
Saat aku membuka pintu club, orang-orang yang ada di ruang utama langsung menoleh padaku. Hampir semuanya berkumpul dan wajar saja karena ini sudah memasuki waktu malam, lebih tepatnya makan malam. Namun, satu orang yang sangat kucari tidak ada di sini.
"Akhirnya! Kakak yang enggak pernah pulang, pulang juga!" sergah Daniel ketika aku berjalan pelan mendekati jajaran sofa depan televisi.
"Di mana Fate?"
"Sepertinya kamu kurang beruntung. Saat kamu ada, Fate tidak ada. Dan saat Fate ada, kamu tidak ada," jawab Crist yang membuatku menyipitkan mata.
Entah mengapa, aku tidak suka dengan keadaan seperti ini ditambah fisik Fate sedang dalam kondisi yang tidak bagus. Ah, kenapa juga relung dada tak kunjung menenang? Ini masalah kecil bukan? Aku langsung menyelipkan jemari ke sela-sela rambut bagian depan.
Semakin lama, firasat buruk semakin kuat.
"Dan jangan berpikir buat cari Fate malam-malam begini. Mending kamu tuh makan, sebentar lagi sudah siap makan malam kita," ucap Cecil dengan menuding-nuding tepat ke arahku. Ah, aku tidak menyadari dia sudah berdiri di depan situ.
"Paling dia di Mansion Lucian, amanlah itu," sambung Daniel berusaha meyakinkan.
"Aku baru diizinkan keluar dari ruang rawat, dan waktu liburku tersisa dua hari lagi ...."
"Red, kamu bisa mencari Fate besok," balas Crist seraya berkacak pinggang, "wajar saja kamu baru diizinkan keluar sekarang, kamu terluka parah ketika sparing. Bahkan dari satu pertandingan saja kamu mendapatkan nilai bagus dari segi pertahanan. Aku yakin kamu juga tidak mau mengganggu Fate malam-malam begini ketika ini waktu istirahat untuk kebanyakan orangkan?"
Aku pun mengembuskan napas pasrah, dan mengapa Crist semakin lama terasa seperti Fate? Apa pun itu, perkataannya ada benarnya. Aku berakhir ikut memenuhi bangku depan meja makan memanjang.
Sembari menunggu hidangan siap disajikan, aku menutup mulut dengan tangan kanan; berusaha untuk berpikir. Sebab jika terus menerus seperti ini maka aku sungguh tak menyelesaikan apa pun.
Aku sibuk, Fate juga.
Aku telah berpindah posisi dalam Departemen Eksekusi dan Disiplinaria belum melakukan rekrut anggota baru, kami berakhir tak pernah berpapasan. Jika bertemu, selalu di saat yang tidak bagus. Aku tak suka menunda sesuatu, apa lagi permasalahan yang melibatkan Fate. Mungkinkah ... harus melapor langsung pada Head Master Lucian? Tentang suhu tubuhnya yang memburuk dan bisikan aneh---
"Hayo, mikirin apa lagi?"
Eh, astaga! Aku terkejut ketika Crist mendadak menepuk pundakku dan spontan menoleh padanya dengan mengerjapkan mata beberapa kali.
"Aku berpikir untuk melapor pada Head Master Lucian ...," jawabku pelan.
Kemudian menarik napas dalam-dalam demi mengenyahkan sesak di dada. "Maksudku, mengenai masalah Fate. Jika kami terus sibuk dengan pekerjaan masing-masing, tidak akan bisa membicarakan jalan keluar untuk masalah ini. Bagaimana Fate yang sering melamun; suhu tubuhnya terus menurun; ia yang semakin kurang fokus dan mendengar bisikan aneh, karena bagaimanapun Lucian merupakan guru walinya ... terlebih sang kepala organisasi. Mungkin beliau bisa melakukan sesuatu lebih baik daripada aku."
Kemudian, tatapan dari mata jelagaku berubah sayu. Meski mengarah pada piring-piring penuh dengan makanan yang masih mengepulkan aroma nan harum di depan, tetap pikiran kacau dan tidak tertuju pada hal tersebut seolah-olah tak memiliki ujung dari tali yang terus ditarik ulur.
"Setidaknya aku harus berbuat sesuatu, biarpun kecil. Sebab tak mau terus ditelan oleh rasa cemas. Masa depan bisa diubah jika kita melakukan sesuatu 'kan? Kalau hanya berpikir dan terus membenam perasaan tak menyenangkan dalam hati, lama kelamaan aku kembali dibuat buta dan itu ... sedikit, mengerikan."
Samar-samar terdengar suara erangan---eh? Astaga, Crist?! Aku berusaha untuk mengelus punggungnya, demi menenangkan si pemuda yang mulai menunduk-nunduk seraya menutup wajah menggunakan dua tangan. Aku biasa seperti itu jika merasa malu tapi untuk kasusnya ... ah, tidak tahu. Apa kembali salah ucap?
"Maaf Crist, aku tidak bermaksud---"
"Bukan Red, aku tidak apa-apa."
Lalu dia mengangkat wajah dan menoleh padaku. Jujur, ekspresi itu terlihat amat tenang seperti semburat merah yang samar muncul di pipi atas mata biru tuanya berkaca-kaca, bak lautan dalam diterpa oleh percikan mentari.
Eh? Tiba-tiba sekali mengalihkan topik ... ini perasaanku saja atau tingkah laku Crist sedikit aneh?
