
Sesuai perintah dari Head Master Lucian, aku dan Theo kembali berkumpul pada taman belakang dalam kanopi kepermaian alam mansion milik beliau. Bahkan aku tak diembankan misi oleh Profesor Kaidan, sementara waktu harus fokus berlatih katanya. Namun, aku tak melihat anggota Dion yang lain.
Netra merah nan khas bergantian memandang aku dan Theo. Tak lama, beliau tersenyum ringan. "Katakan, apa kekurangan Red?"
Ketika aku hendak membuka mulut demi menjawab, saat itu juga Lucian langsung menyambar, "Aku tidak bertanya padamu, tapi Theo."
Eh? Iris hitamku langsung bergulir ke ujung pelupuk, menyaksikan mata bak lavender perlahan terpejam. Berapa detik berselang kembali membuka mata dan menjawab, "Red tidak bisa berpikir cepat ketika bertarung."
Oh, begitukah? Lantas aku menatap sang Head Master yang tersenyum bangga. Sepertinya benar. Aku balik melihat tepat pada mata ungu Theo dan dia menyadarinya karena lanjut berkata, "Fate pernah memberikanku beberapa poin penting mengenai pertarungannya denganmu, dan kau ... memang tak ada harapan kalau disuruh berpikir cepat. Kemarin, aku sudah merasakannya sendiri."
Heee, sekarang Lucian tertawa. "Lalu, bagaimana cara menangani hal itu?"
"Insting," jawab Theo dengan tatapan menyelisik diriku, "instingnya benar-benar tajam dan bagus bagai hewan liar dalam hutan."
Tunggu, dulu aku memang tinggal dalam hutan. Apa itu penyebabnya?
"Hooo, dari mana kau bisa yakin akan perkataanmu?" tanya sang Head Master, mulai melipat kedua tangan depan dada.
"Matanya. Meskipun ditekan, matanya membaca situasi ... dan aku yakin, menggunakan trik yang sama padanya tidak akan berhasil karena dia sudah mempelajarinya." Tiba-tiba gurat sabit menghias wajah Theo. "Mungkin ini juga bisa menjadi latihan yang bagus untukku, terbilang aku kalah dari 'ia' karena kemampuan berpikir cepatnya di tengah pertarungan."
Ia? Aku yakin yang Theo sebut bukan diriku karena sebelumnya berkata kalau aku tak bisa berpikir cepat 'kan?
Seseorang yang jauh lebih berbahaya karena mampu berpikir cepat, berarti selalu menyerang dengan trik yang berbeda? Apa mungkin---ah, langsung Theo membuang muka. "Red, meskipun menggunakan insting tetap harus perhitungan, karena ... kalau kau terlalu tenggelam dalam insting sendiri, kamu bisa lupa akan sekitar."
Mendadak dia menoleh dan menunjuk tepat ke arah dadaku, wajah pun mengeluarkan ekspresi serius. "Seperti pertarunganmu dengan Dominguez, itu berbahaya. Insting bertahan hidup sangat tidak peduli mana lawan mana kawan, kamu menyadari hal itukan?"
Seketika aku tertegun tetapi mata tak bisa lepas melihatnya. Benar, aku menyadarinya. Perlahan pandanganku melemah. Apa mungkin ketika di dunia asal saat pikiran mendadak kosong, aku menyerah pada insting? Membiarkan tubuh membabi buta. Saat-saat pertama tiba di dunia ini juga terkadang tenggelam dalam sensasi tersebut. Itu kenapa aku selalu merasa takut melukai ....
Apa benar tak apa mengandalkan insting?
"Kalau begitu cukup membuat kau terbiasa dengan instingmu sendiri." Ah, Head Master Lucian sedikit terkekeh tapi mata merah darah tampak serius melihatku. "Manfaatkan kelebihanmu, kau harus bisa menguasainya agar hewan liar dalam tubuhmu tidak lepas. Itu kenapa latihan diperlukan."
Aku terdiam sesaat dan memikirkan hal tersebut baik-baik, lanjut mengangguk mengerti. Beliau pun tersenyum bangga. "Latihan hari ini masih sama seperti kemarin, jatuhkan serangan pada Theo dan mengenainya."
Dengan begitu, kami mengambil pedang yang sama seperti kemarin dan kembali saling berhadap-hadapan beberapa meter. Jemari Theo bertautan erat, mata menatap siaga ke arahku. Kini kumengerti maksud dari kuda-kudanya yang unik, dia bersiap atas segala kemungkinan serangan---ah, mendadak dia mengubah posisinya menjadi menyerang.
Dengan sedikit tersenyum, Theo berkata, "Bagaimana jika aku menyerangmu terlebih dulu menggunakan cara yang sama seperti caramu kemarin? Mungkin nanti kau bisa menyerangku."
"Eh? Aku ... tak keberatan."
Dia mulai menarik napas. Seperti menjadi aba-aba tersendiri, aku menggenggam erat senjata di genggaman. Seketika dia melesat dengan pedang teracung mantap. Detik kemudian desing menggaung jelas memekakkan telinga karena refleks aku menghalau serangannya dengan pedang melintang di atas kepala---tunggu, Theo menyerang dengan sekuat tenaga bukan mengincarku ... tapi pedangku! Karena dalam tekanan badannya pula dia mendorong ujung senjataku, memaksa pedang berbelok ke samping tubuh.
Ini berbahaya! Gesit menarik pedangku lagi dan langsung memberikan serangan penuh di kepala---ah, dia menghalaunya tetapi dengan pedang kemiringan nan curam. Saat itu juga suara gesekan pada aduan dua bilah tajam terdengar karena pedangku meluncur ke bawah dari sisi senjatanya.
