
"Tidak masalah," jawabku, "justru aku senang kamu bisa mengambil pelajaran dariku, setidaknya dengan begitu, kamu bisa menghargai kehidupanmu sendiri."
Kemudian, aku mengukir suatu senyuman.
"Aku juga masih ingat dengan semua nasihatmu. Dan aku sungguh tidak berbohong segala yang kamu katakan menolongku hingga aku menjadi lebih baik seperti sekarang."
"Nasihat itu hanya bentuk keegoisan." Crist langsung membuang muka dari melihatku.
Namun, kubalas, "Walaupun begitu aku mensyukurinya, Crist, atas segala perbuatanmu. Terima kasih."
"Kamu memang aneh."
Sontak aku teringat pernah mengatakan kalimat serupa ... kepada Fate. Bila mengingat hal tersebut, sudut bibirku tertarik samar dengan mata yang redup. Sebab paham mengucapkan kalimat sesingkat itu, terasa menyiksa.
"Mungkin melihat orang yang tidak beruntung sepertiku membuatmu merasa lebih baik, sehingga kamu seperti di posisi atas dengan memberikan nasihat pada orang lain. Tetapi ... tapi ... setidaknya, aku ingin kamu benar-benar bahagia secara tulus dari dalam hatimu. Rasanya, kamu juga berhak untuk segala ucapan-ucapanmu."
Aku mulai tertawa canggung.
"Entah ini perasaanku saja atau tidak, namun aku lihat segala ucapanmu hanya berlaku untuk orang lain, tidak untuk dirimu sendiri. Terkesan seperti memberikan sesuatu ... kemudian melihat orang-orang dari posisi yang sangat jauh, seperti sebuah lukisan. Hal seperti itu bukankah, menyedihkan?"
"Padahal ada yang pernah mengatakan padaku bahwa Tuhan Maha Pemaaf, itu kenapa Tuhan memberikan kesempatan ke dua. Ada juga yang berkata 'kesempatan ke dua bukan sebatas untuk membayar dosa, tetapi meraih kebahagiaan yang belum pernah dijumpa'."
"Kamu tidak bertanggung jawab untuk kebahagiaan orang lain, tapi kamu bertanggung jawab penuh untuk kebahagiaanmu sendiri. Seberapa keras kamu ingin menutupnya, apa yang kamu sembunyikan dengan segala ucapan dan tindakan, semua akan terlihat nantinya. Maka dari itu ... tak apa kamu merasa khawatir; tak apa kamu merasa sedih; tak apa kamu merasa lelah. Lagi pula, perasaan dalam hati yang membuat kita menjadi manusia 'kan?" jelasku.
Kini dua pundak kukuh tampak bergetar, meskipun samar; walau tertutup rambut, gerak-geriknya tak luput di mataku.
"Saat aku melihatmu khawatir seperti tadi, aku lega akhirnya kamu bisa jujur dengan perasaanmu sendiri. Aku mengerti apa yang kamu rasakan, juga tidak keberatan akan hal tersebut. Sebab seperti yang kukatakan ... aku ingin kamu bahagia, Crist."
"Ah, hahahaha!" Mendadak dia tertawa.
Tawa yang amat dipaksakan sampai terdengar lirih dalam lorong nan kosong; sampai hatiku merasa perih mendengarnya. "Dulu kamu pernah bilang tidak bisa mengucapkan kalimat bagus, sekarang apa maksudnya?"
"Mungkin aku belajar darimu ... dan yang lainnya. Aku tak melupakan seluruh ajaran dan perlakuan baik yang orang-orang berikan padaku."
Aku mulai menautkan jemari.
"Pertemanan kita bisa jadi sangat singkat untuk aku yang sudah menempuh hampir ribuan tahun, bahkan ini belum genap dua tahun. Namun, meskipun begitu, aku sangat menghargainya. Seperti bongkahan emas, senyum kalian semua sungguh cemerlang dalam ingatanku. Aku senang bisa mengenal kalian semua; bisa membangun dan merasakan kenangan-kenangan indah ... walau hanya sebentar."
Dan mataku terpejam berkat dorongan dari senyuman di bibir.
