenang kembali menggunakan pedang. Karena rasanya, tidak seburuk apa yang kupikirkan," ucapku pada akhirnya, berusaha menguras ketegangan yang masih tersisa.


Hal tersebut membuat si gadis menutup kedua mata, tampak tenang seumpama secercah sinar mentari yang lolos dari jendela ikut berusaha menghangatkan. "Iya, ia kuat. Ksatria tidak terkalahkan bahkan sampai akhir hayatnya."


Lantas, Lucian tersenyum amat lebar atas rasa gembira tergambar jelas. Semakin serius pula menulis tiap-tiap lembar dokumen di meja. Mungkin itu menjadi suatu semangat tersendiri untuknya. Bagaimana tidak? Aku pun yakin bahwa wajah Fate begitu meluluhkan lantaran senyuman nan hangat kini terpatri jelas; sampai aku sendiri dibuat terpana akan keindahannya.


Aku senang mengetahui Fate bukan seseorang yang berlarut-larut dengan kekesalan dan amarahnya sendiri.


"Sekarang aku bertanya tentang kedatanganmu di sini, Metatron." Dan atensi Fate kembali tertuju pada sosok beraura suci yang setia berdiri di dekat meja.


"Untuk mengonfirmasikan sesuatu." Lalu mata biru bersih bak berlian melirik bergantian padaku dan Fate. "Dan sepertinya semua berjalan dengan baik. Ingatanmu sudah kembali. Anak ini sudah tidak abadi."


Apa yang beliau ucapkan, memancingku untuk ikut menatapnya seraya menunjuk diri sendiri. "Lord Metatron, tidak memanggilku 'halfing' lagi?"


"Kau sudah sepenuhnya manusia." Beliau melipat kedua tangan dan melihat ke arahku. "Dan kau juga harus menentukan umur agar kau sadar dengan waktu hidupmu."


"Oh, aku hampir lupa." Akhirnya Profesor Kaidan ikut andil dalam pembicaraan. "Red, Bapak perlu data lengkap dirimu sebelum ke Eother. Dan mengingat kamu sudah menjadi manusia sekarang, umur berapa yang harus Bapak cantumkan pada datamu?"


Ah, iya. Langsung aku menutup mulut menggunakan tangan kanan demi memikirkan hal tersebut. Tapi jika berhubungan dengan umur ... harus mencari tahu tanggal kelahiranku 'kan? Masalahnya, aku tidak tahu kapan; secara pasti umurku berapa juga tidak tahu. Terlebih sudah dunia yang berbedakan? Apa perhitungan waktu di duniaku sama seperti dunia ini?


"Red, ada terpikir tidak ingin tanggal berapa untuk ulang tahunmu? Kau juga perlu tentukan berapa umurmu untuk tahun ini. Dari situ, baru mulai hitung pertambahan umurmu," ucap Fate memberikan masukan.


Benar juga. Itu mencelikkan benak. Perlahan, aku pun menurunkan tangan. "Ada. Sembilan belas Maret!"


Sontak Lux menyunggingkan senyuman ganjil dengan sebelah alis ikut terangkat. "Ho, kenapa tanggal itu?"


Maka kujawab dengan bangga atas senyuman semringah, "Karena di tanggal itu ... aku melamar Fate!" Maka tertawalah si pemuda.


Berbeda dengan Fate dalam merah yang mekar pada kedua bukit pipi membuat dadaku bergemuruh menyenangkan sampai mata menatap lama ke arahnya. Sebab betapa ayu gadis ini, begitu sempurna bahkan hanya dengan gelagat malu-malu berusaha menuangkan teh pada cangkirnya yang kosong---Tuhan, dia memang memabukkan sampai aku dibuat terpukau pun abai pada kejadian aneh dan luar biasa sebelum ini.


Setidaknya, sampai Lux tiba-tiba membusungkan badan demi menjentikkan jari di depan wajahku. "Hei, sampai kapan kau melihat Fate begitu? Pikirkan dulu masalah ini, umurmu mau berapa?"


Tentu hal tersebut membuatku terkejut sampai jantung terasa melonjak dari dada---astaga, lagi-lagi terbawa perasaan sampai lupa sekitar! Apa lagi di tengah orang-orang penting seperti mereka ... aaaa, langsung aku menutup wajah menggunakan kedua tangan. Pun menjawab sembarang, "Tidak tahu!"


"Haaah, benar-benar deh. Terlalu fokus sama Fate sih." Mendengar pernyataan Lux, Profesor Kaidan tertawa lepas. Sayang, hal itu membuat si pemuda ikut menanyai beliau. "Menurut Pak Kaidan sendiri, Red harusnya umur berapa?"


Dan tawa beliau berhenti bagai dipotong secara paksa. "Huh? Emmm ... sembilan tahun."


"Bapak apa aku sekecil itu?" Langsung aku menyembur kata pun menurunkan tangan demi menatap beliau penuh rasa heran.


"Menurut Bapak begitu."


"Aaah, pertanyaanku salah. Maksudku berdasarkan fisiknya."


HA?! Tunggu-tunggu, aku kecil dari mananya? Dan kenapa mereka berdua terlihat sepakat begitu?! Spontan langsung menelisik diri sendiri. Aku baru berhenti saat Fate berdeham beberapa kali dan berkata, "Secara fisik dia terlihat seperti umur dua puluh lima tahun."


"Tidak teralu tua, Fate? Setarakan juga dengan mentalnya ... mungkin, sembilan belas?"


"Dengan badannya, bukannya itu terlalu muda?"


"Hmm, benar juga." Dan si pemuda mengedik atas mata emas tertuju padaku. "Red, kamu ini ada-ada saja."


"He? Memang aku kenapa?"


Tidak menjawab, Lux justru mendengkus dengan kepala terkulai tetapi tertuju pada Head Master Lucian. "Oi, Pak Tua! Kau dengarkan? Malah terkekeh-kekeh."


"Yaaa, tentukan saja secara acak dari sembilan belas sampai dua puluh lima? Angka yang keluar, itu umurnya," jawab Lucian.


Beliau pun menjentikkan jari, membuat serpihan holografi muncul secara perlahan dan lambat laun terbentuk sosok EVE di depan mejanya. Kemudian, kedua tangan gadis hologram terentang dan muncullah suatu layar dengan angka-angka yang bergulir cepat secara acak. Hingga beberapa detik berlalu, perlahan angka itu memelan dan berhenti atas suatu nomor terpampang jelas.


Dua puluh empat.