Dia sungguh membaca serangan! Langsung aku berkelit ke samping. Benar, karena jika tak menghindar, dia akan memukul leherku--teringat akan sparing dengan Fate dipertarungan internal club.
Theo tampak terkejut, tapi bibir berubah menjadi suatu gurat sabit nan khas. "Kau sungguh mengingat pertarungan-pertarunganmu."
Trik yang sama? Sejauh ini hanya satu orang yang melakukan hal itu padaku---tunggu, apa dia melihat pertandinganku dengan Fate? Namun, mengenai ... aku juga tak tahu. Dia sungguh seperti air. Entah dalam posisi bertahan atau menyerang, semua sama saja karena bukan tipe bertahan; bukan tipe penyerang, tetapi lebih seperti membalikkan serangan. Inikah yang kemarin Theo maksud akan melawan kekuatanku sendiri?
Mungkin jika aku terus memberikan serangan beruntun, aku bisa.
Aku kembali bersiap atas kuda-kuda dengan menyipitkan mata, jauh lebih siaga dari sebelumnya membuat embusan angin terasa lembut menerpa kulit. Langsung aku meluncur ke arahnya, memberikan suatu serangan tetapi saat pedangku terangkat, saat itu juga dia menusuk tepat ke leher jika kepalaku tak mengedik ke samping.
Mengambil kesempatan, aku langsung berkelok ke samping dan mengincar kepalanya tetapi gesit dia merentangkan tangan ke atas, membiarkan pedangnya melintang di sisi leher. Di saat yang sama Theo berkelit ke belakang---ini! Aku langsung menghindar dengan berguling ke depan dan melirik ke belakang. Benar saja, dia ingin mencengkeram tanganku.
Dia benar-benar ....
Langsung aku berdiri dan menghampirinya. Namun, berkali-kali aku menyerang; berkali-kali serangan di patahkan. Menusuk; menghindar; membanting; bagai suatu ritme tersendiri dalam latihan kami. Bertubi-tubi tubuhku terjatuh, berulang kali kembali berdiri dan balik menyerbu. Sesekali berhasil berkelit dari cengkeramannya tetapi pedangku sedikit pun belum menyentuh Theo.
Bagaimana cara mengenainya?!
Tak memberi jeda, aku kembali mengayun pedang. Namun, dia memutus serangan dengan berkelit dan kuat-kuat memukul senjataku ke bawah hingga denging terdengar. Kalau genggaman tak erat, pedangku bisa terlepas ... tunggu, posisi ini! Apa dia akan mengincar leher---tidak! Seketika pedangnya mengayun horizontal ke depan dan tepat mengenai dadaku.
Sontak bunyi debam teredam tebalnya alas rerumputan ketika kerikil terseok riuh menyayat tubuh terhempasku. Mata jelaga mengernyit, mengasumsikan nyeri akan berkurang jika melakukan hal tersebut. Theo tak memberikan ampun, dia benar-benar menyerangku seolah-olah ini bukan latihan hingga aku terpental begini. Aku berakhir merebahkan diri. Ha-ah, ternyata benar pedang plastik itu sakit juga.
Aku tak menduganya.
Memang staminaku banyak tetapi jika terus seperti ini, lelah juga.
Tiba-tiba Lucian muncul di sisiku dengan membungkuk dan mengukir suatu senyuman yang ... cukup menjengkelkan. "Bangun, Red."
Beliau kembali berdiri tegap dengan dua tangan di belakang punggung. "Kau sungguh butuh pengalaman, dari pengalaman kamu bisa berkembang."
"Mengasah instingmu cukup bekerja, kau mulai bisa menghindari beberapa serangannya." Pelan-pelan, beliau melangkah kembali pada posisi semula. "Kau bisa berkembang dengan pengalaman-pengalaman itu. Vaughan perlu orang yang terlatih."
Namun, sebelum itu semua, Head Master Lucian berbisik, "Hei, kau itu kuat ... sangat kuat. Kenapa tidak menggunakan satu tangan saja?"
Aku kembali berdiri, mengelus dada beberapa kali dan menarik napas dalam-dalam. Satu tangan, ya? Kembali bersiap, aku menatap Theo lamat-lamat. Napasnya terlihat berat, sepertinya dia lelah juga.
Tanpa basa basi aku kembali berlari demi mengukir luka, membuat suara denging terdengar kuat dibawa oleh angin saat pedang kami beradu.
Aku akui, Theo pandai menangani pedang dengan caranya sendiri karena terus membelokkan seranganku. Tetapi aku terus memberikannya tekanan hingga satu titik, dia kembali memukul pedangku kuat-kuat ke bawah dan saat itu juga aku melakukan kayang; melompat kebelakang menggunakan tangan sebagai tumpuan. Pun suara decak mengumbar dan mata ungunya langsung menyipit. Theo terlihat kesal, apa karena melakukan trik yang sama?
Tanpa memakan waktu aku kembali menyerang---ah! Hanya berjarak satu meter, pemuda yang jauh lebih pendek dariku masuk dalam ruang serang dan gesit tangannya muncul dari bawah untuk mengunci tangan kananku. Theo lumayan cepat lantaran langsung berkelit kebelakang dan berusaha membuatku jatuh. Namun, saat itu juga aku mencengkeram belakang kerah bajunya ketika masih sibuk dengan tangan kananku.
Tanpa ampun, aku langsung membanting tubuhnya ke belakang.
Satu tangan, bukan?
Brak!