"Karena kalian; kamu; begitu berharga untukku. Segala yang kita lalui berhasil menutup kekosongan dalam hatiku; memberikan kembali warna dalam kehidupanku yang hampa. Jika aku boleh egois, rasanya ingin waktu berhenti saat ini juga tetapi, aku lebih ingin melangkah. Kalau aku terus berdiam diri, aku hanya akan melihat kalian pergi jauh dan hilang dari pandanganku. Maka aku ingin, setidaknya, berjalan bersama kalian sampai akhir waktu."
Kendatipun tersedu-sedu, dia memaksakan diri untuk berkata, "Aku menolong orang lain ... karena merasa gagal dulu tidak bisa melakukannya dengan baik. Itu kenapa ... aku ingin berbuat baik agar diperlakukan baik, agar mereka juga bisa mengingatku dengan baik, tapi mereka hanya berkata 'terima kasih' lalu pergi satu persatu. Seperti dimanfaatkan. Aku jadi berpikir untuk memanfaatkan juga, makannya memandang rendah ... kamu ... agar hatiku bisa merasa lebih baik."
Semakin lama, vokalnya makin melengking membuatku merasa sesak mendengarnya; seperti nyeri yang terlalu besar menyerang bak jantung diremas kuat hingga terasa tercekik. Ini pertama kalinya melihat Crist seperti itu.
"Aku paling takut ... dilupakan. Waktu kamu bilang ingin aku bahagia dan mengingat segala yang aku katakan ... aku langsung sadar apa yang sebenarnya aku mau. Makannya, ingin menolongmu dengan benar ... masalah penyakitmu. Konsultasi pada waliku mengenai kamu. Tapi malah ... tidak mau, mengurus surat itu sehabis membaca konsekuensinya. Aku tidak mau kamu melupakanku. Tapi Miss Caterine memerintahku ... aku tidak bisa berbuat apa-apa ...."
Tak tahan.
Aku langsung merangkul pundaknya dan seketika dia bersandar padaku. Sebab itu, aku melihat air matanya tak henti mengalir padahal mati-matian ditahan hingga mengeratkan gigi sampai mata terpejam.
"Tak apa," balasku dengan suara rendah, "terima kasih sudah memperhatikanku selama ini."
"Sekarang kamu malah berkata itu semua, aku tidak bisa ... membalasnya ...."
Dia terlihat sesak, seperti degup jantung tak lagi sama dan emosi meluap hingga wajahnya memerah.
Maka aku katakan, "Kamu bisa membalasnya nanti .... Seandainya aku berakhir tiada, setidaknya aku sudah memiliki kenangan berharga ini; juga kamu. Seandainya aku berakhir melupakan segalanya, maukah kamu menuntun dan menasihatiku lagi?"
Lalu, aku meraih tangannya yang terus bergetar. "Kita sahabatkan, Crist?"
Tiba-tiba pintu besar itu terbuka sampai aku tertegun dan menoleh. Tampak Profesor Caterine di sana, melipat kedua tangannya dengan senyuman bangga. Kemudian disusul beberapa staf--yang kuyakin bagian kedokteran karena jas khususnya--mulai berhamburan menghampiri kami.
Beliau pun melangkah demi menarik Crist yang sudah lemas karena gejolak emosi menjauh dariku dengan mudah. Begitu pula akhirnya si pemuda menangis dengan lepas.
Seketika dari balik mata jelaga pergerakan mereka menjadi lambat; seolah-olah waktu telah berhenti, dan aku mulai menyadari ....
Rasa takut dalam dada.
Aku juga tak ingin melupakan dia, atau semuanya. Aku ingin bisa merasa lebih baik agar bisa selalu bersama mereka di balik perbedaanku, bukan berakhir untuk kehilangan kenangan-kenangan ini. Aku merasa nyaman dan hangat bersama mereka, dan rasa itu ingin kugenggam selamanya.
Tapi sekarang bukan waktu yang tepat untuk berhenti, apa lagi mundur.
Diberikan waktu untuk kembali merasa bahagia, itu cukup; lebih dari cukup.
Aku benar-benar ... berterima kasih pada kalian semua.
Terima kasih, aku tak bisa berhenti mengucapkannya.
Terima kasih.