Ha-ah, sepertinya perasaan saja terbilang banyak sekali hal yang kupikirkan padahal kepala masih belum bisa diajak kerja sama. Sepertinya benar-benar harus menyelesaikan masalah satu persatu, segera.
Lantas aku mengambil beberapa lauk makan malam secukupnya dan cepat kuhabiskan. Setelah ini lebih baik beristirahat supaya bangun pagi demi menemui Head Master Lucian.
...****************...
Di ujung ufuk timur mentari melambaikan kirananya; desiran angin begitu damai; tarian awan menyejukkan hati; mega merah menyambut pagi, dan mataku terkunci menatap keindahan di atas sana.
Kemudian aku mengatur napas dan menyelipkan kedua tangan pada saku celana panjang. Ternyata langit begitu cantik tetapi hal ini membuatku sadar bahwa apa yang dilakukan sekarang terasa seperti hilang arah, karena jika dipikir kembali ... apa mungkin Head Master Lucian ada dalam akademi?
Lantas aku mendengkus dan kembali mengambil langkah tetapi badanku mendadak berbalik dengan tangan kiri menekuk ke depan---tunggu, kenapa merasa terintimidasi? Ini hanya Lux!
Dia tertawa kecil seraya melangkah pelan mendekatiku. Mungkin mengetahui reaksiku berlebihan? Namun, auranya ... memang tak biasa, kadang membuatku refleks mengambil satu dua langkah mundur---ah, apa karena Lux seorang pemimpin seperti Head Master Lucian? Terlebih peringkat satu murid terbaik dan seorang Enforcer.
"Pagi-pagi sudah keluar ... mencari Fate? Kau kurang beruntung soalnya---"
"Aku ingin bertemu Head Master Lucian," jawabku, "apa beliau ada di ruangnya?"
Lux berakhir tertegun, mata emasnya tak lepas melihatku dan perlahan ... ekspresi di wajah melunak dengan bibir membentuk gurat sabit nan samar. "Tentu saja. Satu minggu setelah pendataan grade ia selalu ada di akademi. Sebelum jam enam, kalau kau beruntung, bisa berpapasan dengannya di jalan."
Kemudian pemuda itu melangkah melewatiku yang spontan membuat kaki beringsut ke pinggir jalan setapak dengan mata tak lepas menatapnya. "Aku harus lanjut patroli sebelum masuk jam sarapan, karena akan sangat sibuk seharian penuh. Kau juga jangan lupa sarapan jadi cepatlah, dah."
Ah, benar. Harus pulang sebelum waktu sarapan atau mereka--anggota club--akan khawatir terbilang aku tidak izin terlebih dulu. Bergegas aku mengeluarkan Heart Core, lalu menjatuhkannya ke tanah sampai mengeluarkan pion-pion cahaya pembentuk motor besar corak merah hitam. Sebab lebih cepat menuju Gedung Utama jika mengendarai mount.
Sesampainya dalam Gedung Utama, sungguh terasa sepi sampai langkah tumitku menggema jelas pada ruang besar dengan lantai ubin bercorak logo Vaughan ukuran raksasa. Dan terus saja aku melangkah menuju lift sebab ruang beliau berada paling atas, tepat di depan ruang EVE. Namun, ketika pintu otomatis terbuka, saat itu pula aku beku di tempat lantaran hawa dingin merengkuh erat yang spontan membuatku menunduk.
Head Master Lucian, auranya pekat dan begitu berwibawa melebihi harimau yang berdiri gagah pada ujung tebing. Memang sosok beliau bukanlah orang sembarangan. Sebentar ... hawa kepemimpinan beliau dan Lux berbeda, Lux lebih seperti---eh, beliau langsung keluar dari lift!
"Tunggu, Head Master Lucian!"
Derapnya berhenti, tubuh tegap itu sedikit miring ke arahku atas wajah yang setia menampilkan senyum ringan tapi ... ah, aku benar-benar tak bisa menatap langsung ke arah mata merahnya yang lugas. "Ada yang ingin kau sampaikan?"
Lantas aku melaporkan masalah Fate yang mungkin belum beliau ketahui, terlebih mengenai bisikan memanggil untuk pulang yang kuyakin bukanlah campur tangan Tiamat.
Mendengar penjelaskanku, beliau tampak terkejut, jelas dari gerak-geriknya; memancingku untuk mendongak. Tangannya mulai menyilang depan dada bersamaan jemari kanan menyentuh dagu, seperti memikirkan sesuatu hal yang kompleks.
Dalam bariton nan khas, Head Master Lucian pun berkata, "Terima kasih, kami akan selidiki lebih lanjut." Dan bergegas melangkah tegas.
Sebelum terlalu jauh, segera aku berkata, "Fate gadis yang luar biasa, aku belum pernah bertemu yang seteguhnya meski keadaan terus memaksa untuk berbuat lebih. Maka dari itu ... dari itu, Fate akan baik-baik sajakan?"
Langkah beliau tersentak, sedikit membalikkan muka hingga terlihat pipi namun ekspresi wajah tak dapat kulihat di balik temaram rambut hitam panjangnya. "Aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Baik-baik saja atau tidak, hanya Fate sendiri yang bisa menjawabnya."
Hanya itu yang sang Head Master ucapkan, meninggalkanku dalam olahan simfoni dentum sol yang aktif menjejak ruang nan sepi. Beliau tampak buru-buru pergi seperti tak menghiraukan hal lain lagi.